
Bram merasa bosan berdiam diri di rumah sakit, dia memutuskan untuk pulang ke mansion barunya yang tak kalah megah.
"Vio, kita pulang yuk?" ajak Bram.
"Kan daddy masih sakit?" tanya Violetta.
"Udah mendingan kok Vio, makanan rumah sakit juga gak enak. Mending kita pulang aja ke mansion yang baru, bik Marni udah pada disana." jawab Bram.
"Bun gimana? Kita pulang enggak nih?" tanya Violetta pada pengasuhnya.
"Vio panggil kakak aja." tegur Renata.
"Lah, kan emang kakak kan calon bundanya Vio?" goda Violetta.
"Yaudah lah, terserah kalian aja." ucap Renata cemberut.
"Jangan cemberut kayak gitu, nanti dikiranya marmut loh." ledek Bram.
"Terus aja terus, bapak sama anak sana aja." ucap Renata semakin kesal dibuatnya.
Renata tak habis pikir dengan Violetta dan Bram yang senang sekali menggodanya, mereka tidak memikirkan bagaimana jantung Renata yang sudah berdetak tak karuan serta pipinya yang tiba-tiba memanas tiap kali Violetta menyebutnya dengan sebutan bunda.
__ADS_1
"Gila! Gue emang udah gila kayaknya." ucap Renata.
Berbeda dengan Bram yang tengah berbahagia karena kedatangan dua orang spesial dihidupnya, Bilqis justru kini harus terus melayani setiap pria yang datang kepadanya.
"Nyari duit sih gampang, tapi kalo keterusan donat gue bisa lecet njir." keluh Bilqis.
"Bilqis, tuh pak sudarmoto katanya mau kamu yang layanin dia." ucap seorang perempuan dengan make upnya yang menor dan glamour.
"Emang dia berani bayar berapa mami? Kalo murah sih gamau, mending lempar sama yang lain aja." ucap Bilqis malas.
"Katanya sih 5 juta sepuasnya, gimana sanggup enggak?" tanya Mami Delva.
"Iya juga sih, yaudah nanti mamih cariin yang lebih gede uangnya ya cantik, tapi jangan lupa bonusnya ke mamih." ucap Mami Delva.
"Gampang itu mah." ucap Bilqis.
'Sialan! Kalau aja gue jadi istrinya mas Bram lagi, gak mungkin gue jadi j***** kek gini' batin Bilqis.
Setiap harinya Bilqis selalu saja banyak di pesan oleh orang, dia juga hampir kewalahan karena jika memang bukan karena butuh tidak mungkin ia melakukannya.
Bram akhirnya di izinkan pulang oleh dokter, Renata kembali mengemas pakaiannya bersiap untuk pulang. Yandi bertugas mengantarkan ketiganya pulang kr mansion baru, begitu ledakan terjadi Bram memutuskan untuk membeli mansion baru yang memang sudah ditawarkan oleh beberapa temannya, untuk menghindari kecelakaan terulang krmbali Bram juga meminta Yandi menyiapkan beberapa bodyguard di sekitar mansion untuk berjaga.
__ADS_1
"Sudah siap semuanya?" tanya Bram.
"Sudah." jawab Renata.
"Maksudku ke pelaminannya?" goda Bram.
Blusshhh..
Renata memalingkan wajahnya yang langsung berubah berwarna merah, dia tersipu malu setiap kali Bram menggodanya.
"Apaan sih." ucap Renata.
"Addduhh, itu pipi kok merah banget sih bun?" timpal Violetta.
"VIO." geram Renata.
"Hahahaha." Bram dan Violetta tertawa bersamaan.
Sudah lama sekali Bram tidak pernah tertawa lepas seperti saat ini, Yandi yang melihatnya pun ikut bahagia melihat sepupunya kini tidak murung seperti sebelumnya.
'Sepertinya kehadiran Renata memang disiapkan untuk kalian berdua, aku melihat pancaran kebahagiaan yang tercipta setiap kalian berkumpul bersama' batin Yandi.
__ADS_1