Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Menikah


__ADS_3

Tak terasa hari-hari berlalu begitu cepatnya, di pisahkan satu minggu dari sang pujaan hati membuat seorang duda merasakan sepi. Diam-diam Bram selalu berusaha menghubungi wanita pujaan hatinya melalui puterinya, tetapi semua selalu saja gagal karena Fadlan.


Seorang wanita tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia seakan tak mengenali dirinya sendiri karena hiasan diwajahnya membuatnya tampil berbeda. Sang ayah berjalan mendekat dan berdiri tepat disamping puterinya, dia mengelus pipi anak semata wayangnya yang sebentar lagi akan menjadi istri dari lelaki pilihannya.


"Rena, kau cantik sekali nak." ucap Fadlan berkaca-kaca.


"Terimakasih pa," ucap Renata tersenyum.


"Jika saja papa tidak egois, mungkin saat ini ibu kamu juga turut hadir di pernikahanmu. Maafkan papa ya nak, papa telah gagal menjadi pemimpin yang baik untuk keluarga kecil kita." sesal Fadlan.


"Sudahlah pa, jangan dibahas lagi. Biarlah masalalu menjadi pelajaran untuk kita agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aku sudah memaafkan papa, meskipun mama tidak bisa hadir di pernikahanku secara langsung, dia pasti bisa melihat dari kejauhan." ucap Renata memegang tangan Fadlan.


Violetta dan juga Denis masuk kedalam kamar Renata, Nurul menyusul keduanya bersama ibunya. Pernikahan Renata dan Bram dilaksanakan di hotel milik Bram sendiri, para tamu undangan pun sudah berdatangan sebelum acara dimulai. Yuli berjalan mendekat kearah Renata bersama Nurul, matanya berkaca-kaca terharu melihat Renata kini telah menemukan kebahagiaannya, dia menjadi salah satu saksi bagaimana perjalanan hidup Renata yang begitu rumit dan juga menyakitkan.


"Cieee, sold out." goda Nurul menyenggol bahu Renata.


"Sirik aja loe, nyusul makanya." ucap Renata.


"Tante turut bahagia ya Ren, semoga pernikahanmu langgeng, huhu jadi terharu gini." ucap Yuli dengan suara tercekat, dia mengibas-ibaskan tangannya mengipasi matanya yang memanas ingin menangis.


"Gimana gue yang nikah ya ren, nyokap gue liat lu nikah aja udah mewek kayak gini. Nanti bisa-bisa di pernikahan gue banjir air mata, gak kebayang deh." bisik Nurul.

__ADS_1


"Huss, gak boleh ngomong gitu." tegur Renata.


"Bunda, ini beneran bunda kan?" panggil Violetta, dia memastikan kalau yang ada dihadapannya itu benar Renata.


"Beneran dong sayang." jawab Renata tersenyum.


"Kayak bukan bunda, bibirnya merah, matanya ada warna nya, hidungnya agak mancung, tapi kayak berbie punya Vio." ucap Violetta dengan polosnya.


"Haha, kamu ini ada-ada saja. Ini namanya the power if make up, nanti kalau udah besar kamu juga pasti tahu make up." ucap Renata terkekeh.


"Iya, Vio mau make up kayak bunda, nanti nikah sama Sara." celetuk Violetta.


.


.


Disisi lain.


Bram kini sudah rapi dengan jas yang dipakainya, dia di temani oleh kedua orangtua Yandi yang sudah datang dari luar negeri, mereka semua masuk kedalam mobil menuju kediaman Renata. Bram dan Renata kini akan melangsungkan pernikahan setelah satu minggu lamanya ia di pingit, acara pernikahan di gelar di kediaman Renata yang lebih tepatnya di dekat rumah Renata, disana ada sebuah lapangan sepak bola yang cukup luas, atas permintaan Fadlan acara tersebut di gelar disana dengan tema outdoor tetapi mewah.


"Widdih, cerah banget yang mau nikah." goda Yandi.

__ADS_1


"Iya dong, ada yang ngelonin." ucap Bram.


"Kamu kapan atuh Yan nyusul? Masa kalah sama Bram, dia udah dua kali loh." ucap Linda.


"Aahh kalem we ambu, tong sok rurusuhan bisi teu bener kahareupna. Sagala rupa ge aya prosesna ambu, kalem we da neng Nurul teu ngabuburu (Ahh santai aja ambu, jangan terburu-buru takutnya gak bener kedepannya, segala sesuatu itu ada prosesnya, santai aja neng Nurul juga gak ngebet)." ucap Yandi dalam bahasa sunda.


"Iya bibi, jangan sampai nyesel nantinya kayak Bram, biarin aja Yandi mengenal satu sama lain agar suatu saat mereka bisa memutuskan bagaimana kedepannya." ucap Bram menimpali ucapan Yandi.


"Tapi da ambu teh geus teu kuat hayang boga incu, sieun nalika gubrag incu ambu teu kaumuran (Tapi ambu udah gak kuat pengen punya cucu, takutnya kalau lahir cucu ambu gak sampe umurnya)." ucap Linda.


"Ya berdoa aja bi, biar umur bibi di panjangkan supaya bisa lihat cucu bibi tumbuh sampai besar." ucap Bram.


"Udah, jangan di dengerin si ambu mah da sok celemeng di tanggap wae mah ( Udah, jangan dindengerin si ambu, dia mah suka bawel apalagi kalo diladenin)." ucap Engkus.


"Betul." sahut Yandi.


"Jahat si abah mah, dimana-mana seorang ibu teh mau lihat masa depan anaknya kayak gimana, apalagi bisa nimang cucu itu semua impian orangtua." protes Linda.


"Iya ambu, tapi jangan terlalu memaksakan kehendak. Yang terpenting adalah kebahagiaan anak kita, jangan sampai ia merasakan sakit karena ego orangtuanya, karena mau bagaimanapun Yandi berhak memilih kebagahiaannya tanpa harus ada campur tangan dari kita." ucap Engkus.


Linda pun terdiam mendengar ucapan suaminya, dia membenarkan kata-kata suaminya, Yandi dan Bram hanya diam saja tak ingin mencampuri urusan kedua orang tua yang tengah berdebat.

__ADS_1


__ADS_2