
Bram turun dari lantai atas menuju lantai bawah, Renata yang saat itu tengah mengambilkan piring untuk Violetta melihat kearah Bram yang tengah berjalan tergesa.
"Aaarrgghh." teriak Renata.
Buru-buru Renata menutup matanya dan mata Violetta, bik Marni datang karena mendengar teriakan Renata, ia pun lantas melakukan hal yang sama seperti Renata menutup kedua matanya.
"Innalillahi." ucap bik Marni syok.
"Kenapa kau berteriak Rena?" tanya Bram heran.
"Tuan kau ini amnesia apa gimana sih? Kalo pakek baju tuh yang bener, masa atas tertutup bawah terbuka." jawab Renata.
Bram menundukkan wajahnya ke bawah, dilihatnya ia lupa memakai celana hanya ada memakai b**** saja.
"Ya Allah." ucap Bram menepuk jidatnya.
Bram menutupi bagian sensitifnya menggunakan kedua telapak tangannya, dia membalikkan tubuhnya kemudian berlari secepat kilat menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Brak.
Bram merutuki kebodohannya sendiri, dia menutup wajahnya malu semalu-malunya karena kecerobohannya disaksikan langsung oleh Renata dan juga bik Marni.
"Sial, sial, sial." ucap Bram kesal.
__ADS_1
Bram menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna menetralkan emosinya, sungguh ia malu setengah mati. Bram berjalan kearah walk in closet mengambil celana panjang, dia merapikan penampilannya dan berusaha terlihat biasa saja saat ia memutuskan untuk kembali keluar dari dalam kamarnya.
"Bun, kenapa mata Vio di tutup?" tanya Violetta.
"Aurot Vio." jawab Renata.
"Hah? Aurot apa bun? Tadi kayak denger suara daddy, sekarang kemana daddynya?" cecar Violetta.
Renata perlahan membuka matanya mencari sosok Bram, dilihatnya Bram sudah tidak ada jadi Renata bisa bernafas dengan lega, Renata membuka mata Violetta agar bisa melanjutkan sarapannya.
"Bik, tuan udah pergi." ucap Renata.
Bik Marni membuka tangannya yang di gunakan untuk menutupi kedua matanya, dia mengusap dadanya kaget melihat Bram setengah terbuka.
"Mungkin tuan lagi sodakoh bik, hihi." canda Renata.
"Alaah, bilangnya sodakoh tapi kamu juga tutup mata." ledek bik Marni.
"Refleks bik, hihi." ucap Renata terkekeh.
Dengan ragu Bram turun dari lantai atas ,wajahnya dibuat datar meskipun jantungnya sudah berdetak tak karuan tak siap bertemu Renata.
"Eekkhhem." Bram berdehem.
__ADS_1
Renata memalingkan wajahnya kearah Bram, dia menahan tawanya melihat Bram yang duduk di meja makan.
"Pppfftt, mau mak.. Ppfft makan apa tuan pppfttt." ucap Renata menahan tawanya yang seakan mau pecah.
"Kamu ngetawain saya Rena?" tanya Bram dengan nada kesal.
"Eng-enggak kok, pppfftt." kilah Renata.
"Ketawa aja gak udah ditahan, nanti perut sama pipi kamu keram." cibir Bram.
"HAHAHAHAHA." akhirnya tawa Renata pun pecah.
Bram mendengus kesal pada Renata, dia mengambil nasi dengan perasaannya yang dongkol lalu menyuapkannya sampai pipinya menggembung. Renata semakin tak bisa menghentikan tawanya, dia melihat wajah kesal Bram yang terkesan sangat lucu apalagi pipinya yang sudah penuh seperti di pompa.
"Bun, istigfar bun." ucap Violetta.
"Hahhaha, iya Vio. Haduuh, perut kakak sampai sakit." ucap Renata sembari tertawa.
Violetta menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah Renata yang tak bisa berhenti tertawa, lebih heran lagi ia melihat ayahnya yang terus menyumpal mulutnya sampai penuh dan menatap kesal kearah Renata.
"Kalian ini kenapa sih?" tanya Violetta.
"Enggak papa, kamu fokus aja makan." jawab Bram.
__ADS_1
Renata mengelap sudut matanya yang mengeluarkan air mata, dia menutupi wajahnya yang memerah karena terus tertawa, namun semakin ia berusaha menghentikan tawanya ia teringat wajah kaget bik Marni yang sangat menggelitik perutnya.