
Selesai mengobati luka para lelaki yang tengah berada di mansion, dokter pun berpamitan pulang. Renata bergegas ke dapur bersama Nurul, mereka akan memasak bersama pelayan menyiapkan makan malam untuk semua orang.
"Ren mau masak apa nih?" tanya Nurul.
"Gak tau nih, masak bahan seadanya aja. Bik Marni lagi sakit jadi bahan makanan gak kumplit, ibarat katanya dia kepala pelayan disini Nur." jawab Renata.
"Kalau bujang sunda gue sukanya apa Ren? Lu tahu enggak?" tanya Nurul.
"Dia mah pemakan segala." jawab Renata.
"Njir, gak enak bener denger jawabannya. Gue mau taunya yang paling favorit menurut dia, lu tau kan Ren? Secara nih ya, Dia kan sering kesini." ucap Nurul.
"Emang iya, Yandi mah pemakan segala. Pernah beli kebab aja dia makan sama kertasnya, kalo buat favorit sih dia sukanya semur kadal." ucap Renata.
"Loe bisa serius gak sih jawabnya, mau gue gibeng lu." kesal Nurul.
"Mau ngajak adu kekuatan loe sama gue? Yakin gak nangis nantinya? Loe tahu kan Yandi orang sunda, ciri khas dari orang sunda kalo makan yang penting ada sambel sama lalapan, dijamin nasi sebakul aja habis." tantang Renata, dia juga menjelaskan kembali makanan favorit Yandi.
"Peace bos, hehe. Yaudah kalau gitu gue mau bikin sambel terasi, kalo urusan persambelan mah loe juga tahu gue ahlinya." ucap Nurul cengengesan.
"Mbak, tolong bantu pototing brokolinya ya." ucap Renata pada pelayan.
Pelayan pun membantu Renata memotong sayur brokoli sambi sesekali bercanda, Renata tipikal orang yang asyik dibawa ngobrol jadi banyak orang yang nyaman berada di dekatnya. Bram dan yang lainnya membersihkan tubuhnya masing-masing, Regan dan Aldo di kamar tamu, sedangkan Yandi dia membersihkan tubuhnya di kamar yang memang di sediakan khusus untuknya.
Tok..Tok..Tok..
"Daddy." panggil Violetta dari luar.
ceklek.
"Ada apa Vio?" tanya Bram membuka pintunya.
"Lapar." rengek Violetta.
"Ututu, kasihan sekali anak daddy ini lapar ya? Yasudah kita turun ke bawah, bunda sama kak Nurul lagi pada masak di dapur kayaknya belum siap deh." ucap Bram.
"Gapapa dad, nanti bisa makan buah dulu soalnya Vio udah lapar sekali" ucap Violetta.
"Yasudah, ayo." ucap Beram menggendong tubuh Violetta.
Bram mengambil paper bag untuk di serahkan pada kedua temannya, ia memberikan baju miliknya yang sama sekali belum pernah ia buka ataupun dipakainya. Bram berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah, dia melangkahkan kakinya ke kamar tamu dimana Regan dan Aldo berada.
Tok..Tok..Tok..
"Gan, Al. Buka pintunya, aku bawain baju nih." ucap Bram.
Ceklek.
Aldo membukakan pintu kala Bram mengetuknya, penampilannya masih acak-acakan karena belum mandi.
"Nih, buat ganti." ucap Bram menyodorkan paper bag pada Aldo.
"Thanks ya," ucap Aldo mengambil paper bag dari tangan Bram.
"Kenapa belum mandi?" tanya Bram.
"Regan duluan, kirain gak bakal lama eh dia malah semedi di dalem." jawab Aldo.
"Yaudah, kalau kalian udah selesai langsung ke meja makan ya, kalian pasti lapar." ucap Bram.
"Beres itu mah." ucap Aldo mengacungkan jempolnya.
Selesai memberikan pakaian ganti pada Aldo, Bram melangkahkan kakinya menuju meja makan, dia mendudukkan Violetta disampingnya lalu mengambil pisang yang berada di meja.
"kamu mau buah apa Vio?" tanya Bram.
"Mau apel dad." jawab Violetta.
Bram pun mengambilkan buah Apel dan juga pisang, Bram mengambil buah apel ke dapur untu di cuci terlebih dahulu sebelum di makan, begitu masuk kedalam dapur dia melihat calon istrinya tengah sibuk memasak. Tak ingin menggangu Renata yang masih berkutat di dapur, Bram langsung kembali ke meja makan.
"Mau di kupas atau langsung di makan?" tanya Bram.
"Sini dad, langsung di makan aja soalnya kalo di kupas kelamaan." jawab Violetta meminta apelnya pada Bram.
Bram menyodorkan apel kepada Violetta, dengan gerakan cepat Violetta mengambil apel tersebut lalu memakannya. Renata sudah selesai dengan masakannya, dia dan pelayan mengambil semua hasil masakan ke meja makan, Renata menata piring dan juga lauk pauk diatas meja. Nurul mengambil beberapa gelas dan juga air minum, setelahnya ia juga mengambil nasi.
"Wah, brokoli sama cumi." ucap Violetta antusias.
Wangi masakan yang sungguh menggoda membuat Violetta dan Bram menelan ludahnya kasar. Setelah semuanya tertata rapi Bram memanggil Yandi dan juga kedua temannya, selesai memanggil yang lain Bram kembali duduk di samping Violetta.
"Dad, tolong ambilin nasinya." ucap Violetta.
"Aduuhh, udah gak sabar banget kayaknya nak daddy nih."goda Bram.
"Kalo bunda yang masak, Vio yakin pasti enak." ucap Violetta.
__ADS_1
Bram menyendokkan nasi ke dalam piring Violetta, dia juga meletakkan lauk yang di tunjuk oleh anaknya. Tak perlu menunggu lama lagi, Violetta langsung menyantap makanannya dengan begitu lahapnya.
"Widiihh, kayaknya enak masakannya." ucap Regan.
"Masakan bidadari gue gak pernah gagal." ucap Bram yakin.
"Ada lalapan juga, wah perfect ini mah." ucap Yandi.
"Sayangnya gak ada leunca Yan, itukan favorit kamu." ucap Bram.
"Leunca? lu bujang sunda Yan?" tanya Aldo.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Yandi balik.
"Wah, sama dong." jawab Aldo.
"Beneran lu? Gue sama kak Bram emang keturunan sunda, lebih tepatnya Bandung." ucap Yandi.
"Kalo gue asalnya dari majalengka, cuman pas beres kuliah pindah ke jakarta cari kerja sampe akhirnya gue kerja sama almarhum bokapnya Regan." ucap Aldo.
"Kalo kamu asalnya dari mana Gan?" tanya Bram.
"Gue asli jakarta." jawab Regan.
Asyik mengobrol mereka sampai lupa mau makan, Violetta sudah menghabiskan makanannya tetapi perutnya belum merasakan kenyang.
"Daddy, mau lagi." ucap Violetta dengan mulut yang masih penuh.
Bram syok melihat piring Violetta sudah bersih tak tersisa, yang lainnya juga terkejut karena merasa baru saja mereka tinggal ngobrol sebentar nasi di piring Violetta sudah ludes.
"Lapar apa doyan neng?" tanya Yandi.
"Dua-duanya." jawab Violetta.
"Kalian juga makanlah," ucap Bram.
Bram kembali menyendokkan nasi untuk Violetta, Aldo dan Regan juga mulai mengisi piringnya. Renata sengaja memasak dengan porsi banyak, dia juga sudah menyiapkan makanan untuk para pelayan dan juga penjaga.
"Sayang, sini kalian makan juga." ucap Bram.
"Iya, sebentar." sahut Renata.
Di dapur Renata tengah mengaduk bubur untuk bi Marni, pelayan yang membangunya tadi kini tengah membersihkan peralatan dapur yang sudah di gunakan untuk memasak tadi.
"Nur, lu duluan aja makannya, bilangin juga ke mas Bram nanti gue nyusul soalnya mau kasih bubur ini dulu ke bik Marni." ucap Renata.
Renata menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia mengambil mangkuk untuk menuangkan bubur yang sudah di masaknya. Nurul berjalan sendirian ke meja makan, Bram tak melihat Renata datang bersama Nurul untuk ikut makan bersama.
"Loh, Renata nya mana?" tanya Bram.
"Nanti dia nyusul, katanya mau kasih bubur dulu sama bik Marni." jawab Nurul.
"Kenapa gak sama pelayan aja, kasihan dia pasti kecapean." ucap Bram.
"Pak Bram, Rena itu sama persis kaya ibunya. Rena selalu mengedepankan orang yang dia sayangi, apalagi kalau dia tahu ada salah satu diantaranya yang sakit pasti dia bakalan perhatiin banget." ucap Nurul.
"Aku gak tahu hatinya terbuat dari apa, dia emang baik sangat baik malahan, tapi aku khawatir karena kebaikannya itu dia selalu lupa dengan dirinya sendiri." ucap Bram.
"Makanya tugas pak Bram buat ingetin dia." ucap Nurul.
"Kalian makanlah terlebih dahulu, aku akan menunggu Rena datang." ucap Bram.
Tak lama kemudian Renata datang, dia bergabung di meja makan bersama yang lainnya, tetapi disini ia merasa heran karena Bram terus menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Mas, kenapa gak makan?" tanya Renata.
"Menurutmu?" bukannya menjawab, Bram malah bik bertanya.
"Ya gak tahu," jawab Renata bingung.
Bram menghela nafasnya panjang, dia langsung menyendokkan nasi untuk Renata beserta lauknya. Bram menyendokkan nasi tersebut lalu menyodorkannya ke mulut Renata, dengan ragu plus malu Renata membuka mulutnya.
"Untuk kedepannya, kau tidak perlu repot-repot memasak, mencuci piring ataupun pekerjaan lainnya di mansion. Aku mempekerjakan pelayan untuk apa kalau kau sendiri yang menggarap semuanya, mereka makan gaji buta dong? Aku gak bakal larang kamu kalau mau masak, aku sama Vio sangat suka masakan kamu, tapi untuk kedepannya aku mau kamu fokus sama kita. Biarkan pelayan bekerja sesuai dengan tugasnya, kamu sering lupa sama diri kamu sendiri, waktu itu juga kamu sampai lupa makan dan aku gak mau itu terus berlanjut, paham." ucap Bram.
"Iya mas," ucap Renata tersenyum.
"Yasudah, mas suapi kamu sampai habis, awas aja kalau ada yang tersisa." ucap Bram.
"Iya, mas Bram tambah bawel aja deh." ledek Renata.
"Bawel buat kebaikan kamu, bukan buat keburukan." ucap Bram.
"Daddy, kalau lagi makan jangan berisik. Kalau kata om Yandi, PAMALI." ucap Violetta menekan kaliamat terakhirnya.
Bram pun langsung merapatkan mulutnya, Renata tak tega bila harus makan sendiri jadi dia mengambil sendok lain sehingga keduanya makan satu piring berdua meskipun terhalang Violetta di tengah-tengah keduanya. Aldo dan Regan memutar bola matanya melihat keromantisan calon keluarga cemara dihadapannya, Nurul yang tengah asyik makan pun langsung terdiam, dia menopang wajahnya menggunakan kedua tangannya menatap kearah Renata dan Bram yang bucin.
__ADS_1
"Umm, so sweetnya." ucap Nurul.
"Lupa ada pacarnya disini?" tanya Yandi.
"Enggak lupa, cuman punya pacar tapi gak peka." sindir Nurul.
"Utututu, sini sayangku cintaku aa suapin ya." ucap Yandi menjembel pipi Nurul.
"Pada guobblokkss semua," kesal Regan.
"Pindah yok." ajak Aldo pada Regan.
Regan pun menganggukkan kepalanya, dia mengikuti Aldo duduk lesehan dibawah meja makan. Kedua pasangan bucin pun terkekeh melihatnya, mereka tak bisa menahan tawanya begitu melihat wajah kekesalan dan keirian kedua jomblo yang tengah duduk dibawah.
"Sayang mau aku suapin gak?" tanya Regan dengan manja pada Aldo.
"Anjir gue masih normal nyet." ucap Aldo bergidik ngeri.
"Aaaaa, jahat banget ih aa Aldo." ucap Regan menkrukan suara wanita.
"Diem, setan." sewot Aldo.
Aldo beringsut melihat kelakuan absurb Regan, demi apapun di bergidik ngeri. Yandi dan Nurul tertawa melihatnya, jangankan Aldo yang geli melihatnya, Regan sendiri pun bergidik.
.
.
Di rumah sakit.
Fadlan kini sudah ditangani oleh dokter, Sania menunggu dokter memeriksa keadaan Fadlan di luar ruangan.
"Semoga mas Fadlan gak kenapa-napa." gumam Sania.
Tak lama kemudian donter keluar dari dalam ruangan Fadlan, Sania segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi Fadlan.
"Dok, bagaimana keadaan kakak saya?" tanya Sania.
"Pasien kekurangan cairan, darahnya juga rendah yang megakibatkan kondisi tubuhnya melemah. Tapi anda tidak perlu khawatir, saya sudah memasang cairan infus dan saya sudah meresepkan obat penambah darah untuk pasien." jelas dokter.
"Oh syukurlah, terimaksih dokter." ucap Sania.
"Sama-sama, sudah jadi tugas saya nona. Kalau begitu saya permisi, masih banyak pasien yang harus di periksa." ucap dokter.
"Oh iya, silahkan dokter." ucap Sania mempersilahkan fokter tersebut pergi.
Setelah dokter yang memeriksa Fadlan pergi, Sania masuk kedalam ruangan Fadlan, dilihatnya pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya kini terbaring lemah dengan infusan di lengannya.
"Mas, aku gak gega lihat kamu kayak gini." ucap Sania.
Sania duduk disamping hospital bed Fadlan, dia mengeluarkan hp nya menghubungi seseorang yang menjaga anaknya. Kala Sania menutup teleponnya, dia teringat kalau dirinya pernah meminta nomor ponsel Yuli sewaktu ia dan Fadlan mencari keberadaan Renata.
"Aku coba hubungi mbak Yuli, aku akan beritahukan kondisi mas Fadlan siapa tahu mbak Yuli mau memberitahukan alamatnya. Dengan begitu aku bisa menemui Renata, mas Fadlan pasti senang." gumam Sania.
Sania pun menghubungi nomor Yuli, dia segera menceritakan kondisi Fadlan yang drop karena terus mencari keberadaan Renata begitu sambungan telepon terhubung. Sesuai dugaan Sania Yuli memberitahukan alamat dimana Renata tinggal, dia mengucapkan terimakasih kepada Yuli lalu menutup telponnya.
"Aku janji mas, aku akan bawa Renata datang kesini." ucap Sania menatap wajah Fadlan.
Sania segera bergegas keluar dari ruangan Fadlan, sebelum pergi ia menitipkan Fadlan kepada suster yang bertugas disana. Sania pergi mengendarai mobil Fadlan, dia melajuka mobilnya menuju alamat ya g di berikan oleh Yuli selaku ibu Nurul.
15 menit kemudian.
Sania menghentikan mobilnya tepat di depan pagar tinggi menjulang, ia memastikan alamat yang di berikan oleh Yuli itu sesuai atau tidaknya.
"Wooowww, gede banget rumahnya. Apa iya Renata diaini tinggalnya? Tapi, disini alamatnya udah sesuai kok." ucap Sania takjub.
Sania keluar dari dalam mobilnya, dia berjalan memanggil satpam yang berjaga di depan mansion.
"Pak satpam." panggil Sania.
Security yang berjaga pun menghampiri Sania yang memanggilnya, dia berdiri telat dihadapan Sania tanpa membukakan pagarnya.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Security.
"Saya mau tanya, apa benar ini kediaman Bramasta?" tanya Sania.
"Iya betul, ada perlu apa ya bu?" tanya Security lagi.
"Tolong sampaikan pada tuan Bram, saya mau bertemu dengannya." ucap Sania.
"Apa ibu sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Security memastikan.
"Tidak pak, saya kesini mau cari orang yang bernama Renata. Sampaikan saja pada tuan Bram, saya mendapatkan alamatnya dari ibu Yuli istri dari tuan Rizal, tuan Bram pasti mengerti." ucap Sania.
"Baik, tunggu disini dulu ya bu. Mohon maaf saya tidak bisa membawa ibu masuk, demi keamanan disini karena tidak sembarang orang yang bisa masuk kedalam tanpa ada persetujuan dari pemilik rumah." ucap security.
__ADS_1
"Saya mengerti pak." ucap Sania.
Security pun menyampaikan pesan Sania pada Bram, begitu security masuk ia melihat Bram tengah berkumpul di ruang tamu. Selesai menyampaikan pesannya pada Bram, security pun keluar di ikuti oleh Bram dan yang lainnya.