
Tiga tahun kemudian...
Selama tiga tahun, Mai dan Morgan begitu menikmati perannya sebagai orang tua untuk anak-anaknya. Walaupun terkadang banyak kendala yang mereka hadapi di awal-awal menjadi orang tua, namun mereka mampu menyikapinya dengan baik.
Hari-harinya berwarna-warni dan dipenuhi kebahagiaan serta penuh kejutan setiap saat melihat tumbuh kembang anak-anaknya.
Mai dan Morgan senantiasa bekerja sama dan saling membantu menjaga anak-anaknya tanpa membutuhkan jasa baby sitter. Karena mereka ingin terjun langsung merawat dan melihat tumbuh kembang sang anak.
Di samping itu, ini menjadi momen langka bagi mereka dan tidak akan pernah terulang kembali seiring berjalannya waktu. Cukup sekali melihat tumbuh kembang anak-anaknya mulai dari bayi, menjadi balita, hingga remaja dan menjadi dewasa.
Canda tawa selalu mengiringi mereka setiap kali bersama si kembar, kejutan demi kejutan selalu mereka dapatkan dan menjadi pengalaman pertama bagi mereka menjadi orang tua.
Harapan satu-satunya bagi mereka adalah agar keluarga kecilnya selalu sehat dan dilimpahkan kebahagiaan, hanya itu.
***
Terdengar suara-suara keributan dari arah taman belakang. Mai yang sedang membuat sarapan bersama dengan ibunya saling pandang dengan kening berkerut sambil menajamkan pendengarannya, hingga mereka saling lempar senyuman mendengar suara yang sangat dikenalinya.
"Nduk, coba periksa taman belakang, sepertinya itu suara si kembar." ucap ibunya tersenyum sambil mengaduk masakannya.
"Baik ibu" ucap Mai lalu melepas apron yang dipakainya dan bergegas ke taman belakang.
Dari kejauhan Mai mampu melihat anak-anaknya sedang menanam bunga bersama ayahnya. Bahkan mereka terlihat tertawa terbahak-bahak, hingga suara tawa mereka yang terdengar begitu hebohnya semakin terdengar jelas ditelinga Mai.
Kebetulan hari ini adalah hari weekend, sehingga sepanjang hari si kembar akan terus menempel pada ayahnya. Dan mereka begitu antusias dan lebih bersemangat lagi bermain ditemani oleh ayahnya.
Mai geleng-geleng kepala melihat kedua mereka, lalu melangkah menghampirinya. Sementara itu, si kembar tengah asyik menanam bunga matahari.
“Ayah, bunda datang.” Bisik si kembar kepada ayahnya.
“Benarkah?”
“Iya ayah, bunda semakin dekat.” Ucap Ameera sambil melihat ke arah ibunya lalu kembali berjongkok di samping ayahnya. Sementara kakaknya Ameena kembali melanjutkan kegiatannya dan terlihat pandai menanam bunga matahari dengan tangan kecilnya yang sudah kotor.
“Kalau begitu jangan hiraukan bunda, lanjut saja menanam bunga.” Bisik ayahnya yang memberikan usulan kepada anak kembarnya.
“Oke ayah.” timpal Ameera sambil menaikkan jempolnya dan Ameena hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya.
“Wah wah kalian lagi ngapain sayang?” tanya Mai yang berdiri di belakang anak-anaknya sambil bertolak pinggang.
__ADS_1
"Hehehe kami menanam bunga matahari, bunda." jawab Ameera sembari memperlihatkan kedua tangannya yang kotor.
"Bagus, ya sudah lanjutkan sayang. Tapi, setelah ini kalian semua harus langsung mandi. Karena sebentar lagi kita akan sarapan" ucap Mai sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat kedua putrinya sudah bergelut dengan tanah.
Padahal pagi-pagi sekali dia membantu anak-anaknya mandi. Dan sekarang, lihatlah mereka kembali kotor, semua itu karena ulah ayah mereka.
Mai menatap tajam ke arah Morgan, sontak Morgan hanya cengengesan bertemu pandang dengan sang istri sambil menunjukkan wajah polosnya. Mata Mai kembali melotot dengan isyarat agar Morgan menghentikan kegiatannya itu.
"Anak-anak kita hentikan kegiatan hari ini. Lihatlah, kalian semua pandai menanam bunga. Ayah semakin bangga kepada kalian." ucap Morgan tersenyum memuji kedua putrinya. Setelah itu dia pun membersihkan kedua tangan putrinya yang kotor.
"Pasti dong ayah, karena kami diajari sama ayah dan bunda" ucap si kembar dengan kompaknya. Morgan langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang istri hingga sudut bibirnya membentuk senyuman.
"Agar bunganya bisa tumbuh dengan subur, setiap hari kalian harus menyiramnya." timpal Mai kepada putrinya.
"Baik bunda." ucap Ameena dan Ameera bersamaan diiringi anggukan kepala.
"Kalian berdua anak yang pintar, kebanggaan ayah dan bunda." puji Morgan tersenyum lalu mencium pipi gembul kedua putrinya secara bergantian. Kemudian Ameena dan Ameera balas mencium pipi ayahnya secara bersamaan.
Mai yang melihat keakraban mereka hanya mampu tersenyum tipis dan begitu bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Dikaruniai anak kembar yang cantik, imut dan pintar pula, sungguh anugerah terindah dari Tuhan untuk keluarga kecilnya.
"Sebaiknya kalian semua harus mandi, lalu sarapan." peringat Mai kepada mereka.
Mai hanya mampu tersenyum melihat tingkah laku suami dan kedua putrinya, kemudian dia pun bergegas menyusulnya.
Kini mereka sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Terlihat Ameena dan Ameera tengah berdoa bersama sebelum memulai sarapan. Setelah selesai berdoa, mereka langsung memakan makanannya dengan begitu lahapnya.
Mai dan Morgan hanya menjadi penonton dengan senyuman menghiasi bibirnya melihat kedua putrinya begitu lahap menyantap makanannya.
"Sayang, bagaimana kalau kita tambah anak. Aku ingin rumah kita semakin ramai." bisik Morgan kepada sang istri.
"Kak, jangan membahas hal seperti itu di meja makan. Sebaiknya habiskan makananmu." tegur Mai dengan cara berbisik.
"Oke, kita bahas nanti di kamar." ucap Morgan lalu mencium pipi sang istri. Hal itu membuat Mai memutar bola matanya malas melihat gelagat sang suami.
Tidak hanya itu, Morgan bahkan kembali menyentuh pinggang Mai. Sontak Mai langsung mencubit tangan Morgan agar Morgan menghentikan aksinya karena mereka sedang berada di meja makan. Sedangkan Morgan hanya mampu terkekeh kecil lalu memakan sarapannya.
Selesai sarapan bersama, Morgan kemudian mengajak anak dan istrinya untuk berkunjung ke Savana. Sudah lama mereka tak berkunjung di tempat tersebut.
Sementara orang rumah dan pelayannya sedang mempersiapkan acara nanti malam. Kebetulan hari ini adalah anniversary pernikahan Mai dan Morgan yang ke 6 tahun. Untuk itu, Morgan akan memberikan kejutan pada istri tercinta.
__ADS_1
Di Savana...
"Ayah, lihat di sana. Bukankah itu kak Aqil dan kak Aqila." ucap Ameera antusias, karena memang anak balita itu kepribadiannya cerewet dan ceria serta begitu aktif. Berbeda dengan Ameena yang kepribadiannya pendiam dan tidak suka banyak tanya.
"Oh iya ya, putri ayah memang jeli." ucap Morgan tersenyum. Rupanya keluarga Malfin juga berkunjung di Savana.
Terlihat Aqil dan Aqila sedang berkuda bersama dan sedang di pandu langsung oleh ayah mereka.
"Ayo, kita samperin mereka." ucap Morgan.
Mereka lalu menghampiri keluarga Malfin untuk berbincang-bincang bersama. Sementara Ameera sudah ikut berkuda bersama Aqil dan Aqila.
Sementara Ameena lebih betah duduk di pangkuan ibunya sambil memperhatikan saudara kembarnya berkuda.
"Kenapa Ameena tidak ikut berkuda?" tanya Malfin tersenyum kepada ponakannya.
"Ameena takut sama kudanya paman, Ameena takut jika kudanya mengamuk." jawab Ameena dengan polosnya sambil menunduk. Memang anak manis itu begitu pendiam, sifatnya lebih mirip dengan ibunya.
"Oh begitu, tidak apa-apa jika Ameena tidak suka berkuda." timpal Adelia tersenyum dibalik cadarnya. Dia tidak menyangka ponakannya takut pada hewan berekor itu.
"Ya sudah, kalau begitu Ameena ikut bibi petik buah anggur saja. Kebetulan buah anggurnya sudah siap panen, bagaimana?." usul Adelia sambil melirik Mai.
"Baik bibi. Tapi, bunda juga harus ikut" ucap Ameena.
"Tentu nak, bunda kamu juga harus ikut. Iyakan bunda Mai" ucap Adelia tersenyum lalu mengelus puncak kepala Ameena dengan gemesnya. Mai hanya mampu mengangguk menanggapi ucapannya.
Dan yang lainnya hanya mampu tersenyum melihat ke arah Ameena yang bertingkah malu-malu duduk di pangkuan ibunya.
Mereka lalu berjalan ke kebun buah anggur yang jaraknya tidak terlalu jauh. Mereka begitu senang bisa memetik buah anggur bersama. Raut wajah bahagia jelas terpancar di bibir mungil Ameena, manakala memetik buah anggur yang bisa dijangkau nya.
"Alhamdulillah, aku mendapatkan buah anggurnya, bunda." ucap Ameena tersenyum memegang dua buah anggur di kedua tangannya.
"Alhamdulillah. Taruh sini sayang." ucap Mai tersenyum.
"Bunda, bolehkah Ameena memakan buah anggurnya sekarang?" tanya Ameena.
"Kita harus mencucinya terlebih dahulu sayang, tunggu sebentar. Bunda akan mencuci buah anggurnya, setelah itu Ameena boleh memakannya." ucap Mai tersenyum, dia selalu mengajarkan kebersihan sejak dini kepada kedua putrinya.
"Baik bunda." ucap Ameena lalu menyerahkan buah anggur yang baru saja dipetiknya kepada ibunya.
__ADS_1
Mai tersenyum mengambilnya lalu bergerak ke tempat pencucian buah yang tersedia di kebun buah tersebut. Setelah itu kembali menghampiri putrinya.