
Bram makan siang bersama Violetta dan juga Renata, sedangkan Yandi dia lebih memilih makan diluar karena ia sudah membuat janji bersama seseorang yang tengah dekat dengannya.
"Dad, om Yan kemana?" tanya Violetta di sela makannya.
"Katanya dia lagi ada janji, bilangnya sih lagi deketin cewek." jawab Bram.
"Mas, jawabnya jangan gitu Vio masih kecil, tinggal bilang aja lagi ada urusan." bisik Renata.
"Sorry." ucap Bram.
"Oh gitu ya dad." ucap Violetta ber oh ria.
Ketiganya menyelesaikan makannya, Renata membereskan kotak nasi beserta sampahnya. Bram mencuci tangannya bersama Violetta, setelahnya dia kembali berkutat di depan layar laptopnya.
"Dad, aku sama bunda istirahat dulu ya." ucap Violetta.
"Iya sayang, jangan dikunci kamarnya biar nanti dadsy bangunin kalian kalau ketiduran." ucap Bram.
"Semangat cari cuan calon misua." ucap Renata memberi semangat.
"Pastinya dong, orang bidadarinya yang bikin semangat." ucap Bram.
Renata melambaikan tangannya sebelum masuk ke kamar yang berada di dalam ruangan Bram, ia mengajak Violetta masuk untuk tidur siang.
"Bun, kita mau bikin rencana kek gimana?" tanya Violetta.
"Nanti kita bikin rencana mengelabui musuh, untuk lengkapnya nanti kita bicarakan di rumah ya." jawab Renata.
"Oke bun, strateginya harus bener-bener mateng soalnya daddy bilang dia bukan orang sembarangan" ucap Violetta.
"Tentu saja, apalagi ini menyangkut nyawa orang-orang di sekitar kita yang pastinya harus ada strategi yang matang, beserta beberapa orang yang bisa membantu melancarkan semuanya." jelas Renata.
"Aduuhh, Vio jadi penasaran." ucap Violetta.
"Sini di bisikin, biar tidurnya nyenyak." ucap Renata.
Renata pun membisikkan sesuatu di telinga Violetta, senyum merekah terbit dari bibir kecil Violetta begitu mendengar apa yang di sampaikan oleh Renata.
__ADS_1
"Ide bagus bun." puji Violetta.
"Siapa dulu dong." ucap Renata bangga.
"Bunda Rena gituloh." sambung Violetta.
Renata pun terkekeh, dia mengajak Violetta untuk bersandar di kepala ranjang, dia tidak langsung mengajak Violetta tidur karena menunggu makanannya turun terlebih dahulu. Renata mengajak Violetta berbincang-bincang, bercanda, dan juga tertawa bersama, Keduanya kadang terlihat seperri adik kakak, terkadang juga terlihat seperti ibu dan anak sesungguhnya.
Di sisi lain.
Fadlan tengah berjalan gontai menyusuri setiap sudut rumahnya, rumah yang kini sepi hanya tinggal dirinya seorang diri. Dia pergi ke arah gudang mencari sesuatu yang telah lama ia singkirkan, Fadlan membuka sebuah kardus dimana tersimpan semua potret kebersamaannya bersama mendiang ibu Renata.
Wushhh..
Fadlan meniup sebuh figura yang sudah berdebu, diusapnya figura tersebut kemudian ia melihat seorang wanita cantik menggendong puteri kecilnya.
"Syierra, maafkan aku. Sekarang aku tahu bagaimana rasa sakit yang kau rasakan atas penghianatanku, ternyata begitu sakit saat kita tahu orang yang kita cintai menghianati kepercayaan yang telah kita berikan, jika waktu bisa di putar kembali ingin rasanya aku memintamu kembali disisiku." ucap Fadlan menatap nanar foto mendiang istrinya.
Fadlan memang tidak mempekerjakan asisten rumah tangga, di rumahnya hanya ada anggota keluarga saja karena dari dulu ibu Renata tidak mau mempekerjakan pembantu, dia merasa sanggup mengerjakan pekerjaan rumah sendirian tanpa harus dibantu oleh orang lain.
Plukk..
"Syierra." gumam Fadlan.
Fadlan penasaran dengan isi amplop tersebut, dia membukanya kemudian membaca isi dari dalam suratnya.
'Mas Fadlan, jika kamu membaca surat ini berarti aku sudah tiada. Sebenarnya aku sudah mengetahui semua perselingkuhanmu bersama Namira, aku tahu kamu juga sering datang ke rumahnya dan tidur bersamanya. Aku lebih memilih berpura-pura tidak tahu, kala kau datang ke rumah pun aku pasti akan bersikap seolah tidak ada sesuatu yang salah darimu, perlu kau ketahui kalau aku melakukan semuanya demi Renata putri kita.
*Semakin lama, kau semakin jarang pulang ke rumah mas. Renata sudah mengadu padaku kalau kau berselingkuh, saat dia sudah mengetahuinya dadaku terasa sesak, aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada Renata. Jujur saja, aku selama ini sakit melihat kelakuanmu yang tak pernah mau berubah, aku lelah mas. *
*Biarkan aku beristirahat ya mas, aku sudah lelah dan ingin menyerah. Sepertinya Tuhan juga menginginkan aku bertamu padanya, maafkan aku yang lebih memilih mengakhiri hidupku daripada meminta pisah darimu karena semua itu pastinya akan sia-sia saja. *
*Jaga Renata dengan baik ya mas, aku harap kau akan menemukan pendamping hidup yang lebih baik daripada aku. Ingatkan Renata agar tidak sering makan pedas mas, aku takut dia sakit perut lagi. Mas juga jangan terlalu memforsir tenaga mas untuk bekerja, luangkan waktu mas untuk beristirahat walaupun sejenak. Jangan lupa minum vitamin, sholatnya jangan bolong-bolong lagi. *
Selamat tinggal mas Fadlan.
Tess..
__ADS_1
Air mata Fadlan mulai menetes, mulutnya bergetar disusul air matanya yang turun dengan begitu derasnya. Menangis dalam diam itu sangatlah menyakitkan, dada Fadlan terasa begitu sesak seperti terhimpit bebatuan besar, semua penyesalannya sudah begitu terlambat karena sang istri sudah pergis untuk selama-lamanya.
"Maafkan aku Syierra hiks," lirih Fadlan.
Renata yang tengah ikut tidur siang tiba-tiba saja terbangun, dia mengelap keringatnya yang bercucuran karena ia bermimpi buruk.
"Astagfirullah, papa!" ucap Renata terkejut.
Renata bermimpi kalau ayahnya kecelakaan, hatinya langsung gelisah khawatir terjadi sesuatu pada ayahnya. Setelah kepergiannya dari rumah yang dianggapnya sebagai neraka Renata tak pernah lagi bertemu dengan ayahnya, dia juga tak pernah bertemu dengan ibu ataupun adik tirinya yang guna menanyakan kavar ayahnya. Walaupun sikap Fadlan padanya telah melukai hatinya, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam Renata merindukan sosok ayahnya.
"Semoga papa baik-baik saja." guma Renata.
Ceklek.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Bram melihat Renata yang tengah gelisah.
Bram sengaja masuk kedalam kamar ingin melihat kedua bidadarinya, dia sejenak menghentikan pekerjaannya untuk melaksanakan ibadah 5 waktunya.
"Aku mimpi papa." jawab Renata.
"Kamu mimpi buruk kah?" tanya Bram.
"Iya mas, aku mimpi papa kecelakaan sampai banyak darah yang keluar dari kepalanya." jawab Renata.
"Ssstt, kamu yang tenang ya lagian kan cuman mimpi bukan kenyataannya, kalau kamu mau kita pergi ke rumah papa kamu sekalian minta restu." ucap Bram mencoba menenangkan Renata.
"Tapi aku belum siap ketemu papa," ucap Renata.
"Aku tidak akan memaksamu, aku akan pergi jika kamu memang sudah siap, lagipula kita akan menikah yang tentunya papa mu akan menjadi wali nikahnya selama dia masih ada hal tersebut tidak dapat di wakilkan oleh orang lain." ucap Bram.
"Iya mas, kasih aku waktu ya." ucap Renata.
"Yaudah, aku mau sholat dulu ya. Kamu mau ikut sholat bareng enggak sayang?" ucap Bram seraya mengajak Renata.
"Aku lagi halangan mas." ucap Renata.
"Yasudah aku shokat dulu, kamu juga lanjutin lagi tidurnya nanti aku bangunin." ucap Bram.
__ADS_1
Renata menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Bram pun berlalu meninggalkan Renata, dia pergi ke kamar mandi mengambil wudhu kemudian dia melaksanakan sholat dzuhur disamping ranjang.
Maaf ya temen-tenmen semuanya update nya satu, authornya lagi tumbang sama si bocil 🤧 nanti di usahain update terus ya 🙏