
Fadlan kini sudah berada di rumahnya, ia merasa baik-baik saja begitu Renata datang menemuinya, jadi ia meminta dokter mencabut selang infusnya dan juga memulangkannya. Renata awalnya nelarang ayahnya untuk pulang karena kondisinya terlihat belum pulih, tetapi Fadlan kekeh ing in pulang bersama Renata. Mau tidak mau Renata mengikuti kemauan ayahnya yang keras kepala, Bram ikut mengantar Fadlan pulang kerumahnya.
Saat ini semua orang tengah berkumpul di ruang tamu, mereka berbincang-bincang membahas soal pernikahan Bram dan juga Renata.
"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? papa jadi gak sabar lihat kamu dipelaminan Ren." tanya Fadlan.
"Minggu depan." jawab Bram.
"Minggu depan!?" beo Renata.
"Gak usah sok terkejut gitu deh Ren, biasa aja kalee." cibir Nurul.
"Yaaakk, diem lu maemunah." sewot Renata.
"Cepet banget kak? Abah sama ambu kan masih di luar negeri, masa mereka gak hadir sih? nanti gue diamuk lagi." protes Yandi.
"Bukannya mamang udah sembuh ya? Masalah sama Indra juga udah beres, tinggal pulang aja." ucap Bram.
"Iya sih, yaudah gue nanti urus semuanya." ucap Yandi.
"Mas, apa gak kecepetan?" tanya Renata.
"Sayang, kita selama beberapa bulan ini tinggal satu rumah, aku cuman gak mau timbul fitnah. Aku itu seorang duda, tinggal berduaan sama kamu emangnya aku gak tergoda? aku udah gak bisa nahan lagi takutnya kebablasan, mana mungkin aku mengingkari janjiku." jawab Bram.
"Yang dikatakan oleh Bram itu benar nak, lebih cepat lebih baik. Kalian juga sudah mengenal satu sama lain, papa juga sudah merestui hubungan kalian, jadi tunggu apa lagi?" ucap Fadlan.
"Ya kan kita belum ada persiapan apapun pa," ucap Renata.
__ADS_1
"Kamu gak perlu pikirin apapun, kamu tinggal siapkan diri kamu, bilang sama aku pernikahan kita konsepnya mau apa. Aku punya WO terkenal, dia teman kuliahku dulu jadi aku tinggal menghubunginya." ucap Bram.
"Yaudah, aku ikut aja apa kata kamu dan papa. Acara nikahnya sederhana aja, aku gak suka terlalu mewah dan berlebihan." ucap Renata.
"Siap." ucap Bram.
Mereka pun lanjut berbincang-bincang kembali, Violetta sudah terlelap di pangkuan Renata. Fadlan meminta Bram dan juga Violetta untuk tinggal di rumahnya begitupun Renata, sedangkan Yandi dan Nurul memutuskan untuk pulang ke tempatnya masing-masing.
.
.
Namira berjalan seperti orang gila, kadang dia tertawa dan kadang juga tiba-tiba menangis. Orang-orang yang ia lewati menatap iba padanya, pasalnya kondisi Namira begitu memprihatinkan.
"Mas, aku cantik kan hahahaaha." ucap Namira tertawa lepas.
"Huaaa... Mas, jangan ceraikan aku mas hiks.." Namira menangis dengan begitu menyayat hati.
Dari kejauhan Andin melihat orang yang menangis di tengah-tengah orang yang berlalu lalang, dia menepuk lengan Sammy menunjuk kearah yang sedang dilihatnya.
"Sam, lihat tuh ada orang nangis." ucap Andin.
"Ya terus kamu mau ngapain?" tanya Sammy heran.
"Aku kayak familiar sama suaranya." ucap Andin.
"Yaudah, kita samperin aja." ucap Sammy.
__ADS_1
Sammy pun menggandeng tangan Andin menuju tempat yang Andin tunjuk, begitu sampai keduanya melihat seirang wanita yang tengah terduduk dengan kepala menunduk sambil menangis. Andin berjongkok melihat wanita dihadapannya, Namira mengangkat kepalanya yang mana membuat Andin syok.
"Ibu!" syok Andin.
Andin membulatkan matanya melihat kondisi Namira, dia langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat, air matanya langsung berjatuhan melihat kondisi sang ibu yang memprihatinkan.
"Ibu, hiks. Kenapa ibu jadi begini?" tanya Andin menangis.
Namira tak menjawab pertanyaan Andin, tatapannya kosong tetapi air matanya tetap luruh tanpa bisa di hentikan. Hati Andin semakin tersayat melihatnya, sammy pun merasa iba pada Namira, walau bagaimanapun Namira adalah ibu mertuanya. Sammy mengusap punggung Andin memberikan kekuatan pada istrinya, Andin menangis sesenggukan seakan tak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya.
"Sudahlah din, kasihan bayi kita." ucap Sammy.
"Sam, aku gak tega lihat ibu kayak gini." ucap Andin di sela tangisnya.
Tiba-tiba saja Namira tertawa dengan keras, dia sedikit memberontak memukuli kepalanya. Sammy segera menarik tubuh Andin menjauh dari Namira, dia takut kalau Namira melukai Andin dan juga calon bayinya.
"Hahahahhaa... Aku banyak uaangg, hihihi." Namira tertawa sambil memainkan ujung rambutnya.
"Ibu, hikks.. Ibu..." tangis Andin kembali pecah.
"Andin, lebih baik kita bawa ibu ke rumah sakit jiwa agar di beri penanganan yang lebih tepat." ucap Sammy.
Andin menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Sammy, tidak ada jalan lain selain membawa ibunya ke rumah sakit jiwa. Sammy menghubungi pihak rumah sakit jiwa untuk membawa ibunya, beruntung dia memiliki teman yang bekerja di salah satu rumah sakit jiwa, jadi memudahkannya untuk segera membawa Namira. Sammy dan Andin menunggu pihak dari rumah sakit jiwa datang, mereka juga memastikan agar Namira tidak pergi kemanapun.
Selang 30 menit menunggu, akhirnya petugas dari rumah sakit jiwa pun membawa Namira pergi meskipun dia memberontak dan sempat ingin kabur, tetapi hal itu masih bisa diatasi oleh sammy dan juga petugas dari rumah sakit jiwa.
"Hiks, ibu." isak Andin.
__ADS_1