Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Bertemu


__ADS_3

Mengenai hilangnya Mai, dia masih merahasiakannya dari orang tuanya. Dia hanya tidak ingin orang tuanya khawatir akan hilangnya Mai. Hanya Malfin yang mengetahui hilangnya istrinya. Namun Malfin tampak santai-santai saja dan hanya mengerahkan anggota The Tiger untuk membantunya mencari istrinya. Dan lagi-lagi tak membuahkan hasil karena tidak menemukan keberadaan Mai.


Khumaira, dimana kamu berada. Aku sangat merindukanmu, aku sangat rindu segala hal tentangmu. Batin Morgan cemas.


"Tuan, kami tidak bisa melakukan pencarian lagi, sebaiknya tuan laporkan saja ke pihak kepolisian." ucap salah satu anak buahnya melakukan protes.


"Apa kalian sudah bosan hidup hah!,." ucap Morgan marah dan langsung menodongkan pistol ke arah anak buahnya itu.


"Orang yang kita cari adalah istriku! wanita yang sangat aku cintai dan paling berarti dalam hidupku!. Asal kalian tau, dia separuh hidupku!." ucap Morgan dengan suara meninggi dan sorot matanya begitu tajam menatap anak buahnya.


Pria yang jauh lebih tua diatasnya tampak bergidik ngeri dan hanya mampu mengangkat kedua tangannya tanda dirinya sudah menyerah. Lalu disusul kelima teman lainnya melakukan hal yang sama.


Rahang Morgan mengeras melihat tingkah laku anak buahnya. Dia pun mengarahkan pistolnya ke arah mereka secara bergantian tanda bahwa dirinya akan menghabisi anak buahnya satu persatu. Namun niatnya kembali diurungkan, Morgan menjatuhkan pistol di tangannya dan merasa kecewa kepada anak buahnya.


"Pergi dari hadapanku!, sebelum aku berubah pikiran!" bentak Morgan dengan penuh amarah.


Dan secepat kilat, para anak buahnya pergi meninggalkannya. Morgan mengepalkan tangannya dan terkekeh melihat kepergian anak buahnya.


Morgan mengusap wajahnya kasar dan merasa frustrasi karena tak kunjung menemukan keberadaan istrinya. Tak ada lagi yang membantunya mencari istrinya, anak buahnya memilih mundur dan meninggalkannya seorang diri.


"Khumaira!" teriaknya memanggil nama istrinya.


"Aku merindukanmu.... aku rindu padamu...aku rindu semua tentangmu." lirih Morgan.


Sementara sepasang mata tampak tersenyum tipis dari dalam mobilnya melihat pria tampak frustasi dan teraniaya atas hilangnya istrinya.


"Jalan Niko, aku sudah menyaksikannya secara langsung. Jangan lupa berikan upah untuk para anak buahnya karena mereka sudah bekerja dengan baik." ucap orang itu.

__ADS_1


"Baik tuan." tampak pria yang menempati kursi kemudi mengangguk menanggapi ucapan orang itu. Lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Morgan kembali melanjutkan perjalanannya mencari istrinya, walaupun sudah tidak memiliki arah tujuan tempat yang akan dia datangi. Dia masih saja berjuang keras untuk mencari istrinya.


Hari mulai gelap, Morgan masih saja keluyuran di jalanan. Sudah beberapa hari dia hanya menginap di tempat penginapan, tak jarang dia makan tepat waktu, dia pun susah untuk tidur, mengenai pekerjaannya untungnya masih bisa dihandle oleh sekertaris nya.


Kini Morgan terlihat duduk di kursi taman sembari melamun. Lamunannya terbuyarkan ketika gerimis menerpa wajahnya. Morgan sama sekali tidak beranjak dari tempatnya dan akhirnya berdengus kesal merasakan air hujan mulai turun semakin deras.


Morgan berlari menuju mobilnya, sepertinya dia butuh istirahat dan juga teman bicara. Jalan satu-satunya dia harus pulang ke rumah orang tuanya. Mengigat dirinya sedang berada di kota yang sama dengan orang tuanya.


Tanpa membuang waktu, Morgan langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Tujuannya kali ini pulang ke rumah orang tuanya.


Hanya 30 menit perjalanan, akhirnya Morgan sampai di kediaman orang tuanya. Morgan mengusap rambutnya yang sedikit basah akibat terkena air hujan sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.


Dan langsung disambut kedatangannya oleh Bu Ijah, pelayan senior di kediaman orang tuanya. Morgan terkejut melihat Bu Ijah, pelayan senior yang selalu saja terjaga dan selalu membukakan pintu untuknya setiap kali pulang ke rumah. Bisa dikatakan wanita paruh baya itulah yang menyambut kedatangannya.


Morgan mengangguk lalu melangkah masuk. Sementara Bu Ijah pamit undur diri untuk kembali ke kamarnya.


Sementara Morgan mengerutkan keningnya melihat suasana rumah tampak sepi. Apakah dirinya memang pulang terlalu larut sampai-sampai kedua orang tuanya sudah pada tidur, pikirnya.


Morgan melirik jam tangan dipergelangan tangan kirinya dan benar saja sudah menunjukkan pukul 11 malam, pantas saja rumah tampak sepi. Morgan tidak ingin ambil pusing dia melangkah dengan langkah berat melewati ruang tamu. Pencariannya tak kunjung membuahkan hasil.


Namun baru beberapa langkah, Morgan menghentikan langkahnya, seketika pandangan mata Morgan tertuju pada sosok bayangan wanita menuruni anak tangga. Karena hanya ruangan tertentu saja lampu penerang masih menyala. Dan sekarang suasana ruangan tampak remang-remang.


Morgan masih berdiam diri di tempatnya berdiri, pandangannya tak beralih dari sosok wanita yang sedang menuruni anak tangga, hingga mata Morgan membulat sempurna melihat gesture tubuh sosok wanita yang sangat dikenalinya.


Morgan perlahan melangkah mendekat ke arah tangga, tatapan matanya terus menajam hingga mampu melihat dengan jelas wajah wanita itu.

__ADS_1


"Khumaira." Morgan membelalakkan matanya dan merasa sedang berhalusinasi menatap sekelebat bayangan istrinya.


Sementara wanita yang berada di ujung tangga langsung mengalihkan pandangannya karena mendengar suara seseorang menyebut namanya. Hanya cahaya remang-remang, namun wanita itu mampu melihat sosok pria sedang berdiri tidak jauh darinya.


"Siapa disana?" ucap wanita itu sambil melangkah hati-hati. Takutnya seorang pencuri masuk ke dalam rumah dan diam-diam wanita itu bergerak menyalakan saklar lampu yang tertempel di dinding.


Tlepp...


Lampu menyala dengan terangnya menyinari ruangan tersebut. Diluar dugaan pandangan mata mereka langsung bertemu dengan jarak cukup dekat. Mereka sama-sama terkejut bukan main dengan mata membulat sempurna.


"Kak Morgan!"


"Khumaira!"


Mereka bahkan saling menyebutkan nama satu sama lain dan merasa shock bisa bertemu kembali.


"Kak Morgan." wanita berhijab itu sudah melangkah mendekati Morgan dengan mata berkaca-kaca. Dan dengan bodohnya wanita berhijab itu mencubit pipinya sendiri untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak bermimpi.


Namun sayangnya dia pun meringis kesakitan. Ternyata bukan mimpi, pria yang berdiri di hadapannya sekarang adalah suaminya. Seakan tidak percaya, lagi-lagi wanita itu menutup mulutnya dan wanita itu tidak lain adalah Khumaira, istri Morgan.


Sementara Morgan hanya berdiri mematung menatap lekat-lekat wajah wanita yang dicintainya.


"Khumaira." ucapnya sekali lagi dengan tatapan mata sendu. Dia tidak menyangka istrinya berada di hadapannya saat ini.


Tanpa basa-basi Khumaira langsung berhambur memeluk tubuh Morgan. Morgan pun langsung membalas pelukannya dengan erat sambil mengangkat tubuh Mai. Senyuman terukir di sudut bibir Morgan, akhirnya dia bertemu kembali dengan istrinya.


"Aku merindukanmu kak," lirih Mai dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan Morgan, sosok yang dirindukannya.

__ADS_1


"Aku juga sangat merindukanmu sayang." balas Morgan dengan senyuman merekah. Morgan benar-benar merasakan perasaan lega. Dia pun tak henti-hentinya mencium puncak kepala istrinya saking bahagianya.


__ADS_2