
Beberapa menit kemudian.
Mobil yang di tumpangi oleh Bram sudah sampai di depan mansion berwarna putih bersih nan megah, Renata menatap takjub melihat mansion yang lebih megah daripada sebelumnya.
"Ini rumah apa istana sih? Gede banget." cicit Renata.
"Ayo masuk, ini kan rumahmu juga sebagai calon istriku." ucap Bram dengan tengilnya.
"Bun, masuk bun." ucap Violetta.
Renata memutar bola matanya jengah, Bram lebih dulu melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang utama dengan berjalan perlahan, luka di perutnya memang tidaklah terlalu parah namun karena masih basah jadi Bram harus tetap berhati-hati.
"Hati-hati tuan," ucap Renata.
"Iya calon istri." ucap Bram tersenyum.
"Berasa kek jadi nyamuk gue disini." protes Yandi.
Renata tersenyum dan berjalan terlebih dahulu karena malu, dia mencari bik Marni yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri di sekitar mansion, bik Marni melihat kedatangan Renata dari kejauhan pun langsung menghampiri Renata.
"Mbak Rena." panggil bik Marni.
__ADS_1
"Bibik, Rena kangen." ucap Renata memeluk bik Marni.
"Bibik lihat-lihat, mbak Rena sekarang tambah chubby deh," ucap bik Marni.
"Iya gimana gak chubby ? kerjaannya makan, tidur, palingan dikit-dikit bantuin bu Sarina sama Aksara." ucap Renata.
"Syukurlah, dimana non Vio? Mbak Rena datang kesini sama siapa?" tanya bik Marni.
"Tadinya kita lihat berita di tv pas kebakaran mansion di tv kepala desa, Rena sama Vio memutuskan kembali ditemenin pak Aji, kita gak tahu kalau tuan Bram dirawat di rumah sakit jadinya pulang ke mansion yang lama terus di jemput sama pak Yandi. Begitu datang ke rumah sakit diem bentar eh tuan mau pulang, ya sekarang Vio sama tuan Bram lagi di depan." jawa Renata.
"Yasudah bibi mau siapin makanan buat tuan sama yang lainnya, mbak juga makan ya." ucap bik Marni.
Bik Marni menganggukkan kepalanya, Renata menggandeng tangan bik Marni layaknya anak perempuan yang sedang bermanja pada ibunya. Di dapur Renata banyak bercerita pada bik Marni pengalamannya tinggal di desa, bik Marni mendengarkan cerita Renata sambil tersenyum.
"Kak gue mau balik ke apart gapapa?" izin Yandi.
"Yaudah gapapa, kalau mau balik ya balik aja jangan pikirin aku karena sudah ada Renata disini, sekalian pendekatan ya gak?" ucap Bram.
"Efek udah lama ngeduda, sekalinya jatuh cinta udah kayak anak bujang aja loe kak." ledek Yandi.
"Sirik aja, namanya udah ngerasain gimana di belai ya pastinya butuh belaian dong Yan." ucap Bram.
__ADS_1
"Kasihan pisangnya nganggur, punya istri udah kek psk jadi ibu udah kayak setan, nasib emang kagak ada yang tahu sih ya beruntung sekarang loe dikasih wanita spek bidadari." ucap Yandi.
"Ssstt, jangan ngomong kek gitu depan Vio." ucap Bram.
"Santai aja daddy, Vio udah ngerti dan udah gede juga." ucap Violetta.
"Iya sayang." ucap Bram.
Violetta kini sudah bisa berpikir dengan jernih, tidak ada kata trauma atau bayang-bayang ibunya lagi. Tidak ada yang tahu kalau Violetta sedang merencanakan sesuatu, dia pun tidak bilang pada Renata mengenai rencanaya karena hanya dia sendiri yang akan melakukannya.
"Yan tolong selidiki lagi kasus mansion lama." titah Bram.
"Tanpa loe suruh juga gue langsung ngerjain kok kak tenang aja, yang penting sekarang loe fokus sembuh sama fokus deketin calon istri loe biar cepet cus jadi penganten lagi." ucap Yandi.
"Segera." ucap Bram.
"Daddy pinjem laptopnya boleh?" tanya Violetta.
"Boleh sayang, nanti di bawain dam pelayaj ya." ucap Bram.
Violetta menganggukkan kepalanya, Bram memanggil pelayan untuk mengambilkan laptop milik Bram yang dibawa dari mansion lama. Setelah mendapatkan apa yang dia mau Violetta mengotak-atik laptop milik Bram, dia mencari sesuatu disana untuk melengkapi apa yang sudah ia rencanakan.
__ADS_1