Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Sayang


__ADS_3

Sesuai janjinya makan siang bersama dengan Mai akhirnya terwujud juga. Morgan tampak senyum-senyum sendiri duduk di kursinya sambil menatap Mai yang tampak cekatan menyajikan hidangan makanan di atas meja.


Kebetulan mereka hanya berdua di apartemen jadi Morgan bebas melakukan apapun yang diinginkannya termasuk berbuat usil kepada Mai.


"Emmm....sepertinya enak nih, aromanya saja begitu wangi dan mengunggah selera." ucap Morgan berdecak kagum dan sudah tak sabaran untuk mencicipi masakan Mai.


Mai hanya tersenyum yang sibuk menghidangkan makanan di atas meja.


"Khumaira, tolong suapi aku satu sendok saja, aku sudah tidak sabaran untuk mencicipinya." ucap Morgan memasang mimik wajah seceria mungkin menatap masakan Mai yang semuanya adalah menu makanan kesukaannya.


"Iih kak Morgan, jangan manja begini." ucap Mai lemah lembut sambil memegang sendok makan untuk menyuapi tuan mudanya.


"Aku mau cicipi yang ini," Morgan begitu antusias menunjuk udang balado yang merupakan menu andalannya.


Kemudian Mai menyendok makanan tersebut lalu menyuapi Morgan. Sedangkan Morgan tersenyum penuh kemenangan dan begitu lahap mengunyah makanannya.


"Wow, ini sangat enak. Aku jadi tidak rela jika kamu memasak untuk orang lain." ucap Morgan yang mulai mengeluarkan sifat posesifnya.


Mai hanya mampu tersenyum mendengar ucapannya, dimana Mai sedang mengambilkan lauk pauk di piringnya. Setelah itu dia pun duduk di kursinya.


"Silahkan makan dan jangan lupa baca doa" ucap Mai mengingatkannya, persis seorang ibu mengingatkan anaknya sebelum makan.


"Baik sayang." timpal Morgan cengengesan.


"Sayang?." ucap Mai memperjelas ucapannya dengan senyuman menghiasi bibirnya, bahkan Mai memicingkan matanya melihat ke arah Morgan. Apa dia tidak salah dengar tuan mudanya menyebutkan kata sayang, pikirnya.


"Iya Khumaira, mulai sekarang aku akan memanggil mu sayang." ucap Morgan tak ingin dibantah.


"Terserah kak Morgan, yang jelas kak Morgan lebih senang memanggilku seperti itu, aku sama sekali tidak masalah." ucap Mai menatapnya. Sebagai seorang istri sudah sepatutnya dirinya patuh terhadap segala ucapan suaminya.


Meskipun Mai masih memiliki keraguan dalam dirinya, apakah dia benar-benar sudah dianggap sebagai seorang istri oleh tuan mudanya atau hanya sekedar mengakrabkan diri dengannya.


Mereka tampak menikmati makanannya tanpa adanya lagi obrolan. Hanya sendok dan garpu yang beradu di atas meja.


Selesai makan siang bersama, Morgan kemudian berpamitan kepada Mai untuk kembali bekerja.


"Jangan lupa nanti malam."


"Iya kak, insyaallah." Mai tersenyum manis lalu mencium punggung tangannya. Morgan tersenyum tipis sambil menyentuh pipinya kemudian bergerak mencium keningnya.


"Aku pergi dulu." pamitnya dan Mai mengangguk menanggapi ucapannya.


*

__ADS_1


*


*


Sementara di tempat lain...


Terlihat sosok pria jangkung melangkah tergesa-gesa memasuki galeri Baleno Hatt. Pandangannya diedarkan melihat disekelilingnya yang tampak sepi tanpa adanya satu pun peserta pelatihan kelas memasak berkeliaran di ruangan tersebut.


"Mengapa sangat sepi, apa...." Pria itu tidak melanjutkan ucapannya karena mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.


"Selamat siang tuan Devan, ada yang bisa saya bantu." ucap wanita paruh baya yang merupakan pihak penyelenggara galeri tersebut. Dan merasa heran melihat kedatangan pemilik galeri tersebut.


"Selamat siang Bu Anne, aku kebetulan lewat di depan galeri dan ya tak ada salahnya jika mampir sebentar." ucap pria itu yang ternyata adalah Devan.


Wanita paruh baya itu begitu mengenal Devan karena pria itulah pemilik galeri tersebut. Herannya dia merasa aneh melihat kedatangan Devan sesering mungkin berkunjung di Baleno Hatt.


"Mana pesertanya? apa hari ini..."


"Pelatihannya hanya dilakukan tiga kali seminggu tuan, dan untuk hari ini masih libur." jelas Bu Anne.


"Kok bisa sih, aku pikir pelatihnya rutin di lakukan di hari kerja. Mungkin karena aku jarang mampir ke sini, makanya aku tidak terlalu tahu segala jadwal kegiatan pelatihannya." ucap Devan.


Bu Anne hanya mampu mengerutkan keningnya mendengar ucapan Devan. Padahal jelas-jelas kemarin Devan datang berkunjung di galeri tersebut. Menurutnya ada sesuatu yang sedang dicari pria lajang itu, sampai-sampai keseringan berkunjung di galerinya.


"Kalau begitu saya permisi." pamitnya, dikarenakan tujuannya mampir ke galerinya hanya ingin bertemu dengan Khumaira. Namun sayangnya lagi-lagi tidak menemukan sosok wanita pujaan hatinya.


Bu Anne menggangguk menanggapi ucapannya dan merasa aneh melihat gelagat pemilik galeri tersebut.


*


*


*


Malam harinya....


Morgan dan Mai tampak bersiap-siap dan tengah saling membantu satu sama lain. Penampilan mereka tampak berbeda. Morgan mengenakan setelan jas hitam, sedangkan Mai mengenakan gaun syar'i berwarna biru malam senada dengan hijabnya dan warna tersebut terlihat kontras dengan kulitnya yang putih.


Kebetulan malam ini mereka akan makan malam di luar. Tidak hanya itu, Morgan sudah memesan meja di restoran mewah yang akan mereka datangi guna untuk makan malam bersama.


Morgan sudah menyiapkan segalanya dan makan malamnya kali ini begitu spesial dan romantis sesuai keinginannya.


"Bagaimana Khumaira? apa kamu sudah siap?." tanya Morgan yang kini duduk di sofa sembari menunggu Mai yang masih setia duduk di kursi meja rias menghadap cermin.

__ADS_1


"Tunggu sebentar kak." timpal Mai sambil merapikan hijabnya.


Morgan kemudian melangkah mendekatinya. Morgan terpaku menatap wajah Mai di dalam cermin. Matanya sama sekali tidak berkedip melihat wajah cantik Mai di pantulan cermin.


"Siapa yang menyuruhmu untuk merias wajahmu secantik ini, hem." protesnya dan tidak suka jika Mai terlihat begitu cantik malam ini.


"Aku cuman pakai bedak dan pewarna bibir, kak." ucap Mai membela diri. Pasalnya yang dimaksud merias atau berdandan yaitu me make over seluruh wajah sedemikian rupa dan begitu lengkap. Sedangkan dirinya cuman pakai bedak dan pewarna bibir.


"Tetap saja kamu terlihat cantik, aku tidak suka jika ada pria lain melirikmu." ucap Morgan terdengar ketus sambil merangkul tubuh Mai dari belakang dan mendekapnya begitu posesif.


"Ya ampun, kak, setiap hari aku tampil seperti ini. Pakai bedak dan pewarna bibir, hanya saja... gaun pemberian mama yang mendukung penampilan ku hingga terlihat cantik malam ini." ucap Mai merendah, memang dia selalu tampil apa adanya.


"Untuk dugaan kak Morgan, sungguh salah besar. Alhamdulillah, selama ini Mai bersyukur tidak ada yang melirik Mai, karena berkat cincin ini." ucap Mai sambil memperlihatkan cincin kawinnya di jari manisnya.


Morgan tersenyum mendengarnya lalu mengecup punggung tangan Mai. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu, harusnya dia bangga memiliki istri cantik dan sholehah pula.


Dulu dia begitu muak melihat gelagat Malfin dan Adelio yang begitu posesif kepada istrinya, sekarang nyatanya dia pun mengalami nasib yang sama seperti saudaranya itu.


"Lalu bagaimana dengan makan malam kita?" tanya Mai sambil menatap wajah Morgan di dalam cermin.


"Emmm... sepertinya aku tidak ingin melewatkan makan malam bersamamu, sayang." ucap Morgan tersenyum tipis lalu mencium pipi kanan Mai.


Mai terkejut dibuatnya hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Morgan lalu mengandeng tangan Mai membawanya keluar kamar.


Tak butuh lama mereka sudah berada di dalam mobil yang siap membawanya menuju restoran mewah yang terletak di pusat kota.


Setibanya di restoran mewah tersebut. Morgan tampak menggandeng tangan Mai masuk ke dalam restoran. Morgan mengedarkan pandangannya hingga terlonjat kaget melihat kerabat dekatnya berada di restoran tersebut.


Huff...Kenapa tiga serangkai berada disini sih. Apa tidak ada restoran lain. Batin Morgan kesal.


Morgan segera membawa Mai ke lantai tiga, takutnya keberadaannya di ketahui oleh Dilan, Kendrick dan Etha. Dan benar saja tak ada satu orang pun yang menyadari keberadaannya karena tengah asyik mengobrol.


Keluarga tiga serangkai itu begitu kompak dan keseringan jalan bareng, maklum mereka masih jomblo.


Mai dan Morgan begitu bahagia makan malam dengan suasana romantis. Bahkan mengabadikan momen bahagia mereka. Pada akhirnya kejutan Morgan berjalan lancar.


"Terima kasih kak, aku sangat senang dengan kejutannya." ucap Mai dengan mata berbinar memancarkan kebahagiaan.


Morgan hanya mampu tersenyum lalu memeluknya dengan erat.


"Aku janji akan selalu membahagiakan mu sayang." pinta Morgan.


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗

__ADS_1


__ADS_2