Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Kehilangan


__ADS_3

Morgan mengedarkan pandangannya hingga tak sengaja melihat gulungan kertas di bawah meja. Morgan berjongkok mengambilnya kemudian segera membukanya.


Mata Morgan membulat sempurna melihat isi dari gulungan kertas tersebut yang berupa ancaman baginya.


'Jika kamu ingin wanitamu selamat, datanglah seorang diri di dermaga Singh sebelum matahari terbenam.'


Morgan langsung meremas kertas tersebut lalu melemparkannya dengan kesal. Morgan segera memakai jaketnya lalu melangkah tergesa-gesa meninggalkan kamarnya.


"Aku pasti akan menemukan istriku." Morgan begitu marah besar. Seseorang kembali mengusik ketenangannya.


*


*


*


Sementara di atas kapal pesiar LX.


Di sebuah kamar mewah tampak wanita berhijab berbaring dengan nyamannya di bawah selimut. Wanita itu belum juga terbangun sepanjang kapal pesiar terus berlayar beberapa jam yang lalu dengan jarak tempuh sudah berkilo-kilo meter.


Tampak dua pramusaji wanita masuk ke dalam kamar yang ditempati wanita berhijab itu. Mereka lalu menghidangkan makanan dan minuman untuk tamunya. Setelah selesai, mereka bergegas keluar dari kamar tersebut.


Tak berselang lama, dua pelayan wanita berwajah mirip kembali masuk ke dalam kamar tersebut. Sudah dipastikan pelayan wanita itu saudara kembar, mengingat wajahnya yang mirip, satunya memiliki tahi lalat di pangkal hidungnya dan satunya tidak memiliki tahi lalat.


Mereka langsung mengedarkan pandangannya melihat ke arah tempat tidur. Setelah itu, mereka melangkah masuk ke dalam toilet untuk menyiapkan air hangat di dalam bathtub dan juga perlengkapan mandi lainnya.


"Ayo, kita harus bangunkan nona muda." ucap pelayan wanita yang memiliki tahi lalat di pangkal hidungnya sebagai pembedanya. Dan pelayan yang satu menggangguk menanggapi ucapannya.


Mereka saling pandang lalu melihat ke arah tempat tidur dimana wanita berhijab yang dimaksud nona mudanya masih tertidur pulas.


"Aku tidak tega untuk membangunkannya. Kamu saja ya"


"Tidak, kamu saja. Lagian itu sudah menjadi tugasmu karena kamu lebih tua dariku."


"Baiklah kalau begitu."


Pelayan kembar itu sempat-sempatnya adu mulut hanya ingin membangunkan wanita berhijab itu.


Ombak besar tiba-tiba menghantam bagian depan kapal pesiar, membuat kamar tersebut menjadi goyah sampai-sampai tubuh pelayan kembar itu linglung dan oleng, untungnya mereka masih bisa berpegangan di tiang ranjang hal itu sontak membuat wanita berhijab terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Wanita berhijab itu terkejut bukan main merasakan tubuhnya seperti terombang-ambing. Pandangannya diedarkan melihat disekelilingnya hingga terlonjat kaget karena dia merasa asing dengan kamar yang ditempatinya sekarang.


Sepasang mata bulatnya dialihkan menatap keluar jendela kamar, hingga matanya membola sempurna melihat lautan lepas di depan matanya.


Wanita berhijab itu dengan hati-hati turun dari tempat tidur, kemudian melangkah mendekat ke arah jendela kamar.


"Ya Allah, sekarang aku berada dimana. Mengapa diluar hanya lautan" ucapnya terkejut.


"Kak Morgan, ya kak Morgan, dimana kak Morgan sekarang..." wanita berhijab itu terlihat cemas sambil celingak-celinguk mencari keberadaan sosok pria yang dicintainya. Tidak salah lagi wanita berhijab itu adalah Khumaira.


Mai lalu mengalihkan pandangannya menatap kedua wanita berpakaian seragam berdiri di samping tempat tidur. Kemudian Mai melangkah mendekatinya yang sedang diselimuti rasa takut. Karena mereka adalah orang asing.


"Ap-apa kalian melihat suamiku?" tanya Mai kepada mereka.


"Maaf nona, kami tidak melihat. Hanya nona yang menempati kamar ini." jawab salah satu dari mereka.


"Bagaimana bisa aku berada di tempat ini? apa aku diculik?." tanya Mai terlihat waspada kepada kedua wanita berseragam merah itu.


"Maaf Nona kami tidak tahu apa-apa. Tugas kami hanya untuk melayani anda. Dan nona jangan takut, karena kami bukan orang jahat." jawab Pelayan yang memiliki tanda lahir. Pasalnya melihat gelagat wanita berhijab itu tampak ketakutan melihatnya.


Mai menelan ludahnya dengan kasar dan perlahan memundurkan langkahnya. Dia tidak ingin percaya begitu saja kepada orang asing.


"Jadi benar aku diculik," mata Mai berkaca-kaca menatap mereka. Sedangkan yang ditatap hanya bungkam tanpa bersuara.


Mai menutup mulutnya tidak percaya hingga tubuhnya menjadi lemas dan merosot ke bawah. Air matanya tiba-tiba menetes dengan sendirinya. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang, sedangkan Morgan tidak bersamanya.


Mai begitu takut jika sesuatu terjadi kepada Morgan. Tujuan mereka berbulan madu di pulau Kana, mengapa sekarang dia diculik dan dibawa pergi entah kemana.


"Nona kami ingin membantu anda membersihkan diri, tolong kerja samanya." ucap mereka dengan kompaknya.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Tolong tinggalkan aku." ucap Mai menunduk sambil mengusap kasar air matanya. Ia menjadi sedih.


"Kami tidak akan pergi nona, sebelum kami memastikan Anda sudah berganti pakaian." ucap salah satu dari mereka dengan pandangan tertunduk.


Mai menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu bangkit berdiri. Dia menjadi tidak enak hati kepada kedua wanita itu yang juga tidak tahu apa-apa.


Mai melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mungkin setelah ini dia akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Tak berselang lama kemudian, Mai keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapi dan bersamaan pula pintu kamarnya terbuka lebar dan menampilkan sosok yang dikenalinya berlari masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Kakak baik." teriak bersamaan anak kecil yang begitu hebohnya berlari ke arahnya.


Seketika raut wajah Mai yang murung berubah ceria hanya melihat mereka.


"Aqil, Aqila." ucap Mai tersenyum plus terkejut dengan mata berkaca-kaca melihat mereka.


Kedua tangannya langsung di rentangkan dan disambut dengan pelukan hangat dari kedua anak kembar itu.


Kesedihannya perlahan menghilang, dia sudah tidak takut lagi disekitarnya, karena bukan hanya dia seorang yang berada di kapal pesiar tersebut, melainkan kedua ponakan kembarnya juga bersamanya.


"Aqil, Aqila!" teriak suara lembut seseorang di luar kamarnya.


"Kami disini mama." ucap si kembar dengan kompaknya sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Mai


Mai langsung mengedarkan pandangannya ke arah pintu dan senyuman terpancar di sudut bibirnya manakala melihat ibu si kembar melangkah menghampirinya.


"Bagaimana kabarmu Mai?" tanya Adelia lalu menghambur memeluknya.


"Alhamdulillah baik kak." jawab Mai yang juga membalas pelukannya. Hati Mai menghangat melihat mereka semua.


"Kak, bagaimana bisa aku berada di tempat ini? terus kak Morgan kemana?" tanya Mai curiga.


"Panjang ceritanya, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, yang terpenting Morgan sedang menyusul mu." ucap Adelia tersenyum dibalik cadarnya.


"Berpikirlah positif dan nikmati saja liburanmu karena perjalanan kita masih jauh. Percayalah Mai, semuanya akan baik-baik saja" ucap Adelia sambil mengelus punggungnya dengan penuh kasih layaknya seorang kakak memberikan nasihat kepada adiknya.


"Iya kak, terima kasih sudah mengingatkan ku" ucap Mai dengan anggukan kepala.


Adelia tersenyum dibalik cadarnya lalu mengusap pipinya.


"Aku bawa anak-anak dulu, mereka mau melihat lumba-lumba bersama sepupunya. Beristirahatlah Mai, nanti kami kembali menemui mu." Mai mengangguk mendengar ucapannya. Kemudian Adelia segera membawa anak-anaknya keluar dari kamar Mai. Sedangkan Mai hanya mampu tersenyum melihat kepergian mereka.


Kak Morgan, kamu pasti mencemaskan ku. Disini aku pun merasakan hal yang sama. Aku merasa hampa dan...merasa kehilangan dirimu. Batin Mai.


Mai tidak ingin bersedih, dia harus sabar menunggu kedatangan Morgan menjemputnya.


Mai memilih duduk di kursi, dan mulai menikmati hidangan makanan yang tersaji di atas meja. Sambil menikmati makanannya, Mai masih saja kepikiran dengan Morgan.


Belum genap 24 jam, rasanya dia benar-benar kehilangan sosok pria yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2