Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
TIDAK


__ADS_3

"Oma, aku mau es krim." rengek Aqila sambil melihat anak kecil yang memegang cup es krim.


"Tunggu sebentar, Oma akan suruh pengawal untuk membeli es krim untuk kalian." ucap Nyonya Milan tersenyum. Kemudian menyuruh salah satu pengawalnya untuk membelikan cucunya es krim.


Diluar dugaan, seseorang sedang mengintai mereka sedari tadi. Tidak hanya itu, seorang wanita paruh baya juga mengintai mereka dari dalam mobil.


Wanita paruh baya itu tampak mengepalkan tangannya menatap ke benci ke arah mereka.


"Inilah saatnya aku membalaskan dendam atas kematian suamiku. Kamu harus menanggungnya Milan." gumamnya kesal dengan penuh kebencian. Tatapan matanya penuh dendam menatap ke arah wanita yang seumuran dengannya bersama kedua cucunya.


Tak berselang lama, pengendara motor trail mendekati mobil yang ditumpangi oleh wanita paruh baya itu. Kemudian si pengendara motor mengetuk pintu kaca mobil tersebut.


Wanita paruh baya yang berada dalam mobil langsung menurunkan kaca mobilnya lalu menyerahkan amplop coklat yang cukup tebal kepada si pengendara motor. Sedangkan Pengendera motor itu tersenyum puas melihat isi amplop tersebut yang berisi uang tunai.


"Habisi wanita paruh baya itu, aku akan melihatnya dari sini." ucapnya kepada si pengendara motor.


"Baik nyonya." Pengendara motor itu langsung setuju sambil memasukkan amplopnya di saku jaketnya.


Setelah itu, mulai melajukan motornya ke arah mangsanya. Merasa tidak aman, karena melihat beberapa pria bertubuh kekar berpakaian lengkap berkeliaran dan melakukan pengawalan terhadap mangsa yang akan dia habisi. Pengendara motor itu memilih untuk mengintainya, setelah lepas penjagaan, dia akan beraksi.


***


"Anak-anak jangan main kejar-kejaran seperti itu, nanti kalian jatuh." ucap Nyonya Milan menegur cucu-cucunya.


Mai segera menghampiri mereka lalu membawanya untuk duduk di kursi taman.


"Aqil, Aqila minum dulu. Lihat kalian sudah keringatan habis main kejar-kejaran." ucap Mai tersenyum lalu menyerahkan minuman untuk mereka.


"Terima kasih bunda Mai." ucap si kembar dengan kompaknya lalu meminum minumannya. Sedangkan Mai hanya mampu tersenyum dengan anggukan kepala menanggapi ucapan mereka.


"Itu es krim kalian sudah datang, cepat, ucapkan terima kasih pada paman pengawal." ucap Nyonya Milan kepada si kembar, ketika melihat pengawalnya sudah datang membawa es krim yang di minta oleh mereka.


"Terima kasih paman pengawal." ucap Aqila antusias, lalu disusul Aqil juga mengungkapkan kata terima kasih. Kemudian Mai mengambil es krim tersebut lalu membagikannya pada si kembar.


Nyonya Milan dan Mai tersenyum melihat tingkah menggemaskan si kembar yang begitu heboh makan es krim.


"Mai, setelah ini, apa kamu ingin berkunjung ke Savana?. Mama belum pernah kan mengajakmu ke sana." ucap Nyonya Milan tersenyum.

__ADS_1


"Terserah Mama saja. Mai juga penasaran ingin berkunjung ke sana, katanya tempat itu...." Mai tidak melanjutkan ucapannya.


"Banyak kuda balapnya bunda, kamu sering berkunjung ke sana untuk melihat pacuan kuda." ucap Aqila yang memotong ucapan Mai.


Memang mereka sering di ajak oleh Ayah dan ibunya di hari weekend untuk mengunjungi tempat tersebut. Sekalian belajar sambil bermain memahami lingkungan sekitarnya.


"Benarkah? kalau begitu bunda Mai akan berkunjung ke sana bersama Oma dan kalian berdua." ucap Mai antusias dengan mata berbinar-binar sambil mencolek hidung kecil Aqila karena saking gemasnya.


"Dijamin bunda bakalan suka tempat itu." ucap Aqila antusias, seolah sedang mempromosikan tempat tersebut.


"Iya, bunda pasti akan suka tempatnya." timpal Mai diselingi senyuman.


"Oma Oma, Aqil mau balon." ucap Aqil yang mulai buka suara saat melihat penjual balon lewat di depan mereka.


"Iya sayang," ucapnya tersenyum. "Aqila juga mau balon?" tanyanya pada sang cucu perempuan.


"Iya Oma." jawab Aqila cepat dengan mulut belepotan. Mai tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat mulut Aqila belepotan gara-gara makan es krim, dia segera membersihkannya dengan tissue.


"Kalau begitu tunggu sebentar ya, Oma yang akan beli balon untuk kalian." ucap Nyonya Milan tersenyum.


"Baik Oma." si kembar bersorak gembira sembari mengangguk setuju.


"Iya Mama, hati-hati. Tak perlu mengejarnya, berjalan saja ya." balas Mai tersenyum tipis.


Nyonya Milan hanya mampu tersenyum menanggapi ucapan Mai, kemudian dia bergerak cepat mencari penjual balon keliling yang mengenakan sepeda onthel antik. Dari kejauhan Nyonya Milan melihat penjual balon tengah melayani pembeli di seberang jalan.


"Astaga, cepat benar penjual balon pergi, padahal barusan lewat, sudah ada di seberang jalan segala." gumam Nyonya Milan sambil berdecak kesal.


Nyonya Milan segera menghampiri penjual balon tersebut, lalu membeli semua balon yang masih tersisa lima balon.


"Ambil saja semuanya, tak perlu kembaliannya." ucap Nyonya Milan menyerahkan beberapa lembar uang untuk si penjual balon.


"Alhamdulillah, terima kasih nyonya." ucapnya penuh syukur mendapatkan uang lebih.


Sedangkan Nyonya Milan mengangguk menanggapi ucapannya lalu bergegas pergi sambil menenteng balon untuk sang sang cucu.


Tiba-tiba saja sebuah motor trail mulai mengikuti Nyonya Milan. Si pengendara motor tampak memakai masker, agar wajahnya tidak di ketahui. Sebilah pisau sudah dia pegang dan sengaja disembunyikan di balik jaketnya.

__ADS_1


Sementara itu, nyonya Milan tampak santai berjalan sambil membawa balon, dia sama sekali tidak menaruh curiga disekelilingnya. Karena kawasan taman tampak sepi di jam kerja seperti ini.


Bersamaan pula Devan baru saja tiba di taman yang dimaksud oleh orang suruhannya. Dia hanya perlu menunggu kedatangan para anak buah pamannya. Setelah itu, menyerang para bodyguard yang melakukan pengawalan terhadap Mai, lalu menculik Mai dan membawanya pergi jauh.


Dari dalam mobil, Devan mampu melihat wanita berhijab bersama anak kecil dan dia yakin wanita itu adalah Khumaira.


Sementara itu, Aqil dan Aqila tampak gelisah ingin menyusul Omanya. Hal itu membuat Mai mencoba membujuknya, namun tetap saja si kembar kekeh ingin menyusul Omanya.


"Baiklah, ayo kita susul Oma." ucap Mai pada akhirnya, lalu memegangi tangan si kembar.


Dua pengawal mengikutinya, sementara sisanya masih berjaga-jaga di tempat tadi.


Terlihat Nyonya Milan sedang menelpon sambil berjalan santai di kawasan taman. Sementara pengendara motor terus melaju ke arahnya.


Dari kejauhan Mai sudah melihat ibu mertuanya memegang sebuah balon. Senyuman terpancar di sudut bibirnya, namun seketika pudar ketika melihat sebuah motor terus mengikuti ibu mertuanya. Dia merasa curiga orang itu adalah penjahat.


"Pak tolong jaga mereka, aku ada keperluan." ucap Mai.


"Baik nyonya."


"Bunda Mai mau kemana." rengek Aqila.


"Susul Oma kalian, lihat ke sana, Oma kalian sudah datang." ucap Mai sambil menunjuk ke arah ibu mertuanya lalu melangkah menghampirinya.


Si kembar mulai diam dan menjadi patuh.


"Awas mama!" teriak Mai sambil berlari kecil, sementara nyonya Milan tak mendengar teriakannya karena tengah asyik menelepon.


Kemudian Mai semakin mempercepat langkahnya dan hanya beberapa jarak lagi, sementara pengendara motor itu juga semakin melajukan motornya sambil mengeluarkan sebilah pisau yang siap menghabisi mangsanya.


Mai terlonjat kaget melihatnya dan tanpa basa-basi dia segera berlari kencang lalu mendorong tubuh ibu mertuanya. Bersamaan pula penjahat langsung menusukkan pisau nya tepat di perut Mai, lalu menendang tubuh Mai hingga terjatuh.


Brukkk


"KHUMAIRA!!" Nyonya Milan berteriak memanggilnya dan terkejut melihat Mai terluka.


"Mama...." lirih Mai kesakitan hingga tak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari perutnya dan juga pangkal pahanya hingga mengotori pakaiannya.

__ADS_1


"TIDAK!!!" Nyonya Milan histeris melihat Mai terluka. Dia sudah menganggap Mai sebagai putrinya sendiri.


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗


__ADS_2