
Di sebrang sana Bilqis tengah merebahkan tubuhnya, dia memainkan hp nya dan berselancar di dunia maya. Entah mengapa Bilqis tiba-tiba ingin melihat tabungannya yang bisa ia cek di handphonenya, dia membuka tabungannya dan terkejut melihat nominal yang tertera disana.
"A-apa ini? Kenapa uangku tiba-tiba hilang?" tanya Bilqis terheran-heran.
Bilqis mencoba mengotak-atik hp nya, namun hasilnya tetap sama jumlah uang yang ia kumpulkan menghilang begitu saja. Bilqis mengacak-acak rambutnya frustasi, dia melemparkan ponselnya ke sembarang arah dengan kesal karena uanag yang ia kumpulkan dengan suasa payah raib entah kemana.
"Brengsek! Kemana hilangnya duit gue." ucap Bilqis fustasi.
Pelaku dibalik hilangnya uang Bilqis tengah tersenyum sendirian, dia puas karena telah berhasil mengerjai ibunya yang sudah membuatnya trauma dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Ups, sorry ya momset hihihi." ucap Violetta cekikikan.
Renata membereskan piring kotor dan juga mngelap meja makan, semua yang dilakukan Renata tak lepas dari pengawasan Bram. Saat Renata sedang memncuci piring di wastafel dan dilihatnya di dapur tampak sepi, Bram bangkit dari duduknya menghampiri Renata.
Greeppp..
Renata begitu tersentak saat tangan kekar milik Bram melingkar di pinggangnya, Bram memeluk Renata dari belakang dan menopang dagunya di pundak Renata.
"Biarkan seperti ini sebentar saja." ucap Bram.a
"Hah? I-iya tuan." ucap Renata melongo dan juga gugup.
'Bagaimana ini? Gimana kalo ada yang liat? Dicap murahan kagak tuh gue' batin Renata.
Bram menghirup aroma tubuh Renata yang membuatnya merasa tenang dan nyaman, dengan ragu Renata melanjutkan pekerjaannya meskipun ia merasa tidak nyaman karena Bram mendekapnya dengan erat. Selesai dengan pekerjaannya Renata mengelap tangannya, Bram membalikkan tubuh Renata agar ia menatapnya. Jarak Renata dan Bram sangatlah dekat, jantung Renata sudah tidak aman bahkan wajahnya pun sudah memerah.
"Wajahmu merah." ucap Bram.
Renata memalingkan wajahnya kearah samping, dia mencoba menenangkan jantungnya yang terus bertalu. Bram menarik pinggang Renata agar semakin rapat dengannya, dia menangkup wajah Renata kemudian mendekatkan wajahnya dan..
Cup.
Deg!
Bram mengecup kening Renata dengan begitu lembut, Renata sampai memejamkan matanya saat Bram tiba-tiba melakukan serangan dadakannya. Bram melepaskan dekapannya dan pergi begitu saja meninggalkan Renata yang masih mematung di tempatnya, ia tersenyum puas karena berhasil mengecup Renata walaupun hanya di keningnya saja.
"Astagfirullah, apa ini mimpi?" gumam Renata meraba wajahnya.
Renata mencubit pipinya dan ia merasakan nyeri pertanda kalau ia tidak sedang bermimpi, Renata masih tak percaya kalau Bram melakukannya padanya tetapi jauh dalam lubuk hati yang paling dalam Renata pun mulai memilki rasa pada Bram.
__ADS_1
'Gue gak tahu, apakah ini rasa cinta atau hanya sekedar rasa kagum saja' batin Renata.
Bram mendekat ke arah putrinta yang sedang tertawa cekikikan, Albert tentu saja penasaran dengan apa yang membuat anaknya sampai tertawa seperti itu.
"Vio, kayaknya bahagia banget, ada apa nih?" tanya Bram.
"Hihi, gak ada dad." jawab Violetta.
"Gak ada, tapi kok ketawa ketiwi gitu?" tanya Bram lagi.
"Ishh daddy ini, nanti juga daddy bakalan tahu kalau sekarang masih rahasia dad." ucap Violetta.
"oh yaudah, Vio daddy udah kasih tahu Vio belum sih buat acara besok?" tanya Bram.
"Emang ada acara apa dad? Kayaknya daddy belum cerita sama Vio deh?" tanya Violetta.
"Besok daddy mau ngelamar Kak Rena, Vio dukung kak Rena jadi bunda Vio kan?" ucap Bram.
"Seratus persen ngedukung dong dad, besok acaranya ya? Vio juga mau bikin sesuatu buat bunda." ucap Violetta antusias.
"Syukurlah kalau kamu mendukungnya, besok daddy kabarin kamu lagi ya." ucap Bram.
"Oke dad." ucap Violetta.
"Aahhaaayy, aku ada ide." ucap Violetta.
"Ide apa Vio?" tanya Bram.
Violetta membisikkan sesuatu di telinga Bram, kedua sudut bibir Bram terangkat mendengar ide cemerlang dari Violetta.
"Wiihh, anak daddy pinter banget deh." puji Bram.
"Gimana? Oke?" tanya Violetta meminta persetujuan Bram.
"Oke, nanti daddy atur semuanya." ucap Bram mantap.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Renata sudah bangun terlebih dahulu, dia tidak tidur bersama Violetta karena Violetta meminta tidur bersama ayahnya. Renata turun ke bawah menuju dapur, dilihatnya bik Marni sedang mencuci sayuran dan buah-buahan bersama satu orang pelayan yang umurnya hampir sama dengan bik Marni.
__ADS_1
"Bik, Rena bantuin ya?" tanya Renata.
"Iya mbak," jawab bik Marni tersenyum.
Renata membantu bik Marni memotong sayuran dan memasak bersama, dengan cekatan Renata memasak dan menata makanannya diatas meja makan. Seperti biasanya Renata membersihkan meja kompor dan menfumpulkan semua wajan kotor ke wastafel, bik Marni membersihkan piring dan juga wajan kotor sedangkan satu pelayan lainnya membersihkan lantai dapur.
Di dalam Kamar Bram Violetta membuaka matanya perlahan, ia menggeliatkan tubuhnya seraya membangunkan ayahnya yang masih tertidur pulas.
"Daddy bangun." ucap Violetta mengoyang-gkyangkan tubuh Bram.
"5 menit lagi Vio." ucap Bram masih menutup matanya.
"Yaudah, Vio mau turun aja cari bunda." ucap Violetta.
"Hemm." sahut Bram.
Violetta turun dari kasurnya, dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Violetta mengedarkan pandangannya mencari Renata, dari atas terlihat Renata sedang menata makanan di meja makan.
"BUNDA." teriak Violetta dari lantai atas.
"Ya Allah anak ini, kenapa manggil bunda pake teriak segala kan malu sama yang lain." gumam Renata pelan.
Violetta berjalan menuruni tangga menghampiri Renata, dia langsung berlari masuk ke pelukan pengasuh yang ia sebut dengan nama bunda.
"Bun kenapa gak bangunin Vio?" tanya Violetta.
"Dua-duanya sama kebonya, gimana mau bangunin coba?" jawab Renata.
"Hehe, habisnya semalam daddy ngajak ngobrol terus." ucap Violetta.
"Yaudah sekarang mandi, emm bau acem." ucap Renata pura-pura menutup hidungnya seraya mengibaskan tangannya.
"Sembarangan bun kalau ngomong, wangi tauk bun badan Vio tuh." ucap Violetta.
"Wangi mulut naga." ucap Renata Asal.
Violetta pun terkekeh mendengarnya, dia mengikuti Renata dari belakang yang berjalan menuju ke kamar miliknya. Renata membuka pakaian Violetta begitu sampai di kamar mandi, dia menyalakan shower kemudian menggosok tubuh Violetta di selingi bercanda.
Dikamarnya Bram dibangunkan oleh alarm yang sudah ia atur sebelum tidur, dia melihat jam menunjukkan pukul 6 pagi.
__ADS_1
"Astaga aku kesiangan." ucap Bram panik.
Buru-buru Bram turun dari atas kasur, dia seakan lupa akan luka di perutnya berlari ke kamar mandi. Secepat kilat ia membersihkan tubuhnya, memakai baju dengan asal.