Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Rencana C


__ADS_3

Keesokan harinya.


Renata membangunkan Violetta lebih awal, pagi-pagi buta pula Nram sudaj menghubungi teman-temannya untuk persiapan nanti.


"Bun, masih ngantuk." keluh Violetatta.


"Untuk sekarang kamu harus cepet-cepet bangaun, kita kan mau bermain drama." ucap Renata.


Dengan mata yang masih tertutup Violetta masuk kedalam dekapan Renata, ia di gendong menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Renata dengan cepat membersihkan tubuh Violetta, memakaikan baju, lalu mendandani Violetta.


"Udah cantik." puji Renata.


 "Kak Jevan, udah di telpon lagi belum mom?" tanya Violetta.


"Astagfirullah, bunda lupa Vio." jaqab Renata menepuk keningnya.


"Telpon dulu mom, dia kan bagian penting." ucap Violetta.


"Nanti bunda telpon, ini masih pagi kok tenang aja." ucap Renata.


Renata mengajak Violetta turun untuk sarapan, ia juga harus ikut bergabung dengan calon suaminya meeting. Di bawah ternyata sudah banyak orang yang duduk di meja makan, Bram melambaikan tangannya pada Renata dan Violetta untuk bergabung.


"Wah, udah rame aja ternyata." ucap Renata duduk disamping Nurul.


"Iya dong, kan ayang udah jemput." ucap Nurul mengedipkan sebelah matanya kearah Yandi.


"Apa sih yang enggak buat kamu bub." ucap Yandi.


"Huek, kamar madi dimana? Pengen muntah liat Yandi bucin." tanya Aldo pura-pura menutup mulutnya.


"Geli banget lihat sisi lain Yandi." ledek Regan.


"Terus, teruss, semakin kalian panas semakin lama loe lakunya hahaha." ucap Yandi tertawa.


"Makanlah dulu, kita harus mempercepat persiapannya." ucap Bram.


Renata menyuapi Violetta seperti biasanya, Bram dan yang lainnya pun mulai memakan makanannya. Tidak ada yang bersuara satupun begitu mereka makan, hanya dentingan sendok yang beradu dan sesekali Violetta berceloteh.


Selesai makan Renata membereskan piring kotornya bersama pelayan, bik Marni sedang sakit jadi tuganya di gantikan oleh pelayan lain. Nurul pun ikut membantu Renata memberesihkan meja, sedangkan para lelaki mereka masuh kedalam ruang tamu bersama Violetta.


.


.


Indra kini tengah bersiap-siap untuk pulang, dia sudah membereskan pekerjaannya kemudian pulang ke negaranya.


"Yoga, mobilnya sudah siap?" tanya Indra.


"Sedang dalam perjalanan tuan," jawab Yoga.


"Hubungi anak buah kita, suruh mereka berkumpul di markas." titah Indra.


"Baik tuan," jawab Yoga.


Indra tersenyum menyeringai, kini saatnya dia mengambil alih harta Bram dan juga membalaskan rasa sakit istrinya dulu.


.


.


Jevan sudah bangun lebih awal dari biasanya, dia sangat bersemangat sampai membuat Listi tersenyum melihat tingkah Jevan.


"Tuan muda, ayo mandi dulu." ujar Listi.


"Ayo, aku tidak sabar ingin melihat Vio latihan." ucap Jevan bersemangat.


Listi pun mendorong kursi roda Jevan ke kamar mandi, dia melakukan tugasnya seperti biasanya. Selang bebrapa menit Jevan sudah segar dengan rambut basahnya, Listi mengeringkan rambut jevan yang basah, setelahnya ia memangku Jevan lalu merebahkannya diatas kasur. Jevan di pakaikan baju oleh Listi, karena Jevan lumpuh jadi dia harus memakai pempers setiap kali keluar.


.


.


Renata ikut bergabung bersama calon suaminya di ruang tamu, mereka mulai berdiskusi begitu Renata dan juga Nurul datang.


"Sayang, kau mulai rencana C bersama Nurul." ucap Bram.


"Baik mas." sahut Renata.


"Regan, kau pantau pergerakan Indra diluar hotel." ucap Bram pada Regan.


"Siap." seru Regan.


"Aldo dan Yandi bertugas di dalam ruangan yang sudah kita siapkan, kita harus membuat seolah-olah drama kita memang benar adanya yaitu membuat pesta ulang tahun." jelas Bram.


Aldo dan Yandi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Bram sejenak memikirkan kembali rencanya seperti ada yang kurang.


"Apa ada masalah?" tanya Renata.


"Seperti ada yang aku lewatkan disini, tapi apa ya?" bingung Bram.


"Tentu saja ada yang terlewat, pelayan? Jegel?" jawab Renata.


"Ahh iya, kenapa aku tidak memikirkan mereka semua. Yandi apa kamu sudah menghubungi Jegel? Dimana posisinya sekarang?" ucap Bram.

__ADS_1


"Jegel sudah ku hubungi, dia juga membawa anak buahnya yang baru karena anak buah yang lama kan berkhianat, mereka bergabung dengan Indra." jawab Yandi.


"Baiklah, Regan kau pantau di lantai satu saja. Jegel akan memantau di luar hotel, sedangkan Rena nanti akan menyusul setelah rencana C selesai." jelas Bram.


Regan dan yang lainnya mengangguk setuju, setelah berbincang memantapkan rencananya Renata izin menelpon Jevan.


"Aku telpon Jevan dulu." izin Renata.


"Silahkan sayang," ucap Bram.


Renata mengambil ponsel dari saku celananya, dia mencari nomor Jevan lalu menghubunginya.


"Halo, Jevan." sapa Renata.


"Kakak, aku sudah siap." seru Jevan bersemangat.


"Ahh iya, sepertinya kau bersemangat sekali." ucap Renata.


"Kakak, dimana tempatnya? Nanti aku akan berbicara pada supirku yang biasa mengantarku." tanya Jevan.


"Sekarang kau tunggu saja di cafe Gamon, nanti kita bertemu disana." ucap Renata.


"Baik kakak." seru Jevan.


"Bye Jevan." ucap Renata.


"Bye kakak." jawab Jevan.


Tut.


Renata pun menutup telponnya, Violetta si kepo pun mendekat kearahnya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Muka keponya keluar, hahaha." ledek Renata.


"Seriuslah bun, masa Vio belum tahu tujuan bunda ngajak kak Jevan." ucap Violetta.


"Tinggal ikuti saja alurnya, nanti Vio yang pintar ini bakalan tahu." ucap Renata mengacak-ngacak rambut Violetta.


"Untung bunda yang ngacak-ngacak rambut Vio, jadi Vio gak akan marah. Tapi kalau orang lain yang melakukannya, Vio pasti bakal cakar tangannya." ucap Violetta mendesah sedikit kesal.


"Wah, menyeramkan sekali." ucap Regan.


"Bunda ganti baju dulu ya," ucap Renata.


" Iya bun, jangan lama-lama." ucap Violetta.


Renata pun melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya, dia segera mengganti pakaiannya dan memasukkan barang yang akan di bawanya. Renata tak sengaja melihat sesuatu di lemari yang menarik perhatiannya, dia mengambil sesuatu yang masih teerbalut kain tanpa pernah ia buka, barang tersebut adalah pemberian dari pemilik padepokan di desa Aksara.


"Sepertinya, ini akan di butuhkan." gumam Renata.


"Kita bergerak sekarang!" tegas Bram.


"Baik." seru semuanya.


Renata, Nurul dan Violetta pergi bersama, sedangkan para lelaki pergi ke hotel milik Bram yang sudah di rencanakan. Renata pergi diantar oleh supir Bram, dia memberitahukan alamat tujuannya bertemu dengan Jevan yaitu di cafe Gamon.


Beberapa menit kemudian.


Renata dan yang lainnya turun, begitu mereka melangkahkan kakinya ternyata Jevan sudah sampai terlebih dahulu di cafe, senyum manis yang tak lepas dari bibirnya membuat hati Renata merasa bersalah pada Jevan.


'Maafkan aku Jevan, aku harus melakukannya demi menyelamatkan orang-orang yang tidak berdosa' batin Renata.


"Maaf, sudah membuat kalian menunggu." ucap Renata.


"Enggak kok, kita baru sampai kok." ucap Jevan tersenyum.


Renata semakin tak tega melihat Jevan yang begitu bersemangat, dia akhirnya mengajak Jevan dan Listi untuk ikut ke tempat yang akan mereka datangi menggunakan mobil yang di tumpangi Renata tadi.


.


.


Semua persiapan di hotel sudah selesai, Bram dan yang lainnya mengatur posisi menunggu kedatangan Indra. Anak buah Jegel sudah menyebar keseluruh sudut ruangan, ada juga sebagian yang menyamar menjadi tamu undangan.


.


.


Indra sudah sampai di bandara, dia di jemput oleh supir pribadinya. Yoga berada dalam satu mobil bersama Indra, ia meminta supir melajukan mobilnya menuju Bramasta's hotels.


"Anak buah kita sudah berangkat?" tanya Indra.


"Sudah tuan, mereka kini sudah menunggu di hotel tempat acara diadakan." jawab Yoga.


"Kerja bagus." puji Indra.


Selang 30 menit kemudian.


Mobil yang di tumpangi oleh Indra sudah sampai di hotel milik Bram, mereka keluar menghampiri resepsionis.


"Nona, apakah benar disini sedang mengadakan pesta ulang tahun pemilik hotel?" tanya Yoga.


"Benar sekali tuan, ada yang bisa saya bantu?" jawab resepsionis sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku lupa memberitahu Bram selaku pemilik hotel, aku belum memberitahunya akalau aku datang dan ingin memberikan kado pada anaknya." bohong Yoga.


"Oh iya, tuan Bram tadi mengatakan jika ada tamu yang ingin memberikan kado pada anaknya di mohon untuk memberikannya langsung, tempatnya di ruang VIP lantai paling atas." ucap resepsionis.


"Aahh iya, terimalasih nona." ucap Yoga.


Yoga pun mengajak Indra untuk masuk kedalam lift, setelah di pastikan mereka pergi dari hadapannya, resepsionis tersebut memberikan kode dengan mengacungkan jempolnya di belakang tubuhnya agar tidak bisa dilihat oleh orang lain. Regan melihat resepsionis dari kejauhan, dia dapat membaca kode yang di tujukkan padanya.


"Langkah pertama, selesai." gumam Regan.


Regan menekan earphone yang tersambung langsung dengan Bram, dia memberitahukan bahwa Indra sudah mulai naik ke lantai atas.


"Target sedang otw." lapor Regan.


"Lumpuhkan anak buahnya," titah Bram.


"Bisa diatur." ucap Regan santai.


Regan mematikan earphonenya, dia memberikan kode pada anak buah Jegel yang bersembunyi bersamanya. Mereka berpencar menarik paksa anak buah Indra keluar dari persembunyiannya, hingga terjadilah pertarungan antara Regan dan anak buah Indra.


Bughh..Bughh..Bughh..


Aldo menyamar menjadi bodyguard di depan ruangan VIP tersebut, dia memakai kacamata hitam dan juga masker berwarna hitam. Begitu melihat Yoga dan Indra datang, Aldo langsung menghentikannya.


"Stop! Mohon maaf, sebelum masuk kalian harus di periksa." ucap Aldo memberhentikan keduanya.


Di belakang Yoga dan Indra ada beberapa anak buahnya, mereka juga datang bersama anak buah Jegel yang menyamar sebagai tamu undangan dan mengantri menunggu giliran.


"Tuan, tolong periksa yang lain terlebih dahulu karena aku dan bos ku sedang menuggu teman kami datang, kaki ingin masuk secara bersamaan." ucap Yoga.


"Silahkan tuan." ucap Aldo.


Yoga dan Indra pun berjalan ke belakang, mereka pun melangkahkan ke sudut ruangan. Keamanannya dijaga dengan begitu ketat menurut Yoga, dia harus menyembunyikan senjata yang sudah ia siapkan untu tuannya.


"Kenapa seketat ini?" tanya Indra dingin.


"Kabarnya anak Bram tidak diketahui identitasnya, dia mempunyai penyakit mental dan ada seseorang yang berniat mencelakainya, dan orang itu bukan kau." jawab Yoga.


"Hemm." Indra pun hanya berdehem.


Indra menyerahkan senjatanya pada Yoga, dia berjalan terlebih dahulu untuk makukan pemeriksaan sedangkan Yoga berada di belakangnya. Dari balik kacamata hitamnya Aldo melihat Yoga menyembunyikan senjata dibalik jas yang dipakainya, Aldo memeriksa tubuh Indra lalu memerksa yang lainnya, begitu Indra sudah selesai di periksa Yoga diam-diam menyerahkan sebuah senjata api di belakang tubuh Aldo. Mata Elang Aldo dapat melihat dari sudut matanya, dia dengan segaja menyenggol lengan Indra hingga senjata api tersebut terjatuh.


Prakkk..


Aldo langsung saja mengambil senhata tersebut, ia mengamankannya karena memang sudha tugasnya.


"Siapa yang membawa senjata api disini?" tanya Aldo datar.


"Sial!" gumam Indra.


Daei arah belakang Indra mendorong tubuh Aldo samlai terhuyung ke depan, beberapa anak buahnya pun langsung bergerak menahan orang-orang yang menyamar ssebagai tamu undangan. Yoga meringkus Aldo kemudian mengambil senjata api dari tangannya, Indra menyeringai kearah Aldo namun tanpa mereka sadari Aldo pun tersenyum di balik maskernya.


'Dasar tolol' batin Aldo.


Begitu Indra hendak masuk kedalam, pintu terbuka lebar dengan otomatis. Indra berjalan melihat kue yang besar di tengah-tengah ruangan, di setiap sudut ruangan juga sudah banyak sekali hiasan-hiasan bunga berwarna putih dan pink. Tetapi yang menjadi heran adalah dimana pemilik pesta, ia tidak melihat Bram maupun anaknya yang berada dalam pesta tersebut selain orang-orang yang berkerumun menikmati jamuan yang sudah di hidangkan.


Prok..Prok..Prokk


Dari kejauhan terdengar suara tepuk tengan, Indra mengalihkan pandangannya mencari sumber suara tersebut. Bram duduk dibawah cahaya yang menyorot ke arahnya, dia tersenyum smirk ke arah Indra yang tengah kebingungan.


"Selamat datang, tuan Indra." sapa Bram terswnyum miring.


"Kau menjebakku!?" geram Indra.


"Aku tidak menjebakmu, tetapi kau yang sudah masuk ke dalam permainanku tuan Indra. Bagaimana kabarmu? Rasanya sudah lama aku tidak bertemu denganmu, apakah kau menjadi pecundang setelah gagal mendapat penghargaan." jawab Bram dengan nada sindiran.


Indra mengepalakan tangannya dengan kuat, tatapannya berubah menajam menatap Bram yang tengah duduk dengan santainya. Geram sudah pasti, dia mengeluarkan senjata apinya lalu menembakkan senjata tersebut kearah Bram dan.


Ceklek.


Syuuuurrr..


"BUAHAHHAHAA." Bram tertawa menggelegar.


Senjata api yang ia tembakkan mengeluarkan air begitu ia menarik pelatuknya, ternyata Aldo berhasil menukar senjata api tersebut menggunakan pistol mainan yang dirakit oleh Bram sendiri. Para tamu undangan yang hadir pun menertawakan Indra, tak hanya itu saja. Yoga selaku asisten pribadinya pun menahan tawanya, Indra semakin di buat geram oleh Bram. Dia segera memanggil anak buahnya Baron untuk datang ke hadapannya, Indra memerintakan anak buahnya menahan para tamu undangan, sedangkan dirinya akan menghajar Bram.


"Yoga, serang dia!" titah Indra dengan suara yang meninggi.


Yoga langsung berlari keaeah Bram, tetapi tubuhnya langsung terpental begitu Yandi menyerangnya dari balik tumpukan balon.


Bruukk..


"Heh, baru segitu aja udah jatuh." cibi Yandi.


"Brengsek!" umpat Yoga.


Yoga berusaha berdiri menahan sakit di punggungnya, Yandi menendang tubuhnya dengan keras sampai punggungnya mearasakan sensasi nyeri. Tanpa basa-basi lagi Yoga pun menyerang Yandi dengan membabi buta, Yandi pun menanggapi serangan Yoga yang sama kuatanya.


"Duo Y sedang bertarung, mereka sama kuatnya ya, xixixi." ucap Bram terkekeh.


Kini tinggal Bram dan Indra yang tengah saling tatap muka, mereka menyiratkan tatapan permusuhan.


"Jangan liatin terus, takutnya nanti suka, kau kan duda." goda Bram.

__ADS_1


"Cuihh, aku benci padamu Bramasta!" tekan Indra.


"Emangnya kamu pikir aku suka padamu? cih, Big NO, kau sudah hampir melayangkan beberapa orang yang tidak berdosa, sadarlah tuan Indra yang terhormat. Perbuatanmu membuat banyak kerugian bagi orang lian, kau pun mempermainkan nyawa seseorang hanya karena ambisi bodohmu itu!" ucap Bram berdecih.


__ADS_2