
Di perusahaan.
Yandi berjalan tergesa-gesa menuju keruangan Bram, dia mendapatkan laporan baru dari jegel atas teka-teki selama ini.
Brak..
"Innalillahi." ucap Bram terkejut.
Bram sampai menjatuhkan beberapa berkasnya karena terkejut, Yandi pun menghela nafasnya yang ngos-ngosan seperti di kejar-kejar anjing.
"Ngagetin aja, ada apaan sih?" kesal Bram.
"Ini penting kak," ucap Yandi.
"Ya apa, coba ngomong." desak Bram.
"Loe tahu kan si Indra?" tanya Yandi.
"Tahu, dia yang pernah bersaing buat dapetin penghargaan yang diadakan tuan Arbeto." jawab Bram.
"Tepat sekali, loe tahu dia dalang dari balik semua kecelakaan ini. Kemarin Regan dateng ke kantor pas loe gak masuk, dia udah janji bakal bantuin loe cari dalang sebenarnya dari semua teror yang mengarah ke loe, dia curiga sama Indra dan gue berinisiatif nyuruh jegel kerjasama sama detektif handal buat cari semua kebenarannya. Barusan Jegel ngabarin gue kalau ternyata benar, Indra pelakunya." jelas Yandi.
Bram langsung berdiri dari duduknya, dia mengepalkan tangannya dengan kuat serta tatapannya pun mulai menajam.
"Kumpulkan semua buktinya!" tegas Bram.
"Ini sebagian data yang sudah di dapatkan, saat ini Jegel dan detektif Chandra sedang menyelidiki lebih lanjut lagi." ucap Yandi menyerahkan sebuah foto dan bukti percakapan antara Indra beserta anak buahnya.
Bram mengambil semua bukti dari tangan Yandi, dia melihat beberapa fotonta kemudian Bram memutar sebuah rekaman yang di simpan kedalam handphone.
'Kerja bagus, aku akan menambahkan bonus untuk kalian semua meskipun kalian gagal membunuhnya. Cari tempat tinggalnya yang baru, buat dia semakin menderita kalau perlu kalian bunuh semua anggota keluarganya beserta para pekerjanya. Hancurkan semua proyek yang sedang digarapnya, jangan biarkan dia berjaya karena apa yang dia miliki seharusnya menjadi milikku, maka dia tidak berhak menduduki urutan pengusaha nomor 2 terkaya di dunia karena dia aku lebih cerdas daripada dirinya.'
Bram menghela nafasnya panjang, dia tak menyangka Indra bisa berbuat jauh seperti itu padanya. Yandi mengambil kembali semua bukti yang telah di berikan pada Bram, ia akan menyimpannya di tempat yang lebih aman agar tidak diketahui oleh orang lain.
"Akan aku amankan bukti ini kak." ucap Yandi.
"Aku percayakan semuanya padamu Yan, kumpulkan kembali semua buktinya biar aku yang akan memikirkan bagaimana cara membalaskan semua perbuatan Indra sesuai dengan apa yang dilakukannya, kejahatannya sudah tak bisa di maafkan." ucap Bram.
"Vio dan Rena pasti sedang dalam bahaya, begitupun kau dan penghuni mansion lainnya." ucap Yandi.
"Aku akan bicarakan hal ini dengan Rena dan Vio, mereka lebih pintar daripada yang kita bayangkan, banyak yang mereka pelajari selama berada di desa jadi aku yakin mereka bisa menjaga dirinya sendiri, tetapi aku juga tidak akan tinggal diam walaupun mereka jago beladiri aku akan menyiapkan pengawalan untuk semua orang di sekitarku." jelas Bram.
"Aku setuju denganmu kak." ucap Yandi.
Tok..Tok..Tokk..
Yandi dan Bram saling memandang satu sama lain, Bram memberikan kode pada Yandi untuk membukakan pintunya sementara ia membereskan berkasnya yang terjatuh.
Ceklek.
__ADS_1
"DADDY." teriak Violetta.
Violetta berteriak memanggil ayahnya, Bram pun mengalihkan pandangannya melihat kearah Violetta yang tengah berlari kearahnya, ia langsung mensejajarkan tubuhnya menyambut kedatangan Violetta.
Greeeppp.
"Aduhh, anak daddy jangan lari-lari nanti jatuh." ucap Bram berhasil memeluk Violetta.
"Sorry dad," ucap Violetta tersenyum.
"Gimana jalan-jalannya seru?" tanya Bram.
"Gak seru dad, gak jadi juga ke play zone nya habisnya ada nenek sihir disana nya." jawab Violetta jujur.
Deg!
Bram beralih menatap Renata yang tengah memandang kearahnya, Renata menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sebagai isyarat kalau semuanya baik-baik saja.
"Vio ketemu mommy Bilqis?" tanya Bram.
"Iya, dia gak sengaja tabrakan sama Vio." jawab Violetta.
"Vio takut ligat mommy Bilqis?" tanya Bram lagi.
"Enggak, aku udah sembuh daddy. Mulai sekarang gak ada rasa takut lagi, aku sudah mulai berani menghadapi mommy Bilqis." ucap Violetta.
"Vio adalah anak yang cerdas, tak butuh waktu lama dia bisa sembuh sepenuhnya tanpa harus bergantung pada obat, dia juga bisa mengendalikan dirinya begitu ibunya datang." jelas Renata.
"Itu semua berkat dukungan kalian." ucap Violetta.
Bram mengangkat tubuh Violetta, ia berjalan kearah Renata sampai akhirnya ketiganya berpelukan.
"Aaahh meleeyoot, kiiyyuuutt bangett." ucap Yandi baper.
Ketiganya pun terkekeh mendengar ucapan lebay Yandi.
"Sirik aja om ini." ledek Violetta.
"Kak, kenapa akhir-akhir ini setelah sembuh Vio jadi menyebalkan ya? Kata-katanya itu loh kek diluar nurul antariksa." heran Yandi.
"Aku aja mau di tukerin sama Vio." sahut Bram.
"Gibah kok di depan orangnya sih?" cibir Violetta.
"Nah kan, makin pinter aja nih anak ngelawaknya." ucap Yandi.
"Gapapa, yang penting Vio sehat itu aja udah cukup." timpal Renata.
"Sayang, ada yang mau aku bicarakan sama kamu dan Vio juga." ucap Bram.
__ADS_1
"Yaudah tinggal ngomong aja mas," ucap Renata.
"Yaelah daddy, ajakin duduk dulu kek? Masa berdiri terus, kasihan bundaku tersayang pegel kakinya." protes Violetta.
"Iya anak daddy yang bawel, ini juga mau ajak duduk bundanya." ucap Bram.
"Buahahaha, Astaga Vio, Vio makin gemesin aja tuh mulutnya, jadi pengen nyumpal." ucap Yandi sambil tertawa.
"Diem om, lihat tuh muka daddy udah serius." ucap Violetta.
Yandi pun langsung menutup mulutnya tertawa dalam diam sampai pipinya keram, Bram mengajak Renata dan Violetta duduk di sofa yang berada di ruangannya.
"Begini, aku tahu kalau kalian sudah melatih kemampuan beladiri kalian. Saat ini orang suruhan Yandi sudah menemukan dalang dibalik semua serangan yang di tujukkan padaku, dia berniat ingin menghabisi nyawaku dan seluruh orang terdekatku. Aku ingin kalian berjaga-jaga dimanapun kalian berada, dia bukanlah ofang sembarangan jadi untuk itu kita semua harus lebih waspada." jelas Bram.
"Siapa orangnya mas?" tanya Renata.
"Dia sesama pebisnis, kami pernah bersaing untuk memenangkan penghargaan yang diadakan oleh pengusaha ternama di negara ini, dia tidak terima akan kemenangan perusahan yang aku pimpin maka dari itu dia berniat menyerangku." jawab Bram.
"Apakah ada bukti?" tanya Renata lagi.
"Ada, Yandi tolong perlihatkan buktinya pada Renata." ucap Bram.
Yandi pun menyerahkan semua barang bukti pada Renata, Renata pun melihat semua foto kemudian ia memutar rekaman yang berada di dalam sebuah ponsel atas arahan Bram.
"Aku ada rencana." ucap Renata.
"Rencana apa?" tanya Bram.
"Nanti di rumah kita diskusikan, aku dan Violetta akan menyusun sebuah rencana dulu." ucap Renata.
"Bener kata bunda, kalau sekarang bahasnya otakku tidak akan jalan, habisnya aku capek." ucap Violetta menyetujui ucapan Renata.
"Kalau begitu kalian istirahat dulu di kamar daddy, nanti kalau kerjaan daddy udah selesai kita pulang." ucap Bram.
"Makan siang dulu kek, laper nih dad." celetuk Violetta.
"Emang di mall kalian gak mampir ke restoran? Daritadi belum makan?" Cecar Bram.
"Tadi sih udah diajak makan siang, cuman Vio bilang udah hilang selera makannya gara-gara gak sengaja ketemu ibunya." jawab Renata.
"Yaudah kita makan siang bareng, Yan tolong pesenin makannya ya aku mau lanjutin pekerjaannya biar gak semakin numpuk." ucap Bram.
"Oke kak." ucap Yandi.
"Sekalian buat kamu juga," tambah Bram.
"Nah gitu dong, kan enak dengernya juga." ucap Violetta.
Renata menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Violetta, Bram pun menarik pipi Violetta karena ia semakin gereget pada anaknya itu.
__ADS_1