
Renata tak mampu berkata-kata lagi, keluarga Nurul turut hadir dalam acara tersebut. Semua orang menatap kearah Renata menunggu jawaban darinya, Bram pun gelisah takut lamarannya di tolak.
"Di terima gak nih ?" tanya Bram.
"Terima gak ya?"goda Renata.
"TERIMA, TERIMA, TERIMA," sorak orang-orang antusisas.
"WILL YOU MARRY ME?" tanya Bram lagi.
"Bismillahirrohmanirrohim, yes I WILL." ucap Renata mantap.
Prok..Prokk..Prokk..
Semua orang bertepuk tangan mendengar jawaban Renata, Bram menyematkan cincin di jari Renata dan memberikan buket bunga berwarna merah pada Renata yang kini telah resmi menjadi calon istrinya.
Grepp.
Bram memeluk tubuh Renata dengan erat, dia mengecup kepala Renata dengan lembut. Violetta berdiri memakai baju yang sama dengan Renata, dia memegang mic di bawah sinar lampu tersenyum kearah Renata.
Untuk kau yang datang tanpa ku kenal
Kau yang hadir mengubah segalanya
Pelindungku di kala rasa takutku datang
Saat kehidupanku gelap gulita
Kau datang membawa cahaya
Disaat aku terpuruk kau menarikku
Kau bawa aku keluar bersamamu
Aku lahir bukan dari rahimmu
Darah yang mengalir ditubuhku bukan darimu
Tetapi kau layaknya seorang ibu
Memberikan sentuhan yang selama ini aku impikan
Bunda.
Di setiap malam aku berdoa
Aku tak meminta harta
Aku tak meminta kuasa
Aku hanya meminta kau menjadi ibuku
Ibu yang tulus menyayangiku
Ibu yang tidak menyiksa anaknya
Ibu yang tulus merawatku
__ADS_1
Berkatmu aku tau rasanya disayang
Rasa nyaman
Rasa aman
Pelukan hangatmu membuatku tenang
Daddy.
Terimakasih kau telah sabar
Kau tidak membuangku
Kau juga merawatku
Kau pahlawanku
Aku bangga padamu
Suatu saat nanti
Aku ingin memiliki pasangan sepertimu
Kalian berdua begitu berarti bagiku
Aku ingin kalian bersatu
Jangan ada kata pisah
Berjanjilah untuk tetap bersama selamanya
I LOVE YOU BUNDA
Renata melambaikan tangannya meminta Violetta mendekat, ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Violetta. Violetta mengusap air matanya yang sudah menganak di pelupuk matanya, dia berlari dan masuk kedalam dekapan Renata.
"Terimakasih kakak, kau sudah bersedia menjadi bundaku." ucap Violetta tulus.
"Kau anak yang hebat sayang." ucap Renata.
Bram ikut memeluk tubuh Violetta, ketiganya terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, Yandi pun ikut meneteskan air matanya, dia tahu bagaimana hancurnya Violetta begitu ia disiksa dan ia juga tahu bagaimana menderitanya Bram. Bik Marni menangis sesenggukkan, ia sebagai saksi jalan hidupnya Violetta seperti apa karena dialah yang mengurus Violetta sedari bayi.
'Semoga non Vio sekarang bahagia' batin bik Marni.
Violetta mengusap air mata Renata dan juga Bram, dia tak ingin acara bahagia untuk keduanya berubah menjadi sendu.
"Sudah jangan nangis lagi, hari ini kan hari bahagia bunda sama daddy." ucap Violetta.
"Iya sayang." ucap Bram.
Keluarga Nurul memberikan ucapan selamat pada Renata dan juga Bram, tidak banyak orang yang hadir hanya ada Yandi, keluaga Nurul, dan pelayan mansion yang menghadiri acara lamaran Bram.
"Suka gak kejutannya? Katanya mau yang romantis?" tanya Bram.
"Suka, padahal aku cuman bercanda loh tuan." ucap Renata.
"Kok tuan sih?" tanya Bram tak terima.
__ADS_1
"Ya terus harus manggilnya apa?" tanya Renata.
"Ya ganti dong jangan tuan, sayang, mas, bubub, ayang atau apalah terserah." ucap Bram.
"Aku panggil mas aja gimana?" tanya Renata.
"Oke." ucap Bram.
Kaduanya pun saling melemparkan senyuman, Renata dan Bram makan malam romantis berdua tanpa Violetta. Violetta tidak mau mengganggu momen ayahnya, jadi ia lebih memilih bersama Denis dan juga Nurul.
Hari semakin larut Violetta pun sudah mulai mengantuk, Renata mengganti pakaian Violetta serta membersihkan tubuhnya. Violetta meminta Renata menceritakan sebuah dongeng untuk anak-anak sebelum tidur, Renata membacakan dongeng seperri biasanya sampai Violetta menutup matanya. Setelah dirasa Violetta sudah nyenyak Renata pun turun dari kasur, dia menyelimuti tubuh Violetta dan memberikan kecupan di keningnya.
Ceklek.
"Vio sudah tidur?" tanya Bram masuk ke dalam kamar Violetta.
"Sudah, baru aja dia tidur." jawab Renata.
"Kalau Vio udah tidur berarti sekarang tinggal daddynya," goda Bramm
"Apaan sih mas." ucap Renata memalingkan wajahnya.
Grepp.
Bram memeluk tubuh Renata dari belakang, sebuah kebiasaan barunya selain menggoda Renata adalah memeluk tubuh Renata.
"Jangan peluk aku disini dong, malu kalau dilihat sama Vio." ucap Renata.
"Kan Vio nya tidur." ucap Bram.
"Kan kita gak tahu, kalau di melek gimana?" ucap Renata.
"Yaudah kita ke kamarku saja." ucap Bram enteng.
Renata menghela nafasnya panjang, dia tidak ingin berduaan bebas bersama Bram meskipun ia dan Bram bisa dikatakan sudah ada keterikatan, meskipun ia mau tetapi Renata masih bisa berfikir jernih. Bram adalah seorang duda yang sudah pastinya berpengalaman, Renata tak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bahkan berpelukan pun sudah batas wajarnya tidak boleh lebih.
"Mas, ayo ikut aku." ucap Renata menarik tangan Bram keluar dari kamar Violetta.
Renata menutup pintu kamar Violetta dengan rapat, dia memegang tangan Bram dan menatapnya dengan lekat.
"Tuan, eh maksudku mas. Tolong dengarkan aku ya, aku tahu kamu itu adalah seorang duda yang pastinya kamu sudah lebih berpengalaman dariku, meskipun kau sudah melamarku dan aku menerima lamaranmu bukan berarti kita bebas melakukan apapun yang kita mau. Berjanjilah padaku jika memang kau serius dengan hubungan ini, aku ingin kita menjaga batasan sampai suatu saat kita sah menjadi pasangan suami istri." jelas Renata.
Bram menyunggingkan senyuman pada Renata, dia berjalan mendekat kemudian menangkup wajah Renata menggunakan kedua tangannya.
"Ini yang aku suka dari kamu sayang, selain kamu menyayangi Vio dengan tulus kau juga menjaga dirimu sebaik mungkin, aku tahu statusku itu duda bukan berarti aku juga mau merusak atau mencicil sebelum kita sah menjadi pasangan suami istri. Aku berjanji padamu aku akan menahan diriku agar tidak melakukan hal yang lebih padamu, bukankah jika seorang pria tulus mencintai wanita pilihannya akan menjaga bukan merusak? Ketahuilah sayang, aku mencintaimu dengan tulus tanpa ada maksud lain." ucap Bram.
"Terimakasih mas, kau sudah mengerti akan keinginanku." ucap Renata.
"Sama-sama cantikku, temani aku sampai terlelap. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apapun padamu hanya saja aku ingin tidur dengan nyenyak dalam belaianmu." ucap Bram.
"Baiklah, tapi kalau mas udah tidur aku langsung turun ke kamarku." ucap Renaya.
"Siap." ucap Bram.
Bram mengagndeng tangan Renata menuju kamarnya, sampai dikamar Bram mencuci kakinya dan mengganti pakaiannya di walk in closet kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasur. Bram meminta Renata duduk bersandar di kepala ranjang, sedangkan ia tidur berbantalkan kaki Renata.
"Jadinya aku kek pengasuh Vio sekaligus bapaknya." ucap Renata.
__ADS_1
"Ya gapapa, kan nanti ganti statusnya jadi istri sekaligus ibu bukan pengasuh lagi." ucap Bram.
Renata pun tersenyum menanggapi ucapan Bram, dia membelai rambut Bram sampai si empu perlahan menutup matanya, dengkuran halus pun mulai terdengar di terlinga Renata. Perlahan Renata menurunkan kepala Bram dari atas pahanya, dia menyelimuti Bram sebatas dadanya lalu keluar dari kamar Bram.