Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Talak


__ADS_3

Fadlan menyuruh Sania masuk kedalam rumahnya, dia memperilsilahkan Sania duduk sedangkan ia memanggil Namira yang masih menangisi kepergian Andin.


"Namira." panggil Fadlan.


Namira tak menjawab panggilan Fadlan, dia sengaja berdiam diri dikamarnya. Fadlan yang sudah mulai tersulut emosi pun membuka pintunya dengan kasar, dia menarik tangan Namira keluar dari dalam kamarnya.


"Mas kenapa kamu narik tangan aku? Lepasin mas sakit!" ringis Namira.


Fadlan tak menggubris ringisan Namira, dia menyeret istrinya ke ruang tamu dimana Sania tengah menidurkan anaknya di sofa.


Deg!


Tubuh Namira seketiga menegang kala melihat Sania, dia begitu mengenal wajahnya karena sebelumnya ia pernah melihat fotonya di hp Randy.


"Tidurkan saja di kamar, kasihan dia masih kecil." ucap Fadlan.


"Tidak apa-apa tuan, aku juga tidak akan berlama-lama disini." ucap Sania.


Fadlan melipat kedua tangannya di depan dadanya, dia duduk menatap Namira menuntut jawaban darinya atas kedatangan Sania.


"Kau mengenalku bukan?" tanya Sania tersenyum miring.


"K-kau, mau apa kesini?" tanya Namira tergagap.


"Jauhi suamiku!" tekan Sania.

__ADS_1


"Jelaskan apa yang sudah terjadi sebenarnya nona, kejujuranmu menjadi penentu bagiku agar aku bisa menentukan langkah yang akan aku ambil." ucap Fadlan.


"Saat aku melahirkan putraku suamiku tidak datang menemaniku, dia beralasan kalau ia tengah sibuk bekerja padahal saat itu aku tengah berjuang antara hidup dan mati karena pendarahan, sebelumnya aku sudah meminta seseorang untuk membuntuti suamiku karena aku sudah menaruh curiga pada sikapnya yang berubah, setelah aku selesai bertaruh nyawa dan anakku dinyatakan sehat begitupun denganku orang suruhanku datang membawa banyak bukti perselingkuhan suamiku." jelas Sania.


Sania menjeda ucapannya, dia mengambil beberapa bukti dari dalam tasnya berupa foto dimana suaminya tidur bersama Namira, pergi ke pusat perbelanjaan bahkan pergi ke club berdua. Fadlan mengambil beberapa foto yang di sodorkan oleh Sania, Namira terlihat begitu panik kala melihat fotonya terpampang jelas tak memakai busana disana. Fadlan meremas foto perselingkuhan Namira dan juga suami Sania yang diketahui bernama Randy, ia menatap tajam kearah Namira yang tengah berdiri tak jauh darinya.


"Ternyata ibu dan anak sama saja!" ucap Fadlan dingin.


"M-mas, aku bisa jelasin mas. I-itu bukan aku mas, dia pasti bohong mas." ucap Namira mengelak.


"Untuk apa aku berbohong?! Kau bisa lihat sendiri aku mempunyai seorang bayi yang masih membutuhkan perhatian ayahnya, selama kami menikah aku selalu berusaha menabung untuk masa depan kami dalam mewujudkan impian membangun rumah, mengurus anak kita berdua, aku rela hidup serba irit, jangankan belanja kebutuhanku sendiri untuk makan pun aku hanya dengan lauk seadanya. Jika kau tidak menggoda suamiku todak akan mungkin ia menghamburkan uangnya demi tidur bersama j***** sepertimu! Uang tabunganku dikuras olehnya, dia berfoya-foya denganmu membelikanmu barang-barang mewah, sedangkan aku?! Untuk membeli baju daster pun aku memikirkannya sampai berkali-kali demi menabung untuk impianku membangun rumah sendiri." jelas Sania dengan menggebu-gebu.


Sania menangis pilu meratapi nasibnya, dadanya yang sesak terasa terhimpit bebatuan besar kini merasa lega karena ia bisa mengeluarkan semua uneg-unegnya. Fadlan bangkit dari duduknya, dia menyeret Namira keluar dari dalam rumahanya. Namira memohon pada Fadlana agar ia tidak mengusirnya, tetapi Fadlan sama sekali tidak peduli akan permohonan Namira yang sudah terlewat batas.


Brukk..


"Aaaaa.. Mas jangan bakar semua bajuku!" teriak Namira.


Namira hendak mengambil pakaiannya yang belun terkena api, tetapi Fadlan menarik tubuhnya dan menghempaskan dengan kasar tubuh Namira sampai terjatuh. Api menyala begitu besarnya melahap habis pakaian Namira, Sania pun keluar menggendong bayinya menyaksikan aksi Fadlan terhadap Namir, dengan air mata yang berderai serta nafas yang naik turun tak beraturan Namira bangkit dari duduknya kemudian berjalan kearah Sania.


"Enyah kau dari dunia ini! Gara-gara kau pernikahanku hancur!" teriak Namira.


Namira menarik rambut Sania yang sedang menggendong bayinya, bayi laki-laki dalam gendongan Sania pun menagis dengan begitu nyaringnya. Fadlan menarik tangan Namira agar lepas dari Sania, dia menyeret Namira keluar dari gerbang rumahnya lalu mendorong tubuhnya sampai jatuh terjerembab ke asapal.


"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kau lakukan sendiri! Jika Sania tidak memberitahuku maka sampai kapanpun aku akan menjadi pria bodoh karena telah menerima perempuan hina sepertimu, aku kehilangan istri dan anakku karena mu, SEMUA KARENAMU!" amuk Fadlan.

__ADS_1


Brak..


Fadlan menutup gerbang dengan kasar, dia menguncinya agar Namira tak bisa masuk lagi kedalam rumahnya. Fadlan menghampiri Sania memastikan kondisinya dan juga bayi yang sedang di gendongnya, rupanya wajah Sania tercakar oleh kuku Namira sehingga mengeluarkan darah segar dari pipinya.


"Kau terluka." ucap Fadlan.


"Tidak mengapa tuan, luka di pipiku tak sebanding dengan luka yang selama ini bersarang dihatiku." ucap Sania dengan suaranya yang bergetar.


"Sudahlah, kita sama-sama menjadi korban disini. Jangan pikirkan lagi suamimu yang bajingan itu, ingatlah sekarang ini kau harus membesarkan putramu jangan sampai kau stress karena jika kau stress itu akan berakibat buruk pada sumber kehidupannya (Asi)." ucap Fadlan.


"Terimakasih tuan." ucap Sania.


Fadlan pun mengajak Sania masuk kembali kedalam rumahnya, dia tak mungkin membiarkan Sania pergi sebelum Namira benar-benar menyerah, karena bisa dipastikan Sania dan bayinya dalam bahaya karena Namira adalah perempuan yang nekat.


"Mas buka gerbangnya mas! Maafin aku!" ucap Namira dengan suaranya naik satu oktaf.


Namira pun menangis sejadinya sampai tubuhnya luruh ke bawah, penyesalan seringkali datang diakhir begitulah yang dirasakan oleh Namira sekarang. Sekitar satu jam lamanya Namira menunggu di depan gerbang dengan harapan Fadlan akan membuka kembali pintunya, tetapi nihil Fadlan tetap pada pendiriannya untuk tidak mengizinkan Namira kembali masuk ke dalam rumahnya. Sebelum Namira benar-benar pergi meninggalkan rumah, Fadlan keluar dari dalam rumahnya dengan wajah dinginnya.


"Mas aku tahu kamu bakalan balik lagi, mas aku mohon jangan usir aku ya mas." ucap Namira memohon pada Fadlan.


"Jangan terlalu percaya diri, aku datang kesini untuk menjatuhkan talak padamu." ucap Fadlan tegas.


"Mas! Jangan mas!" cegah Namira.


"Namira Maharani, aku talak engkau dengan talak tiga. Mulai sekarang kau bukan istriku lagi, jangan pernah kau injakkan kakimu di rumah ini lagi." ucap Fadlan dengan begitu lantangnya.

__ADS_1


Duuarrrr..


Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Namira langsung ambruk seketika bahkan air matanya pun bercucuran tanpa bisa ia cegah. Fadlan adalah pria yang paling dicintainya sampai ia rela merebutnya dari ibu Renata, dia menyesal telah bermain di belakang suaminya karena menuruti hawa nafsunya. Namira menangis pilu seraya menatap kosong, Fadlan pun meninggalkan Namira setelah ia menjatuhkan talak tiga pada Namira yang kini sudah bukan istrinya lagi. Fadlan tidak perlu mengurus surat perceraian dengan Namira, karena ia menikah secara agama/siri jadi cukup menjatuhkan talak saja maka hubungannya pun selesai.


__ADS_2