Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Menunjukkan bekas luka


__ADS_3

Violetta langsung mematung di tempatnya, dia melihat Bilqis bediri tepat di hadapannya. Jantung Renata berdetak tak karuan ia ingin melihat reaksi Violetta, beruntungnya Violetta bisa menguasai dirinya sendiri tanpa menangis ataupun tantrum.


"Heh. Tadinya aku mau minta maaf, tapi melihat siapa yang aku tubruk kayaknya gak usah deh." ucap Violetta melipat kedua tangannya.


"Heh bocah, sudah berani kau ya!" sewot Bilqis.


"Jaga bicaramu sialan!" sentak Renata.


"Udah bun, biar Vio yang hadapin nih nenek sihir." ucap Violetta.


"Apa? Nenek sihir? Kau bilang ibumu nenek sihir! Pasti dia yang sudah mengajarimu menjadi anak yang tidak tahu sopan santun." sentak Bilqis.


Mendengar suara keributan yang dilakukan antara Bilqis dan Violetta, sebagian orang-orang mulai berkerumun. Renata melihat sekelilingnya mengajak Violetta pergi, berdebat dengan Bilqis hanya akan membuang waktu saja, Violetta menolak ajakan Renata kali ini ia akan memberikan pelajaran pada ibunya itu.


"Bunda tidak pernah mengajariku hal buruk, dia selalu mengajarkanku akan hal-hal baik. Kau bilang ibuku?! Ibu mana yang tega menganiaya anaknya! Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya demi kesenangannya sendiri! Pantaskah seorang anak kecil kau jadikan pembantu dirumahmu?! Terlebih lagi dia anak kandungmu, dimana hati nuranimu!" ucap Violetta dengan suaranya yang meninggi.


Bilqis melihat sekeliling orang-orang mulai berbisik- bisik, dia mengepalkan tangannya memikirkan bagaimana cara membalas ucapan Violetta yang sudah berani mempermalukan dia.


"Hiks..hiks, gara-gara dia kau menjadi kasar pada ibumu sendiri nak, aku ibumu! Ibu yang sudah melahirkanmu, menyusuimu sampai kau berumur 2 tahun, aku dedikasikan hidupku hanya untukmu." ucap Bilqis memainkan dramanya.


"Masa nangis gak ada air matanya? Aneh banget." cibir Violetta.


Bilqis tak bisa lagi menahan amarahnya, dia menyeret Violetta yang langsung ditahan oleh Renata. Suasana semakin memanas, Renata melepaskan tangan Bilqis dari Violetta lalu mencekal tangan Bilqis sampai berwarna kemerahan.


"Diam bukan berarti aku membkarkanmu melukainya lagi!" tekan Renata.


Bilqis melayangkan salah satu tangannya ingin menampar wajah Renata, tetapi sejurus kemudian Renata menangkapnya. Violetta membuka jaket yang di pakainya, dia menatap kosong kedepan dengan wajah yang sudah memerah menahan tangisnya.

__ADS_1


"Kau masih ingat luka ini?" tanya Violetta menunjukkan bekas luka di tangannya dan dia juga menyingkap baju bagian belakangnya.


Ada salah seorang ibu penasaran dengan apa yang ditunjukkan Violetta, dia memberanikan diri melihatnya. Ibu tersebut terkejut melihat banyaknya bekas luka di belakang tubuh Violetta, dia sampai menutup mulutnya sebagai seorang ibu hatinya merasa begitu tersayat.


"Kalau boleh tahu, bekas luka itu?" tanya seorang ibu ragu.


"Ini adalah luka bekas cambukan, dia yang mengaku sebagai ibuku mencambukku menggunakan ikat pinggang miliknya, aku trauma selama kurang lebih satu tahun lamanya akibat perbuatannya." jelas Violetta mengerti akan pertanyaan ibu tersebut.


"Vio." panggil Renata.


"Biarkan orang lain tahu, terutama dia!" tunjuk Violetta pada Bilqis.


"Jangan percaya dengan ucapannya, dia bohong!" kilah Bilqis.


Bilqis ketar-ketir saat Violetta menunjukkan bekas lukanya, dia masih mengingat bagaimana ia menyiksa Violetta sampai menjerit kesakitan, bahkan saat bajunya robek dan mengeluarkan darah segar ia tak henti-hentinya mencambuk Violetta sampai Bram tiba.


Orang-orang di sekitar mulai menyoraki perbuatan Bilqis, mereka tidak habis pikir bagaimana bisa seorang ibu kandung begitu kejamnya pada anaknya sendiri.


"Dasar iblis!" pengunjung A.


"Gak pantes jadi ibu, dia kejam!" pengunjung B.


Masih banyak lagi cibiran-cibiran yang dilontarkan oleh para pengunjung, wajah Bilqis sudah merah ladam menahan malu, dia langsung pergi meninggalkan kerumunan tersebut.


Renata mensejajarkan tubuhnya dengan Violetta, dia memeluk Violetta dengan penuh kehangatan. Violetta menahan tangisnya agar tidak pecah, dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak kembali menangisi perbuatan ibunya.


"Katanya mau ke play zone? Ayo kita pergi." bujuk Renata.

__ADS_1


"Enggak jadi bun, nanti saja. Emm, gimana kalau kita cari barang buat nenek Sarina sama Aksara lagi? Habis itu kita ke kantor daddy." ucap Violetta.


Renata pun menganggukkan kepalanya pada Violetta, seorang ibu yang bertanya tadi pun menghampiri Violetta.


"Nak, kau begitu tabah." ucapnya.


"Itu semua berkat bunda yang selalu ada di sampingku, dialah yang sudah membantuku untuk keluar dari semua traumaku dan juga menyembuhkan setiap luka di hati serta tubuhku." ucap Violetta.


"Perkenalkan namaku Sania, aku salut pada kalian berdua yang saling menguatkan satu sama lain, terutama kau nak. Aku doakan semoga kau menjadi anak yang sukses, tunjukkan pada dia yang telah melukaimu bahwa kau bukanlah gadus yang lemah." ucap Sania.


"Terimakasih tante," ucap Violetta.


"Terimakasih atas doanya nyonya, aku juga berharap seperti itu. Perkenalkan juga namaku Renata, dan ini Violetta." ucap Renata memperkenalkan dirinya dan juga Violetta.


"Senang bertemu kalian, maaf aku harus segera kembali anakku pasti sudah menunggu kedatanganku." ucap Sania.


"Silahkan nyonya." ucap Renata.


Sania pun pergi berlalu meninggalkan Renata dan juga Violetta, dia khawatir anaknya menangis karena sudah menitipkannya pada seseorang. Renata dan Vietta pun kembali melihat-lihat di sekitaran mall untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan, di dalam hatinya Violetta mencoba sabar kala ia mengingat sikap ibunya padanya.


'Aku hanya berharap ia sadar atas apa yang di perbuatnya, aku tidak membencimu mommy tetapi aku kecewa padamu' batin Violetta.


Sejauh ini Violetta mencoba berdamai dengan hatinya, ia mencoba memaafkan semua perbuatan yang dilakukan Bilqis meskipun hatinya masih berdenyut nyeri. Tak bisa di pungkiri kalau Bilqis adalah ibu kandungnya, darah lebih kental daripada air seperti itulah pribahasanya. Renata pernah mengatakan padanya agar ia tak membenci ibunya apalagi sampai dendam, sesalah apapun orang tua kepada anaknya tetap saja mereka adalah alasan terlahirnya kita ke dunia, biarkan Tuhan yang memberikan keadilan atas apa yang dilakukan oleh orang yang sudah menjahati ataupun berniat jahat.


'Vio tidak boleh dendam pada mommy Bilqis ya, suatu saat Vio akan menjadi orang tua dan memiliki seorang anak yang harus di didik dengan baik. Jadikan pengalaman hidup Vio sebagai contoh agar tidak berbuat demikian di masa depan nanti, biarkan Tuhan yang membalas semuanya.' pesan Renata.


'Jika bukan kau sendiri yang berusaha keluar dari rasa takutmu maka sampai kapanpun kau akan terus dibayangi oleh masa lalu kelammu, bergelut dengan dendam tidak akan membuat hidupmu tenang' pesan Aksara.

__ADS_1


__ADS_2