
Keesokan harinya.
Renata terbangun dari tidurnya bersamaan dengan Violetta, Violetta menggeliatkan tubuhnya mengucek matanya yang masih enggan untuk terbuka.
"Tatak, masih sakit?" tanya Violetta.
"Enggak kok Vio, kakak sekarang udah lebih baik kok." jawab Renata.
"Maafin Vio ya, gala-gala Vio tatak telluka." ucap Violetta.
"Enggak kok, ini bukan karna Vio kok jadi Vio jangan ngerasa bersalah kayak gitu." ucap Renata.
Ceklek.
Bram masuk kedalam kamar Renata, dia membawa sarapan dan juga segelas susu untuk Violetta.
"Vio mandi dulu yuk? Nanti sarapan bareng kakak ya." ajak Bram.
"Iya daddy." ucap Violetta.
"Rena sarapanlah dulu, mau aku suapi lagi?" tanya Bram.
"Tidak, terimakasih aku juga bisa melakukannya sendiri." jawab Renata.
Bram meletakan sarapannya diatas meja, dia menggendong tubuh Violetta keluar kamar Renata.
"Daddy Vio mandinya sendili aja, daddy jangan ingtip Vio." ucap Violetta.
"Iya princess." ucap Bram.
Bram sampai dikamar Violetta, dia memberikan handuk kecil kepada anaknya sedangkan dirinya menyiapkan baju yang akan dipakai Violetta.
5 menit kemudian.
Violetta keluar dari kamar mandinya dengan rambut yang basah, benar saja Violetta melakukannya sendiri tanpa ingin dibantu oleh ayahnya. Bram menyunggingkan senyumannya kearah Violetta, dia bangga meskipun anaknya masih kecil tapi kepintarannya setara dengan anak yang sudah beranjak dewasa.
"Vio daddy bantu pake bajunya ya?" tanya Bram.
"No daddy, Vio sendili aja." jawab Violetta.
"Padahal daddy gak bakal ngintip loh." ucap Bram.
"Ndak, daddy tunggu dilual dulu." titah Violetta.
Bram menuruti perintah sang anak, dia keluar dari kamar Violetta menunggu dibalik pintu. Violetta bergegas memakai bajunya, setelah selesai dia memanggil ayahnya untuk kembali masuk.
"Wihh, pinter banget anak daddy." puji Bram.
"Iya dong," ucap Violetta bangga.
"Vio sini duduk disamping daddy, sambil disisirin rambutnya ada yang mau daddy omongin sama Vio." ucap Bram menepuk kasur meminta Vio duduk disampingnya.
Violetta mengusap-usap rambutnya menggunakan handuk kecilnya, dia berjalan kearah Bram kemudian mendudukkan tubuhnya di samping sang ayah.
"Ada apa daddy?" tanya Violetta.
"Vio rencananya daddy akan bawa kamu dan kakak ke tempat yang sangat jauh untuk beberapa hari kedepan sampai Vio udah gak ketakutan lagi, disini terlalu berbahaya untuk Vio dan kakak karena ada orang-orang yang memang berniat mencelakai kalian berdua, nanti setelah Vio sembuh daddy akan jemput Vio." jelas Bram.
__ADS_1
"Daddy kenapa mommy benci Vio? Apa mommy tidak suka kehadilan Vio?"tanya Violetta.
"Sssstt, anak daddy tidak boleh bicara seperti itu. Nanti kalau Vio udah besar Vio akan mengerti, lebih baik sekarang Vio fokus dengan kesembuhan Vio ya? Gapapa kan kalau daddy kirim Vio ke suatu tempat? Vio janji ya harus sembuh? Daddy gak mau lihat Vio ketakutan lagi, daddy juga gak mau Vio sampai melukai diri sendiri lagi, daddy gak mau kehilangan kamu karena hanya kamu satu-satunya yang daddy miliki di dunia ini sayang." ucap Bram seraya memberikan pertanyaan beruntun dengan mata yang mulai memanas.
Bram tidak mau menyembunyikan apapun dari Violetta, dia lebih memilih jujur daripada suatu saat Violetta marah padanya karena mengirimkannya ke tempat yang jauh. Dia berharap Violetta mau berusaha melawan traumanya dan kembali ceria seperti anak pada umumnya, jujur saja sakit rasanya melihat orang yang kita sayangi kesakitan apalagi Bram hanya memiliki Violetta dia tidak mau kehilangan orang yang ia sayangi untul ke sekian kalinya setelah orangtuanya pergi.
"Iya daddy ndak papa, maafin Vio udah susahin daddy. Vio janji Vio akan belusaha lagi, tapi Vio masih suka ingat mommy Iqis yang pecut Vio." ucap Violetta.
"Vio harus lupain semuanya, semua demi diri kamu dan demi daddy Vio haru kuat oke?" ucap Bram.
"Oke daddy." seru Violetta.
"Yaudah, yuk turun Vio sarapan sama kakak ya? Daddy sarapannya di meja makan aja." ucap Bram.
Violetta mengacungkan jempolnya pada Bram, sebenarnya Violetta selalu berusaha melupakan semua kejadian pahit yang pernah dialaminya, tetapi bekas luka diatangannya dan juga ikat pinggang yang digunakan untuk mencambuk Violetta selalu saja berputar didalam kepalanya.
'Vio akan belusaha lagi daddy' batin Violetta.
Saat Bram turun menyusuri tangga terdengar suara keributan dari arah luar, dia penasaran dengan apa yang terjadi jadi ia berjalan kearah pintu utama sambil menggendong Violetta.
Braakk..
Sebelum Bram membuka pintunya ternyata pintu sudah terlebih dahulu terbuka, dilihatnya Bilqis datang dengan rambut acak-acakan karena memberontak pada penjaga yang melarangnya masuk ke dalam rumah Bram.
"Daddy." ucap Violetta ketakutan.
Tubuh Violetta langsung bergetar hebat, dia mengeratkan tangannya di leher Bram. Bukan hanya karena kedatangan Bilqis dia ketakutan, tetapi ia melihat ikat pinggang yang sama persis seperti ikat pinggang yang dulu dipakai untuk mencambuknya namun berbeda warna.
"Mau apa lagi kamu kesini hah?! Pergi!" usir Bram.
"Mas, kenapa kamu ngusir aku? lihat ini gara-gara penjaga bodoh kamu penampilanku berantakan." ucap Bilqis tidak terima.
Violetta semakin ketakutan mendengar suara Bilqis, dia mulai menangis dan menggigit jarinya.
"Lihat? Akibat ulahmu anakku jadi menderita." ucap Bram marah.
"Emangnya apa yang aku lakukan? Perasaan aku tidak melakukan apapun?" tanya Bilqis dengan santainya.
'Cihh, kayaknya anak ini gila. Heh, bukan urusanku juga mau dia menderita, gila sampai mati pun aku tidak peduli toh kehadirannya juga aku gak pernah mengharapkannya sama sekali' batin Bilqis.
Bram mengepalkan tangannya geram pada Bilqis, ingin sekali ia mencekik leher mantan istrinya itu tetapi ia tidak mungkin melakukannya dihadapan puteri ya ya g sedang ketakutan. Para penjaga datang menyeret kembali Bilqis keluar dari rumah Bram, Bilqis semakin memberontak tetapi kali ini para penjaga tidak akan kalah karena pekerjaan mereka taruhannya.
"Mas, jangan usir aku mas" ucap Bilqis.
"Mas,Maass...MASSS " teriak Bilqis.
Bram tidak menghiraukan teriakan Bilqis, dia lebih memilih pergi ke kamar Renata membawa Violetta agar bisa kembali tenang. Renata melihat Violetta yang masih ketakutan, dia segera merentangkan tangannya pada Violetta agar masuk kedalam dekapannya.
"Tuan Vio kenapa?" tanya Renata.
"Setan itu datang lagi." jawab Bram dingin.
"Aaarrrgghh.. Aaaarrgggghhhh." Violetta berteriak.
Violetta menarik rambutnya sambil menggigit kembali jemarinya, matanya mulai memerah serta tubuhnya bergetar tak terkendali. Bram dan Renata panik melihat kondisi Violetta, tanpa berpikir panjang Bram langsung berlari kelantai atas mencari suntikan obat penenang untuk Violetta.
"Vio tenang hey, Vio ini kakak sayang." Renata mencoba menenangkan Violetta.
__ADS_1
"AAARRRGGHHHH.. JANGAN, AARGGHHH..SAKIT...HUUAUAAAAA.." teriak Violetta semakin tak terkendali.
Renata kewalahan menghadapi Violetta yang semakin meraung histeris, baru pertama kalinya Renata melihat Violetta tak bisa mengontrol dirinya. Bram datang membawa suntikan obat penenang, dia meminta bantuan Renata untuk memegangi tubuh Violetta agar ia bisa menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh Violetta.
"Tuan, tenaga Vio lebih besar kau kesusahan memeganginya." ucap Renata.
"BIK, BIK MARNI." teriak Bram memanggil bik Marni.
Bik Marni segera datang ke kamar Renata, dia terkejut melihat Violetta yang sedang memberontak memukul tubuh Renata seraya menangis histeris.
"Bik tolong bantu pegangi Vio." ucap Bram.
Bik Marni langsung ikut memegangi tubuh Violetta, Bram berhasil menyuntikkan obat penenang pada Violetta. Karena pengaruh obatnya masih belum bereaksi Violetta masih terus histeris dan berontak, tetapi tidak berlangsung lama perlahan-lahan obatnya mulai menujukkan reaksinya dan Violetta mulai tenang.
"Den Bram, kenapa Vio sampai histeris lagi?" tanya bik Marni.
"Dia datang bik, tadinya aku mendengar keributan saat turun bersama Vio pas aku samperin tiba-tiba tuh setan nongol di depan pintu." jawab Bram.
"Ya ampun, mau apalagi nenek sihir itu datang lagi sih? Pantesan pas bibik di kamar mandi kayak denger orang ribut, pas keluar aden panggil bibik." ucap bik Marni.
"Tuan, sepertinya kita harus segera pergi dari sini." ucap Renata.
"Pergi kemana?" tanya bik Marni.
"Aku lupa tidak memberitahu bibik, aku berencana menyembunyikan Vio sampai dia sembuh mentalnya. Jika dia terus berada di kota ini entah disengaja ataupun tidak dia pasti bertemu ibunya, saat ini aku tidak bisa menjebloskannya ke penjara karena ada seseorang yang melindunginya." jelas Bram.
"Ya Allah, bibik setuju den lebih baik non Vio di sembunyiin aja kasihan kalau dia terus seperti ini." ucap bik Marni.
"Renata jika kita pergi, bagaimana dengan lukamu?" tanya Bram.
"Aku tidak selemah yang kau pikirkan, untuk saat ini Vio jauh lebih penting." ucap Renata.
Bram menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia bangga pada Renata yang lebih memilih keselamatan Violetta daripada dirinya sendiri. Bik Marni melihat lengan Renata berdarah, dia juga melihat wajah Renata seperti menahan sakit.
"Mbak, itu lengannya berdarah." tunjuk bik Marni.
"Sini, biar aku lihat." ucap Bram.
Bram membuka perban yang digunakan untuk menutupi luka dilengan Renata, dilihatnya lukanya sedikit terbuka mungkin karena Renata tadi berusaha menenangkan Violetta yang berontak.
"Sepertinya Vio melukaimu." ucap Bram.
"Isshh, pelan-pelan." ringis Renata.
Bram perlahan menarik perbannya, dia kemudian membersihkan luka di lengan Renata dan mengganti perbannya dengan perban yang baru.
"Tuan bagiamana? kapan kita akan pergi?" tanya Renata.
"Jika kau tidak keberatan kita bisa pergi sekarang juga." jawab Bram.
"Jangan khawatirkan aku, sekarang keselamatan Vio lebih penting karena aku yakin nenek sihir itu akan terus datang kembali." ucap Renata.
"Kau benar, bahkan selingkuhannya pun kini mulai beraksi melawanku di duni bisnis ditambah lagi semalam terjadi penyerangan di proyek." ucap Bram.
"Penyerangan?" tanya Renata.
"Iya, ada seseorang yang dengan sengaja ingin membakar proyek tersebut tetapi beruntungnya tidak ada korban jiwa dan sekarang aku sedang menyelidiki siapa dalangnya." jawab Bram.
__ADS_1
"Jika kita sudah ada di desa, kapan kau akan menjemput kami kembali? Sedangkan koneksi disana akan susah dan kita tidak bisa bertukar kabar." ucap Renata.
"Aku akan mengirimkan seseorang yang akan melaporkan semua perkembangan Violetta, begitu Violetta sembuh aku akan menjemput kalian kembali." ucap Bram.