Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Mengejutkan


__ADS_3

Mai terbangun dari tidurnya sembari menggeliat saat mendengar jam weker berbunyi nyaring di atas nakas. Memang dirinya lah yang sempat menyetel jam weker tersebut.


Untungnya sebelum Morgan datang, dia masih kepikiran untuk menyetel jam weker, sehingga dia bisa bangun subuh, tanpa harus bangun kesiangan. Karena mengingat kejadian semalam, dia tidak bisa prediksi apakah bisa bangun pagi atau malah bangun kesiangan.


Mai mengerjapkan matanya dengan tubuh remuk habis melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Dia pun terkejut karena hal pertama yang mampu dia lihat adalah wajah tampan sang suami yang masih tertidur pulas.


Dimana lengan kekar Morgan dijadikan bantalan untuk Mai. Semalaman Mai berada dalam dekapan Morgan, tidurnya benar-benar nyenyak berbeda dengan malam-malam biasanya.


Wajah Mai seketika merona mengingat kejadian semalam. Ditambah tubuh keduanya masih saja polos yang berada di bawah selimut.


Tidak bisa dipungkiri,Mai merasa nyaman dengan posisinya, tangan Morgan masih melingkar sempurna di pinggangnya. Mai ingin membangunkan sang suami, namun dia tidak tau cara ampuh untuk membangunkannya, karena setelah ini dia akan melaksanakan sholat subuh bersama sang suami.


Mai tersenyum tipis yang sepertinya memiliki ide, lalu tangannya terulur mengusap lembut rahang kokoh Morgan. Mai terkekeh kecil dengan ulahnya sendiri karena hal itu membuat Morgan menggeliat.


Mai mencoba menggeser tubuhnya, seketika dia meringis kesakitan merasakan bagian inti tubuhnya berdenyut nyeri. Mungkin karena sisa-sisa percintaan mereka semalam hingga Mai masih merasakannya sekarang.


Morgan yang sebenarnya berpura-pura tidur seketika terbangun merasakan tubuh Mai bergerak dalam dekapannya.


"Apa kamu baik-baik saja sayang.?" tanya Morgan khawatir sambil mengecek kening Mai untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Ak-akku baik-baik saja, kak." jawab Mai kikuk lalu beranjak bangun hingga selimut yang menutupi tubuh polosnya melorot ke bawah.


Mai terlonjat kaget, dia sadar tidak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya, dengan cepat dirinya beringsut ke posisinya semula. Sedangkan Morgan tersenyum tipis melihat raut wajah Mai yang sedang menahan malu, namun sangat menggemaskan untuk di pandang.


"Pakai ini." Morgan menyerahkan piyama tidurnya yang sengaja ditaruh di sampingnya, dengan cepat Mai mengambilnya lalu memakainya di bawah selimut.


"Kak aku mau mandi dulu. Setelah itu, kita sholat bersama ya." ucap Mai tersenyum lalu beranjak turun dari tempat tidur.


"Hemm, jangan lama-lama." ucapnya tersenyum sambil mengelus tangan Mai. Hanya anggukan kepala yang dilakukan oleh Mai.

__ADS_1


"Sayang"


"Iya kak." Mai menoleh ke arah Morgan.


"Terima kasih untuk semalam, aku sangat bahagia bisa memilikimu." ucap Morgan tersenyum hangat lalu mengecup punggung tangan Mai. Wajah Mai lagi-lagi merona yang sedang tersipu. Dengan cepat Mai menyeret kakinya ke kamar mandi untuk menghindari kontak mata dengan sang suami, walaupun langkahnya sedikit tertatih-tatih.


Kini mereka melaksanakan sholat subuh bersama, dimana Morgan menjadi imam sholat untuk Mai. Mereka sholat subuh dengan khusyuk, sehabis sholat mereka kembali memanjatkan doa bersama demi kebahagiaan dan keutuhan rumah tangganya.


Mai tersenyum dengan mata berkaca-kaca lalu mencium punggung tangan suaminya dan Morgan balas mencium keningnya. Setelah itu mereka membereskan peralatan sholatnya.


"Mendekat lah sayang, aku ingin memelukmu." ucap Morgan menggoda Mai yang tengah duduk di sofa bersama Mai. Sementara Mai mau tak mau menggeser tubuhnya lebih dekat, namun dengan sigap Morgan malah menggendongnya.


"Kak..."


"Bolehkah aku melakukannya kembali?" goda Morgan berbisik di telinga istrinya. Pasalnya semalam dia hanya melakukannya sebanyak dua kali. Karena dirinya tidak tega membuat istrinya kelelahan meladeni hawa nafsunya.


Mai menundukkan pandangannya lalu mengangguk setuju mengiyakan ucapan Morgan. Tak ingin menunda-nunda waktu, Morgan kembali menyerang istrinya. Mereka kembali melakukan hubungan suami istri di pagi hari. Kamar mewah tersebut menjadi saksi bisu pergulatan panas pasangan suami istri itu.


"Aku ke atas dulu." pamit Nyonya Milan sembari bangkit dari duduknya. Dia harus menemui menantunya di kamar untuk mengajaknya sarapan bersama.


Nyonya Milan sudah berada di depan pintu kamar Morgan, kemudian mulai mengetuk kamar tersebut.


Tok


Tok


Tok


"Mai sayang, ayo sarapan nak." ucap Nyonya Milan yang berteriak di luar kamar. Dia berteriak berulang kali, namun tak ada jawaban dari dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Nyonya Milan mulai khawatir dengan Mai, lalu ia pun perlahan membuka pintu kamar tersebut dan kebetulan sekali pintu kamarnya tidak terkunci. Sehingga wanita paruh baya itu bebas masuk.


Baru beberapa langkah, Nyonya Milan menghentikan langkahnya dan terkejut melihat potongan kemeja putih tergeletak di lantai beserta beberapa pakaian dalam yang berserakan di lantai, hingga ekor matanya terus memandangi ke arah lantai hingga tatapannya beralih naik ke tempat tidur.


Nyonya Milan langsung membulatkan matanya lalu segera menutup mulutnya melihat dua insan meringkuk di atas tempat tidur dengan posisi berpelukan, dimana selimut hanya menutup tubuh mereka yang polos hingga sebatas dada.


Guratan wajah bahagia seketika tercipta di wajah Nyonya Milan. Senyuman manis langsung menghiasi bibirnya, dengan cepat dia lekas keluar dari kamar tersebut takutnya keberadaannya di ketahui oleh anak dan menantunya.


Pelan-pelan Nyonya Milan menutup kembali pintu kamar Morgan.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Akhirnya doa-doa ku diijabah." gumamnya senang.


"Alhamdulillah, tidak lama lagi aku akan kembali menimang cucu." ucapnya kegirangan yang sudah tidak sabaran mendapatkan seorang cucu dari putra bungsunya.


Sementara di ruang tamu, suasana menjadi tegang karena kedatangan Maura dan dokter Samuel di mansion mewah tersebut.


Tuan Fino, Malfin dan Adelia yang tadinya ingin sarapan bersama terpaksa menghentikannya, karena pelayan menyampaikan perihal kedatangan seorang tamu.


Mereka berkumpul di ruang tamu dan tak kunjung adanya obrolan. Semuanya hanya diam, namun begitu mengejutkan bagi keluarga Alexander atas kedatangan Maura.


"Kebetulan kami ingin sarapan bersama. Ada baiknya jika kalian juga ikut sarapan bersama kami." ucap tuan Fino terlihat tenang.


"Iya Maura, ayo sarapan bersama kami." timpal Adelia.


"Baiklah." ucap Maura tersenyum dan terlihat semakin kurus dengan tulang belulang. Dokter Samuel selalu saja mendampinginya.


Mereka kemudian bergegas menuju ruang makan. Sementara Nyonya Milan yang begitu kegirangan menuruni anak tangga, seketika senyumannya pudar disudut bibirnya dan terkejut bukan main saat berada di ujung tangga melihat dengan jelas wanita yang pernah dekat dengan putranya.


"Maura? mau apa lagi wanita itu." ucap Nyonya Milan dengan kesalnya lalu bergegas menyusul mereka.

__ADS_1


Ini sangat mengejutkan bagi seluruh anggota keluarga Alexander. Bagaimana bisa Maura kembali hadir dan dengan santainya datang di kediamannya. Jika sampai Morgan melihatnya apa yang akan terjadi


__ADS_2