Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Melamar Renata


__ADS_3

"Sepertinya kau harus banyak istirahat tuan, efek luka di tubuhmu membuat otakmu sedikit konslet." ucap Renata mencoba untuk tidak terlihat gugup.


"Kau pikir aku tidak serius?" tanya Bram.


"Hah?" tanya Renata terperangah.


Bram menarik tangan Renata duduk disampingnya, Renata pikir ia tak serius dengan ucapannya, Bram sudah tak bisa membendung lagi rasa yang ia sembunyikan karena sejak ada Renata perasaannya yang dulu telah mati kini mulai tumbuh kembali.


"K-kau mau a-apa tuan?" tanya Renata gugup.


"Tentu saja menc****mmu, agar kau percaya kalau aku ini serius." ucap Bram.


"Waduuh, jangan macam-macam tuan atau aku tidak akan segan-segan menampar mulutmu itu." ucap Renata.


"Ck, jangan panggil aku tuan." ucap Bram berdecak kesal.


"Kan emang tuan majikan saya gimana seh?" tanya Renata heran.


"Panggil aku sayang aja gimana?" tanya Bram seraya menaik turunkan alisnya.


"Lah hubungannya kita apa ? Kenapa harus panggil sayang? Kalo emang tuan mau saya jadi istri tuan kenapa gak ada romantis-romantisnya ngelamar anak gadis?" tanya Renata heran.


"Oh, kamu pengen saya romantis? Baiklah lihat saja nanti." ucap Bram tersenyum miring.


Renata membulatkan matanya sempurna, dia tadinya hanya asal bicara saja tetapi Bram menanggapinya dengan serius.


'Mimpi apa gue semalem? Kenapa tiba-tiba nih duda ngelamar gue? Loe tahu gak tuan jantung gue sekarang kayak gimana? Plese jantung gue udah kek lari marathon huaaaa' batin Renata.


"Renata." panggil Bram memegang tangan Renata.


"Hah? I-iya tuan." ucap Renata terbata.


"Kau tahu cinta itu tidak mengenal waktu, cinta itu sangat sulit untuk dijabarkan, mungkin kau memang terkejut mendengar ucapanku yang terkesan tidak serius. Tetapi yang perlu kau ingat adalah aku kehilangan sosok dirimu selama kau pergi dariku, kau sama persis seperti ibuku yang tangguh namun berhati lembut, aku tahu aku adalah seorang duda yang mempunyai anak satu sedangkan kau adalah seorang gadis. Aku benar-benar jatuh hati padamu Renata, apakah kau mau menjadi istriku dan ibu untuk Violetta?" ucap Bram dengan tulus.


"Tolong be-beri a-aku waktu tuan." ucap Renata gugup.


"Tidak perlu terburu-buru, pikirkanlah dengan sebaik mungkin karena aku ingin kau menerimaku dengan tulus tanpa ada paksaan ataupun rasa kasihan." ucap Bram.


Ceklek.


Yandi dan Violetta kembali ke ruangan Bram, melihat kedatangan mereka berdua Renata langsung menarik tangannya dari Bram. Renata bangkit dari duduknya dan berdiri, dia menetralkan jantungnya dan juga wajahnya yang sudah sangat memerah.


"Om kayaknya kita masuk di waktu yang gak tepat deh." bisil Violetta di telinga Yandi.


"Hooh Vio, lihat wajah daddy kamu kayak orang kesel gitu." bisik Yandi.

__ADS_1


Violetta mengarahkan pandangannya pada Bram yang tengah mengerucutkan bibirnya melihat kedangannya bersama Yandi, dia juga bisa melihat wajah pengasuhnya yang sedang bergerak gelisah.


"Daddy kenapa manyun kayak gitu?" tanya Violetta.


"Enggak kok." jawab Bram singkat.


"Terus, kakak kenapa wajahnya merah?" tanya Violetta lagi.


"Gapapa kok, Vio ayo kita mandi dulu." ucap Renata mengalihkan pembicaraan Violetta.


"Wah kayaknya aku bakal punya ibu baru deh om Yandi." goda Violetta.


Renata langsung membulatkan matanya pada Violetta, Bram dan Yandi pun terkekeh melihatnya.


"VIO." ucap Renata dengan gemas.


"Emang bener kan bun?" tanya Violetta kembali menggoda Renata.


"Udah ah, ayo cepet mandi nanti keburu sore lagi." ucap Renata kesal.


"Gengsi nih ye." ledek Violetta.


Tak ingin terus-terusan di goda oleh Violetta akhirnya Renata membawa Violetta pergi ke kamar mandi, Bram menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang begitu berani menggoda pengasuhnya.


"Gue lamar dia jadi istri." jawab Bram jujur.


"WHAT?!" teriak Yandi.


Bram menutup kedua telinganya mendengar teriakan Yandi, pasalnya Yandi hampir saja membuat telinganya rusak.


"Loe serius kak?" tanya Yandi.


"Ngapain gue bohong, emang untungnya apa?" ucap Bram seraya memberi pertanyaan pada Yandi.


"Secepat itu?" tanya Yandi lagi.


"Gue udah jatuh hati ke Renata sejak pertama kita bertemu, aneh memang tapi itulah kenyataannya." jawab Bram.


Prokk..prokk..


"Gue setuju kalau sama Renata mah, gue yakin kalau dia calon istri yang baik buat loe." ucap Yandi mendukung Bram.


"Besok tolong siapin acara romantis buat gue berdua, undang juga keluarga pak Rizal." ucap Bram.


"Beres itu mah." ucap Yandi mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi.


Violetta tak hentinya menggoda Renata yang sedang sibuk memandikannya, dia sangat suka sekali melihat wajah sang pengasuh yang memerah sekaligus salah tingkah.


"Bun, sabun." goda Violetta.


"Lama-lama kamu tuh ngeselin ya Vio." ucap Renata kesal.


"Aaiiyyaaa, pipinya merah banget bun kayak tomat? Salting ya bun?" tanya Violetta menaik turunkan alisnya.


"Diam Vio." ucap Renata.


"Kalo kakak mau jadi bundanya Vio gapapa kok, Vio malah seneng banget punya bunda yang baik hati, cantik dan juga jagoan kayak kakak." ucap Violetta.


"VIOLETTA MARGARETH." ucap Renata menekan kata-katanya.


"Hahahaha, bunda baru yeyeye, bunda baru lalalala." ucap Violetta bersorak.


Renata menghela nafasnya panjang, sungguh anak asuhnya ini sangat menyebalkan. Namun ia tak bisa menampik Kalau ia pun memiliki perasaan pada Bram tetapi ia belum memastikan semuanya, Bram definisi pria idaman bukan karena ia kaya tetapi karena kesabarannya yang membuat Renata salut padanya, ketampanan serta memiliki harta itu adalah sebuah bonus dan kapan saja hal tersebut bisa berubah jika memang Tuhan sudah menghendakinya.


'Apa iya aku juga jatuh hati pada tuan Bram? salah gak sih kalau gue suka sama majikan sendiri?' batin Renata.


Renata selelsai memandikan Violetta. Dia membawa Violetta keluar dari kamar mandi dan memakaikan baju padanya, ruang rawat Bram merupakan ruangan VIP jadi Violetta bisa memakai baju tanpa harus protes pada ayahnya. Selesai memakai baju Renata menyisir rambut Violetta dan menguncir rambutnya, dia juga menyemprotkan parfum pada baju Violetta.


"Udah rapi, wangin dan cuantiikk, mantap!" ucap Renata.


"Makasih ya bun." ucap Violetta.


"sama-sama," ucap Renata tanpa sadar.


"Hihihi." Violetta terkekeh.


Violetta berjalan kearah Bram, dia naik keatas lalu duduk di sebelah ayahnya.


"Eeuumm , wangi banget anak daddy." ucap Bram.


"Iya dong, kan bunda yang mandiin." ucap Violetta.


"Emang kamu setuju kalau kakak jadi bunda kamu?" tanya Bram.


"Setuju pake banget malah." jawab Violetta mantap.


Bram membisikkan sesuatu di telinga Violetta, Renata yang selesai merapikan pakaian dan juga barang Violetta melihat interaksi antara anak dan ayah yang sedang berbisik-bisik pun ikut penasaran.


'Mereka lagi bisikin apa sih sampe senyum-senyum gitu?' batin Renata.

__ADS_1


__ADS_2