
Morgan terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Mai bersama ponakannya, hingga matanya membulat sempurna melihat Mai tengah dihadang oleh tiga pria tak dikenal, masing-masing menodongkan pistol ke arah Mai. Bahkan Aqila sudah menangis di gendongan Mai.
Sementara Mai hanya mampu mematung yang tak bisa melakukan apa-apa, hanya doa yang mampu dilafalkannya dan menyerahkan segalanya kepada sang pencipta.
"Cepat bawa wanita ini bersama anak-anaknya ke dalam mobil." perintah salah satu pria bertopeng kepada rekannya.
Salah satu pria bertopeng berambut panjang langsung mengambil alih Aqil dari tangan Mai. Namun Aqil berusaha untuk melawannya dengan cara menendangnya lalu menggigit tangannya, walaupun masih kecil jiwa petarung Aqil mulai muncul dengan sendirinya, jika merasa terancam anak balita berusia tiga tahun itu akan melawan orang yang berbuat jahat kepadanya.
Mai yang bersamanya masih setia menggenggam tangannya dan tak ingin melepaskannya sekalipun, padahal sedang berusaha melawan penjahat tersebut.
Pria itu meringis kesakitan merasakan gigitan anak kecil itu tertancap dalam di tangannya, pria itu marah besar dan mencoba melepaskan diri dari gigitan anak kecil itu. Setelah berhasil terlepas, pria itu tampak murka menatap tajam anak kecil yang baru saja mengigit nya.
"Sialan!" ucap Pria bertopeng itu marah dan ingin memukuli Aqil, namun dengan cepat Mai menarik tangan Aqil untuk bersembunyi di balik tubuhnya.
"Tolong jangan memukulnya, pukuli saja saya tuan." ucap Mai takut dengan mata memerah, dan masih saja mempertahankan Aqil untuk tidak dipukuli oleh penjahat tersebut. Mai tidak akan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aqil. Walaupun dirinya dipukuli habis-habisan.
"Pergi, jangan ganggu kami!" teriak Aqila menyuruh penjahat itu pergi.
Akan tetapi, pria bertopeng berambut panjang itu tak mengindahkan ucapannya, pria itu malah mendekati Mai lalu melayangkan tangannya di udara untuk memukul wajah Mai. Namun beruntungnya Morgan datang tepat waktu dan langsung mencengkeram erat tangan pria itu lalu memelintirnya ke belakang. Pistol di tangan pria itu terjatuh begitu saja dengan cepat Aqil mengambilnya. Kembali Morgan menendang kedua lutut pria itu hingga mampu bersimpuh di hadapannya.
"Kalian semua akan habis ditanganku." ucap salah satu pria bertopeng yang langsung menodongkan pistolnya ke arah Morgan.
"Lakukan saja, aku sama sekali tidak takut." ucap Morgan dengan entengnya sorot matanya begitu tajam layaknya akan menguliti pria itu hidup-hidup, sedang kedua tangannya mencengkeram kuat leher pria yang berada dalam cengkeraman nya hingga terbatuk-batuk yang sudah kesulitan untuk bernafas.
Pria bertopeng itu langsung menarik pelatuknya dan seketika peluru bersarang di kepala rekannya sendiri.
Dor
"Aaaa." Mai dan Aqila menjerit ketakutan mendengar suara tembakan tersebut. Namun Mai berusaha menyembunyikan wajah Aqila di dadanya untuk tidak melihat segala kejadian berdarah tersebut. Aqila pun tampak memeluk erat tubuh Mai.
Sementara darah segar yang keluar dari kepala pria itu memuncret mengenai wajah Morgan. Dengan kesal Morgan menghapusnya, lalu mendorong tubuh pria itu menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
Kembali pria bertopeng berdatangan dengan jumlah lebih banyak untuk mengepung Morgan, mereka masing-masing membawa pistol. Morgan yang tampak di kepung segera melindungi Mai dan ponakan kembarnya.
"Jangan panik, tenanglah. Aku bisa melawan mereka." ucap Morgan meyakinkan Mai.
"Berhati-hatilah kak, aku tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu, doa ku selalu bersamamu, semoga kita semua berada dalam lindungan Allah swt, aamiin." ucap Mai dengan mata berkaca-kaca dan segalanya dia hanya serahkan kepada sang pencipta.
"Aamiin, percayalah aku bisa menjaga kalian." ucap Morgan penuh keyakinan. Dia tidak akan pernah membuat anggota keluarganya sampai terluka di tangan para pelaku penyerangan yang diyakini musuh lama keluarganya.
"Paman, gunakan benda ini. Aku melihat mereka menggunakan benda ini untuk menakut-nakuti kami." ucap Aqil dengan polosnya yang sama sekali belum mengerti kegunaan dari benda yang sedang dipegangi nya itu.
Morgan terkejut melihat ponakan kembarnya membawa pistol, ia pun segera mengambil pistol tersebut lalu berjongkok di hadapan ponakannya.
"Jangan sekali-kali menggunakan benda ini. Ini benda yang sangat berbahaya, apa Aqil paham." ucap Morgan memberitahu dan Aqil mengangguk menanggapi ucapannya.
"Ha ha ha, kami sudah mengepung mu. Kamu tidak akan pernah bisa lari dari kami." ucap salah satu pria bertopeng yang lebih menonjol dari rekannya. Sepertinya pria itu merupakan bos dari kelompoknya.
Mereka yang berjumlah tujuh orang menodongkan pistol kearah Morgan.
"Aqil, tetaplah berada di sisi kakak baik dan Aqila karena tugasmu menjaga mereka." ucap Morgan lalu bangkit berdiri tegak menghadap ke arah pelaku penyerangan yang sedang mengepungnya.
"Baik Paman." timpal Aqil lalu menggenggam erat tangan Mai.
Kemudian Mai membawanya bersembunyi di balik pohon hias yang masih dalam kawasan arena bermain anak.
Perkelahian pun sudah tak terelakkan. Morgan pun begitu kewalahan menghadapi mereka semua yang masing-masing memiliki kemampuan bela diri mumpuni.
Sementara itu, Kendrick, Dilan dan Etha yang kebetulan berada di Mall yang sama tengah berada di restoran cepat saji. Mereka pun tampak terkejut melihat beberapa pihak keamanan berlarian, entah apa yang sedang terjadi dalam mall tersebut.
Kendrick yang sedang memainkan ponselnya terlonjat kaget setelah melihat pesan masuk di ponselnya. Tanpa sepatah kata, Kendrick langsung berlarian menuruni eskalator. Dilan dan Etha yang tidak tahu apa-apa ikut menyusulnya.
"Paman... hiks...hiks..." Aqila menangis saat saudara kembarnya di tarik paksa oleh pria bertopeng. Dia pun memanggil nama pamannya untuk segera membantunya, namun sayangnya pamannya masih melawan para penjahat.
__ADS_1
Mai berusaha mempertahankan Aqil meskipun anak itu memberontak yang sedang meringis kesakitan di cengkraman pria bertopeng itu.
"Jangan bawa dia, kumohon." ucap Mai berderai air mata.
Pria bertopeng itu tak mengindahkan ucapannya, dia berhasil mengangkat tubuh Aqil lalu membawanya pergi. Mai bergegas mengejarnya sampai-sampai Mai jatuh tersungkur dimana Aqila masih berada dalam gendongannya.
Mai menangis dan berusaha bangkit berdiri untuk mengejar pria yang membawa Aqil. Namun diluar dugaan salah satu pria bertopeng langsung membiusnya lalu membopong tubuhnya.
"Kakak baik, Paman..." teriak Aqila meminta tolong yang juga dibawa oleh pria bertopeng.
Morgan mengalihkan pandangannya hingga pukulan keras menghantam wajahnya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Tak hanya itu, wajah Morgan kembali mendapatkan tendangan keras hingga tubuh Morgan oleng dan terhempas ke lantai.
"Hanya ini kemampuanmu!, cihh!" ucap pria bertopeng itu sambil meludahi tubuh Morgan.
Morgan begitu murka dan tak terima dirinya di rendahkan. Dia pun langsung mengeluarkan pistol yang diberikan oleh Aqil dan langsung menembak mereka semua tanpa ampun.
Dor
Dor
Dor
Satu persatu pria bertopeng itu berjatuhan dengan luka tembak di sekujur tubuhnya. Morgan masih menembaki pria bertopeng yang sempat merendahkannya. Setelah itu Morgan bergerak cepat mencari keberadaan Mai dan ponakan kembarnya. Dia harus menyelamatkannya.
Bersambung....
Terima kasih atas dukungannya teman-teman.🙏
Mohon maaf baru update.🙏
Untuk bab selanjutnya nanti nyusul 😁
__ADS_1