
Indra melangkahkan kakinya kerah Bram, dia sungguh muak melihat Bram yang angkuh dan menatap remeh dirinya. Bram pun bangkit dari duduknya, dia membiarkan Indra melakukan apapun yang ia inginkan sebelum ia melanjutkan rencananya.
"Aku akan mengambil hak ku! Sebaiknya kau menyerahlah Bramasta, seluruh keluargamu akan hancur serta kekayaanmu pun akan sirna." ucap Indra dengan percaya dirinya.
"Oh iya? Uuuuhhh, aku takut sekali." ejek Bram.
"Bedebah!" geram Indra.
Bugh..Bughh..Bughh..
Indra melayangkan tinjunya kearah Bram, dengan gesit Bram menangkis semua serangan Indra. Keduanya baku hantam satu sama lain, mereka sama-sama kuatnya dalam melindungi diri sendiri.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan TENANG!" teriak Indra diakhir katanya.
Bugh..
Indra menendang perut Bram sampai Bram mundur ke belakang, Bram memegangi perutnya sejenak dengan kepala yang tertunduk. Indra mengatur nafasnya sudah mulai kehabisan tenaga, dia mengusap sudut bibirnya yang terluka. Bram mengangkat kepalanya menatap nyalang kearah Indra, perutnya tidak merasakan sakit yang begitu serius karena ia sudah memakai pelindung, dengan tangan mengepal serta keringat yang bercucuran Bram menyerang Indra tanpa ampun sampai lawannya kewalahan.
Bughh..Bugghh.. Bughhh..
Indra menggunakan sisa tenaganya melawan Bram, dia akui Bram begitu kuat sampai ia hampir tidak sanggup melawannya.
"Menyerah atau lenyap dari dunia ini!" tekan Bram.
"TIDAK AKAN! HIAAAAAHHH." teriak Indra.
Indra mendorong tubuh Bram dengan kuat, Bram tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya begitu Indra mendorongnya, hingga akhirnya ia terjatuh ke lantai. Indra mengambil senjata api dari salah satu anak buahnya yang tengah menahan para tamu undangan, dia menodongkan senjata api tersebut pada Bram yang tengah terduduk dilantai.
"Hahaha, kau terlalu percaya diri Bramasta." ucap Indra tertawa.
Di sudut lain.
Yandi berhasil melumpuhkan Yoga sampai ia terkapar lemah, Aldo pun sudah mengamankan anak buah Indra yang cukup banyak. Regan naik kelantai atas begitu tugasnya selesai, dia menemui Aldo mengajaknya masuk kedalam dimana Bram dan Indra tengah berada. Yandi terdiam melihat sepupu sekaligus majikannya tengah di todongkan senjata, Regan dan Aldo pun ikut terdiam disamping Yandi melihat Bram dan Indra yang sama-sama terluka, namun posisinya kali ini Bram tengah berada dalam kuasa Indra.
"Dia akan baik-baik saja." bisik Yandi.
"Serahkan semua hartamu! Aku akan memberikan hukuman padamu, aku akan membalaskan semua perbuatanmu dahulu saat istriku memohon meminjam uang disaat kami tengah kesusahan! Gara-gara kau istriku meninggal, dia sampai menjual ginjalnya dan akhirnya pergi!" teriak Indra.
"Istri yang kau maksud adalah Ivanna? Jika kau tidak tahu jelas kebenarannya, maka jangan mengambil kesimpulan sendiri." ujar Bram.
"Jangan mengelak Bram, aku sudah mengetahui semuanya!" sentak Indra.
"Bahkan saat Ivanna dulu datang ke rumahku, aku sama sekali tidak mengetahuinya! Kau salah sasaran tuan Indra! Aku memiliki bukti kalau kau bicara fitnah, kau ingin tahu buktinya?" sentak Bram.
"Aku tidak peduli ucapanmu! Lebih baik kau mati!" Indra meninggikan suaranya.
Bram sama sekali tidak takut melawan Indra, dengan amarah yang sudah memuncak Indra menarik pelatuknya. Tetapi sebelum pelatuk itu ditarik sempurna, senjata yang dipegangnya terjatuh.
Sreetttt..
"Sial!" amuk Indra.
Seseorang memanah kearah senjata Indra sampai senjata tersebut terjatuh, orang tersebut tengah berdiri diambang pintu menatap kearahnya dengan memegang busur panah dilengannya.
"Hallo, tuan Indra." sapa Renata.
"Baron! Tangkap wanita itu!" titah Indra dengan suara lantangnya.
Regan langsung mengambil posisi, dia menempelkan senjata api tepat di kepala Baron. Tamu undangan yang ditahan pun kini berbalik menahan anak buah Indra, sebuah kejutan untuk Indra setelah kedatangan Renata.
"Kau terkejut tuan Indra!?" tanya Bram menyeringai.
"Kau!" ucap Indra geram, dia menunjuk kearah Bram.
Bram bangkit dari duduknya, begitu ia berdiri Indra langsung menarik bajunya.
"Lepaskan calon suamiku!" teriak Renata.
Renata berjalan mendekat kearah Indra, dia mengeluarkan ponselnya lalu memutar sebuah rekaman suara yang sudah ia dapatkan dari Nurul.
__ADS_1
'Hikss, lepaskan aku.'
Indra mendorong tubuh Bram, dia hendak menarik tangan Renata namun Renata segera memundurkan tubuhnya ke belakang. Indra lupa memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi putranya, dia pikir karena Bram tidak mengetahui siapa yang sudah menyerangnya Jevan akan aman, tetapi nyatanya Bram mengetahui dirinya sampai-sampaia ia membawa putranya tanpa ia ketahui.
"Apa yang kau lakukan pada putraku, hah!?" sentak Indra.
"Ini akibatnya jika kau berani mengusik calon suamiku, dia tidak memiliki masalah denganmu, tapi kau dengan brengseknya ingin melenyapkan semua penghuni mansion dengan menggunakan cara kotormu, ambisimu menjadi orang kaya membuat mata dan hatimu tertutup. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya istrimu diatas sana, aku juga tidak bisa membayangkan betapa kecewanya putramu jika ia mengetahui kebusukanmu." ucap Renata.
"Jangan libatkan putraku, dia tidak ada hubungannya dengan kalian." tegas Indra.
"Oh tentu saja ada hubungannya, apa kau tidak memikirkan akibat dari ledakan yang kau lakukan di mansion mas Bram? Apa kau tidak memikirkan ada anak di dalamnya? Kau sungguhbegois tuan Indra." tukas Renata
Indra hendak mengambil kembali senjata api miliknya, tetapi Renata langsung menghalangi niat Indra, dia mengambil anak panah dari punggungnya lalu memanah keadah Indra.
Srett...
Tangan Indra tergores akibat panah yang di tembakkan padanya, dia memegangi tangannya yang berdarah, sensasi perih bercampur amarah sangatlah menyiksanya, namun ia tidak mau juga menyerah. Secepat kilat Indra kembali mengambil senjata apinya, dia menodongkan senjatanya kearah Renata, tetapi Renata menanggapinya dengan ekspresi menantang Indra.
"Aku akan melenyapkan kalian semua, begitu pun kau!" amuk Indra.
"DADDY." teriak seorang anak kecil yang muncul bersama wanita yang tengah mendorong kursi rodanya.
"Je-jevan." gumam Indra pelan.
Jevan melepaskan tangan Listi dari kursi rodanya, dia mendorong kursi rodanya sendiri menghampiri ayahnya. Tak bisa di pungkiri ia kecewa pada ayahnya, dengan wajah yang memerah serta mata yang berkaca-kaca Jevan memandangi wajah ayahnya dengan lekat.
"Apa yang kau lakukan daddy?" lirih Jevan.
"Listi, kenapa kau membawa Jevan kesini? Bawa dia pulang atau kau akan kuhabisi!" sentak Indra pada Listi.
"Tidak, aku tidak akan pulang. Apa yang sudah daddy lakukan itu salah! Kak Rena sudah menjelaskan semuanya padaku, daddy keliru atas apa yang sudah menimpa mommy." ucap Jevan menggebu.
"Kau masih kecil, kau tidak tahu apa-apa. Sebaiknya kau pulang saja, ini masalah orang dewasa dan anak kecil tidak boleh ikut campur." ucap Indra dingin.
"Kau tahu daddy? Mommy meninggal bukan karena menjual ginjalnya pada orang lain, tetapi dia sudah melakukan kesalahan padamu tanpa dia berkata yang sebenarnya, mommy meninggalkan sebuah surat ygng ia berikan padaku, dia sengaja tidak memberi tahumu karena dia takut daddy membencinya." ucap Jevan.
"Sudah tenang?" tanya Renata.
"Sudah, hiks." jawab Jevan dengan sisa tangisnya.
Jevan meminta Listi mendekat kearahnya, dia mengeluarkan sebuah surat yang selalu ia simpan di dalam softcase hp miliknya. Dia menyodorkan surat itu pada Indra, dengan ragu Indra mengambil surat tersebut lalu membacanya.
Mas Indra, maafkan aku yang tak mampu bicara jujur padamu. Aku berharap kau mau memaafkan kesalahanku padamu, aku yakin pasti kau tidak akan pernah bisa memaafkan kesalahanku satu ini.
Kau masih ingat, saat aku seringkali menolak behubungan badan denganmu?
Saat itu aku sudah di diagnosis memiliki penyakit menular s*s**l, aku berbohong padamu saat aku mengatakan kalau aku menjual salah satu ginjalku pada orang lain. Aku sudah tidak tahu harus melakukan apalagi saat itu, aku juga tak tega melihatmu yang terus kesana kemari mencari pinjaman namun tidak kunjung mendapatkannaya. Aku memikirkan semuanya, dengan putus asa aku mendatangi bos rentenir, aku menyerahkan diriku padanya karena memang dia menginginkanku. Aku berhubungan badan dengannya tanpa sepengetahuanmu, tak hanya dengan bosnya tetapi dengan anak buahnya juga. Bos rentenir itu mengatakan kalau ia akan membayar semua pengobatan Jevan, dia juga akan melunaskan semua hutang-hutangmu.
Mas. Setelah Jevan keluar dari rumah sakit, kau pasti sering melihatku keluar dari rumah dan kembali pada malam hari. Aku berbohong lagi padamu, aku mengatakan kalau aku bekerja padahal aku melayani para pria itu. Lama kelamaan aku terbiasa dengan mereka, aku melakukannya lagi-lagi dan lagi. Aku merasakan hal yang aneh pada diriku, aku mencoba memeriksakan kesehatanku yang ternyata aku mengidap penyakit menular dan saat itu juga aku tengah mengandung makanya aku menolak setiap kali kau menginginkanku, aku tidak mau kau tertular penyakit yang sama denganku.
Hampir setiap harinya aku memeriksakan kesehatanku, tetapi semuanya semakin memburuk. Aku tidak memperhatikanmu dan anak kita, aku sibuk dengan diriku sendiri. Aku sangat bersalah padamu mas, tolong maafkan aku.
Tolong sampaikan maafku juga pada Jevan, maafkan aku yang kotor ini mas.
Aku sudah lelah, aku menyerah dengan penyakit yang ku derita ini mas.
Selamat tinggal.
ILY💜
Indra meremas kertas ditangannya, tubuhnya seakan tak bertenaga setelah mengetahui kebenarannya. Jevan menangis melihat kondisi ayahnya, ingin sekali ia berlari memeluk ayahnya, tapi apa daya kakinya tidak mampu bergerak.
"Daddy, hiks." panggil Jevan.
Sebelum ibunya meninggal dunia, Jevan sempat berbicara dengan ibunya disaat Indra tengah pergi bekerja. Ivanna menyerahkan selembar surat padanya, dia meminta Jevan menyembunyikan surat tersebut sampai ia besar nanti. Tepat saat Renata mengajaknya pergi, disana dia mengetahui kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya. Sebelumnya juga Jevan memberikan surat tersebut pada Listi, dia memintanya membacakan surat tersebut karena ia penasaran dengan isinya.
Punggung Indra bergetar menangis terisak, dia tidak meyangka sama sekali wanita yang dicintainya melakukan hal demikian. Bram merangkul bahu Indra memberikan ketenangan padanya, meskipun tindakan Indra memang tidak bisa di benarkan, tetapi ia tahu bagaimana perasaannya saat ini. Bram sangat tahu saat ini Indra tengah merasakan sesak di dadanya, sama seperti yang pernah dialaminya sewaktu Bilqis menghianatinya sampai menghancurkan mental putri kesayangannya.
"Masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya." ucap Bram mengelus punggung Indra.
__ADS_1
"Lihatlah putramu tuan, dia sama tersiksanya seperti dirimu. Yang lalu biarkanlah berlalu, tidak ada yang mau hal itu terjadi, sekarang fokus untuk kesembuhan putra semata wayangmu." ucap Renata.
Indra mengangkat wajahnya, dia menatap wajah putranya yang sudah basah oleh air mata. Bram membantu Indra berdiri, setelah Indra berdiri dengan tegapnya ia berlari memeluk tubuh putranya.
"Maafkan daddy, semua salah daddy." ucap Indra dengan penuh penyesalan.
"Daddy tidak salah, ini semua salahku. Kalau saja aku tidak kecelakaan, mungkin saat ini kita masoh bisa berkumpul bersama." ucap Jevan menggelengkan kepalanya.
"Ini semua sudah takdir, daddy tidak becus menjadi kepala keluarga saat itu. Maafkan daddy, maafkan daddy, kau boleh menghukum daddy boy asal kau jangan pernah membenci daddy." ucap Indra tedus meminta maaf bersimpuh dihadapan Jevan.
Nurul dan Violetta datang melihat pemandangan yang mengharukan, Violetta menatap bingung melihat Jevan dan juga orang dewasa di hadapannya yang tengah sama-sama menangis.
"Kak Nur, mereka sedang apa?" tanya Violetta.
"Sedang dangdutan." jawab Nurul asal.
"Tapi mereka sepertinya menangis?" tebak Violetta.
"Udah tahu nangis, malah nanya lagi." sewot Nurul.
"Kenapa marah-marah terus daritadi, Vio salah apa sama kakak?" heran Violetta.
"Habis kamu nyebelin sih, masa tadi kamu gambar muka kakak kayak nenek lampir." ucap Nurul.
"Vio itu anaknya jujur, berarti apa yang Vio gambar memang faktanya begitu." ucap Violetta polos.
"Emang yeaaak?" tanya Nurul dengan nada mengejek.
"Yeaaakkk." ucap Violetat meniru gaya Nurul.
Violetta melepaskan tautan tangannya dari Nurul, dia berlari kearah Bram yang tengah memandangi Indra dan juga Jevan.
"Daddy." panggil Vio.
Grepp..
"Uhh, anak daddy kok lari sih? Nanti jatuh loh." omel Bram.
"Daddy, katanya kalo yang suka ngomel-ngomel itu emak-emak, berarti daddy emak-emak dong?" ucap Violetta.
"Kata siapa?" tanya Bram.
"Kata kak Nurul." jawab Violetta.
"Jangan dengerin kak Nurul, ajaran dia sesat loh. Mending dengerin apa kata bunda sama daddy aja, lebih aman." ucap Bram.
"Sesat itu apa?" tanya Violetta.
"Tanya ke bunda aja, males jelasinnya." ucap Bram.
"Issh, kok malah ke bunda sih? Oh iya, muka daddy terluka." tanya Violetta.
"Tadi daddy udah bertarung," jawab Bram.
"Biar Vio yang obatin ya," ucap Violetta.
"Nanti aja kalau udah pulang ya," ucap Bram.
"Oke," ucap Violetta.
Jevan mengusap air mata ayahnya, meskipun dia kecewa pada ayahnya namun rasa sayangnya melebihi rasa kecewa yang ia rasakan. Renata dan yang lainnya pun ikut terharu, akhirnya Indra sadar atas apa yang dilakukannya. Bram menyuruh Yandi membawa para anak buah yang terluka, Regan dan Aldo pun ikut membantunya.
Jevan menyuruh ayahnya untuk berdiri, Indra pun menuruti kemauan anaknya yang memintanya berdiri.
"Minta maaflah pada om Bram." titah Jevan.
Indra pun membalikkan tubuhnya, rasanya dia malu menatap wajah Bram yang sudah ia sakiti bahkan sudah ia celakai. Dengan langkahnya yang terasa berat, rasa malu yang sudah menyeruak ke dalam hatinya, Indra berjalan kehadapan Bram.
"Maafkan aku, Bram." ucap Indra bersimpuh dibawah kaki Bram.
__ADS_1