
"Jangan pernah berurusan dengan pria itu atau pria manapun, karena aku tidak suka. Kamu itu sudah menjadi milikku!." tegas Morgan sambil mendekati Mai lalu menyentuh dagunya.
Mai membulatkan matanya mendengar setiap ucapan Morgan. Lebih-lebih ucapan Morgan diakhir kalimat yang sudah mengakuinya sebagai miliknya.
"Iyaa k-kak, ak-aku minta maaf." ucap Mai gagap dengan perasaan takut sambil mengatupkan kedua tangannya meminta maaf kepada Morgan.
"Sudahlah lupakan saja." ucap Morgan terlihat acuh sambil melepaskan tangannya dari dagu Mai yang sempat disentuhnya.
Mereka kembali saling diam-diaman. Morgan sesekali curi-curi pandang ke arah Mai dan merasa bersalah membuat Mai menjadi takut dan sepertinya tidak nyaman bersamanya. Ditambah dia lah yang sudah membuat ponsel Mai rusak.
"Khumaira, sebenarnya aku lah yang sudah membuat ponselmu rusak." ucap Morgan jujur.
Dia tidak tenang jika terus menutupi kesalahannya. Dan berkata jujur adalah jalan terbaik yang bisa menyelesaikan masalahnya.
"Apa? bagaimana bisa kak Morgan merusak ponselku. Ponselku sama sekali tidak salah apa-apa, kak. Sekarang, aku bahkan susah untuk menghubungi ibu." ucap Mai dengan raut wajah sendu dan mata berkaca-kaca.
Mai menjadi sedih karena seharian ini dia tidak bisa menghubungi ibunya karena ponselnya rusak. Dan Mai begitu pandai menyimpan kesedihannya dan tak pernah dia tunjukkan kepada orang disekitarnya.
Untuk membeli ponsel baru, Mai belum ada waktu luang karena dia sedang fokus menjaga ponakan kembarnya. Mai hanya cemas jika ibunya mengkhawatirkannya di sana.
"Aku minta maaf." ucap Morgan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.
Baru kali ini dirinya meminta maaf, biasanya egonya teramat tinggi hanya untuk mengucapkan kata maaf.
Mai hanya mampu diam menunduk tanpa menimpali ucapannya, kemudian Mai melangkah masuk ke dalam kamar. Namun baru beberapa langkah, Morgan langsung menarik tangan Mai, membuat Mai menghentikan langkahnya lalu menoleh kearahnya.
"Waktu itu aku begitu emosi melihat pesan dari pria yang terang-terangan mengatakan menyukaimu. Tanpa pikir panjang, aku langsung melempar ponselmu, aku sangat marah dan tidak suka jika ada pria lain menyukaimu. Karena hanya aku yang boleh menyukaimu! Jujur....aku sudah menyukaimu." jelas Morgan dan penuh penekanan diakhir kalimat jika dia sudah menyukai Khumaira.
Deg!
Mai diam membisu dan tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan tuan mudanya.
Apakah dia harus marah karena tuan mudanya yang merusak ponselnya? ataukah haruskah dia bahagia karena tuan mudanya berkata jujur jika sudah menyukainya?
"Maaf Khumaira." ucap Morgan sekali lagi dengan tatapan sendunya.
"Tidak apa-apa, aku sudah memaafkan mu." ucap Mai menunduk dan masih syok jika tuan mudanya menyukainya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Morgan langsung menarik tubuh Mai masuk ke dalam pelukannya. Mai terbelalak kaget matanya membola sempurna dengan jantung terasa hampir copot dari tempatnya.
Mai tak tahu harus bagaimana? dia seolah sedang bermimpi di peluk oleh tuan mudanya. Sedangkan Morgan sendiri memeluknya dengan erat seakan mencurahkan segala perasaannya lewat pelukan hangatnya.
Mai tak membalas pelukannya, membuat Morgan langsung melonggarkan pelukannya sambil menunduk menatap wajah Mai.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Morgan karena melihat Mai hanya bengong.
Mai menggeleng cepat, dia begitu gugup. Perasaannya menjadi campur aduk dan tak menentu jika berduaan dengan pria yang selalu membuat jantungnya terus berdetak kencang.
"Katakan saja." ucap Morgan tersenyum tipis sambil menyentuh dagu Mai.
"Ak-aku..." Mai benar-benar gugup dengan rona wajah memerah. Sedangkan Morgan menaikkan alisnya menunggu ucapannya.
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Mai, lagi-lagi Mai membelalakkan matanya dengan aksi Morgan yang sudah lancang dan tidak canggung lagi menciumnya.
"Aku sudah tahu ucapanmu." ucap Morgan tersenyum tipis sambil mengelus pipinya.
"Kak.." Mai menggigit bibir bawahnya dan Morgan langsung meletakkan telunjuknya tepat di bibirnya untuk memintanya berhenti berbicara.
Mai langsung mengalihkan pandangannya ke arah meja sambil memindai kota kado tersebut.
"Semoga kamu menyukainya." ucap Morgan, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar meninggalkan Mai seorang diri.
Mai mendekat ke arah meja lalu mengambil kotak kado tersebut. Terdapat kartu ucapan diatasnya, membuat Mai senyum-senyum membacanya.
Rasa penasarannya semakin tinggi, Mai langsung membuka kotak kado tersebut dengan antusias. Hingga menyisakan boks hitam, Mai kemudian membukanya dan matanya membola sempurna melihat isi dari boks hitam tersebut. Sebuah ponsel baru persis dengan ponsel tuan mudanya, warnanya, mereknya sama persis. Digadang-gadang harganya sangatlah mahal.
Mai tersenyum merekah dan begitu senang mendapatkan ponsel baru. Mai kemudian menutup kembali boks tersebut lalu melangkah riang gembira masuk ke dalam kamar.
Mai mengedarkan pandangannya melihat ke arah tempat tidur. Tampak Morgan tengah bersandar di kepala tempat tidur yang sepertinya sedang menunggunya, Mai kemudian mendekat ke arah tempat tidur dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.
"Terima kasih kak, aku sangat menyukainya." ucap Mai berbisik dengan senyuman merekah.
"Aku tidak mendengarnya." ucap Morgan berpura-pura cuek.
__ADS_1
Mai kembali mendekat ke arahnya lalu membungkukkan badannya untuk berbisik di telinga Morgan, namun aksinya digagalkan oleh Morgan, karena Morgan langsung menarik tangannya hingga membuat tubuh Mai terjatuh di atas pangkuannya.
"Kak." Mai terkejut dibuatnya sambil melirik ke arah si kembar yang sedang tertidur pulas, takutnya membangunkannya.
Morgan menyeringai menyentuh dagu Mai, sehingga membuat Mai menoleh kearahnya. Tatapan mata mereka pun bertemu. Tanpa diduga, Mai langsung berhambur memeluknya.
Morgan terkejut dengan aksi Khumaira, namun membuatnya senang. Jantungnya pun semakin berdebar-debar kencang bahkan merasa gugup dipeluk oleh wanita yang sudah dia akui menjadi miliknya.
Baru kali ini dirinya merasakan perasaan cinta pada lawan jenisnya. Biasanya mereka hanya berteman dekat tanpa membawa perasaan.
"Kamu sudah lancang ya memelukku." bisik nya di telinga Mai.
Mai tersipu malu dan mencoba untuk melepaskan pelukannya, namun Morgan malah mengeratkan pelukannya.
"Maaf. Terima kasih atas hadiahnya. Aku sangat menyukainya, kak." ucap Mai dengan mata berbinar dan hati berbunga-bunga.
"Hemm" Morgan tersenyum tipis lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan Mai beranjak dari tubuhnya.
Mai meletakkan boks hitam yang berisi ponsel baru di atas nakas, kemudian dengan hati-hati naik ke atas tempat tidur lalu berbaring di samping Aqila.
Pandangan Morgan tidak lepas memperhatikannya dengan raut wajah berseri-seri. Mereka pun tidur di bawah selimut yang sama dimana ponakan kembarnya berada di tengah-tengah mereka.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain....
Terlihat pria jangkung dengan setelan jas hitam melekat sempurna di tubuh atletisnya mulai melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan bernuansa putih.
"Bagaimana Sam?" ucapnya pada pria berjas putih.
"Dia sudah siuman satu jam yang lalu, namun aku kembali menyuntikkan obat bius agar tidak membuatnya memberontak. Dia terus memberontak ingin melepaskan alat medis yang melekat di tubuhnya" ucap Pria berjas putih itu yang bernama Samuel.
"Oh. Kasihan sekali kamu Maura, jalan hidupmu harus seperti ini. Inilah akibatnya kamu dan Rania berkhianat di kelompok mu sendiri. Padahal aku sudah memberimu tawaran menarik untuk balas dendam di keluarga Alexander." ucap pria bermanik hitam itu dengan tatapan sinis menatap wanita yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Ini sudah garis takdir tuan muda Alfhat." timpal Samuel yang merasa iba dengan kondisi sahabatnya saat ini.
"Cihh, aku tidak percaya Tuhan dan garis takdirnya." ucap Pria bermanik hitam itu yang ternyata bernama Alfhat. Musuh bebuyutan Adelio.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗