Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Belajar beladiri


__ADS_3

Siang harinya Renata mengemas semua pakaiannya, bik Marni pun ikut membantu mengemasi semua pakaian Violetta selama berada di desa nantinya. Bram sudah menghubungi Yandi dan juga Rizal untuk menemaninya mengantar Violetta, tak lupa Bram juga memerintahkan Yandi untuk menjaga keamanan agar tidak ada yang melihat kepergiannya.


"Vio." panggil Bram.


Violetta sudah sadar setelah diberikan suntikan obat penenenang, kini ia sedang duduk di tepi ranjang kamar Renata dengan menundukkan kepalanya.


"Ada apa daddy?" tanya Violetta.


"Kenapa mukanya murung seperti itu?" tanya Bram balik.


"Ndak papa, Vio cuman sedih nanti gak ketemu daddy." jawab Violetta sedih.


"Gak akan lama kok, kalau Vio udah sembuh daddy bakal jemput Vio. Semakin Vio pulih semakin cepat juga dadsy jemputnya, jadi intinya Vio harus semangat." ucap Bram mencoba menghibur Violetta.


"Vio usahakan daddy, maaf." ucap Violetta.


"Maaf untuk apa?" tanya Bram bingung.


"Maaf selalu menyusahkan daddy, Vio sayang daddy." ucap Violetta mulai menangis dan masuk kedalam dekapan Bram.


Bram ikut terharu tetapi ia berusaha menyembunyikan rasa sedihnya, jujur saja ia tak sanggup bila harus berjauhan dengan Violetta karena selama ini ia tak pernah jauh darinya semenjak kejadian Bilqis menyiksa anaknya.


Tok..Tok..Tok..


"Den ada tamu dibawah." ucap bik Marni dari luar.


"Iya bik, suruh tamunya masuk." sahut Bram dari dalam.


Bram menyeka air mata Violetta, dia menggendongnya mengajak anaknya keluar menemui tamu yang berada dilantai bawah. Terlihat dari lantai atas Rizal bersama bersama anggota keluarganya datang bersama, tak lama kemudian Yandi pun masuk ke dalam ruang tamu.


Renata keluar dari kamarnya menyeret tas yang berisikan pakaiannya, sedangkan pelayan yang lain menyeret koper milik Violetta.


"Rena kemarilah." ucap Bram.


Renata menyimpan tasnya di dekat pintu, dia berjalan menghampiri Bram yang duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Bram.


"Sudah tuan." jawab Renata.


"Tuan Rizal, terimakasih sudah datang." ucap Bram.


"Sama-sama tuan Bram, apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Rizal.


"Sepertinya sebentar lagi, bibik sedang menyiapkan bekal untuk Vio dan Rena selama mereka disana." ucap Bram.


Bik Marni di bantu oleh pelayan yang lainnya menyiapkan bekal makanan untuk Violetta dan juga Renata, setelah semuanya siap bik Marni memberi laporan pada Bram. Yandi dibantu oleh para penjaga memasukkan semua bekal yang akan dibawa dan juga pakaian ganti yang lainnya.


"Beres kak." ucap Yandi.


"Baiklah, sekarang kita berangkat agar tidak terlalu sore sampainya." ucap Bram.


Rizal menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia mengajjak Yuli dan anak-anaknya ikut masuk kedalam mobilnya. Violetta terus menempel pada Bram seakan tak ingin berpisah, Renata mengehela nafasnya panjang sebelum benar-benar masuk kedalam mobil Bram.


...'Semoga Vio kembali sehat setelah tinggal didesa' batin Renata....


Dua mobil pergi meninggalkan mansion, beberapa orang menjaga keamanan dari kejauhan selama Bram dan yang lainnya pergi. Bram mematikan ponselnya begitupun yang lainnya, agar tidak ada orang lain yang mampu melacak keberadaannya.


Perjalananan dari kota ke desa tujuan membutuhkan waktu beberapa jam lamanya karena memang desa yang akan didatangi sangatlah jauh, mobil yang ditumpangi oleh Bram dan Rizal pun masuk kedalam hutan yang gelap dan lebat.


"Gelap sekali." gumam Renata pelan.


Setelah menempuh jarak selama 4 jam lamanya kini mereka telah sampai, Rizal menghentikan mobilnya tepat didepan gapura yang menjulang tinggi. Semua orang keluar dari dalam mobilnya, Rizal meminta yang lainnya menunggu sedangkan dirinya masuk terlebih dahulu menemui kepala desa yang rumahnya tak jauh dari gapura.


Tak lama kemudian Rizal datang bersama seorang laki-laki paruh baya dan juga 2 pemuda, mereka berjalan menghampiri Bram.


"Tuan Bram perkenalkan ini namanya tuan Zanid dan juga anak-anaknya." ucap Rizal.

__ADS_1


Bram menjabat tangan Zanid selaku kepala desa disana, ia juga bersalaman dengan dua pemuda yang diketahui keduanya adalah anak sang kepala desa.


"Perkenalkan nama saya Bram, tuan Zanid jika anda berkenan izinkan anak saya dan juga pengasuhnya tinggal di desa ini untuk sementara waktu." ucap Bram.


"Saya sudah mendengar semuanya dari temanku Rizal, anakmu dan juga pengasuhnya boleh tinggal disini kapanpun kalian mau." ucap Zanid.


"Terimakasih tuan telah mengizinkan anakku tinggal disini, aku tidak akan melupakan kebaikanmu tuan." ucap Bram.


"Jangan sungkan, sekarang kalian bawa barang-barang kalian lalu ikuti aku." ucap Zanid.


Bram menganggukkan kepalanya, Yandi dibantu oleh kedua anak Zanid membawa semua barang-barang yang sudah disiapakan bahkan Dizal dan Denis pun ikut membantu. Semua orang berjalan mengikuti langkah Zanid, ternyata setelah masuk kedalam desa suasananya begitu asri dan sejuk serta penduduknya pun ramah.


Zanid berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, didalamnya ada seorang wanita yang sudah tua ditemani oleh anak kecil seumuran Violetta.


Tok..Tok...Tok..


"Bu Sarina." panggil Zanid.


Ceklek.


Wanita bernama Sarina pun keluar dari dalam rumahnya diikuti anak laki-laki dibelakangnya, ia menatap Zanid yang datang bersama beberapa orang dibelakangnya.


"Apa ini tamunya Zan?" tanya Sarina.


"Benar, tapi hanya dua orang yang akan tinggal disini." ucap Zanid.


"Masuklah." ucap Sarina.


Zanid masuk bersama rombongan Bram, mereka duduk lesehan dibawah karena memang tidak ada kursi dirumah Sarina. Sarina mengambil air minum untuk tamunya, dia juga menyuguhkan singkong rebus dan juga pisang yang sudah matang yang diletakkan diatas piring.


"Maaf, hanya ini yang bisa saya suguhkan." ucap Sarina.


"Tidak apa-apa, terimakasih ini saja sudah cukup." ucap Bram.


"Zenab sudah memberitahumu bukan?" tanya Zanid.


"Iya, dia tadi datang kesini memberitahukan bahwa akan ada tamu yang datang dan tinggal bersama kami." jawab Sarina.


"Tidak apa-apa, dimanapun anakku di tempatkan yang penting dia aman." ucap Bram.


Bram berbincang-bincang dengan Sarina dan juga Zanid, berbeda dengan Violetta yang menatap terus pada Aksara. Nurul membisikan sesuatu ke telinga Renata, dia baru sadar kalau ternyata tangan sahabatnya terluka.


"Rena tangan loe kenapa? Sumpah gue baru nyadar bestie." tanya Nurul berbisik.


"Sst diamlah, tangan gue cuman ke gores belati pas pulang dari rumah loe." jawab Renata berbisik.


"Kok bisa?" tanya Nurul.


"Bisa lah orang gue gelud." ucap Renata santai.


Keduanya akhirnya diam saat Bram bangkit dari duduknya, dia mengambil sesuatu dari balik saku celananya.


"Terimalah." ucap Bram menyodorkan amplop putih yang lumayan tebal pada Sarina dan juga Zanid.


"Apa ini?" tanya Sarina dan Zanid bersamaan.


"Itu sebagai tanda terimakasihku karena kalian mengizinkan anakku tinggal disini," ucap Bram.


"Mohon maaf, aku ikhlas menolongmu tanpa harus ada imbalan." ucap Zanid mengembalikkan amplopnya pada Bram.


"Aku pun ikhlas, ambillah." tambah Sarina.


"Jika kalian menolak pemberianku sama saja kalian menolak kehadiran anakku, terimalah anggap saja itu adalah rezeki dari yang maha kuasa melalui tanganku karena kebaikan kalian." ucap Bram.


Akhirnya keduanya menerima uang yang di berikan Bram, hari sudah mulai gelap Yandi mengajak Bram untuk kembali ke kota.


"Sudah sore, takutnya jalanan semakin gelap." ucap Yandi.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Bram.


"Mohon maaf tuan Zanid, bu Sarina saya tidak bisa berlama-lama disini karena hari semakin sore dan saya juga harus kembali ke kota." ucap Bram pamit.


"Silahkan tuan," ucap Zanid.


"Kenapa tidak bermalam disini saja?" tanya Sarina.


"Ada yang harus saya kerjakan disana dan tidak bisa diwakilkan oleh orang lain." jawab Bram.


"Yasudah kalau begitu, hati-hati nak." ucap Sarina.


"Aku titip anakku dan pengasuhnya bu Sarina, tuan Zanid." ucap Bram.


Zanid dan Sarina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, Bram memeluk tubuh Violetta dengan erat sebelum ia benar-benar pergi.


"Vio jaga diri baik-baik ya." ucap Bram berkaca-kaca.


"Aku pasti lindu sama daddy." ucap Violetta sendu.


"Daddy juga pasti merindukanmu, ingat janjimu ya sayang." ucap Bram.


Violetta menganggukkan kepalanya, Rizal dan yang lainnya pun ikut berpamitan. Yuli memeluk tubuh Renata yang masih terlihat pucat, Nurul dan Denis melakukan hal yang sama mereka khawatir melihat kondisi Renata yang belum pulih sempurna tetapi Renata berusaha menyakinkan keluarga Nurul kalau dirinya baik-baik saja.


Zanid mengantarkan Bram sampai ke gapura, Violetta dan Renata tidak ikut serta mengantarkan mereka ke gapura karena memang jaraknya yang lumayan jauh.


Keesokan harinya.


Aksara bangun terlebih dahulu dari yang lainnya, dia mandi dan juga menunaikan sholat sebagaimana yang selalu diajarkan oleh neneknya. Tak lama kemudian Renata dan juga Violetta bangun dari tidurnya, Violetta melihat Aksara yang sedang membuat sesuatu.


"Hei, kau sedang apa?" tanya Violetta.


"Membuat alat pancing." jawab Aksara dingin.


"Kau mau memancing?" tanya Violetta.


"Hemm." jawab Aksara singkat.


'Hiih dingin sekali' batin Violetta.


"Aku ikut." ucap Violetta.


"Ya." ucap Aksara.


Violetta berjalan ke dapur menghampiri Renata yang sedang memotong sayuran bersama Sarina, dia berpamitan sekalian meminta izin pada Renata untuk ikut bersama Aksara.


"Tatak, boleh Vio ikut Aksala mancing?" tanya Violetta.


"Boleh, asal jangan jauh-jauh ya." ucap Renata.


Violetta pun menganggukkan kepalanya, Aksara berjalan terlebih dahulu keluar dari dalam rumahnya. Umur Aksara berbeda satu tahun dari Violetta, dia berumur 5 tahun sedangkan Violetta berumur 4 tahun tetapi Aksara sudah bisa mandiri. Dia sering mencari makanan keluar rumah entah itu mencari jamur, ikan, atau buah-buahan yang bisa ia bawa kerumahnya. Violetta mengekor dibelakang Aksara yang berjalan ke sungai, ia tak berani turun jadi ia hanya melihat Aksara yang sedang menangkap ikan menggunakan alat dari bambu dari kejauhan.


Dari kejauhan Violetta mendengar suara yang ramai, dilihatnya sekumpulan orang memakai baju hitam serta memakai kain yang menutupi kepalanya.


"Aksala, meleka sedang apa?" tanya Violetta menujuk kearah sekelompok orang berbaju hitam.


"Mereka sedang belajar beladiri, itu namanya silat. Kau mau bergabung?" tanya Aksara.


"Mau, mau," jawab Violetta antusias.


"Nanti siang aku akan mengajakmu kesana, aku juga belajar bersama mereka tapi khusus untuk anak-anak." ucap Aksara datar.


Merasa sudah cukup dengan hasil tangkapannya Aksara naik keatas dan mengajak Violetta kembali ke rumahnya.


Siang hari.


Violetta dan Aksara sudah bersiap untuk pergi ke padepokan yang berada tak jauh dari rumah bu Sarina, Renata mengikuti kemana Violetta pergi sekalian berkeliling melihat disekitaran kampung. Sampai di padepokan Aksara mengajak Violetta masuk, dia meminta izin pada gurunya membawa Violetta bergabung dan ikut latihan silat bersamanya. Renata memantau Violetta dari kejauhan, dia bersyukur ternyata Violetta mau bergabung dengan orang lain berkat Aksara.

__ADS_1


"Kau ikuti gerakan pelatih." titah Aksara.


Violetta mengikuti gerakan pelatih silat, karena kegeniusannya Violetta mudah menghafal gerakan-gerakan yang diajarkan. Aksara sedikit menyunggingkan senyumannya, dia kembali fokus pada gerakan yang sudah diajarkan sebelumnya.


__ADS_2