Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Malam pertama


__ADS_3

Tanpa terasa waktu pun berlalu dengan begitu cepatnya, pasangan yang baru saja hangat di perbincangkan karena telah mengganti statusnya menjadi lebih resmi. Lain halnya dengan Violetta yang kini tengah murung, dia sedih karena tidak bisa bermain lagi dengan Aksara, Jevan dan Denis yang menyadari perubahan wajah Violetta pun menghampirinya.


"Kau kenapa Vio?" tanya Jevan.


"Kau lihat anak lelaki disana?" tunjuk Violetta kearah Aksara yang tengah makan bersama neneknya.


"Memangnya kenapa? Bukannya itu Aksara?" tanya Denis.


Denis mengingat wajah Aksara saat dia ikut mengantarkan Violetta ke desa, tapi yang jadi pertanyaan untuknya adalah mengapa Violetta murung dan menunjuk kearah Aksara.


"Dia akan pergi, katanya ikut dengan pamannya. Aku sedih, aku tidak bisa bermain lagi dengannya." ucap Violetta menunduk.


"Kenapa dia pergi?" tanya Denis.


"Aku gak tau kak Denis, dulu waktu aku masih di desa Sara yang menjadi temanku, aku tidak punya teman loh selain Sara, kak Denis, sama kak Jevan." jelas Violetta lesu.


"Gapapa, kita akan selalu ada untukmu Vio." ucap Jevan.


"Kau tidak perlu sedih, masih banyak yang mau berteman denganmu" timpal Denis.


Violetta pun tersenyum kearah dua anak lelaki dihadapannya, dia sangat senang karena ia di kelipingi orang-orang baik seperti Jevan dan Denis.


Malam pertama pun tiba.


Renata dan Bram kini tengah menikmati makan malam bersama anggota keluaega yang lainnya, Violetta berceloteh sesekali m3mbuat orang tergelitik dengan ucapannya.


"Bunda, pas aku nyanyi ditas panggung aku sebenernya gugup." ucap Violetta.


"Benarkah? Tapi gak kelihatan gugup sama sekali sih Vio, malah kedengerannya kamu itu lancar banget nyanyinya." tanya Renata.


"Sampai nahan kentun bun, saking gugupnya." ucap Violetta.


"Vio, jangan jorok bicaranya, kita lagi makan." tegur Bram.


"Upps, sorry daddy." ucap Violetta menutup mulutnya.


"Vio berbakat loh, kalau jadi penyanyi." ucap Fadlan.


"Benar, daddy setuju dengaj apa yang dikatakan oleh kalek, sebenarnya kamu menyembunyikan banyak bakat dari daddy, benarkan?" ucap Bram setuju dengan Fadlan.


"Vio bisa bela diri, nyanyi, melukis, meretas , sama main musik dad hihi." jawab Violetta cengengesan.


Uhuukk..Uhuukkk..


Bram tersedak begitu mendengar banyaknya kemampuan Violetta, selama ini yang dia tahu Violetta hanya bisa melukis dan beladiri saja, itupun sejak Violetta pulang dari desa.


"Mas, pelan-pelan makannya." ucap Renata menyodorkan air minum pada Bram.

__ADS_1


Glukk..Glukk..


Bram menenggak minumnya sampai habis, dia mengatur nafasnya yang terasa sesak akibat tersedak tadi.


"Kok daddy gak tahu sih, nak?" tanya Bram.


"Ya gimana mau tau, waktu daddy kebanyakannya di kantor sih." ucap Violetta.


"Bunda tahu?" tanya Bram menatap kearah Renata.


"Kalau melukis, bernyanyi, sama beladiri sih aku tahu, tapi kalau bermain musik dan meretas aku kurang tahu." jawab Renata.


"Pergunakanlah kemampuan mu sebaik mungkin, jangan sampai kamu menyalah gunakannya, terutama dalam hal meretas." pesan Bram.


"Iya dad," sahut Violetta.


"Vio, kalau udah makannya kita gosok gigi sekalian cuci kaki dan tangan ya." ucap Renata.


"Oke, bun." sahut Violetta.


Acara makan malam pun selesai, Renata membereskan piring koyornya ke wastafel di bantu oleh Violetta dan juga Bram. Selesai membersihkan piring kotor, Renata mengajak Violetta untuk melakukan rutinitas sebelum tidur, yaitu menggosok gigi dan mencuci kaki serta tangannya.


"Vio mau tidur sama kakek ya bun." ucap Violetta.


"Iya sayang." sahut Renata.


Renata pun mengantarkan Violetta ke kamar Fadlan, dilihatnya Fadlan sudah menunggu kedatangan cucunya.


"Iya, aku mau tidur sama kakek karena bunda sama daddy mau buatin Vio adik." celetuk Violetta.


"Ya makanya, ayok sini cepetan naik." ucap Fadlan.


"Kata siapa bunda mau buatin adik buat Vio?" tanya Renata terkejut.


"Kata om Yandi sama kak Nurul." jawab Violetta.


"Dasar dua manusia sesat." cicit Renata.


"Yasudah, biarin aja Vio tidur sama papa. Kamu ke kamar aja, suami kamu pasti udah nungguin." ucap Fadlan.


"Papa ngusir aku?" tanya Renata. Cemberut.


"Ya enggak ngusir, suami kamu pasti nungguin kamu loh, kayak yang gak paham aja. Dia udah lama loh menduda, gak main kuda-kudaan." goda Fadlan.


Pipi Renata langsung memanas mendengar ucapan ayahnya, dia tersipu malu sampai wajahnya langsung berubah merah merona. Akhirnya, Renata pun pergi dsri kamar Fadlan, dia berjalan ke kamarnya dengan jantung yang terus berdebar tak karuan.


"Aduh, takut banget." gumam Renata.

__ADS_1


Dengan Ragu Renata membuka pintu kamarnya, dan benar saja Bram sudah menunggunya diatas kasur. Suaminya bersandar di kepala ranjang tengah menatap kearahnya, tangan Renata langsung berubah dingin saking tegangnya.


"Sayang, sini." panggil Bram.


Renata berjalan dengan perlahan, ia duduk di sebelah Bram yang tengah menatap dengan tatapan memuja. Bram menarik tubuh Renata kedalam pelukannya, tanpa basa-basi lagi Bram menangkup wajah Renata, dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Renata. Renata memejamkan matanya kala benda kenyal menempel di b*b*rnya, Bram sudah menahannya sejak makan malam selesai, rasanya seperti ada aliran listrii yang mengalir di tubuh Renata.


"Sssshhhh, emm.."


Renata mendesis kemudian membuka mulutnya kala Bram menggigit b*b*r bawahnya, Bram lengsung menerobos masuk m*l***t dengan lembut sampai Renata perlahan membalas apa yang tengah Bram lakukan. Tangan Bram tidak tinggal diam, dia bermain diatas bukit tinggi sampai satu persatu kancing piyama yang digunakan Renata sudah tidak berkaitan, Renata melenguh pelan merasakan sensai baru yang ia rasakan. Lama bermain melakukan pemanasan, Bram merebahkan tubuh Renata kemudian menanggalkan pakaiannya. Bram kembali menyambar b*br Renata dengan penuh kelembutan agar sang istri merasasa nyaman, kemudian ia bermain kembali dengan bukit milik Renata, dan akhirnya apa yang readers bayangkan pun terjadi hihi.


Bram melakukannya berkali-kali sampai Renata kewalahan, bahkan Renata sudah tak memiliki tenaga untuk mengimbangi suaminya. Lama berpuasa membuat Bram tak puas jikalau hanya melakukannya sebentar saja, melihat sang istri sudsh tak berdaya Bram pun mempercepat gerakannya sampai akhirnya mencapai puncaknya.


"Aaahhhh, emmm."


Tubuh Bram ambruk diatas tubuh Renata, dia mengecup setiap inci wajah Renata tanpa terlewat. Tengah malam menjelang subuh mereka baru bisa tertidur, keduanya saling menghangatkan satu sama lain dibawah selimut yang menutupi tubuh keduanya.


.


 .


Pagi harinya.


Violetta menggeliatkan tubuhnya sambil membuka matanya, dia mencari keberadaan kakeknya yang tidak ada dikamarnya. Violetta mengubah posisinya menjadi duduk, dia berjalan kearah kamar mandi membasuh wajahnya dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.


"Kakek." panggil Violetta.


Violetta keluar dari dalam kamar Fadlan, ia berjalan mencari Fadlan ke seluruh ruangan, tetapi ia tidak menemukannya sama sekali.


Ceklek.


"Vio." panggil Fadlan.


"Kakek, tadi Vio nyariin kakek tapi kakeknya gak ada." ucap Violetta.


"Tadi kakek habis beli makanan, buat sarapan pagi." ucap Fadlan.


"Biasanya kan bunda yang masak, kenapa kakek beli?" tanya Violetta.


"Bundanya masih tidur sama daddy, kasihan mereka pasti kecapean." jawab Fadlan.


"Kecapean kenapa kek?" tanya Violetta.


"Kan kemarin mereka menikah, banyak tamu juga yang hadir jadi w ajar saja kalau mereka capek." ucap Fadlan.


"Oh gitu ya kek." ucap Violetta.


"Yaudah yuk kota sarapannya berdua aja, kalau udah saralannya Vio mandi." ucap Fadlan.

__ADS_1


"Oke, Kakek." seru Violetta.


Keduanya pun sarapan pagi hanya berdua saja, kedekatan Violetta dan juga Fadlan terbilang cukup cepat, mereka terlihat begitubsaling menyayangi satu sama lain.


__ADS_2