
Mobil pengantin pria kini sudah sampai di depan rumah Renata, Bram dan yang lainnya pun keluar dari dalam mobil. Bram diarahkan untuk berjalan ke lapangan dimana acara dilangsungkan, disana sudah tersedia kursi untuk kedua mempelai melangsungkan ijab qobul.
Renata mendapat kabar bahwa Bram sudah sampai pun menjadi gugup, jantungnya pun berdegup kencang sampai tangannya terasa dingin. Fadlan menyadari kegugupan Renata, dia mengusap punggung tangan anaknya yang dingin dan memberikan isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Papa turun dulu, nanti kalau ijab qobulnya udah selesai baru kamu turun menemui Bram." ucap Fadlan.
"Baik ayah, semoga semuanya berjalan dengan lancar." ucap Renata diringi doa.
"Aamiin," sahut Fadlan mangaminkan doa Renata.
Fadlan berjalan keluar dari dalam kamar Renata, dia mengatur nafasnya sebelum ia sampai di tempat acara di gelar. Penghulu sudah duduk berhadapan dengan Bram, sedangkan di kedua sisi sudah ada saksi dari kedua belah pihak, Fadlan datang menghampiri meja ijab qobul kemudian duduk di sebelah penghulu.
"Bagaimana? Apakah kita akan langsung mulai ijab qobulnya?" tanya penghulu.
__ADS_1
"Langsung saja, saya kasihan lihat mempelai pria dari wajahnya keliatab gak sabar." ledek Fadlan.
Bram pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, penghulu langsung saja memberikan wejangan dan juga apa saja kewajiban yang harus Bram lakukan sebagai suami. Kini penghulu mengarahkan Fadlan untuk menjabat tangan Bram, seketika rasa gugup menjadi dua kali lipat dari sebelumnya.
'Bismillahirrohmaanrrohim' batin Bram.
Meskipun melakukan ijab qobul bukanlah yang pertama kalinya, namun tetap saja Bram begitu gugup di sertai jantung yang berdegup dengan kencang. Pengeras suara ditambah lagi volumenya agar pengantin wanita bisa mendengar dari kejauhan, Renata semakin gugup begitu penghulu menuntun ayahnya untuk menjabat tangan Bram.
Dari kamarnya Renata bisa mendengar suara Bram yang begitu lantang dan lancar mengucapkan ijab qobulnya, Renata menitikkan air mata di pelukan Nurul dan juga Yuli. Yuli dan Nurul menuntun Renata keluar dari kamarnya dan berjalan menemui pengantin pria, wajah cantik Renata membuat para tamu yang sudah hadir menatap kearahnya. Bram langsung berdiri menyambut kedatangan Renata yang kini sudah sah menjadi istrinya, begitu sampai di meja ijab qobul Bram menarik kursi untuk Renata duduk. Penghulu memberikan wejangan untuk Renata sebagai istri, tugasnya menjadi seorang istri dan sebagainya. Setelah dirasa cukup, kedua mempelai menandatangani dokumen pernikahan.
Berbeda dengan yang lainnya yang tengah sibuk menyaksikan ijab qobul, Violetta malah sibuk di belakang layar bersama Jevan dan juga Denis. Indra dan juga Jevan turut hadir dalam acara pernikahan Bram, begitupun dengan Regan juga Aldo. Violetta ongin memberikan sebuah kejutan untuk kedua orangtuanya, jadi dia meminta bantuan Denis dan juga Jevan.
"Kalian paham kan?" tanya Violetta.
__ADS_1
Denis menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, dia sebenarnya kurang mengerti, tetapi dia tidak enak jika Violetta harus mengulang kembali ucapannya. Jevan memegang tangan Denis memberikan isyarat untuk tenang, dia menatap kearah Violetta menyunggingkan senyumnya.
"Aku mengerti, tapi kau harus berikan kunci pada Denis agar dia mudah melakukannya, kita melakukan ini juga dadakan jadi kalau ingin hasilnya maksimal setidaknya kita harus latihan." jawab jevan.
"Baiklah, aku akan meberikan kuncinya daripada aku harus menjelaskan berulang kali, tetapi kak Denis gak paham-paham." ucap Violetta.
"Maaf Vio, aku akan berusaha memberikan yang terbaik." ucap Denis.
"Gapapa kak Denis, harusnya aku yang minta maaf karena sudah merepotkan kalian berdua." ucap Violetta.
"Tidak masalah, lebih baik kita latihan dulu sebelum ada yang mencari keberadaan kita." ucap Jevan.
"Oke." seru Violetta dan Denis.
__ADS_1