
Deg!
Tubuh Andin langsung menegang seketika, ia tak bisa berkata-kata lagi mengelak pun sudah tak bisa karena tak ada Renata yang bisa ia jadikan tumbal kesalahannya.
"Pa-papa." ucap Andin tergagap.
"Jawab!" ucap Fadlan naik satu oktaf.
"Mas ada apa? Apa yang mas pegang?" Tanya Namira.
"Tanyakan pada puterimu, pregnancy tes siapa yang ku temukan dikamarnya ini?!" ucap Fadlan.
"Andin? Apa ini milikmu?" tanya Namira.
"Ibu, ma-maafkan aku." ucap Andin dengan suara yang bergetar.
Fadlan mengepalkan tangannya dengan kuat, matanya memerah menyiratkan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun.
PLAK!
"MAS!"teriak Namira.
Fadlan menampar wajah Andin sampai meninggalkan bekas memerah di pipinya, ia sungguh kecewa dengan Andin, selama ini ia selalu memanjakannya bahkan sampai ia lupa pada puterinya sendiri.
"Kau tahu apa salahmu?!" berang Fadlan.
"Maafkan aku pa hiks.." ucap Andin menangis.
"Siapa yang telah menghamilimu? JAWAB!" bentak Fadlan.
"Re-Reno hiks." jawab Andin sesenggukkan.
Namira juga sama halnya dengan Fadlan, kecewa pada anaknya tetapi walau bagaimanapun Andin tetaplah darah dagingnya dan hanya ia yang Andin miliki karena ayahnya telah meninggal dunia. Fadlan memejamkan matanya sejenak menetralkan emosinya, penyesalan pun datang menghampiri dirinya karena sudah bersikap berat sebelah pada anak kandungnya sendiri.
"Reno pacarnya Renata?! Sekarang juga hubungi dia, suruh dia datang kesini!" amuk Fadlan.
Nafas Fadlan naik turun tak beraturan sampai dadanya pun terasa sesak, Andin menggelengkan kepalanya pelan sedangkan Namira diam saja tanpa mengeluarkan suara.
"Reno gak jawab telponku pa." ucap Andin pelan.
"Apa? Berikan nomornya padaku." ucap Fadlan.
Andin pun memberikan ponselnya seraya menampilkan kontak Reno, Fadlan mengambil hp Andin menyalin nomor telpon Reno kemudian ia melacak posisi Reno.
__ADS_1
"Tunggu disini dan jangan kemana-mana!" tegas Fadlan.
Fadlan mengambil kunci mobilnya keluar dari rumah, dengan menahan emosi ia menjalankan mobilnya melesat meninggalkan rumahnya. Namira berlalu begitu saja dari hadapan Andin, tak bisa di pungkiri dia begitu kecewa pada anaknya yang sudah mempermalukan dirinya sebagai ibunya.
"Bu, ibu." panggil Andin.
Namira menghentikan langkahnya, ia mengusap air matanya dengan kasar.
"Ibu kecewa padamu, seburuk-buruknya kelakuanku aku tidak rela kalau kau mengikuti apa yang sudah pernah aku lakukan. Sudah seringkali aku katakan padamu untuk menjaga kehormatanmu, aku bahkan berusaha memberikan kebahagian padamu sampai aku berusaha menyingkirkan Renata dari rumahnya sendiri dan memisahkannya dengan ayahnya, apakah ini balasan semua pengorbananku Andin?" ucap Namira tanpa menatap wajah puterinya.
"Maafkan aku ibu." ucap Andin menundukkan kepalanya.
"Kecewa dibalas maaf itu tidak adil, sekarang aku tidak tahu apakah mas Fadlan akan menerimamu di rumah ini lagi atau tidak? Bahkan aku pasrah jika sampai ia mengusirku dari rumah ini." ucap Namira sedih.
Andin pun menangis sejadinya atas apa yang sudah menimpanya, dia mengakui semua kesalahannya. Namira pun pergi dari kamar Andin, Andin meremas perutnya serta memukul-mukul perutnya sampai ia merasakan sensasi keram atas perbuatannya.
Fadlan mendatangi club malam dimana lokasi Reno berada, dia tahu betul seperti apa wajah Reno karena Renata pernah membawanya ke rumah dan mengenalkannya padanya. Saat Fadlan masuk dilihatnya Reno sedang bersenang-senang dengan temannya, ia pun diapit oleh dua wanita seksi di sebelahnya yang mana membuat Fadlan meradang.
"Disini kau rupanya." ucap Fadlan dingin.
Fadlan maju kehadapana Reno, dia menarik tangan Reno kemudian mendaratkan bogemnya tepat di pipinya.
Bugh.
"Brengsek!" umpat Fadlan.
Tidak ada yang berani membantu Reno dari amukan Fadlan, temannya pun hanya menyaksikan bagaimana Reno di siksa dalam keadaan setengah mabuk. Fadlan menyerang Reno dengan membabi buta, dia menyerang Reno bukan karena memang ia pelaku atas kehamilan Andin, tetapi dia menyerang Reno karena jika saja Renata yang berada di posisi Andin saat ini maka dia tidak akan bisa mengampuni dirinya sendiri.
"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, Andin sekarang sedang mengandung anakmu." ucap Fadlan menarik baju Reno.
"Apa? Mana mungkin? aku memang pernah melakukannya tetapi hanya satu kali saja dan itu pun satu tahun yang lalu, apa melakukannya satu tahun lalu bisa tekdungnya sekarang? Itu berarti kau telah salah orang om." ucap Reno jujur.
Reno menepis tangan Fadlan dari bajunya, dia mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
"Om dengarkan aku, aku rasa kau salah orang. Aku akui kalau aku berselingkuh dengan Andin dari Renata, tetapi aku hanya pernah tidur dengannya satu kali itupun dalam pengaruh obat perangsang yang dilakukan oleh Andin, selebihnya aku tidak pernah melakukan apapun pada dia karena Renata pernah berpesan padaku untuk tidak menghancurkan masa depan Andin walaupun dia bukan adik kandungnya." jelas Reno.
"Lalu siapa yang menghamili Andin? Apa kau tahu dia dekat dengan siapa saja?" tanya Fadlan.
"Coba tanyain ke temen deketnya Alea, ruamhanya dijalan xxx nomor 34." ucap Reno.
"Kau ikut aku!" titah Fadlan.
Fadlan menarik tangan Reno agar ikut bersamanya, dia tidak mungkin mempercayai ucapan Reno begitu saja tanpa ada bukti yang jelas. Fadlan menjalankan mobilnya bersama Reno yang duduk disampingnya, Reno mengarahkan Fadlan ke rumah teman dekatnya Andin.
__ADS_1
"Itu rumahnya yang cat biru." tunjuk Reno.
Fadlan menepikan mobilnya disamping rumah yang ditunjukkan Reno, dia dan Reno keluar dari mobil lalu melangkahkan kakinya tepat di rumah Alea.
Tok..Tok..Tok..
Ceklek.
"Maaf cari siapa ya?" tanya Alea.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Fadlan.
"Boleh, silahkan duduk." ucap Alea.
Alea mempersilahkan Fadlan dan juga Reno duduk di ruang tamu, ia pergi ke dapur mengambilkan air minum untuk tamunya.
"Terimakasih." ucap Fadlan.
"Reno, kenapa dengan wajah kamu?" tanya Alea.
"Nak Alea begini, benarkah kamu itu teman dekatnya Andin?" tanya Fadlan.
"Iya betul," jawab Alea.
"Kau tahu tidak Andin dekat dengan pria lain selain Reno?" tanya Fadlan.
"Mohon maaf, tuan dan Andin punya hubungan apa? Tanya Alea.
"Aku papanya." jaqab Fadlan.
"Oh, maaf om aku enggak tahu kalau om papanya Andin. Setahuku Andin itu pacaran sama Reno, tetapi dia sering jalan sama Sammy." ucap Alea.
"Sammy? Kau tahu alamatnya?" tanya Fadlan.
"Rumahnya gak jauh dari rumahku, hanya terhalang tiga rumah dari sini." jawab Alea.
"Bisakah kau antarkan aku ke rumah Sammy?" tanya Fadlan.
"Tentu saja om." ucap Alea.
Ketiganya pun bangkit dari duduknya, Alea mengantarkan Fadlan ke rumah Sammy. Rumah Sammy dekat dengan rumah Alea jadi memudahkannya untuk menemuinya, sesampainya di rumah Sammy terlihat rumah tersebut seperti tiada penghuni, namun Fadlan tetap mengetuk pintunya mencari Sammy.
Tokk..Tok..Tok..
__ADS_1
Fadlan mencoba mengetuk pintu beberapa kali, setelah lama mengetuk pintu akhirnya ada yang membukanya. Seorang pria bertubuh tinggi, berkulit putih, dan berambut pirang membuka pintu rumahnya, dia tersentak melihat Fadlan yang berdiri dengan wajah dinginnya. Fadlan melihat reaksi yang di tunjukkan oleh pria yang ia yakini bernama Sammy pun seratus persen yakin kalau Sammy lah yang menghamili Andin, dia lantas menarik tangan Sammy munju mobilnya diikuti oleh Reno atas perintah Fadlan.
"Hey, aku mau dibawa kemana ini?" tanya Sammy panik.