
Bilqis langsung membulatkan matanya, Bram terdiam di tempatnya mendengar pengakuan Violetta. Dengan bodohnya Bram saat itu mempercayai semua ucapan Bilqis, padahal di balik semua rasa sakit yang dialami Violetta adalah ibunya sendiri, ia kira hanya saat di cambuk saja ternyata masih banyak kejahatan yang tidak ia ketahui.
"Heh, jangan ngaranga ya!" sentak Bilqis.
"Kau!" geram Bram.
Bram mulai naik pitam, sekarang tidak ada kata ampun lagi bagi Bilqis. Bertepatan dengan kemarahan Bram yang sudah memuncak tiba-tiba Regan datang, dia membawa pengacara dan juga polisi untuk ikut serta bersamanya.
"Syukurlah kau disini Bilqis." ucap Regan menyeringai.
"Tangkap wanita itu, jangan biarkan dia kabur." ucap Aldo menunjuk kearah Bilqis.
Bilqis berjalan mundur seraya mengibaskan tangannya, dia mulai memberontak begitu polisi menarik paksa tangannya untuk di borgol. Renata menyembunyikan wajah Violetta kedalam dekapannya, dia tidak mau Violetta melihat pemandangan dimana ibunya ditahan oleh polisi karena hal itu bisa membuat kejiwaan Violetta kembali terganggu.
"Bawa Vio masuk ke kamar." titah Bram.
Renata membawa Violetta masuk kedalam kamar sesuai perintah Bram, sedangkan Bram sendiri mengajak Regan dan yang lainnya masuk ke ruangan Yandi agar Violetta tak mendengar percakapannya.
Niat hati Bilqis ingin mengadukan sikap Renata dan juga Violetta yang sudah mempermalukannya di mall, kini berujung ia di tahan oleh pihak kepolisian.
"Tutup pintunya." titah Bram.
"Bram, kedatanganku kesini adalah untuk menepati janjiku atas syarat yang kau ajukan tempo hari. Yandi kembali mengajukan laporan yang di tujukkan untuk Bilqis, aku juga membawa pengacaraku yang dulu membantuku menangani kasus Bilqis agar tidak bisa ditahan, tetapi sekarang kau tidak perlu khawatir karena aku sudah mengurus semuanya sampai tuntas. Kau hanya perlu datang ke kepolisian memberi keterangan atas kekerasan yang dilakukan mantan istrimu kepada anakmu, kau pasti punya banyak bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh Bilqis." jelas Regan.
"Terimakasih kau sudah menepati janjimu, aku pasti akan menindak lanjuti semua kasusnya sampai ia dijatuhi hukuman berat atas apa yang ia lakukan." jcap Bram menatap nyalang pada Bilqis.
"Mas, tolong jangan penjarakan aku. Maafkan aku mas, aku khilaf mas." ucap Bilqis memohon pada Bram.
"Khilaf? Heh, apakah ada khilaf yang dilakukan berulang kali?" Bram menatap remeh pada Bilqis.
__ADS_1
Pengacara Regan menyerahkan sebuah data pada polisi, mereka berdiskusi sampai akhirnya Bilqis resmi di tetapkan sebagai tersangka.
"Kau tahu Bilqis? Aku bahkan sudah mendapatkan bukti hubungan gelapmu bersama Gabriel, bahkan saat kau melayani beberapa pria hidung belang pun aku mendapatkannya. Heh, bodohnya aku pernah menjalin hubungan dengan sampah sepertimu." ucap Regan.
"Bawa dia pergi pak." ucap Bram.
"Baik, kami akan membawa pergi tersangka. Untuk tuan Bram, kami tunggu anda dikantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut, agar kami bisa melengkapi semua data beserta bukti yang akan anda berikan." ucap salah satu polisi.
"Baik pak." ucap Bram mantap.
Polisi pun membawa Bilqis pergi dari perusahaan, dia memberontak tidak ingin di penjara. Regan dan yang lainnya menatap kepergian Bilqis, setelah dipastikan Bilqis pergi pengacara pun pamit undur diri karena tugasnya sudah selesai.
.
.
Violetta menangis dalam pelukan Renata, jika dia sanggup menceritakan semua pengalaman pahit dalam hidupnya, bisa dipastikan dia tidak akan kuat dan hal tersebut akan memancing traumanya kembali.
"Bunda, hikss.. Hati Vio sakit sekali huhuhu.." ucap Violetta menangis sesenggukkan.
"Bunda yakin, kamu adalah anak yang paling kuat yang pernah bunda temui." ucap Renata memberikan kekuatan pada Violetta.
"Aku gak mau mommy di penjara, tapi di sisi lain dia tidak akan pernah jera bunda huhuhu.." ucap Violetta semakin menangis dengan kecang.
Renata menengadahkan kepalanya keatas seraya mengerjapkan matanya, dia berusaha agar tidak menangis di hadapan Violetta, untuk menguatkan Violetta Renata harus terlihat lebih kuat lagi di hadapannya.
"Cup, cup, cup, udah ya. Biarkan semuanya berlalu, jika mengingatnya bisa menyakiti diri sendiri maka jalan terbaik adalah melupakannya." ucap Renata.
Renata mengusap air mata Violetta yang terus mengalir deras, calon anak sambungnya itu masih menangis sesenggukan sampai terbatuk-batuk. Tidak ada anak yang menginginkan terlahir ke dunia, tidak ada anak yang bisa memilih harus lahir dari rahim siapa, banyak anak yang lebih memilih tidak dilahirkan daripada tidak diharapakan. Mungkin itulah kata-kata yang saat ini tengah ada di benak Violetta, Renata paham betul bagaimana sakitnya jadi Violetta di umurnya yang masih sangat kecil harus menerima kekerasan fisik dan juga mental dari ibunya sendiri.
__ADS_1
.
.
Bram kini tengah mengobrol dengan serius bersama Regan, Aldo, dan juga Yandi. Mereka berempat mendiskusikan tentang Indra yang diam-diam masih memantau pergerakan Bram, secara sadar Bram pun bisa melihat ada anak buah Indra yang menyamar menjadi salah satu karyawan di perusahaannya.
"Bagaimana dengan Indra? Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Regan.
"Bukan hal yang mudah dalam mengambil keputusan, aku bisa saja membunuhnya saat ini juga namun tidak semudah yang dipikirkan, aku takut kalau dia menyebarkan anak buahnya untuk menghabisi orang terdekatku, mereka tidaklah bersalah disini maka dari itu butuh rencana yang begitu matang." jawab Bram.
"Jika kau butuh bantuan kami, katakan saja." ucap Aldo.
"Nanti malam datanglah ke mansionku, lebih nyaman kalau kita membahasnya disana, karena disini ada yang bekerjasama dengannya." ucap Bram.
"Siapa dia?" tanya Yandi.
"Bagian pemasaran." ucap Bram.
Yandi sedikit terkejut karena ia tidak menaruh curiga sama sekali pada karyawan di perusahaan Bram, entah karena ia sibuk dengan tugas yang menumpuk atau karena ia yang lengah.
"Kenapa kau mencurigainya?" tanya Yandi.
"Sebelum proyek kita di pasarkan, diam-diam dia menyerahkan sebagian hasil kerja keras kita pada orang lain dan menukarnya dengan uang yang tidak sedikit." jawab Bram.
"Darimana kau mengetahuinya?" tanya Regan.
"Saat aku memantau proyek yang akan diluncurkan, ada kejanggalan disana karena tiba-tiba saja perusahaan Indra bergerak cepat mengumumkan proyeknya yang akan launching, dan ternyata benar saja proyeknya yang di publikasikan adalah hasilku, setelah aku selidiki lebih lanjut ternyata benar saja dialah pelakunya. Aku sengaja memberikan cuti kepada semua kepala bagian untuk berlibur dalam waktu 2 minggu di mulai dari kemarin, aku mengantikan posisi mereka dengan orang-orang pilihanku. Jika sebagai assisten pribadi kau bertanya kenapa kau tidak tahu? Maka jawabannya adalah karena aku ingin kau fokus mengerjakan beberapa tugas yang aku berikan, pergerakanmu terlalu mudah terbaca olehnya. Setelah dia pergi terlihat jelas kalau akhir-akhir ini setiap proyek yang akan kita kembangkan berjalan dengan lancar." Jelas Bram.
Regan tak menyangka kalau Bram yang terlihat diam ternyata lebih gesit dari yang dikira, dia salut pada Bram yang memang layak menduduki posisi pebisnis sukses nomor 2 di negaranya, tak ayal jika dia bisa sukses dalam kurun waktu yang bisa dibilang begitu cepat karena memang kecerdasannya itu patut di acungi jempol.
__ADS_1