
Dikantor milik Regan.
Regan mengacak-acak ruangannya sampai ia membalikkan meja kerjanya, Aldo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Regan.
"AAARRGGGHHHH" teriak Regan.
Dia mengacak-acak rambutnya frustasi dengan apa yang sudah terjadi, karir hancur dan cintanya menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejaknya.
"Udah ngamuknya?" tanya Aldo sewot.
Regan diam saja tak menyahuti pertanyaan Aldo, dia duduk bersandar dibawah meja yang telah ia jungkir balikkan.
"Percuma saja kau mau marah bahkan menghancurkan gedung ini juga tidak akan merubah apapun, aku akui Bram lebih pintar darimu, tetapi itu semua karena dia mau bangkit tidak sepertimu yang yang mementingkan ego dan bego dengan mudahnya percaya pada seorang wanita yang jelas-jelas tidak baik, aku sudah lelah mengingatkanmu berulang-ulang kali bahkann mulutku sampai berbusa. Jalan satu-satunya kau harus meminta maaf atas semua yang telah kau lakukan pada Bram dengan tulus tanpa embel-embel apapun, ingat! Perusahaan ini adalah hasil jerih payah kedua orangtuamu, apa kau akan membiarkannya hancur begitu saja akibat ulah ke begoanmu? Kau lupa kalau kau masih memiliki seorang ibu yang tengah terbaring sakit? Siapa yang akan membiayai pengobatannya jika kau bangkrut? Kau boleh menikmati semua yang telah kau peroleh, tapi bukan untuk memuaskan nafsu sesaatmu. Jika ibumu tahu aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia melihat jerih payahnya bersama suaminya hancur oleh tangan anaknya sendiri, pikirkan semuanya baik-baik dan jika kau sudah memutuskannya maka temui aku." ucap Aldo dengan panjang lebar.
Regan terdiam mendemgar ucapan Aldo yang begitu panjangnya, dia mencerna semua kata-kata Aldo yang memang kenyataannya seperti itu dan semuanya tak bisa diganggu gugat. Aldo pergi keluar dari ruangan Regan, untuk pertama kalinya dia sangat kecewa pada majikannya itu meskipun sebelumnya ia juga sering kecewa tetapi kini berbeda, Regan sudah berada di jalur yang salah sering mabuk-mabukkan padahal anti alkohol, hendak mencelakai Bram namun berhasil dihentikan oleh Aldo dan masih banyak lagi.
"Hiks, Aldo benar. Semua ini adalah karma untukku yang telah merebut kebahagiaan seseorang, sekarang aku hancur." gumam Regan menengadahkan kepalanya dengan air mata yang sudah menganak pinak.
Yandi kini sedang memantau keberangkatan kedua orangtuanya, keamanan dijaga dengan begitu ketat untuk keselamatan orangtuanya.
"Yan ini teh gapapa kalau pergi sekarang?" tanya Linda - ibu Yandi.
"Udah ambu berangkat aja, jangan mikirin apa-apa fokus aja sama kesembuhan si abah." jawab Yandi.
"Yaudah atuh, ambu sama abah berangkat dulu bilangin sama Bram makasih udah mau biayain perawatan abah kamu." ucap Linda.
"Iya, nanti Yandi bilangin sama kak Bram." ucap Yandi.
Akhirnya Linda masuk kedalam pesawat yang sudah di pesan oleh Yandi menyusul suaminya yang sudah lebih dulu masuk, setelah memastikan pesawat sudah terbang Yandi kembali ke parkiran dimana mobilnya sudah terparkir disana.
Tring..
Message from : Jegel
Bos pelaku yang sudah menyebabkan proyek terbakar sudah ditangkap.
^^^Aku akan kesana sekarang^^^
Siap bos
__ADS_1
Yandi langsung menyalakan mobilnya menuju markas miliknya, sebagai pengusaha yang menduduki rating tiga besar sudah pastinya harus memiliki banyak persiapan.
"Aku penasaran, siapa pelakunya?" gumam Yandi.
Jalanan lumayan lancar jadi memudahkan Yandi untuk bisa sampai lebih cepat, markasnya terletak di sudut kota yang lumayan jauh dari permukiman warga. Melihat mobil Yandi yang sudah sampai anak buahnya berdiri menyambut kedatangannya, Yandi keluar dari mobilnya berjalan masuk namun ia menangkap sesuatau yang aneh saat melihat wajah anak buahnya. Sayup-sayup Yandi mendengar langkah kaki yang berjalan kearahnya, Yandi semakin yakin kalau ada yang tidak beres dengan markasnya.
Bugh..Bughh..
Tiba-tiba dari arah samping ada yang menyerangnya, namun beruntung Yandi sudah membaca situasi pergerakan sehingga ia dengan mudahnya melawan serangan musuh. Anak buahnya yang mengirimkan pesan padanya sedang diikat diatas kursi, sedangkan dua anak buah lainnya bergabung dengan orang yang tidak dikenalnya.
"Siapa kalian?" tanya Yandi.
"Tidak perlu tahu siapa kami, yang pastinya kami adalah anak buah yang ditugaskan untuk menyingkirkan kalian." jawabnya tersenyum miring.
"Katakan siapa yang telah menyuruh kalkan?" tanya Yandi seraya mengepalkan tangannya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Yandi, 3 orang diantara mereka menyerang Yandi. Anak buah Yandi berusaha melepaskan diri agar ia bisa membantu Yandi, lama berusaha akhirnya tali terlepas dari tangannya, ia langsung membuka kain yang digunakan untuk mmengikat badannya kemudian berlari menyerang musuh. Yandi dan juga Jegel selaku anak buahnya di kepung oleh beberapa orang, Yandi membisikkan sesuatu ketelinga Jegel yang dibalas anggukkan kepala.
Bugh.Bugh...Bughh.
Sreett.
Ceklek.
Dor..
Jegel menembakkan senjata apinya keatas, musuh pun langsung ketakutan mereka lari terbirit-birit keluar dari markas. Jegel dan Yandi mengejarnya keluar, para anak buah musuh masuk kedalam mobil yang disimpan di belakang markas.
Dor..
Dor..
Jegel menembak kaca belakang mobil, dia juga berhasil menembak seseorang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Mereka sudah jauh." ucap Jegel.
"Kenapa kau bisa disekap Jegel?" tanya Yandi.
"Waktu aku ditugaskan memantau di proyek mataku menangkap seseorang yang mencurigakan, aku segera membuntutinya yang berjalan kearah tempat yang sepi dan saat aku hendak menghampirinya dua orang pria menyerangku dan dua orang tersebut ternyata anak buahmu yang berkhianat, aku dibius sampai akhirnya aku dibawa ke markas dan di sekap." jelas Jegel.
__ADS_1
"Brengsek! Apa kau tahu siapa yang menyuruh mereka?" umpat Yandi.
"Aku tidak tahu dengan jelas, yang pastinya mereka ditugaskan mengambil apa yang sudah menjadi hak majikannya, aku tidak tahu apa yang mereka maksud karena mereka pun tidak menyebutkan namanya." jawab Jegel.
Yandi mengernyitkan dahinya bingung, dia mencoba menerka-nerka orang yang patut ia curigai. Saat sedang asyik berpikir siapa pelakunya tiba-tiba ponsel Yandi berdering, Bram menghubunginya memintanya agar segera kembali ke kantor.
"Si boss nyuruh balik, mending kau ikut aku ke kantor." ucap Yandi.
"Baik bos." seru Jegel.
Yandi dan Jegel berangkat bersama ke kantor Bram, Yandi butuh Jegel agar ia bisa menyelidiki kasusnya bersama-sama dengan mengumpulkan semua pernyataan dan juga bukti-bukti yang sudah dikumpulkan.
Di kantor.
Bilqis menyamar menjadi seorang office girl untuk menemui Bram, dia membekap mulut salah satu karyawan OG sampai pingsan. Bilqis mengganti pakaiannya dengan pakaian OG dan menggunakan name tag disaku bajunya, tak lupa ia memakai masker dan membawa kopi menuju lantai dimana ruangan Bram berada.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk." sahut Bram dari dalam.
Ceklek.
Dilihatnya Bram sedang sibuk berkutat dengan berkasnya, Bilqis berjalan perlahan meletakkan kopinya diatas meja kemudian membuka maskernya.
"Ini teh nya tuan." ucap Bilqis lembut.
"Letakan saja." ucap Bram.
Bilqis membuka dua kancing bajunya agar telihat dua gundukan kembarnya, dia berjalan kearah Bram tepat disampingnya.
"Kenapa sibuk sekali? Sampai tidak melihat siapa yang datang?" tanya Bilqis dengan suaranya yang sensual.
Bram langsung menghentikkan pekerjaannya begitu mendengar suara yang begitu dikenalnya, Bilqis dengan penuh percaya dirinya duduk dipangkuan Bram menangkup wajah mantan suaminya.
"Kau terlihat lebih tampan sekarang." ucap Bilqis.
Bilqis mengusap rahang tegas Bram sampai Bram memejamkan matanya, dikiranya Bram menikmati sentuhan yang dia berikan Bilqis pun tersenyum puas. Tetapi semua tidak seperti yang Bilqis kira, Bram memejamkan matanya karena tidak sudi di sentuh oleh Bilqis, dia juga mengepalkan tangannya kemudian dia bangkit dari duduknya menghempaskan tubuh Bilqis.
Brukkk..
__ADS_1
"Dasar j*****" geram Bram.