Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Diikuti


__ADS_3

Sampai di restoran Bram memarkirkan mobilnya, dia memberikan kode pada Renata, setelahnya ia keluar bersama-sama. Tak lama kemudian mobil Regan pun sampai, mereka bertiga turun dari dalam mobilnya dan menatap kearah Bram yang memberikan kode pada ketiganya, mereka mengerti akan kode Bram dan langsung menganggukkan kepalanya.


"Ayo masuk." ajak Bram.


Mereka berenam masuk kedalam restoran, Bram sengaja memilih duduk di meja terbuka agar ia bisa leluasa mengawasi anak buah Indra. Benar saja orang yang Renata lihat masuk kedalam restoran, mereka bersembunyi namun pergerakan mereka diawasi oleh Bram sendiri.


"Sayang, mau pesan apa?" tanya Bram.


"Samain aja," jawab Renata.


"Kalau Vio mau apa?" tanya Bram pada Violetta.


"Apa aja, yang penting ada cumi sama brokoli." jawab Violetta.


Bram memesan makanannya dan juga untuk dua bidadarinya, sambil menunggu pesanan datang Bram sengaja sedikit membalikkan tubuhnya ke meja Regan dan yang lainnya, mereka sengaja duduk bersebelahan agar dapat berkomunikasi walau tempatnya terpisah.


"Yandi, besok kau persiapkan acara ulang tahun Violetta di hotel Bramasta hotel's, aku ingin para pelayan juga ikut menghadirinya bersama keluarga kita yang lainnya." ucap Bram.


"Tentu saja kak, akan aku urus hari ini juga." ucap Yandi.


"Kalian juga harus datang." ucap Bram pada Aldo dan Regan.


"Pastinya, kita tidak mungkin melewatkan hari spesial Vio, benarkan Aldo?" ucap Regan meminta persetujuan Aldo.


"Tentu saja." jawab Aldo.


Pesanan Bram pun datang, pelayan menatanya di meja makan dengan rapi. Para orang suruhan Indra pun berbisik-bisik, ada salah satu dari mereka yang sibuk dengan hp nya yang di yakini tengah memberikan laporan.


Beberapa saat kemudian, Bram dan yang lainnya selesai makan. Bram mengajak yang lainnya pulang setelah membayar tagihan, dia menggendong Violetta keluar diikuti yang lainnya.


"Apa mereka ikut keluar?" tanya Bram dengan suara pelan.


"Iya, sepertinya mereka akan mengikuti kita." jawab Renata menatap sudut matanya.


"Kita pulang ke kantor saja, jika memang mereka masih mengikuti maka kita akan pulang ke apartemen yang sudah aku persiapkan." ucap Bram.

__ADS_1


Renata menganggukkan kepalanya paham, Yandi dan yang lainnya hanya mengikuti kemana Bram pergi, karena selebihnya dia kurang mengerti.


Anak buah Indra langsung menelpon Yoga, dia melaporkan bahwa ada acara pesta ulang tahun Violetta yang diadakan besok. Selesai memberi laporan mereka mengikuti Bram kembali, mansion Bram yang baru tidak banyak orang tahu karena memang penjagaannya di perketat dan jika ia curiga ada yang mengikuti pun ia memiliki jalur rahasia yang bisa terhubung ke mansion.


Di tengah perjalanan pinsel Renata berdering, disana tertera nomor yang tidak dikenal. Renata memperlihatkan nomor tersebut pada Bram, dengan anggukan kepala Bram menyuruh Renata mengangkat telponnya.


"Hallo," ucap Renata.


"Hallo, kakak. Ini aku Jevan." ucap Jevan dari seberang.


"Oh Jevan, kau sudah pulang dari taman?" tanya Renata.


"Sudah kak Rena, apa kak Rena sedang dalam perjalanan?" tanya Jevan.


"Iya Jevan, aku tengah dalam perjalanan pulang karena tadi kita mampir ke restoran. Oh iya, Jevan maukah kamu ikut bersama kami ?" jawab Renata.


"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Jevan.


"Vio mau latihan buat pentas drama, disana ada temanku dan juga adiknya. Mereka baik, kalau kau mau kita bisa bermain disana." jawab Renata.


"Baiklah, aku akan mengabarimu lagi besok. Sampai jumpa Jevan, kaka pulang dulu." ucap Renata.


"Bye, kakak Jevan." seru Violetta.


"Bye, semuanya sampai jumpa besok." seru Jevan.


Tut.


Renata pun mematikan ponselnya secara sepihak, perlahan-lahan rencana sudah mulai berhasil. Bram mengacungkan jempolnya kearah Renata, dia salut pada Renata yang pintar dalam menjalankan misinya.


"Kerja bagus bundaku sayang." puji Bram.


"Eh, bunda cuman milik Vio." protes Violetta.


"Milik kalian berdua." ucap Renata.

__ADS_1


Didalam mobil lain Yandi merasa heran melihat mobil di belakangnya, dia penasaran sampai akhirnya ia menatap kaca mobil depannya.


"Wahh, kayaknya mereka masih ngikutin kita." ucap Yandi.


"Sepertinya sih begitu." ujar Regan.


"Kita ikuti saja Bram, aku yakin dia juga tahu mereka membuntuti dari belakang." ucap Aldo.


"Besok pagi, kalian aku tunggu di hotel VIP." ucap Yandi.


"Oke." seru Aldo dan Regan bersamaan.


.


.


Di negara lain.


Indra sudha mendengar laporan dari Yoga mengenai acara ulang tahun Violetta, dia sudah pastinya akan menjalankan rencana yang sudah ia buat.


"Urus kepulanganku saat ini juga, aku ingin siang harinya kita sudah sampai." titah Indra.


"Baik tuan, semua berkasnya mungkin akan selesai malam ini. Besok paginya aku akan mengurus kepulanganmu, aku juga akan memesan penerbangan khusus agar kita sampai di negara kita sesuai keinginanmu." ucap Yoga.


"Baik, kau boleh pergi." ucap Indra.


Yoga pun pergi dari hadapan Indra, melihat Yoga sudah pergi dari hadapannya, Indra pun menyalakan rokoknya sambil menuangkan anggur merah kedalam gelasnya.


"Sebentar lagi, aku akan menjadi orang terkaya di negara ini. Satu persatu aku singkirkan, untuk saat ini Bram terlebih dahulu baru setelahnya Arbeto." ucap Indra menyeringai.


Tidak ada tujuan lain selain berambisi menjadi orang kaya, dia tidak mau hidup miskin kembali seperti dulu. Dia menganggap kemiskinan adalah malapetaka untuknya, dia sampai kehilangan orang yang paling disayanginya hanya karena uang, uang dan uang.


"Aku masih ingat Bram, dulu istriku meminta pinjaman padamu namun kau sama sekali tidak memberikan kami pinjaman sepeserpun. Ivanna sampai rela menjual ginjalnya hanya demi menyelamatkan aku dan puteraku, kini dia telah tiada dan rasa sakitnya masih melekat di dalam dadaku. Aku membencimu Bram! Aku akan melenyapkanmu!" geram Indra.


Ivanna adalah teman dari Bilqis, begitu Jevan mengalami kecelakaan ia mencoba menemui temannya yaitu Bilqis untuk meminjam uang, dulu Bram dan Bilqis belum di karuniai keturunan, ekoniminya pun bisa terbilang cukup bagus karena Bram adalah pekerja keras. Ivanna nekat datang sendirian ke kediaman Bram, saat itu pula Indra tidak bisa meninggalkan putranya di rumah sakit sendirian, jadi Ivanna memutuskan untuk pergi naik ojek sendirian tanpa ditemani oleh siapapun. Lama tak kunjung kembali Indra khawatir pada istrinya yang tak kunjung pulang, tak lama kemudian Ivanna datang dengan tangan kosong serta wajah sendunya kala ia mengatakan dia tidak mendapatkan pinjaman. Indra mencoba mencari jalan keluar agar bisa mendapatkan biaya operasi Jevan, Ivanna meminta izinnya akan mencari pinjaman lagi ke beberapa temannya. Indra mengizinkannya seraya ia menghubungi beberapa temannya juga, saat Ivanna keluar ia mendatangi dokter bedah karena saat ia masuk kedalam rumah sakit tak sengaja ada salah satu keluarga yang membutuhkan donor ginjal untuk anaknya, tidak ada jalan lain lagi akhirnya Ivanna memberanikan diri menawarkan ginjal miliknya, dia juga melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mencocokkan ginjal miliknya dengan ginjal milik pasien. Sebuah kebetulan yang sangat diharapkan oleh Ivanna, ginjal miliknya cocok sampai akhirnya ia melakukan operasi tanpa sepengetahuan suaminya kemudain menerima bayaran atas operasi yang sudah dilakukan.

__ADS_1


__ADS_2