Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Bonus yang lebih besar


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh Violetta dan Renata sudsh sampai di halaman rumah sakit, keduanya keluar di dampingi oleh Yandi untuk masuk kedalam rumah sakit.


Tak lama kemudian.


Yandi membuka pintu ruang rawat Bram, Violetta dan Renata berdiri diambang pintu melihat Bram yang sedang terbaring diatas hospital bed.


"Daddy." panggil Vio dengan suara tercekat.


Mendengar suara anaknya Bram lantas membuka matanya, dia berusaha memposisikan tubuhnya untuk duduk meskipun masih terasa nyeri. Aldo dan Regan yang masih berada di dalam ruang rawat Bram pun membantunya, Violetta sedikit berlari kearah ayahnya.


"Daddy, Vio kangen hiks." ucap Violetta.


"Daddy juga kangen sama Vio." ucap Bram.


Violetta naik keatas memeluk ayahnya, dia menumpahkan semua kerinduan yang selama ini ia pendam saat jauh dari ayahnya. Saat Violetta melepaskan pukannya dari Bram dia melihat wajah Regan, Violetta masih ingat betul bagaimana rupa Regan yang dulu pernah menjalin hubungan dengan ibunya.


"Kau?" tunjuk Violetta.


"Hai Vio, kau pasti masih mengingatku bukan? Aku meminta maaf sebesar-besarnya padamu, gara-gara ulahku kau mengalami trauma berat." ucap Regan dengan bersungguh-sungguh.


Bram mengusap rambut Violetta dengan lembut, Renata pun melangkahkan kakinta tepat dihadapan Violetta.


"Vio masih ingat apa yang diucapkan oleh Aksara?" tanya Renata.


'Maafkan selagi orang itu memiliki i'tikad baik pada kita, aku tidak tahu seberapa dalam luka dihatimu, tetapi yang perlu kau ingat dan garis bawahi yang bersalah dan bertanggung jawab atas penderitaanmu adalah ibumu sendiri.'


Violetta diam tanpa bersuara, Regan menundukkan kepalanya pasrah jika memang Violetta tak mau memaafkan kesalahannya. Aldo mengusap punggung Regan memberi kekuatan pada atasannya sekaligus sahabatnya itu, Violetta mengingat kembali kejadian di masa lalu dimana Regan pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Bram dan juga sampai terakhir kalinya ia melihat Regan. Selama Bilqis dan Regan berhubungan dibelakang Bram sekalipun Regan tak pernah memarahi, membentak ataupun bersikap kasar padanya, karena pada dasarnya Regan berfikir ia sama sekali tidak perlu mengurusi urusan Bilqis yang lain, dia hanya fokus pada cintanya pada Bilqis saat itu.


"Saat kejadian aku disiksa oleh ibuku, kenapa kau tidak datang menolongku?" pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari mulut kecil Violetta.


"Saat itu, aku tidak tahu kalau ada keributan. karena saat itu aku sedang menggunakan earphone mendengarkan laporan dari staffku, aku juga tidak melihat kedatangan ayahmu. Tetapi saat aku selesai mendengarkan laporan terdengar suara keributan dari dalam kamar, aku segera menghampiri ayahmua yang sedang berdebat dengan ibumu dan aku tidak melihatmu sama sekali, akhirnya aku pergi bersama ibumu dari rumah itu, selebihnya aku tidak tahu apapun lagi." jelas Regan dengan jujur.


"Apakah ucapanmu bisa aku percaya?" tanya Violetta memicingkan matanya.

__ADS_1


"Tentu saja, aku lebih baik jujur daripada harus berbohong dan membuat hatiku tak tenang sendiri." ucap Regan.


"Baiklah, aku memaafkanmu." ucap Violetta.


Regan begitu lega mendengarnya, dia mengangkat kedua sudut bibirnya kearah Violetta. Renata bangga pada Violetta yang kini bisa berfikir lebih bijak lagi, Bram mengecup pipi Violetta dengan bertubi-tubi sampai si empu kegelian.


"Hihi..daddy udah dong geli." ucap Violetta.


"Habisnya kamu gemesin, semakin kesini semakin pinter." ucap Bram gemas.


"Iya dong, Vio kan anak daddy yang pintar jadi gak perlu dihiraukan lagi." ucap Violetta bangga.


"Heh, tunggu! Kamu udah bisa bilang R?" tanya Bram tersentak.


"Vio sekarang udah bisa bicara dengan jelas tuan." ucap Renata menjawab pertanyaan Bram.


Bram sangat senang sekali, setelah sekian lama ia berpisah dengan Violetta ternyata ada perubahan yang tak bisa ia saksikan, dilihatnya Violetta terlihat lebih riang dan fresh dari sebelumnya. Bram menyunggingkan senyuman kepada Renata, wajah Renata langsung saja bersemu merah entah mengapa dia jadi salah tingkah sendiri.


'Plisss, jangan senyum lagi nanti gue diabetes' batin Renata.


Regan dan Aldo saling bertukar pandangan, keduanya seolah tahu kalau Renata sedang malu-malu. Tak ingin menjadi nyamuk keduanya pun pamit pulang, Renata menundukkan kepalanya menyembunyikan semburat merah di wajahnya.


'Akhirnya aku bisa melihat wajahmu kembali Renata' batin Bram.


Sejak satu bulan terakhir Bram selalu merindukan Renata dan juga Violetta, dia merasa kehilangan sosok Renata yang seringkali di godanya, apalagi melihat semburat merah di pipinya yang putih mulus membuat Bram tak bisa tidur nyenyak.


"Kak, gue izin ke kantin dulu ya? Laper nih." ucap Yandi.


"Om, Vio ikut." seru Violetta.


"Yaudah ayo turun," ucap Yandi.


"Jagain Vio Yan, jangan sampai dia kenapa-napa dan jangan jajan sembarangan." ucap Bram.

__ADS_1


"Yoi kak, Rena kau mau ikut juga?" tanya Yandi pada Renata.


"Renata disini saja, kasihan dia pasti capek." seru Bram.


"Oh yaudah, yuk princess kita makan-makan." ucap Yandi.


"Gaskeeuunn om." ucap Violetta heboh.


Yandi terkekeh geli mendengarnya, dia menggendong Violetta di belakang punggungnya turun kelantai bawah menuju rumah sakit. Kini hanya tinggal Renata dan Bram yang berada di ruangan tersebut, Renata merasa canggung jika harus berduaan dengan Bram.


"Renata." panggil Bram.


"I-iya tuan, kau butuh sesuatu?" tanya Renata gugup.


"Tidak, aku hanya ingin bertanya bagaimana perkembangan anakku selama di desa?" tanya Bram.


Bram sebenarnya sudah mengetahui perkembangan Violetta dari pak Aji, namun iaingin mendengar langsung dari mulut Renata selaku pengasuh Violetta.


"Banyak sekali perkembangannya tuan, sejak Vio tinggal di desa dan berteman dengan Aksara begitu banyak hal-hal baru yang ia pelajari disana. Di mulai dari berburu ikan, belajar silat, mencari buah-buahan dan sayur yang bisa di makan di tengah hutan, Aksara juga mengajarkan Vio untuk memperjelas pengucapannya dalam berbicara dan tuan pun melihat hasilnya, kami berdua bekerjasama membantu Vio keluar dari traumanya, alhamdulillah sekarang Vio sudah tidak pernah tantrum ataupun bermimpi buruk lagi."jelas Renata.


"Sayang sekali, aku tidak bisa menyaksikan semuanya Renata." ucap Bram sedih.


"Jika kita mau mencapai sebuah kesuksesan maka harua ada yang di korbankan, kau ingin Vio sembuh dari traumanya dengan membawanya ke desa, lihatlah hasilnya sekarang Vio bisa keluar dari traumanya dan menjadi anak yang riang seperti anak-anak pada umumnya." ucap Renata.


"Terimakasih untuk semuanya." ucap Bram.


"Sama-sama tuan, jangan lupa bonusnya hihihi." ucap Renata cengengesan.


"Gampang itu mah, mau bonus yang lebih gede lagi enggak?" tanya Bram.


"Mau dong." ucap Renata berbinar.


"Kamu bisa dapet bonus yang lebih gede lagi kalau kamu mau jadi istri saya, gimana?" ucap Bram.

__ADS_1


Deg!


Renata langsung terdiam di tempatnya, jantungnya berdegup dengan kencang bahkan seketika otaknya blank mendengar ucapan Bram.


__ADS_2