
Violetta izin kepada ayah dan calon bundanya untuk menghabiskan waktu bersama Aksara, dia juga tak lupa memberikan apa yang sudah ia beli untuk Aksara.
"Sara, aku bawain sesuatu buat kamu." ucap Violetta.
"Sesuatu apa?" tanya Aksara dingin.
Violetta membuka paper bag yang sudah ia siapkan, dia menyodorkan paper bag tersebut pada Aksara. Aksara mengernyitkan dahinya, karena penasaran Aksara pun membuka paper bag tersebut yang berisikan boneka minion, sepasang baju laki-laki, dan yang terakhir adalah sebuah jam tangan.
"Banyak sekali." ucap Aksara.
"Buat kenang-kenangan Sara," ucap Violetta tersenyum.
"Terimakasih." ucap Aksara sedikit menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Kalau senyum tuh kayak gini." ucap Violetta menarik kedua sisi mulut Aksara agar tersenyum.
Aksara pun pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Violetta, dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan Violetta, sejujurnya semenjak Violetta pergi Aksara merasa kesepian. Violetta bercerita banyak pada Aksara, dengan sabar Aksara mendengar semua celotehan Violetta dari mulai menceritakan ibunya, orang yang sudah membuat rumahnya terbakar dan masih banyak lagi.
Tak terasa haripun sudah mulai beranjak sore, saking asyiknya Violetta tak mau pulang ke kota, kalau perlu dia ingin menginap di desa itu lagi. Sebelum pergi Renata mengajak Bram dan yang lainnya ke padepokan, dia mengenalkan pemilik padepokan dan juga guru-gur yang sudah mengajarinya dan Violetta silat. Entah ada angin apa tiba-tiba saja pemilik padepokan memberikan sesuatu pada Renata, dia tersenyum memberikan sebuah barang yang di bungkus rapi menggunakan kain yang tebal.
"Abah, apa ini?" tanya Renata.
"Ambillah, nanti kau akan membutuhkannya." ucap Abah Sadinta.
"Terimakasih abah." ucap Renata.
Bram berbincang-bincang bersama abah Sadinta, selesai mengobrol dengan waktu yang cukup lama Bram mengajak yang lainnya untuk pulang. Aksara mau tak mau harus merelakan Violetta kembali pulang, Violetta mendekap tubuh Aksara dengan erat sebelum berpisah kembali.
"Vio, kau memelukku terlalu erat." protes Aksara.
"Biarin, wlee." ucap Violetta menjulurkan lidahnya.
"Aku bisa kehabisan nafas Tata," keluh Aksara.
"Vio, kasihan itu Aksaranya wajahnya sampe merah kayak gitu." tegur Renata.
"Hehehe, iya bunda." ucap Violetta menampilkan rentetan gigi putihnya.
Renata menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Violetta, sesuai pemintaan bundanya Violetta pun melonggarkan pelukannya pada Aksara. Bram berpamitan pada bu Sarina, selesai berpamitan Bram mengajak Violetta untuk kembali pulang.
"Yah, Sara Vio harus pulang padahal masih betah disini." keluh Violetta.
__ADS_1
"Kapan-kapan kan kita bisa ketemu lagi, aku akan mengantarmu sampai gapura." ucap Aksara.
"Di pake ya jam tangannya, jaga semua barang yang aku kasih jangan sampai di jual." ucap.Violetta.
"Iya bawel." ucap Aksara.
Bu Sarina dan juga Aksara mengantar rombongan Bram sampai ke gapura, mereka berjalan lumayan jauh dari rumah bu Sarina ke tempat dimana mobil di parkirkan. Di tengah perjalanan tuan Zanid juga bertemu dengan rombongan Bram, ia ikut mengantarkan rombongan Bram juga.
Begitu sampai gapura Bram meletakkan barang pemberian bu Sarina yang berupa hasil kebunnya, tuan Zanid juga memberikan beberapa sayuran segar untuk dibawa pulang. Selesai membereskan semua pemberian dari bu Sarina dan tuan Zanid, Bram menyuruh semua orang untuk masuk kedalam mobil.
"Dadah, Sara." ucap Violetta melambaikan tangannya kearah Aksara begitu ia duduk di kursi mobilnya.
Aksara membalas lambaian tangan Violetta meskipun kaku, maklum saja dia pasti merasa gengsi melakukan hal tersebut.
"Dadah nenek, jaga kesehatan ya, Vio sayang nenek." ucap Violetta.
"Iya sayang, Violetta juga yang lainnya jaga kesehatan ya, nenek sayang Vio juga." balas bu Sarina.
"Kami pamit pulang semuanya." ucap Bram mewakili yang lainnya.
"Hati-hati dijalannya, semoga selamat sampai tujuan." ucap bu Sarina.
"Tetap jaga keselamatan," pesan tuan Zanid.
"Sampai bertemu kembali Tata." lirih Aksara.
"Sampai bertemu kembali Sara." gumam Violetta pelan.
Wajah Violetta sedikit murung kala harus berpisah dengan Aksara, dia masih ingin bercerita banyak dengan Aksara setelah sekian lama berpisah.
"Utututu, anak daddy kok kayaknya masih kangen sama Aksara." goda Bram.
"Iya daddy, Vio suka disana." ucap Violetta.
"Lain waktu kita kesana lagi, sekarang kita harus pulang dulu karena daddy sama bunda punya urusan yang harus di selesaikan." ucap Bram.
"Iya daddy." ucap Violetta tersenyum.
Renata mengusap pucuk kepala Violetta dengan lembut, dia tahu kalau Violetta sangat dekat dengan Aksara, berkat Aksara banyak perubahan dalam diri Violetta yang mengarah kearah positif.
.
__ADS_1
.
Di dalam penjara.
Selama beberapa hari Bilqis tidak mau makan, dia tidak berselera melihat makanan yang di berikan oleh sipir. Setiap kali ia melihat tahanan yang lainnya begitu lahap, justru ia semakin mual melihatnya.
"Huek, Huek, kok mual banget ya." ucap Bilqis menahan gejolak di perutnya.
"Heh, gak sopan lu orang lagi pada makan juga." tegur tahanan lain.
"Heh, gue juga gak sengaja kali. Perut gue tiba-tjba mual, gue udah coba nahan tapi kagak bisa." sewot Bilqis.
"Hamil kali." celetuk tahanan lainnya.
Deg!
Jantung Bilqis tiba-tiba saja seakan berhenti berdetak, jika di ingat-ingat ia sudah telat datang bulan selama 2 minggu ini.
'Gue hamil? Mana mungkin, selama ini gue main aman kok' batin Bilqis.
Perut Bilqis semakin bergejolak, dia semakin mual sampai tahanannya yang lain memanggil penjaga untu membawa Bilqis keluar dari dalam sel.
"Bu, ini dia mual-mual terus kayaknya hamil deh." ucap tahanan yang lain.
Penjaga pun mengeluarkan Bilqis dari dalam tahanan, ia membawanya ke kamar mandi dan juga meminta penjaga lainnya membawakan pregnancy tes untuk Bilqis, kebetulan ada penjaga wanita yang baru saja melakukan tes kehamilan.
"Coba periksa, takutnya kamu beneran hamil." ucap penjaga menyodorkan pregnancy test pada Bilqis.
"Apaan sih bu, aku gak lagi hamil kok." tolak Bilqis.
"Benar atau tidaknya kamu tetap harus melakukan test kehamilan," kekeh penjaga.
Mau tak mau Bilqis mengambil pregnancy test tersebut, dia masuk kedalam toilet melakukan tes lewat urinnya. Bilqis berharap kalau semua itu tidak terjadi, jika dia benar hamil maka ia tidak tahu harus berbuat apa selain mempertahankan bayinya meskipun ia tidak tahu siapa ayahnya. Setelah menunggu beberapa menit Bilqis pun melihat hasilnya, dan benar saja kalau saat ini dirinya tengah berbadan dua.
"Sialan! Kenapa gue bisa hamil sih?" kesal Bilqis.
"Cepat keluar!" teriak penjaga.
Ceklek.
"Bagaimana hasilnya?" tanya penjaga.
__ADS_1
Bilqis pun menyerahkan hasil tes kehamilannya pada penjaga, disana tergambar jelas dua garis berwarna merah yang menyatakan kalau Bilqis tengah berbadan dua.