
Sudah sebulan lebih Mai tinggal bersama Morgan di apartemen. Sejak kejadian malam itu, Mai memutuskan untuk menghindari tuan mudanya sampai sekarang.
Ketika Morgan berada di apartemen, Mai akan menyibukkan dirinya sendiri atau lebih betah berlama-lama di dalam kamarnya. Semua itu semata-mata untuk menghindari bertatap muka dengan tuan mudanya.
Meskipun Morgan sendiri merasa aneh dengan gelagat Mai. Akan tetapi, dia tidak ingin ambil pusing dengan semua itu.
Tidak hanya itu, jalinan komunikasi diantara mereka sedikit renggang. Bisa dikatakan karena mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Dimana Morgan sibuk bekerja sedangkan Mai sibuk mengikuti kelas memasak.
Ya Morgan mampu melihat bakat Mai yang begitu jago dalam mamasak membuatnya berinisiatif mendaftarkan Mai pada kelas memasak yang cukup terkenal di negaranya, dan terkadang kegiatan memasak para peserta sering diliput secara langsung oleh media.
Kebetulan waktu itu Mai meminta izin kepadanya yang ingin bekerja di luar, sontak hal tersebut membuat Morgan marah. Karena Mai sama sekali tidak menganggapnya sebagai kepala keluarga.
Apa yang akan dikatakan kedua orang tuanya beserta kerabat dekatnya jika tau Mai bekerja diluar. Selama ini Morgan selalu menjaga imej nya dan terus menyembunyikan hubungan rumah tanggannya agar tidak tercium keluar.
Bagaimana bisa dia membiarkan Mai pontang-panting bekerja diluar sedangkan dirinya seorang Bos di perusahaan yang dipimpinnya, sungguh menggelikan jika itu terjadi. Orang-orang akan beranggapan bahwa dia tidak mampu menafkahinya, sehingga pelayan yang sudah berstatus sebagai istri sahnya itu harus bekerja diluar.
Kemana kartu black card yang pernah ia berikan kepada pelayan itu sebagai nafkah untuknya? Morgan tak tahu jalan pikiran pelayan itu. Sudah dikasi kartu tanpa batas sama sekali tidak digunakan dengan baik. Padahal Morgan membebaskan Mai memakai kartu tersebut sesuka hatinya, yang jelas dia tidak boleh bekerja.
Dengan mengikuti kelas memasak, Mai bisa beraktivitas di luar tanpa harus bekerja. Mungkin dengan mengikuti kegiatan tersebut dapat mengembangkan bakat memasaknya. Dan sewaktu-waktu bisa saja Mai tertarik untuk membuka usaha kuliner. Tapi tetap saja, Morgan tidak akan mendukungnya.
Sehingga dengan mengikuti kelas memasak tersebut, membuat Mai tak bosan lagi tinggal di apartemen ataupun beralasan ingin bekerja. Morgan hanya tidak ingin membatasi gerak gerik Mai apalagi mengekangnya untuk terus berada di apartemen.
Kebetulan sekali kelas memasak yang diikuti Mai hanya dilakukan tiga kali dalam seminggu, sehingga tak mempengaruhi peran Mai sebagai seorang istri dari tuan Morgan.
***
Tampak Mai dan Morgan duduk bersama di meja makan yang tengah menikmati sarapannya. Mereka tidak lepas saling melakukan aksi curi-curi pandang yang tengah sarapan bersama.
Morgan meneguk kopinya dengan dua kali tegukan hingga tandas lalu melap bibirnya dengan serbet, itu menandakan dia sudah selesai sarapan.
"Bisa bicara sebentar." ucap Morgan yang sudah bangkit dari duduknya.
Mai hanya mampu menggangguk menanggapi ucapannya pasalnya mulutnya penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Habiskan sarapan mu lalu temui aku di ruang tamu." pinta Morgan lalu melangkah menuju ruang tamu untuk menunggu Mai yang masih sarapan. Dia perlu berbicara dengan Mai.
Tak berselang lama, Mai melangkah mendekat ke arahnya. Terlihat Mai memakai gamis berwarna biru dengan warna hijab yang sama persis dengan warna gamisnya.
"Duduklah." tegur Morgan sambil mengecek email masuk di ponselnya yang masih menyadari keberadaan Mai sedang berdiri di dekat sofa tak jauh dari tempatnya duduk.
Mai lekas duduk di sofa yang pernah mereka tempati pada malam itu. Wajah Mai kembali merona setiap kali mengingat kejadian itu.
Morgan meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap ke arah Mai. Morgan mengerutkan keningnya melihat raut wajah Mai tampak berubah.
"Kenapa kamu pulang terlambat kemarin?" tanya Morgan.
Padahal jelas-jelas dia sudah tau segala hal tentang Mai dari supir pribadinya yang bertugas mengantar jemput Mai selama beraktivitas di luar, kedua bodyguardnya yang selalu melakukan pengawalan untuk Mai dan juga Bu Jumi yang selalu menemani Mai jika berada di luar.
"Kemarin ada kelas tambahan, terus saya mampir ke supermarket untuk membeli sayuran dan juga bahan-bahan dapur. Setiap pulang ke apartemen saya selalu praktekkan pelajaran memasak yang saya dapatkan hari ini. Emm... dan saya juga mampir ke toko buku untuk membeli buku resep makanan." ucap Mai menunduk.
"Oh, lain kali katakan kepadaku jika kamu ingin ke tempat-tempat tersebut. Ini semua demi keselamatanmu." ucap Morgan yang terus memandangi wajah Mai.
"Hemm, satu lagi jangan gampang berteman dengan orang lain. Apalagi kamu langsung mempercayainya hanya karena kesannya begitu baik setiap kali bertemu denganmu. Diluar begitu banyak bahaya dan orang jahat yang bermotif baik sedang mengintai, jadi berhati-hatilah." peringat Morgan tak main-main demi keselamatan Mai.
"Iya kak, saya akan selalu berhati-hati. Terima kasih sudah mengingatkan saya." ucap Mai tersenyum tipis.
"Apa kamu akan berangkat sekarang?" tanya Morgan memastikannya.
"I-iya kak." ucap Mai kikuk.
"Kalau begitu kita barengan saja, kebetulan pagi ini tidak ada rapat penting di kantor." ucap Morgan berinisiatif mengajak Mai berangkat barengan.
Mau tak mau Mai menyetujui ucapan tuan mudanya. Padahal beberapa hari ini dia selalu menghindarinya dengan berangkat pagi-pagi ke tempat pelatihan memasak yang terkenal di negara tersebut.
"Baik kak. Tunggu sebentar, saya mau ambil tas dulu." ucap Mai tersenyum.
"Ya."
__ADS_1
Morgan masih duduk santai bersandar di sofa menatap punggung Mai yang terus berjalan menuju kamarnya. Dia terus memandangi kepergian pelayan itu. Seketika ucapan ayah dan pamannya terlintas dipikirannya.
' Jangan pernah mempermainkan sebuah pernikahan. Karena hubungan pernikahan begitu sakral dan tidak bisa dipermainkan begitu saja.'
' Benar nak Morgan, Paman setuju dengan ucapan ayahmu. Jangan sekali-kali mempermainkan yang namanya sebuah pernikahan. Karena pernikahan itu ibarat sebuah rumah, dimana kalian berdua yang harus membangun bersama pondasinya. Jika salah satu pondasi yang kalian buat roboh maka kalian harus saling bahu-membahu untuk memperbaiki kembali pondasinya demi sebuah rumah yang utuh. Tapi begitu sebaliknya, jika salah satu dari kalian tak bisa membantu, maka rumah itu tidak bisa menjadi rumah yang utuh dan hanya terbengkalai. Begitupula hubungan pernikahan, banyak ujian yang harus kalian lalu bersama demi membangun sebuah rumah tangga.'
'Khumaira gadis yang baik dan sudah menjadi jodohmu. Jangan pernah menyakitinya atau berbuat kasar kepadanya. Hormatilah sebagai istrimu karena gadis itu yang nantinya akan melahirkan anak-anakmu.'
Morgan masih saja memikirkan ucapan kedua orang yang sangat diseganinya itu.
"Ayo kak, aku sudah siap." ucap Mai membuyarkan lamunan Morgan.
"Aah iyaa." ucap Morgan gelagapan sembari bangkit dari duduknya.
Tanpa canggung lagi, Morgan menarik tangan Mai lalu menggenggamnya erat. Mai terkejut dibuatnya, padahal dirinya selalu menghindarinya, tapi kali ini dia akan kembali terus menempel didekat tuan mudanya.
"Ayo, jangan sampai kamu terlambat." ucapnya menarik senyuman tipis disudut bibirnya.
Mai hanya mampu tersenyum tipis yang merasa kikuk plus canggung ketika tangan tuan mudanya kembali berpindah merangkul pundaknya.
Mobil yang membawa mereka melaju pelan membelah jalanan kota yang sudah dipadati kendaraan menuju tempat yang akan mereka tuju.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain...
"Apa kamu yakin gadis ini yang selalu bersamanya." ucap pria berjas menatap foto seorang gadis berhijab.
"Benar tuan, dialah orangnya. Sudah lama saya mengintainya di apartemen dan terakhir di Baleno Hatt." ucap pria bertato itu.
"Hemm, terus awasi gadis ini. Jika kedua pengawalnya lengah langsung habisi saja. Aku ingin lihat seperti apa reaksi para harimau yang sudah bertobat itu... Ha...ha..ha..." ucapnya diiringi gelak tawa.
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏
__ADS_1