
Satu bulan kemudian.
Sudah satu bulan berlalu Violetta dan Renata berada di desa, mereka semakin mahir dalam bela diri karena keduanya ingin mengumpulkan semua keberanian mereka yang selalu tertindas. Atas bantuan Aksara dan Renata kini Violetta sudah keluar dari bayang-bayang masalalu yang kelam dan kejam, Aksara selalu memotivasi Violetta sedangkan Renata selalu menenagkan Violetta jika ia mengingat ibunya dan ikat pinggang.
"Vio." panggil Aksara.
"Ada apa Aksara? Kangen ya?" tanya Violetta.
"Ck, jangan terlalu percaya diri." ucap Aksara berdecak.
"Ya habisnya tiap aku keluar tanpa kamu, pasti kamu nyariin terus sebegitu ngangeninnya aku yang imut ini?" ucap Violetta mengerjap-ngerjapkan matanya yang belo.
"Haiishh, aku mau ngajakin kamu nonton tv di rumah kepala desa, kamu mau enggak?" ajak Aksara.
"Boleh, aku mau ajak kakak juga gapapa kan?" tanya Violetta.
"Boleh." jawab Aksara.
Violetta lantas melangkahkan kakinya memanggil Renata untuk ikut bersamanya, Renata ikut pergi menemani dua bocil yang ingin menonton tv di rumah kepla desa. Sesampainya di rumah kepala desa banyak orang yang sedang duduk melihat siaran tv, di desa tempat Aksara tinggal yang memiliki tv hanyalah kepala desa saja, jadi jika warga ingin menonton mereka akan menyempatkan diri untuk datang ke rumah Zanid.
"Wihh udah mulai nih." ucap Violetta.
Renata dan Aksara ikut duduk menyusul Violetta yang sudah terlebih dahulu lesehan di bawah, mereka asyik menonton tv bersama warga yang lainnya. Tiba-tiba saja lewat berita yang menayangkan kebakaran yang diyakini kalau kebakaran yang terjadi di mansion Bram, Renata menajamkan matanya yang ternyata ia semakin yakin kalau kebakaran tersebut terjadi di masion Bram.
"Vio itu mansion daddy." ucap Renata syok.
Deg!
Jantung Violetta seakan berhenti berdetak melihat mansionnya yang terbakar dilahap api meskipun hanya sebagian kecilnya, dia terdiam dan tak lama kemudian air mata lolos dari matanya.
"Kakak, daddy hikss." ucap Violetta menangis.
"Kamu yang tenang ya, daddy pasti baik-baik saja. Ayo kita pulang beresin semua pakaian kita, hari ini juga kita pulang ke kota." ucap Renata.
__ADS_1
Violetta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, mereka bertiga pulang dengan langkah tergesa. Sampai di rumah bu Sarina sudah ada seseorang yang bertanggung jawab memberikan informasi pada Bram, Renata segera menghampirinya menanyakan kabar Bram.
"Pak Aji mansion tuan Bram kebakaran, aku dan Vio akan ke kota sekarang juga." ucap Renata.
"Apa? Darimana kalian tahu? Tadi malam aku baru saja dari sana tetapi tidak terjadi apa-apa?" tanya Aji beruntun.
"Paman, ayo bawa kita pergi ke kota Vio khawatir sama daddy." ucap Violetta dengan wajah yang sudah memerah.
"Baiklah, kita akan kesana sekarang." ucap Aji.
"Aku akn mengemasi barang-barangnya terlebuh dahulu." ucap Renata.
Aji menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Renata langsung masuk kedalam rumah bu Sarina mengemasi semua barangnya. Sebelum Violetta dan Renata pergi Aksara mengambil sesuatu dari dalam kamarnya, sebuah gelang yang pernah di berikan oleh almarhumah ibunya sebelum meninggal beserta sebuah sabuk putih miliknya.
Renata membawa semua barangnya, bu Sarina yang baru kembali dari kebun pun langsung menghampiri Renata yang sudah mengemasi semua barangnya.
"Loh kalian mau kemana?" tanya bu Sarina heran.
"Kita mau pulang bu, tadi pas liat berita di rumah tuan Zanid gak sengaja adaberita lewat kalau rumah daddy nya vio terbakar, jadi kita memutuskan untuk kembali ke rumah." jawab Renata.
"Bu kami pamit pulang ya, terimakasih sudah bersedia menampung kami. Sampai kapanpun aku dan Violetta tidak akan melupakan semua jasa kalian, suatu hari nanti kita akan berkunjung kembali kesini." ucap Renata.
"Yasudah kalian pergilah, semoga tidak terjadi apa-apa pada ayhnya Vio. Jangan berterimakasih seperti itu kalian sudah ibu anggap keluarga sendiri, maaf selama kalian disini ibu tidak bisa menjamu kalian dengan baik, kapanpun kalian datang pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar menyambut kedatangan kalian." ucap bu Sarina.
Violetta dan Aksara melipir agak jauh dari Renata, Aksara memberikan sebuah gelang dan juga sabuk ke tangan Violetta.
"Apa ini Aksara?" tanya Violetta.
"Simpanlah gelang dan sabuk ini, jika kita sudah dewasa nanti kita akan bertemu lagi. Berjanjilah padaku kau akan menjaga barang berharga milikku sampai kita bertemu nanti." ucap Aksara.
"Aku akan menjaganya Aksara." ucap Violetta tersenyum.
"Vio." panggil Renata.
__ADS_1
"Sebentar kak." sahut Violetta.
Violetta memasukkan gelang dan sabuknya kedalam tasnya, sebelum pergi ia memeluk Aksara dan mengecup pipi Aksara sekilas.
Cup.
"Aku pasti merindukanmu Aksara." ucap Violetta.
Deg!
Jantung Aksara berdegup kencang, tubuhnya mematung di tempat mendapat kecupan dari Violetta. Violetta tersenyum meninggalkan Aksara yang masih mematung di tempatnya, dia berjalan kearah Renata yang sudah hendak pergi dari rumah. Aksara memegang pipinya yang dikecup oleh Violetta, dia tersenyum menampilkan lesung pipit di kedua pipinya yang begitu terlihat manis.
Akhirnya Renata dan Violetta pergi dari rumah bu Sarina bersama pak Aji, Violetta melambaikan tangannya pada Aksara dan bu Sarina sebagai bentuk perpisahan darinya.
Di sisi lain.
Bram sedang berada di rumah sakit di temani oleh Regan dan juga Aldo, saat keduanya sedang bertamu mengunjungi Bram tiba-tiba saja terdengar ledakan dari arah belakang membuat pelayan berhamburan keluar. Bram yang saat itu hendak turun menemui Regan dan juga Aldo pun terkejut, dia berlari kearah luar memeriksa ledakan yang terjadi, Bram menangkap seseorang yang memakai pakaian serba hitam sedang berdiri tak jauh darinya. Bram segera berlari menangkangkapnya sampai terjadi baku hantam antara keduanya, Regan membantu mengamankan para pelayan rumah Bram sedangkan Aldo membantu Bram menangkap pelaku. Pelaku berhasil melarikan diri setelah ia menusuk perut Bram dengan pisau, Aldo segera menangkap tubuh Bram dan membawanya pergi ke rumah sakit terdekat untuk ditangani lebih lanjut.
"Terimakasih telah menolongku." ucap Bram.
"Tidak masalah, jangan banyak bergerak dulu lukamu masih basah." ucap Aldo.
"Kau memiliki musuh?" tanya Regan.
"Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya menjadi musuhku, aku mengira kau yang melakukan semuanya." ucap Bram.
"Tadinya sih aku berniat ingin menghancurkanmu namun aku sudah hancur terlebih dahulu, saat aku hendak mencelakaimu pun Aldo sudah terlebih dahulu menghalangi perbuatanku." ucap Regan.
"Aku pun bingung, selama ini aku merasa tidak punya musuh." ucap Bram bingung.
Ceklek.
"Kak, loe gapapa? Mana yang luka? Coba gue lihat? Oh astaga maafin gue telat datengnya." tanya Yandi bertubi-tubi.
__ADS_1
Bram menggelengkan kepalanya melihat tingkah sepupunya yang sangat lebay pake banget.
"Aku tidak apa-apa Yan." ucap Bram.