
Sania menyeka air matanya, tak sia-sia ia mendesak dan memohon Yuli untuk memberitahukan dimana Renata tinggal. Fadlan terus mendekap erat tubuh Renata, anaknya yang selalu ia banggakan sebelum hadirnya Namira dan Andin kedalam kehidupannya, wajah cantik Renata sama persis dengan mendiang ibunya mengingatkan Fadlan akan kenangan bersama istrinya dahulu.
"HUAAAAA..." Violetta menangis dengan keras.
Bram dan yang lainnya begitu terkejut kala Violetta menangis dengan begitu kencangnya, Nurul sampai memeluk tubuh kekasihnya dengan erat karena syok.
"BUSET." teriak Nurul.
"Issh, diem yang." protes Yandi.
"Kaget yang, refleks." ucap Nurul.
"Ssstt, anak daddy kenapa nangisnya kenceng banget?" tanya Bram.
"Soalnya bunda nangis, jadi Vio ikut sedih." jawab Violetta di sela tangisnya.
"Bunda?" tanya Fadlan menatap Renata dengan penuh tanda tanya.
Renata menghampiri Bram lalu meminta Violetta untuk di berikan padanya, ia memperkenalkan Violetta kepada ayahnya.
"Papa, kenalin ini namanya Violetta. Dia anaknya mas Bram, calon suami aku dan Vio adalah calon anak sambungku." ucap Renata.
"Perkenalkan, nama saya Bramasta." ucap Bram mendekat kearah Fadlan, ia juga mengulurkan tangannya.
"Bramasta!?" beo Fadlan.
Siapa yang tidak kenal Fadlan, pria cerdas yang kini tengah menduduki posisi kedua orang terkaya di negaranya. Mulut Fadlan menganga serta matanya melotot saking terkejutnya, Renata mengulas senyumnya kearah Fadlan sampai akhirnya Fadlan pun menerima uluran tangan Bram.
__ADS_1
"Bunda, dia siapa?" tanya Violetta.
"Ini papa nya bunda, itu berarti kakek Vio." jawab Violetta.
"Oh kakek, yeee Vio punya kakek." ucap Violetta girang.
Violetta meminta Renata untuk menurunkan tubuhnya, dia segera naik keatas ranjang pasien lalu duduk di pangkuan Fadlan. Violetta menyalimi tangan Fadlan dengan senyumnya yang merekah, dia senang karena ia punya kakek.
"Vio, turun sayang kasihan kakeknya lagi sakit." ucap Bram.
"Tidak papa, Vio sangat pintar ya," ucap Fadlan.
Renata memberikan isyarat pada Bram untuk membiarkan Violetta bersama ayahnya, dilihatnya Violetta berceloteh pada Fadlan layaknya seorang cucu yang tengah berbagi cerita pada kekeknya. Sesekali Fadlan tertawa lebar mendengar celotehan Violetta, dia sangat menyukai Violetta yang periang mengingatkannya pada Renata sewaktu ia masih kecil.
"Kakek, bunda gak pernah cerita kalau aku punya kakek." ucap Violetta.
"Iya juga sih." ucap Violetta.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Fadlan tiba-tiba.
"Secepatnya." jawab Bram mantap.
"Emang papa restuin hubungan aku sama mas Bram?" tanya Renata.
"Tentu saja, selama itu bisa membuat kamu bahagia. Papa juga senang punya cucu, ya walaupun cucu ketemu gede." jawab Fadlan.
Renata terkekeh mendengarnya, dia senang kalau memang ayahnya benar-benar merestui hubungannya dengan Bram. Sania turut bahagia melihat Fadlan kembali tersenyum, ia menjadi saksi bagaimana hancurnya Fadlan menghadapi kenyataan, dia juga tahu bagimana gilanya Fadlan saat terus mencari keberadaan Renata.
__ADS_1
"Terimakasih sudah merestui hubungan kami, aku akan mempersiapkan semua secepatnya. sekali lagi aku mohon doa restu, aku ingin meminang putrimu sebagai istri dan juga ibu dari anak-anakku kelak." ucap Bram.
"Aku merestui kalian berdua, semoga niat baik kallian dilancarkan. Di sisa umurku yang sekarang semakin menua, aku ingin menghabiskan waktuku bersama anakku dan juga cucuku suatu saat nanti. Aku sudah menyesali perbuatan yang sudah aku lakukan, aku harap kau bisa menjaga dan membahagiakan putriku satu-satunya." ucap Fadlan.
"Tanpa diminta pun aku pasti akan melakukannya." ucap Bram yakin.
Nurul dan Yandi sangat senang melihat pemandangan hangat di depannya, mereka salut melihat kebesaran hati Renat , dia mau memaafkan orang lain yang sudah menyakitinya.
.
.
Berbeda dengan Renata yang tengah di selimuti kebahagiaan, Namira justru kini tengah luntang lantung di jalanan. Namira sudah mendatangi beberapa pria yang pernah menjadi selingkuhannya, namun tak ada satupun yang mau menampungnya seperti saat ia masih menjadi istri sah Fadlan, dulu tanpa diminta pun banyak pria yang mendekatinya berbeda dengan sekarang, dia malah dijauhi bahkan tak segan-segan di usir.
"Apa ini karma?" gumam Namira.
Namira tak tahu dimana Andin tinggal, dan dia juga tidak tahu bagaimana keadaan putrinya sekarang. Sekelebatan ingatan dimana ia selalu dimanjakan oleh Fadlan, kasih sayang yang terus mengalir tanpa harus ia minta, bahkan Fadlan begitu menyayangi anaknya. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur dan semua impiannya pun kini telah terkubur, dia hadir sebagai perusak dan berakhir dengan penyesalan disertai kehilangan.
Andin dan sammy sudah resmi menikah atas desakan Fadlan, kini mereka hidup berdua didalam rumah yang sederhana tanpa ada restu dari orangtua Sammy. Saat mendengar Sammy menghamili Andin, kedua orang tua Sammy begitu marah dan tidak sudi menerima kehadiran Andin. Sammy tak mungkin meninggalkan Andin karena memang dia mencintainya, dia juga di desak oleh Fadlan yang akhirnya ia memutuskan pergi dari rumah orang tuanya, ia lebih memilih hidup sederhana meskipun kadan Andin seringkali membuatnya jengkel.
"Ssshhhh, Sam perutku keram." desis Andin.
"Kamu kenapa? Kamu belum makan ya? Biasanya kamu suka ngeluh keram kalau telat makan." cecar Sammy khawatir.
"Iya Sam, aku keinget terus sama ibu jadi gak selera makan." jawab Andin.
"Astaga, udah berapa kali aku bilang sama kamu! Kalau kamu telat makan sama saja kamu perlahan bunuh diri kamu sendiri sama bayi yang ada di dalam kandungan kamu." sentak Sammy.
__ADS_1
"Maaf." cicit Andin dengan kepala tertunduk.