
Mai mulai akrab dengan salah satu peserta kelas memasak bernama Celia. Mereka dipertemukan dalam satu tim memasak tiga hari yang lalu dan sekarang kembali satu tim.
"Bagaimana dengan dessert buatan mu?" tanya Celia kepada Mai yang tengah asyik mengaduk masakannya. Karena tugas Mai membuat hidangan penutup atau dessert.
"Sedikit lagi selesai, aku hanya perlu menambahkan potongan buah." ucap Mai tersenyum sambil memotong buah kiwi.
"Bagus, masakanku juga sudah matang. Tinggal plating di piring." ucap Celia yang juga terampil dalam memasak.
"Waktu hampir habis, kita hitung mundur mulai dari sekarang." peringat instruktur kelas memasak, begitu halnya ketiga chef profesional yang selalu memberikan pelajaran berupa masukkan tentang cara mengolah bahan-bahan dapur yang baik untuk berbagai aneka menu masakan yang sudah diajarkannya.
"Lima.... empat...tiga ..dua....satu. Semuanya angkat tangan, tidak ada lagi yang boleh melanjutkan memasak." ucap instrukturnya.
Mai dan Celia saling tos dan tampak senang karena berhasil menyelesaikan masakannya tepat waktu.
"Sekarang, kami akan menilai masakan yang kalian buat." ucap salah satu chef wanita kepada seluruh peserta kelas memasak yang jumlahnya sekitar dua puluh orang.
Seluruh peserta tampak dag dig dug, ketika instrukturnya dan para chef profesional mulai bergerak untuk mencicipi masakannya.
"Tunggu sebentar, sepertinya aku datang tepat waktu." ucap suara bariton seseorang melangkah dengan gaya angkuhnya memasuki ruangan tersebut.
Semua orang langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Para peserta wanita berdecak kagum melihat sosok pria tampan dengan seringai tipis tersirat disudut bibirnya. Hal itu membuat pria itu semakin tampan.
Sementara Mai langsung membulatkan matanya melihat pria itu. Bahkan pria itu sengaja tersenyum ke arah Mai yang tidak kuasa untuk menghampiri Mai di tempatnya.
"Wah, sungguh luar biasa melihat kedatangan tuan Devan, tidak disangka anda rela meluangkan waktu berharga anda hanya sekedar berkunjung kesini." ucap instruktur Pria.
"Ya begitulah, aku ingin melihat suasana baru di tempat ini." ucapnya dengan pandangan tertuju ke arah Mai. Sedangkan Mai hanya mampu menunduk dan merasa dirinya dalam masalah.
"Baiklah, mari tuan... jika anda tidak sungkan, tolong bantu kami untuk memberikan penilaian terhadap masakan para peserta atas hasil kerja kerasnya hari ini." ucap chef wanita.
"Tentu, ini kesempatan langka bagiku mencicipi masakan para peserta." ucap Devan tersenyum tipis.
Mereka mulai bergerak menghampiri meja para peserta. Devan bergerak cepat menghampiri meja Mai untuk mencicipi masakan buatan Mai dan Celia.
Devan tersenyum sinis menatap Mai seolah dirinya penagih hutang yang akan melakukan tagihan kepada wanita berhijab itu.
"Hai nona manis, akhirnya kita bertemu lagi." sapa Devan kepada Mai.
Mai berusaha bersikap ramah dengan melemparinya senyuman. Tampak depan mengambil piring lalu meletakkan beberapa sendok makanan buatan tim Mai dan Celia.
"Emm masakan kalian benar-benar lezat dan gurih. Untuk dessert nya sangat enak, aku bisa menghabiskan lima kotak untuk ukuran dessert seperti ini." ucap Devan dengan pujiannya.
Setelah itu, para juri yang merupakan instruktur, para chef profesional dan Devan mulai berkumpul untuk memberikan penilaian terhadap masakan para peserta. Mereka tampak serius berbisik-bisik. Kemudian mengumumkan pemenang masakan untuk ujian sesi kedua.
"Pemenangnya jatuh kepada....tim Cimoy." ucap instruktur dengan hebohnya.
Celia melompat kegirangan lalu memeluk Mai. Karena timnya yang menang.
"Yeayy kita menang Mai." ucap Celia bahagia.
__ADS_1
Mai hanya mampu tersenyum melihat kehebohan rekan timnya itu. Sedangkan Devan tersenyum tipis yang diam-diam terus memandang ke arah Mai.
"Untuk hari ini kelas berakhir, sampai jumpa di hari berikutnya." ucap instruktur mengakhiri kelasnya.
Mai dan Celia merapikan meja dan peralatan memasaknya. Setelah itu mereka bersiap untuk pulang.
"Sampai jumpa Mai." ucap Celia berpamitan kepada Mai.
"Iya, hati-hati di jalan." balas Mai tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Mai kemudian berjalan menghampiri Bu Jumi, dan kedua bodyguardnya selalu setia menunggunya di kursi tunggu dekat pintu masuk galeri tersebut.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja seorang pria menarik tangan Mai, membuat Mai terhentak sambil berusaha melepaskan tangan pria itu.
"Tolong, lepaskan tuan." ucap Mai panik.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi nona manis. Kamu tidak bisa di percaya. Sebagai gantinya, kamu harus ikut denganku." ucapnya tak ingin dibantah lalu menyeret paksa tubuh Mai keluar dari galeri tersebut.
Bu Jumi terkejut melihat majikannya diseret oleh seorang pria. Sedang kedua bodyguard bergerak cepat untuk membantu Mai.
"Lepaskan nona kami." ucap Salah satu bodyguardnya menantang Devan.
Devan menyeringai licik sambil bertepuk tangan melihat kedua bodyguard tersebut. Dan seketika dua pihak keamanan yang bertugas mengamankan galerinya bergerak cepat menghampirinya.
"Bereskan mereka." ucap Devan menunjuk ke arah bodyguard Mai.
Mai terus memberontak dalam cengkeraman tangan Devan. Bu Jumi yang melihatnya segera mengejarnya.
"Tuan, tolong lepaskan saya!." ucap Mai sambil memberontak untuk lepas.
Diluar dugaan sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna silver berhenti tepat di depan pintu masuk galeri. Tampak pria gagah nan berkharisma turun dari mobil.
Pria itu langsung mengedarkan pandangannya hingga rahangnya mengeras melihat orang yang dikenalinya sedang diseret paksa. Pria itu mengepalkan tangannya sembari melangkah tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Hei! lepaskan istriku!" teriaknya terdengar satu oktaf.
Mai dan Devan langsung menoleh ke sumber suara. Mai terlonjat kaget melihat pria itu. Raut wajah Mai menjadi pias.
"Beraninya kamu menyentuh istriku!" bentaknya dengan sorot mata tajam siap melahap mangsanya.
"Ha ha haha istri, jangan mengada-ada tuan Morgan. Dia peserta termuda di galeri kami, kurasa anda cuma bercanda." sinis Devan yang mengenal pria itu.
Sementara pria itu mengepalkan tangannya yang sudah diselimuti kabut amarah dan langsung mendekatinya.
Bughhhh
Satu bogem panas mendarat sempurna di wajah Devan, membuat tubuh Devan terhuyung. Kemudian pria itu melepas paksa cengkeraman tangan Devan yang masih setia memegangi tangan istrinya.
Bughhhh
__ADS_1
Pria itu kembali menendang perut Devan hingga membuat Devan memekik kesakitan
"Hentikan kak, tolong jangan buat keributan. Dia tidak salah" ucap Mai dengan tatapan memohon mencoba melerainya.
Karena Pria itu tidak lain adalah Morgan, suaminya. Mai tidak ingin Morgan menghakimi orang lain. Karena dia pun ikut andil dalam masalah tersebut. Wajar dirinya di kejar-kejar oleh Devan, sampai sekarang dia belum juga ganti rugi atas rusaknya ponsel pria tersebut.
Morgan hanya mampu berdengus kesal mendengar ucapan Mai. Dadanya bergemuruh menahan amarahnya karena Mai seolah membela pria lain dibandingkan dirinya.
"Ini baru peringatan untukmu. Jika kamu kembali berurusan dengan istriku, aku pastikan hidupmu akan sengsara." ancam Morgan tak main-main.
Devan tersenyum sinis memegangi perutnya.
"Wah kamu mengancam ku tuan, asal kamu tau aku berurusan dengan nona manis ini..."
"Jangan menyebutnya seperti itu!" kesal Morgan dan kembali melayangkan pukulan keras di wajah Devan. Devan tak terima dia pun membalas pukulan Morgan, namun sayangnya pukulannya meleset.
"Berhenti kak." Mai bergerak memeluk tubuh Morgan untuk melerainya.
"Ha ha ha dia bahkan memanggilmu kakak, jangan-jangan kamu memang kakaknya bukan suaminya." ledek Devan diiringi gelak tawa.
"Sialan!" Morgan semakin naik pitam, namun Mai terus memeluknya erat seakan tak ingin membiarkannya pergi.
"Lepaskan aku Khumaira." ucap Morgan dingin, namun Mai tak mengindahkan ucapannya.
"Tidak kak. Ak-aku merusak ponsel orang ini, maka dari itu dia meminta ganti rugi kepadaku." jelas Mai yang masih setia memeluk tubuh tuan mudanya.
"Haiss, katakan berapa uang yang kamu inginkan!" ketus Morgan dengan tatapan dinginnya.
"Aku tidak butuh uangmu, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama nona manis ku."
"Brengsek!!!."
Morgan lagi-lagi tersulut emosi dan tanpa basa-basi langsung menghajar Devan habis-habisan. Tidak hanya itu, Devan pun meladeninya. Perkelahian mereka menjadi pusat perhatian banyak orang, tapi tak seorangpun mendekat untuk melerainya.
Mai sudah panik sambil meminta tolong kepada orang lain hingga Bu Jumi datang menghampirinya. Kemudian mereka bergerak melerai Morgan dan Devan.
"Berhenti." teriak Mai yang berhasil melerai mereka.
Kemudian Mai berusaha membantu Devan untuk berdiri, hal itu membuat Morgan cemburu melihatnya.
Tanpa basa-basi Morgan langsung menarik tangan Mai untuk berdiri di sampingnya, lalu menggendong Mai dan memasukkannya ke dalam mobil.
Setelah itu Morgan menghubungi seseorang.
"Persiapkan keberangkatanku sore ini juga. Aku ingin berbulan madu bersama istriku." ucapnya lalu mengakhiri panggilannya.
Sementara seseorang di ujung telepon tersenyum puas mendengar ucapan Morgan.
Morgan bergegas masuk ke dalam mobilnya dan langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1