
Bram memegang kedua bahu Indra, dia memintanya untuk berdiri. Indra tak sanggup untu menatap Bram, kesalahannya begitu banyak sehingga ia merasa malu sekaligus tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf, aku hanya ingin kau sadar akan ambisimu itu Indra, aku tahu apa yang kau rasakan saat ini, jika kau ingin sukses jangan pernah bermain kotor karena kau akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah kau lakukan." ucap Bram.
Indra pun menangis terisak kala mendengar kebesaran hati Bram, padahal bila diingat apa yang Indra lakukan sangatlah berbahaya bahkan bisa mengancam nyawa. Bram mendekap tubuh Indra, dia mengusap punggungnya yang bergetar.
"Maafkan aku hikss.. Maaf." lirih Indra.
Jevan mendorong kursi rodanya sendiri, dia mendekat kearah Bram yang tengah mendekap ayahanya. Melihat jevan mendekat Bram pun melepaskan tubuh Indra, dia menatap Jevan yang tengah menatap kearahnya.
"Om Bram, aku tahu ayahku sudah salah. Aku mohon jangan penjarakan dia, hanya dia satu-satunya yang aku punya di dunia ini." ucap Jevan mengatupkan kedua tangannya memohon pada Bram.
Bram berjongkok dihadapan Jevan, dia mengulas senyumnya mengusap pipi Jevan dengan lembut.
"Aku tidak akan memenjarakan ayahmu, asal dia mau berubah dan menebus semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada semua orang yang sudah ia rugikan." ucap Bram.
"Daddy, maukah kau menebus kesalahanmu demi aku?" tanya Jevan pada ayahnya.
"Aku akan melakukannya," ucap Indra dengan tubuh yang bergetar.
Akhirnya semua masalah bisa terselesaikan tanpa ada pertumpahan darah, Renata dan Bram saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum. Listi ikut terharu melihat pemandangan yang sedari tadi di lihatnya, dia bersyukur Indra mau berubah tanpa harus kembali berulah, dia tahu kejahatan yang dilakukan oleh Indra tapi dia tidak bisa apa-apa dan tidak ada hak mencampuri urusan Indra karena dia hanyalah seorang pelayan.
Dirasa semuanya sudah selesai Bram mengajak Renata dan yang lainnya pulang, sedangkan Jevan membawa ayahnya ke rumahnya. Awalnya Jevan mengira ia akan benar-benar menghabiskan waktunya bermain bersama Violetta swperti apa yang sudah diberitahukan oleh Renata, nyatanya ia dibawa ke suatu tempat dan mendengarkan kenyataan kalau ayahnya sudah melakukan perbuatan yang membuatnya kecewa.
.
.
Di penjara.
Sejak mengetahui bahawa dirinya hamil, Bilqis jadi sering uring-uringan bahkan berteriak tidak jelas. Para tahanan lainnya kadang memberika pelajaran Bilqis karena sudah mengganggu ketenangannya, kini Bilqis duduk memeluk kakinya disudut ruangan yang dingin seorang diri. Wajahnya pucat tak terawat, rambutnya pun acak-acakan layaknya orang gila.
"Gue harus keluar dari sini!" tekannya.
Seorang penjaga memanggilnya keluar, dia diberitahukan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Bilqis mengernyitkan dahinya penasaran siapa yang sudah menemuinya, tak ingin mati penasaran Bilqis pun bangkit dari duduknya mengikuti penjaga.
"Bilqis." panggilnya.
Deg!
Tubuh Bilqis seketika membeku di tempatnya, jantungnya pun seakan berhenti berdetak melihat siapa yang datang menemuinya.
"Ka-kakak." ucap Bilqis terbata.
Yang datang menemui Bilqis adalah Noira, kakak tiri Bilqis yang dulu memutuskan pergi ke luar negeri setelah orangtuanya meninggal dunia. Dulu Bilqis hidup bersama orangtua tunggal yaitu ayahnya, tak lama kemudian ayahnya menikah dengan ibu dari Noira, tetapi setelah enam tahun menikah ayah dan ibu tirinya mengalami kecelakaan tunggal dannsejak saat itulah Noira dan Bilqis tidak pernah bertemu lagi.
"Kakak, kapan kau pulang?" tanya Bilqis seraya duduk dihadapan Noira.
"Sejak aku mendengar kabar kalau kau ditahan, aku segera pulang karena memang aku tahu kau tidak memiliki siapa-siapa lagi setelah apa yang kau lakukan." ucap Noira.
"Maafkan aku kak." ucap Bilqis menundukkan kepalanya.
Noira menghela nafasnya panjang, dia meraih tangan Bilqis lalu mengusapnya, meskipun Bilqis adalah saudara tirinya dia tetap menyayanginya layaknya adik kandung sendiri.
"Kau semakin kurus dan tak terurus Bil," ucap Noira menatap iba pada Bilqis.
"Aku stress kak, sekarang juga aku sedang mengandung dan gak tahu siapa ayahnya." ucap Bilqis sendu.
"Kenapa kau bisa berbuat demikian Bilqis, padahal kau ini termasuk orang yang beruntung memiliki Bram yang meratukan kamu." ucap Noira tak habis pikir dengan adi tirinya ini.
"Kakak tolong bantu aku keluar dari sini, tolonglah aku kakak hiks, aku janji aku akan berubah asal bawa aku keluar dari sini kak aku mohon." ucap Bilqis memohon sambil menangis dihadapan kakaknya.
"Kasusmu tidak mudah Bilqis, percuma saja kalau aku mengeluarkan uang banyak untuk membayar pengacara ternama karena bukti semua kejahatanmu pada putrimu begitu nyata dan kuat adanya, Bram sekarang pun bukanlah orang sembarangan." Jelas Noira.
"Waktu berkunjung sudah habis, nona Bilqis mari ikut saya kembali." ucap Penjaga.
"Tidak, tidak, kak toling aku kak hikss, tolong aku.." ucap Bilqis memberontak.
Bilqis terus menggenggam tangan kakaknya, namun penjaga terus menarik paksa Bilqis untuk ikut bersamanya. Tak terasa air mata pun lolos melalui pipi mulusnya, Noira tak tega melihat kondisi adiknya bak orang gila namun ia tidak tau harus berbuat apa.
"Ayah, maafkan Ira yang tak bisa menjaga anak kesayanganmu sesuai permintaan terakhirmu." gumam Noira merasa bersalah.
Noira keluar dari dalam kantor polisi, dia melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya. Di dalam mobil ia memikirkan bagaimana caranya membawa adiknya pergi, jika Bilqis bisa dipastikan keluar ia akan membawanya pergi bersamanya ke luar negeri dan menetap disana.
"Hanya ada satu cara, aku yakin dia bisa bebas." gumam Noira.
Noira melajukan mobilnya menuju suatu tempat, dia akan meminta bantuan salah seorang yang ia percaya bisa mengeluarkan Bilqis dari dalam jeruji besi.
__ADS_1
.
.
Fadlan tak henti-hentinya mencari anaknya, sampai kondisi tubuhnya sakit pun ia tetap kekeh ingin menemukan anaknya yaitu Renata dan meminta maaf padanya. Sania bolak balik ke rumah Fadlan memastikan kalau Fadlan baik-baik saja, ia sudah menganggap Fadlan sebagai kakaknya sendiri.
"Sania, aku akan pergi mencari Renata lagi." ucap Fadlan.
"Mas, bisakah carinya besok lagi? Lihatlah kondisi tubuhmu sekarang." cegah Sania.
"Aku akan tetap pergi, kau pulanglah anakmu pasti membutuhkanmu, jangan khawatirka aku karena aku masih kuat untuk berdiri dan kembali mencari." ucap kekeh.
"Bukankah tuan Rizal sudah bilang kalau sudah waktunya anakmu juga akan kembali, lihatlah wajahmu sudah pucat begitu kak." ucap Sania khawatir.
Fadlan tidak memperdulikan ucapan Sania, dia tetap mengambil kunci mobilnya lalu melangkahkan kakinya keluar, Sania mengikutinya dari belakang memastikan Fadlan baik-baik saja. Saat Fadlan hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba kepalanya terasa berputar-putar sampai akhirnya tubuhnya ambruk.
"MAS FADLAN!" teriak Sania.
Sania langsung berlari menghampiri Fadlan, dia memangku kepala Fadalan seraya menepuk-nepuk pipinya berharap Fadlan membuka matanya. Sania berteriak meminta tolong, tetangga di rumah Fadlan datang menghampiri Sania yang tengah memangku kepala Fadlan.
"Tolong bantu saya membawanya masuk kedalam mobil," ucap Sania meminta tolong pada tetangga.
Dua pria menggotong tubuh Fadlan lalu meletakannya ke kursi belakang, setelah Fadlan masuk Sania mengucapkan terimakasih kepada para tetangga. Setelah semuanya siap Sania mengunci rumah Fadlan dengan buru-buru, dia masuk kedalam mobil Fadlan lebih tepatnya kursi kemudi, dengan cepat ia menyalakan mesin mobil lalu melajukannya menuju rumah sakit terdekat.
"Mas, kenapa kau keras kepala sekali." gumam Sania cemas.
Untung saja Sania bisa mengendarai mobil, jadi dia bisa membawa Fadlan ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan Sania terus melirik kearah belakang, ia menggerutu begitu melihat kearah depan ia terjebak macet.
"Haiishh, kenapa harus macet segala sih, gimana dong ini." cemas Sania.
Begitu kendaraan di depannya perlahan maju, Sania langsung melajukan mobilnya. Ia melihat jalur didepannya mulai kosong, Sania langsung saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
.
.
Renata dan yang lainnya kini sudah sampai di mansion Bram, mereka berkumpul di ruang tamu setelah bermain dengan Indra.
"Fyuuuhhh, lelah sekali." ucap Regan menjatihkan tubuhnya keatas sofa.
"Lebay loe, kek bukan laki aja." protes Aldo.
"Ck, lu kan banyak geraknya di kasur." sindir Yandi.
"Itu dulu bro." ucap Regan.
"Panggilin dokter dong Yan, biar kalian diobatinnya disini aja, takutnya kalian cape kalo harus ke rumah sakit." ucap Bram dengan suara lemah.
"Loe sekalian juga kak, jangan nolak kalo gak diobatin takutnya lukanya infeksi." ucap Yandi.
"Gampang itu mah, biar bidadari gue aja yang ngobatin." ucap Bram.
"Dasar bucin." ucap ketiga pria secara bersamaan.
"Wihh, kompak banget. Jangan-jangan jodoh lagi, hihi." ucap Nurul terkekeh.
Ketiganya saling memandang satu sama lain, kemudian mereka memalingkan wajahnya bergididk ngeri.
"Yang, kok ngomongnya gitu sih? Aku kan pacar kamu, mana mungkin aku suka sama mereka yang bener aja." protes Yandi.
"Berchandyaaa..Berchandyaa, haha." ucap Nurul sambil tertawa.
Yandi mengeluarkan ponselnl dari saku celananya, dia menghubungi dokter atas permintaan Bram untuk datang ke mansion. Violetta melihat Renata yang sedari tadi melamun, entah apa yang sedang di pikirkan oleh calon ibu sambungnya itu.
"Bun, bunda!" panggil Violetta sambil menggoyangkan tubuh Renata.
Renata tersadar dari lamunannya, semua orang menatap kearah Renata yang memang sedari tadi diam saja.
"A-ah, iya Vio ada apa?" tanya Renata.
"Bunda, kenapa bunda melamun?" tanya Violetta.
"Iya sayang, dari tadi kamu diem aja. Apa ada masalah? Coba serita sama mas." tambah Bram.
"Aku kepikiran sama papa, daritadi perasaanku gak enak." ucap Renata.
"Om fadlan kemarin ada ke rumah kata papa, dia nanyain lu Ren, cuman papa sama mama gak ngasih tahu loe dimana." ucap Nurul.
__ADS_1
"Kenapa loe gak bilang sama gue Nur?" tanya Renata.
"Lah kan ini bilang Ren, habisnya kita langsung bikin drama jadi gue lupa." jawab Nurul.
"Nanti kita ke rumah papa kamu gimana? Biar kamu tenang." saran Bram.
"Tapi, kondisi kamu lagi kayak gini mas." ucap Renata.
"Gapapa, nanti juga mendingan kok." ucap Bram.
"Yaudah deh, terserah kamu aja." ucap Renata.
"Sekalian minta restu, kan aku udah bilang kalau masalah sama Indra udah selesai aku bakal langsung nikahin kamu." goda Bram.
Renata pun tersipu malu mendengar ucapan Bram, dja menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh Violetta. Nurul melemparkan bantal tepat mengenai tubuh Renata, dia geli sendiri melihat sahabatnya bertingkah seperti bocah.
"Bunda, jangan sembunyi di belakang Vio dong." protes Violetta.
"Bunda malu Vio." cicit Renata.
"Kenapa malu? Kan bunda pakai baju?" heran Violetta.
"Udah bocil, jangan kepo deh." ucap Nurul.
"Apa sih kak Nur?" sewot Violetta.
Renata berbisik di telinga Violetta, mereka berdua cekikikan membuat yang lainnya bingung.
"Om Yan," panggil Violetta.
"Apa Vio?" tanya Yandi.
"Mau tahu sesuatu gak?" tanya Violetta.
"Sesuatu apa Vio, jangan bikin om penasaran dong." ucap Yandi.
"Jadi gini, waktu itu Vio kan main ke rumah kak Nur, Vio gak sengaja lihat foto om di kamar kak Nur dan.." ucap Violetta.
Nurul langsung berlari membekap mulut Violetta, ia tahu kemana arah Violetta bicara jadi sebelum Violetta meneruskan ucapannya lebih baik dia menutu mulut kecil tapi berbahaya Violetta. Nurul melotot kearah Violetta, dan bukannya takut Violetta malah tertawa. Renata menarik tangan Nurul dari mulut Violetta, setelah berhasil Renata menahan tangan Nurul agar diam.
"Dan Nurul ngoceh sendiri, liatin foto Yandi. " ucap Renata meneruskan ucapan Violetta.
"Kak Nurul taku ya, hihi." ucap Violetta sambil cekikikan.
"Bohong, mereka bohong." kilah Nurul.
Renata mengeluarkan ponselnya, dia memutar Video yang ia ambil bersama Violetta sewaktu berkunjung ke rumah Nurul.
'Aaahhh, gak nyangka dapet bujang sunda. Ehh, tunggu dulu. Gimana kalau Yandi berselingkuh, secara kan dia itu tampangnya lumayan. Awas aja kalau dia selingkuh, gue gak bakal tinggal diam, gue bakal seret cewenya sekalian gue hancurin mukanya, kalau jelek kan Yandi juga gak balakan mau.'
Bram dan yang lainnya terkekeh begitu mendengar syara Nurul, Yandi tak menyangka kalau pacarnya punya pikiran seperti itu. Nurul menutupi wajahnya yang memerah menahan malu, Renata berbisik di telinga Nurul yang mana membuat si empu kesal.
"Ajak nikah aja atuh aa Yandi nya, biar gak di gondol orang." bisik Renata.
"Sialan lu, dasar cepu." kesal Nurul.
"Ya Allah yang, mana mungkin aku selingkuh dari kamu." ucap Yandi.
"Ya kan cuma berandai-andai aja, kalau kejadian ya itu konsekuensinya." kilah Nurul.
"Cewek loe ngeri juga cuyy." ucap Regan.
"Iya Yan, gue jadi khawatir sama loe." timpal Aldo.
"Cewek tuh suka gitu, suka beropini sendri sampai ujung-ujungnya menyakiti diri sendiri, galau sendiri." ucap Bram.
"Gak semua cewek kali mas." protes Renata.
"Iya, cuman kamu itu pengecualian sayang." ucap Bram.
Suara bel berbunyi.
Pelayan membukakan pintu begitu terdengar suara bel berbunyi, dilihatnya seorang dokter laki-laki datang menenteng tas medisnya.
"Selamat sore, apakah benar ini kediaman tuan Bramasta." ucap dokter.
"Benar, silahkan masuk pak dokter." ucap pelayan.
__ADS_1
Pelayan pun mempersilahkan dokter masuk kedalam, ia membawa dokter tersebut menuju ruang tamu dimana Bram dan yang lainnya berkumpul. Yandi berdiri menyambut kedatangan dokter tersebut, karena ia yang sudah menghubunginya. Dokter pria tersebut pun langsung mengeluarkan alat medisnya, dia memeriksa Yandi terlebih dahulu karena Bram menolak untuk di periksa. Pemeriksaan pun terus berlanjut, sampai akhirnya tinggal Bram saja yang belum, Renata memaksa Bram untuk di periksa, atas paksaan dari sang pujaan hati akhirnya Bram pun mau memeriksakan kondisinya.