
Violetta membuka matanya dan melihata sekeliling kamarnya tak menemukan Renata, seketika ia mengingat kejadian di perjalanan pulang tadi.
"Tatak." gumam Violetta.
Violetta segera turun dari tempat tidurnya, dia membuka pintu kamarnya kemudian turun ke lantai bawah menyusuri tangga mencari Renata.
"Tatak." panggil Violetta.
Bik Marni melihat Violetta yang sedang berjalan memanggil nama Renata, dia langsung menghanpiri majikan kecilnya.
"Non Vio." panggil bik Marni.
"Mbok, tatak dimana?" tanya Violetta.
"Kakak lagi istorahat dikamarnya non." jawab bik Marni.
"Aku mau ketemu tatak." rengek Violetta.
"Ayo mbok antar." ucap bik Marni.
Bik Marni menggendong tubuh Violetta membawanya masuk kedalam kamar Renata, disana terlihat ada Bram dan juga Yandi yang sedang berdiri mendiskusikan sesuatu.
Ceklek.
"Den, maaf mengganggu. Ini non Vio, katanya mau ketemu sama mbak Rena." ucap bik Marni.
"Bawa Vio kemari bik." ucap Bram.
Bik Maeni membawa Violetta maju kehadapan Bram lalu menyerahkannya, selesai menyerahkan Violetta bik Marni keluar dari kamar Renata. Bram mendudukkan Violetta disamping Renata yang masih belum sadarkan diri, Violetta melihat banyaknya luka ditubuh Renata sampai tak terasa air matanya berlinang.
"Tatak telluka hiks." ucap Violetta menangis.
"Ssstt. Vio jangan nangis ya sayang, kalau Vio nangis kasihan kakaknya nanti bangun." ucap Bram menempelkan jari telunjuknya didepan mulutnya.
"Gala-gala lindungin Vio tatak jadi telluka daddy hiks," ucap Violetta dengan memelankan suaranya.
"Udah ya, yang penting sekarang kakak selamat dan Vio juga selamat jadi daddy mohon Vio jangan mikir yang macem-macem ya, lebih baik sekarang Vio tidur." ucap Bram.
"Vio mau tidul sama kakak aja." ucap Violetta.
"Yasudah, tapi jangan berisik ya." ucap Bram.
Violetta menganggukkan kepalanya lalu tidur disamping Renata, ia tak langsung memejamkan matanya namun memandangi wajah Renata seraya mengusap pipinya denhan tangan kecilnya.
'Tatak makasih banyak udah lindungin Vio, sampai kapanpun Vio ndak akan lupain pengolbanan tatak. Vio ndak mau kehilangan tatak, Vio akan belusaha agal tatak tetap di samping Vio selamanya' batin Violetta.
Violetta akhirnya pun kembali tertidur, Bram melihat ketulusan dari Wajah Violetta yang menyiratkan kalau ia sayang pada Renata.
__ADS_1
"Yan, kita bicara diruang kerja saja takutnya mengganggu istirahat mereka." ucap Bram.
"Baik kak." ucap Yandi.
Yandi dan Bram keluar dari kamar Renata, mereka masuk kedalam ruang kerja milik Bram. Bram menyandarkan tubuhnya diatas sofa tunggal, sungguh hari yang melelahkan baginya karena diterpa berbagai masalah.
"Jadi keputusan loe gimana kak?" tanya Yandi.
"Sepertinya mereka berdua dalam bahaya Yan, tapi jika aku mengirimkan mereka besok kasihan Renata dia belum pulih sepenuhnya." ucap Bram bingung.
"Tapi gue penasaran, siapa yang udah nyerang Renata? Dan tujuannya apa?" tanya Yandi terheran-heran.
"Aku juga tidak tahu, satu masalah juga belum selesai sekarang ditambah lagi masalah penyerangan Renata." ucap Bram.
"Gini ya kalau jadi orang banyak duit, masalahnya ada aja." uca Yandi.
"Hufft, yang pasti sekarang kamu urus saja keberangkatan paman dan bibi agar satu persatu bisa terselesaikan." ucap Bram.
"Bisa diatur kalau itu mah," ucap Yandi.
"Yaudah, sekarang kamu boleh pergi atau meu nginep pun terserah kamu." ucap Bram.
"Gue balik aja kak, di apartemen berantakan sama ada temen juga yang mau dateng." ucap Yandi.
"Kalau begitu hati-hati pulangnya, jika ada apa-apa jangan lupa kabarin." ucap Bram.
"Huuhh, lebih baik aku kembali ke kamar Renata siapa tahu dia udah bangun." gumam Bram.
Bram bangkit dari duduknya berjalan dengan langkah gontai menuju kamar Renata, benar saja begitu Bram membuka pintu kamar Renata dilihatnya Renata sidah membuka matanya.
Ceklek.
"Kau sudah bangun?" tanya Bram.
Renata berusaha bangun dari tidurnya, tetapi badannya terasa remuk dan juga luka dilengannya terasa berdenyut.
"Jangan banyak bergerak dulu Rena," ucap Bram.
Bram membantu Renata yang ingin menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, tak lupa ia juga mengambilkan air minum untuk Renata.
"Minumlah." ucap Bram menyodorkan air minum pada Renata.
"Terimakasih." ucap Renata.
Renata menenggak minumannya sampai habis seraya menahan perih dibibirnya, Bram mengambil kembali gelas yang telah di berikannya.
"Aku akan mengambilkan makanan untukmu," ucap Bram.
__ADS_1
Renata diam saja tak menjawab ucapan Bram karena rahangnya terasa kaku, Bram bergegas keluar mengambil makanan untuk Renata karena ia tahu Renata pasti butuh asupan.
"Awhh," ringis Renata.
Renata melihat kearah samping dimana Violetta sedang tertidur pulas, dia mengusap rambut Violetta dengan lembut, Renata bersyukur Violetta tidak terluka dan selamat dari para komplotan yang menyerangnya.
Ceklek.
Bram kembali masuk mengambil satu piring nasi lengkap beserta lauknya, dia mengambil kursi kemudian duduk disamping Renata.
"Buka mulutmu." ucap Bram menyodorkan satu sendok nasi ke mulut Renata.
"Biar aku saja tuan." ucap Renata merasa tidak enak.
"Diamlah, lenganmu terluka." ucap Bram datar.
Mau tak mau Renata membuka mulutnya, Bram menyuapkan nasi ke mulut Renata. Meskipun rahangnya terasa sakit Renata tetap memaksakan mengunyah makanannya, Bram menyuapi Renata sampai tersisa setengahnya karena Renata tak sanggup menghabiskan makanannya.
"Minumlah." ucap Bram.
Renata menuruti ucapan Bram dia segera mengambil gelasnya lalu meminum minumannya, tak sampai disitu Bram mengambilkan beberapa butir obat yang di berikan oleh Daren pada Renata.
"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Bram.
"Tanyakan saja tuan." jawab Renata.
"Kau tahu siapa komplotan orang yang menyerangmu?" tanya Bram.
"Mereka orang suruhan Bilqis, bukankah dia mantan istrimu?" jawab Renata.
Bram memejamkan matanya sejenak, dia mengepalkan tangannya dengan begitu kuat sampai urat-urat di tangannya pun terlihat begitu jelas.
"Maaf karena kau melindungi Vio jadinya kau pun terluka." ucap Bram.
"Sudah menjadi tugasku untuk melindungi Vio tuan." ucap Renata.
"Terimakasih Renata." ucap Bram tulus.
"Sama-sama tuan." ucap Renata tersenyum.
"Aku tidak tahu bagaimana aku membalas semua kebaikanmu, kau begitu berarti bagi anakku. Tuhan begitu baik pada Violetta, disaat dia sedang terkungkung oleh traumanya dia mengirimkan malaikat tak bersayap padanya." ucap Bram.
"Jangan berlebihan tuan, aku hanyalah manusia biasa yang sama dimata Tuhannya. Aku tahu bagaimana perasaan Vio, aku juga tahu rasanya dibuang dan disakiti oleh orang yang kita sayangi terlebih itu orangtua kita sendiri." ucap Renata.
"Maksudmu, kau juga tak dianggap ada oleh orangtuamu?" tanya Bram.
"Ibuku sudah meninggal karena mengetahui perselingkuhan ayahlu sendiri, dia lebih memilih membunuh dirinya sendiri meninggalkan aku saat aku masih duduk dibangku sekolah. Setelah kepergian ibuku tak berselang lama ayahku menikah dengan selingkuhannya dan membawa seorang anak yang usianya terpaut dua tahun denganku, ibu tiriku selalu mangax6xnggapku sebagai pembantu begitupun anaknya dan ayahku sama sekali tak pernah membelaku, aku selalu salah dimatanya sampai akhirnya aku lelah dan memilih pergi dari rumah dan tinggal bersama keluarga Nurul, maka dari itu aku selalu bilang nasibku hampir sama dengan Vio dan aku pun sudah berjanji pada diriku sendiri akan menjaga Vio sebagaima aku menjaga diriku sendiri." jelas Renata.
__ADS_1
Bram terdiam mendengatkan cerita dari Renata, ternyata benar Renata dan Violetta megalami nasib yang hampir sama persis.