
Fadlan mencari kesana kemari keberadaan puteri semata wayangnya, dia bertanya pada teman-teman Renata yang ia ketahui. Sekarang Fadlan tengah berada di dalam rumah Rizal, ia tahu kalau Renata sangat dekat dengan Nurul, ia bisa pastikan jikalau Nurul mengetahui keberadaan Renata.
"Tuan, tolong beritahu aku dimana keberadaan putriku." ucap Fadlan pada Rizal.
"Mohon maaf tuan, kami tidak bisa memberitahumu." tegas Rizal.
"Tuan, tolong mengertilah aku adalah ayahnya, dialah satu-satunya keluarga yang saat ini aku miliki." ucap Fadlan.
"Kemana saja kau selama ini tuan Fadlan yang terhormat? Disaat anakmu menderita kau malah berbahagia disana, kau bahkan lebih memilih orang baru ketimbang anakmu sendiri! Hal yang paling fatal disini adalah, kau dengan tidak punya hati mengusir Renata dari rumahmu lengkap dengan tamparan di pipinya." seru Yuli tiba-tiba datang menghampiri suaminya.
Fadlan pun seakan tertampar mendengar ucapan Yuli, ia menundukkan kepalanya malu atas perbuatannya pada Renata, ia akui dia memang salah namun apa salahnya jika ia ingin memperbaiki semuanya.
__ADS_1
"Aku tahu aku salah, jadi tolong beritahu aku dimana Rena sekarang? Aku ingin menebus semua kesalahanku padanya." ucap Fadlan memelas.
"Kau tidak perlu mencarinya, sekarang dia sudah bahagia bersmaa seseorang." ucap Yuli jutek.
"Maksudmu?" tanya Fadlan mengeritkan keningnya.
"Ya, Renata sekarang sudah bahagia bersama seseorang. Sebelumnya ia juga pernah memperingatkan kami, kalau kau datang mencarinya maka kami tidak boleh memberitahunya." jawab Rizal.
"Dia tidak membencimu, hanya saja rasa kecewanya amat dalam. Untuk sekarang ini biarkanlah dia tenang, aku yakin jika sudah waktunya tiba ia akan datang kepadamu dengan membawa kebahagiaan yang saat ini tengah ia rasakan." ucap Rizal.
Sebuah tangan mengusap bahu Fadlan, dia memberikan kekuatan pada lelaki yang saat ini tengah merenungi kesalahannya. Sania datang menemani Fadlan untuk mencari puterinya, keduanya menjadi dekat satu sama lain setelah perselingkuhan kedua pasangannya terbongkar.
__ADS_1
"Sabar, aku yakin anakmu pasti akan memamafkanmu." ucap Sania tersenyum.
"Semoga saja Sania, aku berharap Renata tidak lagi menderita ataupun meneteskan air matanya lagi." ucap Fadlan.
"Aku harap kau bisa berubah tuan Fadlan, jangan terlalu menuruti hawa nafsu yang bisa menghancurkan kebahagian orang yang tulus menyayangimu, buktinya kau kehilangan istrimu karena kau telah menduakannya. Sekaranh sebuah karma berbalik padamu, selingkuhanmu kembali berselingkuh di belakangmu bahkan anak tiri yang kau banggakan sampai kau melupakan anakmu sendiri telah mengecewakanmu, dia hamil diluar nikah bukan?" ucap Rizal.
"Da-darimana kau tahu?" tanya Fadlan terkejut.
Rizal melipat kedua tangannya di depan dadanya, dia mengetahui apa yang terjadi pada Fadlan karena ia mengutus seseorang yang tinggal tak jauh dari tempatnya untuk memata-matai Fadlan. Tujuan ia melakukannya adalah atas permintaan Renata, meskipun ia kecewa pada ayahnya dia tetap mengkhawairkannya maka dari itu Rizal meminta bantuan seseorang.
"Rena memintaku terus mengawasimu, dia khawatir kau sakit atau terjadi sesuatu padamu. Aku mengutus temanku yang tinggal tak jauh dari tempatmu untuk tetap mamantau dari jarak jauh, dan kabar yang mengejutkan adalah berita kehamilan putri tirimu dan istrimu yang terus bermain api." jawab Rizal.
__ADS_1
Fadlan menitikkan air matanya, walaupun ia sudah berlaku jahat pada putrinya tetap saja ia mengkhawatirkan keadaannya. Jika di ingat kembali saat ia sakit, Renata lah yang pasti merawatnya bukan Namira ataupun Andin.