
Bram heran melihat Violetta yang sedang serius dengan laptopnya sembari senyum-senyum sendiri, tak lama kemudiaan Renata datang mengajak Bram dan juga Violetta untuk makan bersama.
"Tuan, Vio, ayo makan dulu." ajak Renata.
"Ayo, Vio matiin dulu laptopnya sayang." ucap Bram.
"Sebentar daddy, ini mau selesai kok." ucap Violetta.
"Pak Yandi nya kemana?" tanya Renata.
"Ngapain kamu nanyain Yandi? Kamu suka ya sama Yandi?" tanya Bram dengan nada tak suka.
"Astagfirullah tuan, kalau mau fitnah yang kira-kira dong." ucap Renata cemberut.
"Ya habisnya kamu tiba-tiba nanyain Yandi." ucap Bram.
"Kan mau ngajak makan bareng biar sekalian, gimana seh." seru Renata.
"Daddy jangan jealous kek gitu, nanti bundanya marah loh gamau ngobrom lagi sama daddy." ucap Violetta tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Iya maaf." ucap Bram.
__ADS_1
Renata memutar bola matanya jengah, dia heran dengan sikap Bram yang terkesan sangat berubah padanya, kadang tiba-tiba manis, asin, sepet dan menyebalkan. Violetta menytup laptopnya seraya tersenyum puas, Renata dan Bram heran meligat tingkah Violetta yang terus mengukir senyum di bibirnya.
"Vio kamu habis ngapain sih senyum-senyum sendiri kayak gitu? Jangan bikin kakak takut loh Vio." tanya Renata.
"Iya Vio, kamu udah sembuh kan nak?" tambah Bram.
"Ck, kalian berdua ini gak percaya ya kalau Vio udah sembuh? liat Vio senyum aja kalian ketakutan, tenang aja nanti kalian juga bakalan tahu kenapa Vio senyum-senyum sendiri yang apsti ada alasannya." ucap Violetta berdecak.
Violetta berjalan terlebih dahulu ke meja makan, Renata dan Bram mengikutinya dari belakang. Sesampainya di meja makan Renata mengambilkan nasi untuk Violetta dan juga Bram, bik Marni mengambilkan gelas dan juga air minum untuk diletakkan di meja makan.
"Bik panggil yang lainnya untuk makan." ucap Bram.
"Mereka lagi makan di belakang tuan," jawab bik Marni.
"Katanya mereka gak enak sama Aden, jadi mereka lebih milih makan di belakang karena emang ada meja makan disana den." ucap bik Marni.
"Oh yaudah, bibik makan disini aja." ucap Bram.
"Iya den." ucap bik Marni.
Bik Marni pun ikut bergabung di meja makan bersama Bram dan yang lainnya, Bram meminta Renata mengambilkan lauk untuknya begitupun Violetta.
__ADS_1
"Vio mau kakak suapin?" tanya Violetta.
"Mau dong bun." jawab Violetta.
"Daddynya juga mau bun." seru Bram.
"Apa sih tuan? Tuan kan udah besar." ucap Renata.
"Padahal lagi sakit loh." ucap Bram menujukkan raut wajah sedihnya.
"Haiisssh, yaudah sini mana piringnya." ucap Renata.
Bram pun tersenyum penuh kemenangan, Renata mengambil piring Bram lalu menyuapkan makanan pada Violetta secara bergantian.
"Kau juga makan Rena, gapapa makan satu piring berdua saja denganku biar so sweet gitu." ucap Bram.
"Tidak, nanti saja." tolak Renata.
Renata kembali menyuapi Bram dan Violetta, rasa makanannya kini dua kali lipat lebih nikmat karena disuapi oleh bibdadari tak bersayap yang sedang menyuapinya.
'Gak sabar deh kalau nanti sampai kita nikah Rena, sepertinya aku akan merasa menjadi pria paling beruntung dan bahagia di dunia' batin Bram.
__ADS_1
Selesai menyuapi anak asuhnya beserta bayi besarnya Renata pun mengambil piring baru, dia makan sendirian sedangkan bik Marni pun sudah menyelesaikan makanannya begitupun Bram dan Violetta. Violetta turun dari kursi menuju ruang tamu, dia kembali mengutak atik laptop milik ayahnya. Bram lebih memilih menemani Renata makan, Renata risih karena Bram terus menatap kearahnya namun dia malas berdebat dengan majikannya itu.