Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Menggambar bersama


__ADS_3

Violetta memang gemar menggambar, melukis adalah salah satu hobinya. Jevan terlihat begitu fokus menggambar, sedangkan Renata ia hanya menggambar sebuah bunga saja karena menggambar bukan skillnya.


"Bun, gambar apa?" tanya Violetta.


"Gambar bunga, hihi." jawab Renata cengengesan.


"Coba lihat?" tanya Violetta lagi.


Renata pun menyerahkan hasil melukisnya, Violetta menahan tawanya melihat gambar Renata yang acak-acakan. Jevan pun penasaran dengan apa yang dilihat oleh Violetta, karena posisinya dia duduk diatas kursi roda jadi dia bisa mengintipnya dari atas.


"Ketawa aja Vio, jangan di tahan nanti pipinya keram." ledek Renata.


"Hahaha, bunganya pada menyon bun." ucap Violetta sambil tertawa.


"Gapapa, biar kaya orang julid. Kan biasanya orang julid kalo ngomong bibirnya suka pada menyon-menyon." ucap Renata.


Jevan dan Listi pun ikut terkekeh mendengarnya, Violetta menunjukkan lukisannya dimana ia melukis taman, didalam lukisan tersebut pun ia menambahkan gambar seseorang yang tengah duduk di kursi roda bersama gadis kecil di sampingnya.


'Aku bahagia, melihat senyuman yang tak pernah terbentuk lagi di bibirmu tuan muda. Sekarang senyum itu melengkung dengan begitu indahnya, bahkan kau terlihat bahagia bertemu dengan mereka' batin Listi.


"Ini gambarku, disini ada aku dan juga kakak ganteng." ucap Violetta menunjukkan gambarnya.


"Kenapa ada aku didalamnya?" tanya Jevan.


"Nanti aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan," jawab Violetta.


"Terimakasih adik kecil," ucap Jevan tersenyum.


"Nama kakak siapa?" tanya Violetta.


"Nama kakak Jevan, namamu siapa?" jawab Jevan, dia juga balik bertanya pada Violetta.


"Namaku Violetta, si cantik, imut dan menggemaskan. Iya kan bun?" jawab Violetta dengan riangnya.


"Siippp lah," ucap Renata mengacungkan dua jempolnya.


"Nama kakak siapa?" tanya Jevan pada Renata.


"Nama kakak, Rena." jawab Renata tersenyum.


"Senang bisa berkenalan dengan kalian, apakah kalian mau berteman denganku?" tanya Jevan.


"Tentu saja, kami mau berteman dengan anak lelaki yang kuat dan hebat sepertimu." ucap Renata.


"Hebat apanya? Kaki ku saja lumpuh, bagaimana bisa kak Rena bilang aku hebat." ucap Jevan pesimis.


"Mohon maaf sebelumnya, sudah berapa lama kau duduk di kursi roda?" tanya Renata.


"Saat aku berusia 3 tahun, sekarang umurku sudah menginjak 8 tahun dan selama 5 tahun itu pula aku duduk di kursi roda." jawab Jevan.


"Dengarkan aku! Hebat tidak harus bisa berdiri, hebat tidak harus bisa bela diri, tetapi definisi hebat itu luas Jevan. Kau hebat karena bisa melaluinya yang belum tentu orang lain bisa, jika kau melihat dengan pandangan yang luas diluaran sana masih banyak orang dengan keterbatasannya bukan hanya dirimu saja. Aku melihat ada orang yang tidak bisa melihat berjualan, orang yang berjalan dengan satu kakinya, bahkan masih banyak di dunia ini orang yang hebat sama sepertimu, tapi mereka tidak mengeluh karena memegang kunci keikhlasan." ucap Renata.


"Benar apa yang dikatakan nona Rena, tuan muda salah satu orang beruntung di tengah keterbatasan yang tuan muda alami. Banyak dari mereka yang memiliki kekurangan, tetapi masih harus bekerja mencari sesuap nasi dan juga mencari biaya untuk berobat." tambah Listi.


Jevan pun mencerna semua ucapan yang di ucapkan oleh Renata dan juga Listi, dia pun kemudian tersenyum seakan keduanya membangkitkan semangat hidupnya. Renata tersenyum mengusap kaki Jevan, kemudian ia berdiri membelai pipi Jevan yang terlihat kurus.


"Kuncinya adalah, kau harus bersyukur." ucap Renata tersenyum.


"Terimakasih kak, berkatmu aku tahu bagaimana caranya menerima keadaanku." ucap Jevan.


Renata membalas ucapan Jevan dengan senyuman, dari kejauhan Renata melihat seorang anak kecil seumuran dengan Jevan tengah berjualan. Anak kecil tersebut membawa tisu untuk di dagangkan, dilihatnya salah satu tangannya tidak ada dan bisa disimpulkan ia juga memiliku kekurangan.


"Jevan, lihatlah disana." ucap Renata menunjuk kearah anak kecil tersebut.


Jevan mengalihkan pandangannya keaeah yang ditunjuk oleh Renata, dia melihat anak kecil seumuran dengannya tengah menawarkan tisu kepada orang-orang yang berada di sekitar taman.


"Dek, tisu!" panggil Renata sedikit menaikkan volume suaranya.


Anak kecil berjenis kelamin perempuan itupun menengok kearah Renata, dia berjalan kearah Renata yang tengah melambaikan tangannya.


"Dek, tisunya satu ya." ucap Renata.


Anak kecil tersebut pun memberikan tisu pada Renata, Jevan terus menatap kearahnya. Renata memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada anak gadis tersebut, sang gadis pun terkejut melihat uang yang diberikan Renata cukup tebal.


"Kak, ini banyak sekali. Berikan aku uang tiga ribu saja kak, sesuai dengan harga yang aku jual." ucap gadis tersebut.


"Ambilah, aku memberikannya padamu dengan ikhlas. Kalau boleh tahu, siapa namamu dan kemana orangtuamu sampai kau harus bekerja?" ucap Renata seraya bertanya pada gadis di hadapannya.


"Namaku Askia kakak, orangtuaku tidak tahu kemana. Aku tinggal bersama nenekku, aku harus bekerja demi membayar hutang yang pernah di pinjam oleh nenek demi kesembuhanku." jawab Askia.

__ADS_1


"Kau sakit apa?" tanya Jevan.


"Dulu aku mengalami kecelakaan, tanganku harus di amputasi dan untuk lebih jelasnya aku tidak tahu. Nenek meminjam uang untuk biaya pengobatanku sampai ia menjual barang berharga miliknya, setiap pulang sekolah ataupun hari libur aku berjualan." jawab Askia.


"Kita sama-sama memiliki kekurangan, aku tidak bisa berjalan dan kau hanya memilikibsalah satu tangan. Berapa hutang yang harus kau bayar?" tanya Jevan.


"Untuk apa kau bertanya seperti itu?" tanya balik Askia.


"Katakan saja." ucap Jevan.


"Kurang lebih sekitar 25 juta lagi, aku sudah mencicilnya selama 2 tahun bersama nenek." jawab Askia.


"Bibi, berikan uang milikku padanya. Dia lebih membutuhkan dibandingkan aku, jika daddy bertanya biar aku saja yang menjawabnya." ucap Jevan.


Listi pun mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tas yang ia bawa, dia menyerahkan uang tersebut pada Askia. Askia bingung saat Listi menyerahkan uang tersebut padanya, sebuah amplop berwarna coklat dan tebal yang entah berapa jumlahnya.


"Ambillah, mungkin tidak bisa langsung melunasi hutangmu tetapi setidaknya bisa mengurangi." ucap Jevan.


"Maaf sebelumnya, aku memang orang susah dan bukannya menolak pemberian darimu, aku masih bisa berkerja tanpa berharap belas kasihan dari orang lain karena kekurangan yang aku miliki." ucap Askia menolak secara halus pemberian Jevan.


"Aku hanya ingin berbagi, kau adalah orang beruntung yang aku pilih." ucap Jevan.


"Ambillah dek, tuan muda ikhlas memberikannya padamu." ucap Listi menyodorkan kembali amplopnya.


"Jika kau tak mau menerimanya, aku pasti akan sedih." ucap Jevan.


Askia menatap kearah Listi dan juga Renata yang mengulas senyumnya, mau tak mau ia mengambil uang tersebut lalu memasukkannya kedalam tas yang dibwanya.


"Terimakasih, nenek pasti senang. Aku pasti akan mendoakan kalian semua, kalian begitu baik. Semoga Tuhan memberikan keajaiban padamu, aku harap kau bisa berjalan kembali." ucap Askia.


"Terimakasih atas doanya." ucap Jevan.


"Pulanglah, berikan uang itu pada nenekmu." ucap Renata.


"Baik, terimakasih semuanya. Suatu saat jika Tuhan mempertemukan kita kembali, aku akan mebalas semua kebaikan mu." ucap Askia.


Renata dan yang lainnya pun hanya mengulas senyumnya, Jevan merasa bahagia karena ia bisa membantu orang lain. Askia pun pamit pulang ke rumahnya, dia sungguh terharu mendapatkan rezeki yang tidak ia sangka.


'Tuhan, balaslah semua kebaikannya. Berikanlah ia anugerah dan keajaiban, semoga ia bisa berjalan kembali' batin Askia.


"Kasihan sekali kakak itu," ucap Violetta.


Violetta pun memeluk Renata dengan erat, dia bahagia sekali bisa di pertemukan dengan pengasuh bak ibu kandung. Renata membalas pelukan Violetta, dia membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Kita udah lama disini, sebaiknya kita pulang." ucap Renata.


"Ayo, bun." seru Violetta.


"Kalian mau meninggalkan aku?" tanya Jevan.


"Sudah terlalu siang, cuca pun semakin terik jadi aku harus membawa Vio pulang. Kita bisa bertemu lagi dilain hari, kau tinggal bilang padaku ingin bertemu dimana biar nanti aku dan Vio yang menemui mu." jawab Renata.


"Aku minta nomor kakak, agar nanti aku bisa menghubungimu dengan mudah." ucap Jevan meminta nomor ponsel Renata.


"Oh, tentu saja." ucap Renata.


Renata pun menuliskan nomor telepon miliknya, setelah selesai dia memberikannya pada Jevan. Renata merapikan lukisan yang tadi ia dan Violetta gambar untuk dibawa pulang, sejujurnya begitu berat bagi Jevan untuk membiarkan Renata dan Violetta pulang, dari kedua orang yang awalnya tak dikenalnya ia mendapatkan kebahagiaan.


"Kakak, aku pulang dulu ya." ucap Violetta memeluk tubuh Jevan.


"Iya Vio cantik, nanti kita main lagi ya." ucap Jevan membalas pelukan Violetta.


"Nyonya Listi, saya dan Vio pamit pulang." ucap Renata.


" Jangan panggil aku nyonya, panggil aku mba saja. Terimakasih kalian telah menghibur tuan muda, sudah lama senyumannya hilang, tetapi hari ini kalian sudah mengembalikan senyumnya." ucap Listi.


"Jevan, benarkah itu? Tetaplah tersenyum Jevan, senyum itu tidak dilarang ataupun di beli, tidak ada salahnya kau tersenyum yang ada malah terlihat ketampananmu." ucap Renata dengan sedikit menggoda Jevan.


"Iya kak." ucap Jevan tersenyum.


Renata dan Violetta pun berpamitan pada Jevan dan Listi, mereka melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Mereka berdua berjalan ke tempat dimana Yandi memyimpan mobilnya, dari kejauhan Yandi melihat Renata dan Violeta berjalan kearahnya, dia langsung saja keluar menyambut keduanya.


"Sudah bertemu dengannya?" tanya Yandi.


"Sudah, kita pun sudah berteman." jawab Renata.


"Yasudah kalian berdua masuk, tadi kak Bram juga sudah menelponku menyuruhku membawa kalian ke kantor." ucap Yandi.


Yandi pun membukakan pintu untuk Renata dan juga Violetta, dia memang sengaja menunggu keduanya untuk berjaga-jaga takutnya terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

__ADS_1


Di Taman.


Jevan terus mengukir senyuman di bibirnya, hari ini dia sangat bahagia karena ada yang mau berteman dengannya.


"Tuan muda, apakah tuan mida bahagia saat ini?" tanya Listi.


"Sangat bahagia, aku seperti memiliki seorang adik dan juga seorang kakak." jawab Jevan tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, kita pulang dulu ya." ucap Listi.


Jevan pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Listi mendorong kursi roda Jevan meninggalkan taman meskipun dalam hati Jevan masih ingin disana.


'Mommy, aku bahagia saat ini' batin Jevan.


Renata dan Violetta sedang berbincang di dalam mobil, Yandi mendengarkan sambil fokus mengemudikan mobilnya.


"Bun, kasihan ya kak Jevan." ucap Violetta.


"Iya, kita doakan Jevan supaya ia bisa ssmbuh daei sakitnya." ucap Renata.


"Tapi bun, daddy sama mommy nya kemana?" tanya Violetta.


"Kata om Yandi ibunya sudah meninggal, kalau daddy nya sedang bekerja." jawab Renata.


"Iyakah om?" tanya Violetta.


"Iya princess," jawab Yandi.


Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi mereka pun sampai di kantor, Yandi turun dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Renata. Para karyawan melihat kearah Renata dan juga Violetta, ada yang memicingkan matanya tidak suka dan ada yang berbisik-bisik membicarakan penampilan Renata yang datang bersama Yandi, terutama kaum wanita.


"Ekkheemm. Sepertinya perusahaan ini akan merekrut karyawan baru untuk menggantikan karyawan lama yang tidak mempunyai etika." ucap Yandi berdehem, dia juga menyindir para karyawan yang tengah berbisik-bisik.


Para karyawan pun langsung pergi, mereka takut dipecat oleh Yandi yang notabenenya adalah asisten dari Bram. Renata pun terkekeh melihatnya, tidak ada yang tahu hubungan Renata dan juga Bram karena memang masih di rahasiakan, begitupun Violetta ayang di sembunyikan identitasnya oleh Bram untuk keamanannya.


"Baru di sindir aja, langsung ngacir." cibir Yandi.


"Hahaha, lucu liat mata sama mulut orang-orang kalau lagi gibah kek gitu." ucap Renata tertawa.


"Emangnya kenapa?" tanya Yandi penasaran.


"Kelihatan jeleknya, hihi." jawab Renata sambil terkekeh.


"Iya juga ya, berarti sekarang kalau mau tahu jeleknya wajah seseorang lihat aja pas orang itu lagi gibah atau julid, pasti kelihatan banget jeleknya. Hahaha, bukan cuman wajahnya, tapi sifat aslinya juga." ucap Yandi.


"Setuju." seru Renata.


Renata dan Yandi pun berjalan beriringan menuju lift, Violetta sudah mulai mengantuk karena kecapean setelah bermain di taman, jadi dia tidak ikut nimbrung begitu Renata dan Yandi membicarakan karyawan yang menatap tak suka pada Renata.


Tring.


Pintu lift terbuka lebar, Mereka berjalan masuk kedalam ruangan CEO. Begitu pintu terbuka, Renata melihat calon suaminya tengah mengobrol dengan Regan dan juga Aldo.


"Selamat siang," sapa Renata.


"Hooaaamm, selamat siang daddy dan om semuanya," sapa Violetta sambil menguap.


"Sayang, sini biar mas bawa Vio ke kamar." ucap Bram meminta Renata menyerahkan Violetta.


Renata pun menyerahkan Violetta pada Bram, dilihatnya mata Violetta sudah sangat berat sampai akhirnya tertutup.


"Princess daddy, nganguk banget kayaknya ya." ucap Bram.


"Mungkin kecapean mas," ucap Renata.


"Aku bawa masuk dulu ya." ucap Bram.


Renata pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Bram membawa Violetta masuk ke dalam kamar pribadinya. Yandi mempersilahkan Renata duduk, mereka pun mulai berbincang membahas Indra.


"Bram bilang kalau kalian ke taman, mengunjungi anak Indra?" tanya Regan.


"Iya, aku dan Vio kesana." jawab Renata.


"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Aldo.


"Nanti juga kalian tahu, untuk sekarang kita ikuti saja apa yang mas Bram katakan karena Indra bukanlah orang sembarangan, sudah banyak pengusaha yang ia jatuhkan karena ambisinya." jawab Renata.


Ceklek.


Bram keluar dari dalam kamar pribadinya, dia sudah selesaikan menidurkan anaknya, Renata sedikit menggeserkan tubuhnya memberi tempat untuk Bram. Bram merengkuh pinggang Renata dari samping, Renata tersenyum kaku begitu Bram dengan tanpa aba-aba merengkuh pinggangnya di depan Regan dan yang lainnya, Ketiga pria dihadapannya memalingkan wajahnya melihat kelakuan duda bucin yang tengah mabuk asmara.

__ADS_1


__ADS_2