Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Hamil


__ADS_3

Berbeda dengan Renata yang tengah di selimuti kebahagian, seorang gadis yang bisa dikatakan sudah tak gadis lagi tengah memegang benda pipih dengan tangannya yang gemetar.


"A-aku ha-hamil." ucapnya menutup mulutnya tak percaya.


Tes..


Air mata jatuh membasahai pipinya, tubuhnya pun merosot terduduk dilantai kamar mandinya.


"Bagaimana bisa aku hamil? Ya Tuhan bagaimana kalau sampai papa tahu? Dia pasti marah banget, aku takut hiks.." ucapnya sambil terisak.


Andin meremas perutnya dengan kuat, dia juga memukul-mukul perutnya tidak terima akan kehadiran bayi di dalam perutnya tersebut.


"Reno harus tahu ini, dia harus tanggung jawab!" ucap Andin bangkit dari duduknya mengambil benda pipih miliknya.


Andin berusaha menelpon Reno namun tidak ada jawaban sama sekali, dia mencoba menghubunginya kembali namun nihil tak ada jawaban. Reno adalah mantan kekasih Renata yang dulu direbut oleh Andin, mereka menjalin hubungan sampai melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.


"Brengsek!" umpat Andin melemparkan hp nya keatas kasur.


Andin mengacak-acak rambutnya frustasi, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dari luar Fadlan mencari Andin untuk memberikan hadiah yang sudah dibawanya, dia mencoba mengetuk pintu Andin memanggilnya keluar.


Tok..Tok..Tok..


"Andin." panggil Fadlan.

__ADS_1


Andin terkejut mendengar suara Fadlan yang memanggil namanya, dia bergegas merapikan penampilannya dan juga menyembunyikan benda pipih miliknya agar tidak ketahuan.


"Sebentar pa." sahut Andin dari dalam.


Ceklek.


Andin membuka pintu kamarnya, dilihatnya Fadlan membawakan boneka beruang berukuran besar untuknya dan juga menenteng kantong plastik berisikan makanan.


"Wuaahhh, ini boneka buat Andin pa?" tanya Andin antusias.


"Iya dong, ini juga papa bawa sate taichan kesukaan kamu." ucap Fadlan memberikan bonekanya pada Andin, ia juga mengangkat kantong plastiknya keatas menunjukkannya pada Andin.


Andin mencium aroma sate taichan yang dibawakan oleh Fadlan, seketika perutnya seakan diaduk-aduk karena tak tahan akhirnya ia berlari ke kamar mandi.


Fadlan terkejut malihat Andin yang melempar bonekanya ke sembarang arah, dia menyusul Andin yang tengah memuntahkan semua isi perutnya. Namira mendengar suar Andin yang muntah-muntah, dia pun ikut memeriksa kondisi anaknya. Tubuh Andin terlihat lemas dan pucat, dia berusaha keluar dari kamar mandinya dengan berpegangan ke tembok.


"Ya Allah nak, kamu kenapa? Kok muka kamu pucet banget?" tanya Fadlan.


"Mungkin asam lambung aku lagi naik pa." jawab Andin berbohong.


"Kamu tadinya habis makan apa? Apa kamu telat makan atau gimana? kok bisa sampai naik lagi asam lambungnya?" tanya Fadlan khawatir.


"Andin kamu kenapa sayang?" tanya Namira.

__ADS_1


"Asam lambung aku naik kayaknya bu." jawab Andin.


"Perasaan tadi kamu baik-baik aja." ucap Namira heran.


"Ya namanya juga penyakit, kita gak tahu kapan datengnya." ucap Andin.


"Yaudah kamu tiduran aja, nanti papa telpon dokter." ucap Fadlan.


"Gak usah pa, nanti aku minum obat sama di olesin minyak angin aja pasti mendingan kok gausah panggil dokter, kalo masih belum sembuh baru ke dokter." ucap Andin agar Fadlan tak curiga.


"Kamu tiduran dulu, biar ibu ambilin obatnya dulu." ucap Namira.


"Papa juga cariin minyak anginnya ya." ucap Fadlan.


Andin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Namira pergi keluar dari kamar Andin mencari obat untuk anaknya, sedangkan Fadlan mencari minyak angin untuk Andin. Andin merebahkan tubuhnya seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing, Fadlan mencari-cari minyak angin namun tak menemukannya. Fadlan terus mencari sampai ia tak sengaja menyenggol sesuatu sampai terjatuh, ia mengambil barang yang tak sengaja di senggolnya, mata Fadlan membulat sempurna melihat apa yang sudah di temukannya.


"Apa ini? Punya Andin kah?" gumam Fadlan pelan.


Fadlan tentunya tahu benda pipih yang digunakan untuk mengetes kehamilan karena ia sudah berpengalaman, dilihatnya garisnya menunjukan kalau hasilnya positif. Fadlan meyakini kalau benda pipih tersebut milik Andin karena tidak mungkin milik Renata sedangkan Renata sudha lama meninggalkan rumahnya, Fadlan memegang erat benda pipih tersebut sampai urat-urat tangannya pun terlihat.


"Andin, apa pregnancy test ini milikmu?!" tanya Fadlan dengan dingin.


Deg!

__ADS_1


__ADS_2