
Seorang pria tengah tersenyum devil diatas singgasananya, dia senang karena serangan demi serangan yang dia lakukan membuahkan hasil meskipun orang yang di bencinya tidak tewas seketika.
"Dimana dia sekarang?" tanyanya dingin.
"Dia sekarang ada di rumah sakit, anak buah kita berhasil melukainya." jawab anak buah kepercayaannya.
"Heh, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku Bram." ucapnya tersenyun devil.
Pria tersebut bangkit dari duduknya, ia berjalan kearah jendela dimana hamparan rumput serta pepohonan begitu indah dan asri.
"Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku!" tegasnya dengan mengepalkan tangannya.
Renata dan juga Violetta sudah sampai di kota, mereka mendatangi mansion Bram namun tidak ada satu orang pun di dalamnya, di sekeliling mansion terdapat garis polisi terutama dibelakang.
"Sepertinya tidak ada orang disini non." ucap pak Aji.
"Pak Aji punya nomor tuan Bram atau Yandi?" tanya Renata.
"Ada non tapi saya gak bisa hubungi, soalnya kuotanya habis." jawab pak Aji.
"Yaudah, coba saya lihat nomornya biar saya aja yang telpon." ucap Renata.
Pak Aji menyerahkan handphonenya dan memperlihatkan kontak Bram, Renata segera mencatatnya dan langsung menghubungi majikannya.
Tuuttt..Tuuuttt..
"Hallo, maaf dengan siapa ya?" tanya seseorang di sebrang.
"Hallo, maaf ini dengan siapa ya? tuan Bram nya kemana ya kalau boleh tahu?" tanya Renata.
"Saya Aldo, Bram lagi di toilet." ucap Aldo.
"Kalau sudah keluar, tolong berikan ponselnya pada tuan Bram, ada yang mau saya bicarakan." ucap Renata.
"Baik tunggu sebentar." ucap Aldo.
Ceklek.
Terdengar suara pintu terbuka dari dalam telpon, Renata langsung memberikan telponnya pada Violetta karena dia yakin kalau Bram sudah keluar dari toiletnya.
"Hallo," ucap Bram.
"Daddy," panggil Violetta.
"Sayang kamu nelpon pakai nomor siapa?" tanya Bram.
__ADS_1
"Daddy, Vio tahu kalau rumah kita kebakaran jadi Vio sama kakak pulang." ucap Violetta.
"Ya ampun sayang, sekarang kamu dimana biar om Yandi yang jemput kamu." ucap Bram.
"Vio dirumah daddy." ucap Violetta.
"Yasudah, kamu tutup dulu telponnya sebentar lagi om Yandi pasti kesana." ucap Bram.
"Ya dad." ucap Violetta.
Tuutt.
Violetta mematikan ponselnya lalu menyerahkannya pada Renata.
"Nanti om Yandi jemput kesini kata daddy." ucap Violetta.
"Yaudah, kita tunggu saja disini." ucap Renata.
Di rumah sakit.
Bram memanggil Yandi yang sedang duduk di sofa, dia memerintahkan Yandi menjemput Violetta dan Renata di mansionnya yang terbakar, Yandi langsung bangkit dari duduknya pergi malaksanakan perintah Bram.
"Sorry, tadi aku ngangkat telpon kamu takutnya penting." ucap Aldo.
"Memangnya kenapa kau mengirim anakmu ke desa?" tanya Aldo.
"Anakku mengalami trauma berat akibat ulah ibunya, Regan juga tahu ceritanya." ucap Bram.
"Apa karena kejadian dulu pas kau tiba-tiba datang? Menceraikan Bilqis?" tanya Regan.
Bram menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ingatan Regan langsung kembali ke masa lalu dimana ia datang menemui Bilqis.
"Maafkan aku, semuanya adalah salahku." ucap Regan menundukkan kepalanya.
"Tidak sepenuhnya salahmu, disini yang paling bersalah adalah setan yang berkedok seorang ibu." ucap Bram.
"Aku akan meminta maaf pada puterimu, jika kau ingin memenjarakanku silahkan saja aku pasrah karena memang perbuatanku tidak layak diampuni." ucap Regan.
"Aku memang tidak membenarkan perbuatanmu, tetapi disini aku juga memikirkan perasaan ibumu jika dia mengetahui kau di penjara, bukankah sekarang dia sedang sakit parah? Aku masih memiliki hati nurani, tidak mungkin bagiku menyakiti hati seorang ibu. Aku memaafkan perbuatanmu, tetapi aku tidak akan pernah melupakannya." ucap Bram.
Regan semakin menundukkan kepalanya malu atas perbuatan yang pernah ia lakukan pada Bram, disaat dirinya tersakiti pun Bram masih memberi kesempatan kepadanya karena ibunya yang sedang terbaring di rumah sakit. Regan sudah meminta maaf berkali-kali pada Bram dan menyerahkan dirinya jika memang Bram ingin memenjarakannya atas semua kesalahannya, tetapi Bram tidak melakukannya karena memang ia memiliki tujuan lain.
"Aku punya syarat untukmu." ucap Bram.
"Katakan saja, aku akan berusaha jika memang aku mampu." ucap Regan mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Kau harus membantuku mencari siapa dalang dari balik penyerangan yang ditujukkan padaku, kau juga harus membantuku menyingkirkan Bilqis dan membuatnya menderita seperti apa yang dirasakan oleh anakku, jika kau bisa memenuhi apa yang aku minta maka jaminannya perusahaanmu akan pulih kembali seperti semula." ucap Bram.
"Aku setuju." ucap Regan mantap.
Aldo senang akhirnya Regan bisa berfikir positif dan kembali pada jalan yang benar, jika Regan tetap egois dia tidak yakin kalau Regan tidak akan baik-baik saja.
Yandi sudah sampai di mansion Bram, dilihatnya Renata dan juga Violetta tengah duduk lesehan di halaman mansion.
"Ngapain lesehan di bawah?" tanya Yandi menghampiri Violetta.
"Kan nungguin om Yandi." jawab Violetta.
"Yaudah ayo berdiri, kita temui daddy mu." ajak Yandi.
"Emang daddy dimana om?" tanya Violetta.
"Ada di rumah sakit, nanti kamu juga bakal tahu." ucap Yandi.
Violetta dan Renata ikut bersama Yandi, sedangkan pak Aji lebih memilih pulang karena istrinya memberitahukan padanya akan segera melahirkan. Sebelumnya pak Aji di telpon dari rumahnya sebelum Yandi datang, begitu Yandi datang pak Aji langsung saja pergi ke rumahnya.
Renata duduk di depan lebih tepatnya di samping Yandi, dia memangku Violetta yang tak ingin lepas darinya. Yandi langsung menancapkan gasnya pergi dari mansion, dia mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dimana Bram berada.
"Renata kenapa kalian balik ke sini? Bukannya daddy mu bilang kalau dia yang akan menjemput ke desa?" tanya Yandi.
"Tadinya kami bertiga yaitu aku, Vio sama Aksara berniat menonton tv di rumah tuan Zanid, pas kita lagi nonton tiba-tiba ada berita yang lewat menayangkan sebuah rumah yang terbakar, saat aku melihatnya dengan jelas ternyata rumah tuan Bram jadinya Vio ingin segera kembali pulang khawatir sama daddynya." jelas Renata.
"Ohh gitu ya, aku juga gak tahu dengan jelas kejadiannya kayak gimana soalnya aku lagi ngerjain tugas dari kak Bram." ucap Yandi.
"Apa tuan Bram terluka?" tanya Renata.
"Iya, dia terlibat perkelahian dengan orang yang dicurigainya tapi dia malah kena tusuk di perutnya." ucap Yandi.
"APA?" beo Renata dan Violetta.
"Huhuhu, daddy." tangis Violetta pecah saat itu juga.
"Ups, ini mulut kagak ada remnya deh hiihh pikasebeleun (menyebalkan)." ucap Yandi memukul-mukul mulutnya.
"Vio udah gapap, daddy baik-baik aja kok, iya kan om?" ucap Renata meminta persetujuan Yandi.
Renata menatap tajam kearah Yandi, dengan gerakan cepat Yandi menganggukkan kepalanya takut melihat tatapan yang dilayangkan oleh Renata.
"I-iya Vio, daddy cuman luka sedikit kok sekarang juga daddy udah sehat kok, buktinya tadi nelpon sama Vio." ucap Yandi gugup.
Sorry upnya satu lagi masih belum fit 🙏
__ADS_1