
Bram dan yang lainnya keluar menghampiri tamu yang tadi di beritahukan oleh security, begitu Renata melihat siapa yang satang dia mengernyitkan dahinya, dia seperti pernah melihat siapa orang yang kini ada dihadapannya itu.
"Anda mencari saya?" tanya Bram.
"Apa benar anda adalah tuan Bramasta?" tanya Sania memastikan.
"Iya, dengan saya sendiri," jawab Bram.
"Oh syukurlah, saya datang kesini untuk menemui gadis yang bernama Renata. Ada hal yang harus sampaikan padanya, dan aku berharap dia mau mendengarkannya." ucap Sania dengan sedikit pesimis.
"Masuklah, kita bicarakan didalam agar lebih nyaman." ucap Bram.
Sania menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Bram meminta security membukakan gerbang untuk Sania. Tak lama kemudian Sania duduk bergabung di ruang tamu, Renata terus menatap kearah Sania mengingat wajahnya yang seperti pernah ia lihat, ternyata bukan Renata saja yang terus menatap Sania tetapi Violetta juga melakukannya.
"Bun, kayak pernah lihat." bisik Violetta.
"Iya, tapi dimana ya?" tanya Renata.
"Di mall bukan? Waktu ketemu sama mommy Bilqis pas belanja?" tebak Violetta.
"Oh iya, kalau gak salah dia namanya Sania." bisik Renata.
Violetta pun membenarkan ucapan Renata, Sania pernah bertemu dengan mereka saat ada tengah berbelanja di mall untuk membeli barang yang akan di berikan pada Aksara dan bu Sarina.
"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu ada hubungan apa anda dengan Renata?" tanya Bram.
Renata sedari tadi diam saja, dia ingi tahu apa tujuan Sania mencarinya. Sania menghela nafasnya panjang, dia kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan, bolehkah saya tahu yang mana gadis bernama Renata?" tanya Sania.
"Aku." jawab Renata.
"Hah, bukankah kau yang waktu di mall?" tanya Sania terkejut.
__ADS_1
"Iya, kita pernah bertemu sebelumnya. Kalau boleh tahu, apa tujuanmu mencariku?" jawab Renata seraya memberikan pertanyaan pada Sania.
"Ini tentang ayahmu." ucap Sania.
Deg!
Jantung Renata seakan berhenti berdetak, perasaannya kini berubah tak karuan. Dalam benaknya dia bertanya-tanya, rasa cemas tak dapat dihindari lagi oleh Renata dan begitu jelas terlihat di matanya.
"Kenapa dengan papa?" tanya Renata dengan suara tercekat.
"Lihatlah." Sania memberikan ponselnya pada Renata.
Dengan ragu Renata mengambil ponsel Sania, disana terlihat jelas wajah sang ayah yang pucat dan terbaring lemah. Air mata Renata lolos begitu saja kala melihat kondisi ayahnya, meskipun ia kecewa pada ayahnya namun rasa sayangnya melebihi rasa kecewanya, peribahasa mengatakan kalau ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya. Bram memegang tangan Renata seraya mengelusnya, dia mengusap air mata Renata yang jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Dia sakit beberapa hari belakangan ini, dia tidak menjaga dirinya sendiri karena yang ia inginkan hanyalah bertemu denganmu, dia ingin menebus semua kesalahannya yang telah di perbuat. Kau pasti sudah tahu bukan kalau Namira menghianati ayahmu? Dan juga saudara tirimu yang hamil diluar nikah?" jelas Sania.
"A-APA? Andin ha-hamil?" tanya Renata syok.
"Apakah tuan Rizal tidak memberitahumu?" tanya Sania.
"Mas, boleh aku ke rumah sakit? Aku ingin melihat kondisi papa." ucap Renata.
"Aku akan menemanimu." ucap Bram.
"Vio juga ikut." rengek Violetta.
"Yasudah, kalian bersiaplah kita akan berangkat sekarang juga." ucap Bram.
"Sorry Bram, kayaknya gue pamit pulang deh. Besoknya harus kerja lagi, aku juga masih harus mantau kondisi ibu." ucap Regan.
"Iya gue juga, soalnya besok ada meeting sama Regan dan juga staff." ucap Aldo.
"Gapapa, kalian pulang aja. Makasih udah mau bantuin, nanti kalau gak sibuk aku mampir ke perusahaan kalian." ucap Bram.
__ADS_1
"Maaf ya Ren, kita gak bisa ikut liat kondisi papa kamu." ucap Regan.
"Iya gapapa, lain waktu saja." ucap Renata tersenyum.
Regan dan Aldo pun bangkut dari duduknya, mereka berpamitan pada yang lainnya lalu keluar dari dalam mansion. Renata dan Violetta sudha bersiap untuk berangkant, melihat itu Sania pun tersenyun ternyata Renata mau menemui ayahnya. Penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terjadi, tetapi jika memang di berikan kesempatan lebih baik di perbaiki jangan sampai diulang kembali.
Bram dan yang lainnya pun berangkat dalam satu mobil yang sama, Yandi duduk di depan bersama Nurul disampingnya. Bram, Violetat dan Renata duduk dibagian belakang, sedangkan Sania berangkat mengemudikan mobil Fadlan.
15 menit kemudian.
Mobil Sania dan Bram sudah sampai di rumah sakit, Sania masuk terlebih dahulu diikuti oleh yang lainnya. Begitu sampai di depan ruangan Fadlan, Renata seakan ragu untuk melangkah bertemu dengan ayahnya, sebenarnya dia masih belum siap jika harus kembali bertemu dengan ayahnya.
Ceklek.
Sania membuka pintu lalu masuk kedalamnya, Bram tahu apa yang tengah Renata rasakan, jadi dia memegang tangan Renata dan memberikan senyuman manisnya memberikan isyarat kalau semua akan baik-baik saja. Sania mengjampiri Fadlan yang kini sudah membuka matanya, Bram masuk menggandeng tangan Renata beserta Violetta yang berada didalam gendongannya. Melihat Bram masuk membuat Fadlan mengerutkan dahinya, tetali sesaat kemudian begitu melihat Renata masuk dia segera berusaha mengubah posisinya untuk duduk.
"Rena." panggil Fadlan lirih.
Pandangan Renata dan Fadlan bertemu, mata Fadlan sudah berair dan hanya tinggal satu kedipan saja maka air mata itu akan langsung terjun bebas. Wajah Renata pun memerah melihat tatapan dalam ayahnya, dia berjalan dengan perlahan mendekat kearah Fadlan yang masih terlihat lemah.
"Papa." ucap Renata pelan.
"Apa benar ini kamu nak? Papa tidak sedang bermimpi bukan?" tanya Fadlan seakan tak percaya bahwa yang dilihatnya itu nyata.
"Papa tidak sedang bermimpi, ini beneran Rena." ucap Renata mengulas senyumnya.
Senyuman yang Renata tampilkan membuat tubuh Fadlan bergetar, dia bisa melihat wajah mendiang istrinta daei dalam diri Renata. Melihat sang ayah menangis Renata langsung mendekap tubuhnya, ia pun ikut menumpahkan air mata kerinduan setelah beberapa bulan tak pernah melihat wajah sang ayah saat ia diusir dulu.
"Maafkan papa nak, maafkan papa hiks.." ucap Fadlan menangis pilu.
"Rena udah maafin papa, maaf Rena gak pernah temuin papa selama ini." ucap Renata.
"Tidak nak, kamu tidak Salah. Papa egois nak, gara-gara keegoisan papa kamu kehilangan dermaga hidumu, papa juga sampai menampar wajahmu yang sebelumnya tidak pernah sama sekali papa lakukan, bahkan dengan teganya papa mengusir kamu. Maafkan papa hikss..hikss.." ucap Fadlan terisak menyesali semua perbuatannya.
__ADS_1
Ruangan tempat dimana Fadlan di rawat seketika berubah menjadi penuh haru, tak ada yang tidak meneteskan air matanya kala melihat kedua orang yang sudah lama tak bertemu kini tengah menumpahkan rasa rindu, kerinduan akan watu yang terbelah akibat masuknya orang baru.