
"Maura!" teriak Morgan hingga terbangun dari mimpi buruknya. Tampak Morgan ngos-ngosan. Mai langsung mengulurkan tangannya mengambil segelas air minum di atas nakas.
"Minum dulu kak " ucap Mai lembut dan Morgan mengambil gelas di tangannya lalu meneguknya cepat.
Maura? siapakah wanita itu?. Batin Mai bertanya-tanya dalam hati.
"Apa kak Morgan baik-baik saja?" tanya Mai sambil membasuh keringat di kening Morgan.
"Ya, aku baik-baik saja." ucap Morgan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Kenapa aku harus memimpikan wanita itu. Batinnya kesal.
Morgan memilih bersandar di kepala tempat tidur. Sedangkan Mai dengan setia duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Namun Mai sedang memikirkan siapakah wanita yang baru saja disebut-sebut oleh tuan mudanya dalam mimpinya.
"Kak, kalau boleh tau siapa wanita yang baru saja kak Morgan sebut namanya." ucap Mai dengan hati-hati takutnya menyinggung perasaan tuan mudanya.
"Dia hanya wanita masa laluku, dan aku tidak ingin mengingatnya kembali." ucap Morgan dengan raut wajah berubah kesal.
Mai terdiam mendengar ucapannya.
Jangan-jangan wanita itu yang ingin tuan Morgan nikahi. Tapi, apa masalahnya hingga mereka tak jadi menikah? lantas mengapa harus aku yang menjadi pengantin pengganti untuknya? apa aku perlu cari tahu masalah mereka? Tidak...aku tidak ingin membuat masalah baru, aku sudah berjanji kepada Mama Milan untuk tidak mengungkit kembali yang sudah sudah. Batin Mai.
Melihat raut wajah tuan mudanya berubah datar, Mai tidak ingin membahas kembali wanita di masa lalu tuan mudanya. Sepertinya wanita itu memberikan luka mendalam bagi pria yang sudah mengisi hatinya itu.
*
*
*
Keesokan harinya....
"Beneran kak Morgan mau berangkat kerja?" tanya Mai memastikan sembari membantu Morgan memakai jas.
"Ya, ada meeting pagi ini. Aku tidak ingin membatalkannya, lagian aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil, aku sudah terbiasa mendapatkan luka seperti ini." ucap Morgan tersenyum hangat menatap Mai.
Sementara Mai terkejut mendengar ucapannya, bagaimana bisa luka separah itu dianggap kecil atau dianggap remeh. Padahal jelas-jelas lukanya begitu parah.
__ADS_1
"Kak, kalau boleh tau siapa orang-orang yang ingin mencelakai kita waktu di mall? bahkan sampai melukai kak Morgan dan... ingin menculik si kembar." ucap Mai sambil merapikan dasinya.
"Mereka para penjahat yang selalu mengincar keluargaku. Maka dari itu, kenapa aku selalu memberikan bodyguard untuk selalu mengawal mu setiap kali keluar rumah, semua itu semata-mata demi menjagamu agar kamu selalu tetap aman. Sungguh aku tidak ingin kamu terluka, karena kamu adalah gadis penyelamatku." ucap Morgan menjelaskan dengan tatapan hangatnya sambil mengelus lembut pipi Mai.
Hanya Khumaira satu-satunya wanita yang menggetarkan hatinya. Morgan tidak ingin berpaling ke yang lain, dia begitu yakin seratus persen menyukai bahkan sudah mencintai wanita yang pernah direndahkannya itu yang kini berstatus sebagai istrinya.
Mai terdiam mendengar penjelasan dari Morgan. Memang dirinya tak tahu menahu tentang keluarga Alexander. Yang dia tahu, keluarga konglomerat itu begitu baik kepada sesama dan selalu bersedekah kepada fakir miskin dan orang tidak mampu yang begitu membutuhkan. Tidak hanya itu, merupakan orang yang berpengaruh di negaranya dan terkenal religius.
"Apakah semua anggota keluarga lainnya juga mendapatkan pengawalan khusus?" tanya Mai.
"Tentu, bukan cuman kamu. Hampir semua anggota keluargaku memiliki para pengawal masing-masing. Jika kamu mengganggap itu hal yang aneh memang benar adanya. Jika kamu bertanya mengapa demikian? maka aku hanya bisa mengatakan demi kebaikanmu dan juga keselamatanmu. Aku tidak bisa mengatakan segalanya, lambat laun kamu pasti mulai terbiasa dengan semua ini." ucap Morgan.
"Aku hanya takut jika sesuatu terjadi kepada kita dan anggota keluarga lainnya." ucap Mai dengan raut wajah tampak murung.
"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah, Tuhan akan selalu melindungi kita semua." ucap Morgan lalu menariknya masuk ke dalam pelukannya.
"Iya kak, aku selalu mempercayaimu." ucap Mai sambil membalas pelukannya.
Tapi, aku masih kepikiran dengan wanita yang kamu sebut-sebut namanya dalam mimpimu.
"Apa kamu ada kelas hari ini?"
"Oh baguslah, kalau begitu aku akan pulang untuk makan siang di rumah. Karena kita tidak pernah makan siang bersama." ucap Morgan tersenyum tipis lalu mencium kening Mai.
"Iya. Kak, benar ini tidak sakit?" tanya Mai sekali lagi sambil menyentuh dada bidang tuan mudanya itu.
Morgan tersenyum sambil menggeleng cepat.
"Yakin?"
"Kamu sudah seperti Mama yang tidak ingin membiarkan ku bekerja rupanya." ucap Morgan memajukan wajahnya. Mai segera menundukkan kepalanya.
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Mai, seketika wajah wanita berhijab itu merona. Kini mereka saling berhadap-hadapan, Morgan menatap dengan tatapan berbeda wanita yang sudah menggetarkan hatinya.
"Maafkan aku Humaira. Maaf atas segala kelakuan tak senonoh yang pernah ku perbuat kepadamu. Aku baru menyadarinya sekarang ternyata kamu wanita yang begitu spesial untukku. Aku ingin memulai kembali hubungan bersamamu, aku ingin menempuh hidup baru bersamamu, menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Aku tidak ingin mempermainkan pernikahan ini, maukah kamu memulai kembali hubungan kita?" ucap Morgan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.
__ADS_1
Mai yang mendengar ucapannya langsung mendongak menatapnya. Dengan mata berkaca-kaca Mai mengangguk sebagai jawabannya. Morgan tersenyum merekah dan begitu senang dengan jawaban Mai.
"Terima kasih Khumaira." Morgan mencium punggung tangan Mai lalu kembali memeluknya.
"Aku ingin memulai hubungan kita dengan menjadi kekasih halal. Untuk merayakannya, bersiaplah nanti malam. Aku ingin mengajakmu makan malam di luar." ucap Morgan antusias.
"Kekasih halal? bukankah kita memang sepasang suami istri, kak." timpal Mai.
"Ya memang benar, kita sepasang suami istri, maka dari itu kita memulainya dengan cara pacaran setelah menikah. Makanya kamu menjadi kekasih halal ku, karena aku bebas, menyentuhmu, menciummu dan terakhir memilikimu." ucap Morgan tersenyum puas menggoda Mai
"Sudah ahh, nanti kak Morgan telat datang ke kantor." ucap Mai malu sambil mendorong pelan tubuhnya.
Morgan tergelak tawa lalu menarik tangan Mai keluar dari kamar tersebut. Mereka berjalan bergandengan tangan menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk sarapan bersama.
*
*
*
"Apa kabar Maura." sapa Alfhat sambil meletakkan parsel buah di atas nakas tempat tidur pasien.
Sementara Maura sama sekali tidak menggubris sapaannya. Wanita itu hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Aku hanya berharap kamu cepat sembuh." ucap Alfhat penuh iba sambil melangkah mendekatinya.
"Apa yang ingin kamu lakukan, aku akan siap membantumu." ucap Alfhat dengan entengnya berusaha mengajak Maura berbicara dengannya.
Maura menoleh kearahnya lalu kembali melihat keluar jendela menatap bangunan pencakar langit.
"Kamu serius dengan ucapanmu." ucap Maura dingin yang mulai buka suara.
"Aku selalu serius dan tidak suka berbasa-basi. Katakanlah keinginanmu." timpal Alfhat sungguh-sungguh
"Aku ingin bertemu dengan Morgan, tolong bawa aku untuk menemuinya." ucap Maura.
"Baiklah, tak masalah. Aku menyanggupinya." ucap Alfhat tersenyum tipis mendengar ucapan Maura.
__ADS_1
Ya walaupun kamu sudah berkhianat kepadaku, tapi aku rasa tak perlu mengotori tanganku karena hidupmu tidak akan lama lagi Maura. Batin Alfhat.
Bersambung