Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Rencana B


__ADS_3

Yandi sengaja berdehem, Aldo mengibas-ibaskan tangannya sedangkan Regan dia mendengus kesal. Renata bergerak tak nyaman karena merasa canggung, Bram dengan santainya malah mengecup rambut Renata dan mencium wangi khas yang sangat disukainya.


"Harudang, hareudang, hareudaang, baraya." sindir Yandi.


"Nyalain ac nya dong Yan, biar gak panas nih." tambah Aldo. .


"Kayaknya kita salah tempat, yang jomblo bisa apa?" ucap Regan.


"Kenapa sih? Pada sirik aja." tanya Bram heran.


"Mas, jangan gini dong malu." bisik Renata di telinga Bram.


"Gapapa, kan kita sebentar lagi nikah sayang." ucap Bram santai.


"Tapi mas.." ucap Renata.


"Tidak ada tapi-tapian, salahkan saja mereka yang masih jomblo." ucap Bram.


"Gue punya neng Nurul, siapa bilang gak punya." seru Yandi.


"Iya deh, sipaling neng Nurul." ucap Aldo.


"Kalo gue neng apa ya? sampe sekarang gak punya neng?" tanya Regan.


"Neng nong lu mah, makanya cari cewek yang bener jangan mau bekas orang apalagi masih punya lakik ceweknya." sindir Yandi.


"Sialan loe!" sewot Regan.


Yandi pun terkekeh melihat wajah kesal Edgar, Aldo pun mengacungkan jempolnya setuju dengan ucapan Yandi.


"Gimana info si Indra? Terus kenapa Rena deketin anaknya?" tanya Aldo.


"Indra besok sore kemungkinan balik ke indo, kita harus bergerak cepat sebelum dia menyerak kita udah uda persiapan." jawab Yandi.


"Sebelum dia mengecam lebih baik aku yang mengancam, kau mengerti maksudku kan Aldo, Regan?" ucap Bram.


"Kita akan jadi aktor dan aktris dadakan besok, persiapkan saja diri kalian." ucap Renata tersenyum.


Regan dan Aldo saling menatap satu sama lain, mereka sedikit bingung namun tetap mengikuti permainan yang akan dilakukan oleh Bram dan Renata.


Di negara lain.


Indra masih berkutat dengan berkasnya di sebuah hotel mewah, dia di dampingi oleh asisten pribadinya yang bernama Yoga.


"Ada kabar dari Bram?" tanya Indra tanpa mengalihkan tatapannya.

__ADS_1


"Saat ini dia sedang menggarap proyek bersama tuan Arbeto, dia akan membangun sebuah hotel terbesar di negara Indonesia." jawab Yoga.


Indra seketika menghentikan pekerjaannya, dia tidak terima kalau Bram semakin maju sedangkan dirinya saja masih sibuk kesana kesini mengajukan kerjasama bersama pengusaha sukses lainnya.


"Kenapa Izhan tidak memberitahuku?" tanya Indra.


"Dia di beri cuti oleh kepala bagian yang lain selama satu minggu, setelah dia cuti Bram mulai mempercepat gerakannya dengan tuan Arbeto merencanakan proyek yang lebih besar, dari kabar yang aku dapatkan mereka sudah memulainya selama dua hari belakangan." jawab Yoga.


"Brengsek!" umpat Indra mengepalkan tangannya.


Brakk..


Indra menggebrak mejanya dengan keras, rahangnya pun mengeras seketika. Tatapan tajamnya tak luput dari amarahnya, semakin bulat keinginannya untuk menghancurkan Bram yang dianggap sudah menghalalngi jalannya menuju kesuksesannya.


"Hubungi Baron, suruh dia awasi kemana Bram pergi! Besok siang aku akan pulang, akan kupastikan Bram enyah dari hidupku." titah Indra.


"Baik tuan." seru Yoga.


Yoga langsung menghubungi Baron anak buah kepercayaan Indra, dia menyuruh Baron untuk mengawasi pergerakan Bram. Ambisi yandi begitu menggebu untuk menjadi orang sukses dengan menghalalkan segala cara, bahkan ia tak segan-segan menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya.


'Akan aku buktikan kalau aku bisa berjaya, tidak peduli berapa banyak orang yang harus aku celakai' batin Indra.


Bram berbincang-bincang dengan Regan dan yang lainnya, ia sampai lupa waktu membahas persoalan Indra. Violetta sudah cukup dengan tidurnya, dia keluar dengan muka bantalnya menghampiri calon ibu sambungnya.


Violetta pun mendekat keaeah Renata, dia langsung bergelayut manja dalam dekapan Renata.


"Kita pergi ke restoran, aku yang traktir." ucap Bram.


"Wih, mantap tuh." seru Aldo.


"Gas lah." timpal Regan.


"Yasudah, ayo kita berangkat." ajak Bram.


"Aku mau basuh wajah Vio dulu, matanya belekan." ucap Renata.


Violetta sontak meraba matanya, dia mencari sesuatu di sudut matanya namun tak menemukan apapun.


"Ihh, bunda bohong." kesal Violetta.


"Ada kok, tapi udah kering hihi." ucap Renata cengengesan.


Renata menggendong tubuh Violetta ke toilet, dia membasuh wajah Violetta agar lebih segar sehabis bangun tidur. Regan, Yandi dan Aldo sudah turun terlebih dahulua, sedangkan Bram menunggu anak dan calon istrinya keluar dari dalam toilet.


"Loh, mas kok masih disini? Kirain udah turun duluan." tanya Renata heran.

__ADS_1


"Masa mas ninggalin kalian berdua, mending barengan aja kebawahnya." jawab Bram.


"Yaudah yuk," ajak Renata.


"Daddy gendong." rengek Violetta.


"Utututu, anak daddy mau di gendong. Sini-sini, princes daddy." ucap Bram merentangkan tangannya.


Bram pun menggendong tubuh Violetta, Renata menggelengkan kepalanya melihat betapa possesifnya Violetta memeluk leher Bram.


"Tenang aja Vio, bunda gak akan rebut daddy dari Vio." sindir Renata.


"Kalo bunda yang rebut sih gapapa, kalo orang lain baru Vio marah." ucap Violetta.


"Orang lain siapa? Daddy kan sayangnya cuman sama bunda sama Vio juga." tanya Bram.


"Tadi Vio udah ngantuk, tapi samar-samar Vio denger karyawan ngomongin bunda sama Vio." jawab Violetta.


"Emang bener sayang?" tanya Bram pada Renata.


"Udahlah, gak perlu dibahas. Lagian gak penting juga, biarin aja orang lain mau ngomong apa yang penting kita gak ngerugiin orang lain." jawab Renata santai.


"Iya sayang," ucap Bram.


Bram pun menautkan tangannya pada tangan Renata, sedangkan sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk menggendong Violetta, dia sengaja melakukannya agar para karyawan melihat kalau Renata dan Violetta adalah orang penting baginya tanpa harus mengumumkan siapa identitas mereka.


Tak lama kemudian Bram dan Renata sudah masuk kedalam mobil, saat Renata memasang sabuk pengaman ia tak sengaja melihat kaca spion, dilihatnya ada seseorang yang tengah mengintip dari kejauhan.


"Mas, kayaknya ada yang ngawasin kita." bisik Renata.


Bram dan Violetta penasaran, mereka baru saja ingin menengok kebelakang namun langsung di cegah oleh Renata.


"Jangan melihat ke belakang, atau mereka akan sadar kalau kita mengetahui keberadaannya." cegah Renata.


Keduanya pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Bram melajukan mobilnya dan berpura-pura tidak melihat keberadaan orang yang mengawasinya sesuai ucapan Renata. Aldo mengemudikan mobilnya mengikuti Bram dari belakang, dia satu mobil bersama Regan dan juga Yandi. Di sepanjang perjalanan Renata terus mengawasi mobil hitam di belakang mobil Regan, dia yakin orang yang ada di dalam mobil tersebut adalah orang suruhan Indra karena setahunya Bram tidak memiliki musuh selain Indra.


"Mas, sepertinya kita harus memulai rencana B." ucap Renata.


"Tentu saja, mereka pasti akan mengawasi kita begitu sampai di restoran." ucap Bram setuju.


"Vio nanti nagapain dad, bun?" tanya Violetta.


"Vio fokus makan aja," jawab Bram.


Violetta membulatkan jarinya membentuk huruf O, dia pastinya akan mengikuti arahan dari Bram dan juga Renata.

__ADS_1


__ADS_2