
Keesokan harinya.
Bram seperti biasanya pergi ke kantor, dai berpamitan pada Violetta dan juga Renata setelah sarapan. Yandi sudah berada di mansion Bram, ia ditugaskan untuk mengantar Renata ke suatu tempat.
"Terus awasi Rena dan Vio dari kejauhan," ucap Bram.
"Siap kak." seru Yandi.
"Aku berangkat duluan." ucap Bram.
Yandi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Renata dan Violetta sudah bersiap untuk pergi ke tempat yang akan mereka kunjungi.
"Aku sudah siap." ucap Renata.
"Emangnya kita mau kemana bunda?" tanyabVioletta.
"Nanti kamu juga bakalan tahu, sekarang kita jalan dulu ya." jawab Renata.
"Ayo, kita berangkat." ajak Yandi.
Renata dan Violetta pun mengekor di belakang Yandi, mereka masuk kedalam mobil, Yandi langsung saja melajukan mobilnya meninggalkan mansion. Di sepanjang perjalanan Violetta terus bertanya-tanya, ia penasaran kenapa Renata mengajaknya jalan tanpa memberitahu tujuannya kemana.
'Bunda mau ajakin aku kemana sih? Kok pada serius banget mukanya' batin Violetta.
15 menit kemudian.
Yandi memarkirkan mobilnya di dekat rumah sakit terbesar di negaranya, rumah sakit tersebut milik pengusaha nomor satu di negaranya yakni tuan Arbeto. Renata keluar dari dalam mobil bersama Yandi, sedangkan Violetta tetap memegang tangan Renata agar tak lepas darinya.
__ADS_1
"Biasanya dia pergi ke taman, tempatnya tak jauh dari rumah sakit." ucap Yandi.
"Kalau begitu, aku akan menunggunya di taman bersama Vio." ucap Renata.
"Hati-hati." ucap Yandi.
Renata menganggukkan kepalanya, dia mengajak Violetta pergi ke tamann yang tak jauh dari rumah sakit. Di sekitar taman yang begitu luas, diatas hamparan rumput yang hijau banyak sekali orang-orang yang tengah bermain, tetapi fokus Renata tertuju pada seorang anak lelaki yang tengah duduk di kursi roda di temani seorang wanita yang memakai pakaian khusus pelayan.
"Vio, kita kesana." ucap Renata menunjuk ke tempat dekat air mancur.
"Bun, kita sebenarnya ngapain sih kesini?" tanya Violetta.
Rasanya tidak mungkin Renata tiba-tiba mengajaknya ke taman, Violetta melihat gerak-gerik calon ibu sambungnya itu terlihat aneh. Renata menghela nafasnya panjang, ia membisikkan sesuatu di telinga Violetta agar ia tidak terus bertanya, jika tidak segera memberitahunya bisa dipastikan rencana mereka akan gagal.
"Oh begitu." ucap Violetta manggut-manggut.
"Ngerti kan? yuk beraksi." tanya Renata.
Renata dan Violetta membeli sebuah bola dan juga gelembung, mereka bermain bersama sambil tertawa. Dari kejauhan seorang anak lelaki melihat interaksi antara Renata dan Violetta, mereka terlihat bahagia daripada yang lainnya, sehingga menarik perhatpian anak lelaki tersebut.
"Sepertinya, mereka sangat bahagia menikmati hidupnya." ucap anak lelaki tersebut.
"Sepertinya begitu, tuan muda." ucap wanita di sampingnya.
"Aku iri melihatnya." ucapnya dengan berkaca-kaca.
"Tuan muda, kau tidak perlu berkecil hati. Menurutku kau adalah anak yang beruntung, di tengah keterbatasanmu kau masih memiliki orangtua yang sayang padamu." ucap wanita dis sampingnya dengan berjongkok menghadap kearah anak lelaki tersebut.
__ADS_1
Anak lelaki tersebut adalah Jevan Kainandra. Dia merupakan anak yang memiliki keterbatasan, dia tidak bisa berjalan dan hanya duduk di kursi roda selama bertahun-tahun. Setiap harinya ia di urus oleh pelayan wanita yang bernama Listi, ia sering mendatangi taman rumah sakit yang saat ini sedang ia datangi. Di taman yang tak jauh dari rumah sakit inilah ia sering menghabiskan banyak waktunya bersama mendiang ibunya, ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaannya jadi Jevan meminta pelayannya menemaninya kemanapun ia pergi.
Dug..
Bola milik Violetta menggelinding kearah kursi roda Jevan, Listi mengambil bola tersebut lalu menyerahkannya pada Violetta yang berlari menghampirinya.
"Terimakasih." ucap Violetta tersenyum.
"Sama-sama, anak cantik." jawab Listi tersenyum.
Renata menghampiri Violetta yang masih berdiri dihadapan Jevan, dia menatap netra Jevan yang menujukkan kesedihan yang begitu terlihat jelas di matanya.
"Hai, mau bermain dengan kami?" tanya Renata pada Jevan.
"Tidak kakak, aku tidak bisa berjalan." tolak Jevan.
"Kakimu sakit kah?" tanya Violetta.
"Iya, kaki ku lumpuh." jawab Jevan senyum yang dipaksakan.
"Lumpuh itu apa?" tanya Violetta.
"Adik kecil, kakiku lumpuh yang artinya tidak dapat berjalan dan berdiri tegap sepertimu, karena kecelakaan yang aku alami membuat kaki ku tak berfungsi lagi." jawab Jevan.
"Oh gitu ya, kakak bisa menggambar?" tanya Violetta.
"Sedikit " jawab Jevan.
__ADS_1
"Ayo kita menggambar bersama, disana ada ada yang menjual peralatan lukis." ucap Renata.
Violetta mengangguk antusias, Renata langsung saja pergi membeli peralatan melukis untuknya, Violetta dan juga Jevan. Mereka bertiga melukis bersama, Jevan merasa terhibur akan kehadiran Violetta dan juga Renata yang menemaninya.