Pengasuh Tangguh Violetta

Pengasuh Tangguh Violetta
Kekecewaan Fadlan.


__ADS_3

Fadlan malajukan mobilnya membawa dua orang lelaki untuk dibawa pulang ke rumahnya, dia hanya ingin memastikan siapa ayah dari salah satu diantara mereka berdua yang sudah menghamili Andin.


15 menit kemudian.


Fadlan menyuruh Sammy dan Reno keluar dari dalam mobilnya, keduanya dibawa masuk kedalam rumah. Namira bingung melihat Fadlan membawa masuk dua orang pria kedalam rumahnya, dengan wajah tanpa ekspresi Fadlan berjalan begitu saja melewati Namira tanpa menyapa padanya.


Brak..


Andin terkejut mendengar suara pintu di buka dengan kasar, lebih terkejut lagi ia melihat Sammy dan juga Reno datang bersama ayahnya.


'Ya Tuhan, kenapa Reno sama Sammy bisa dateng bareng sama papa? Gimana ini?' batin Andin.


"Katakan, siapa ayah dari salah satu diantara mereka?!" tanya Fadlan dingin.


"Pa-papa,"ucap Andin tergagap.


"JAWAB!" teriak Fadlan.


"Re-Reno pa." jawab Andin menunduk.


"Kalau bohong yang serius dikit Andin, gue tidur sama loe tuh satu tahun yang lalu masa sekarang loe hamilnya? Lama amat tuh benih jadinya? Lagian pas gue tidur sama loe juga loe udah gak virgin." cibir Reno.


"Katakan dengan jujur atau aku akan menyeretmu keluar dari rumah ini sekarang juga!" tekan Fadlan.


Wajah Fadlan sudah merah padam menahan amarahnya, Namira datang merangkul anaknya yang sedang ketakutan, Sammy pun kecewa karena Andin menyebutkan anak yang dikandungnya adalah anak Reno, padahal jika memang Andin jujur ia pasti akan langsung mengakuinya dan bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya.


"A-aku ha-mil hiks, anak Sammy pa." jawab Andin akhirnya jujur.


"Apa buktinya kalau anak yang di dalam rahimmu itu anakku?! Bukannya kau tadi menyebutkan anak itu adalah anaknya Reno? Sebenarnya berapa banyak pria yang sudah tidur denganmu Andin? Aku jadi ragu kalau anak itu bukanlah darah dagingku?" tanya Sammy beruntun.


Deg!


Jantung Andin seakaan berhenti berdetak mendengar pertanyaan dari Sammy, sejujurnya ia mengetahui kalau Andin sering bergonta-ganti pria selama ini tanpa sepengetahuan orangtuanya. Fadlan mengernyitkan dahinya melihat Andin yang langsung terdiam, dia sangat amat di buat kecewa oleh anak yang dia anggap sebagai anak sendiri.


"Sammy apa yang kau ucapkan? Jelas-jelas anak ini adalah anakmu, darah dagingmu sendiri bahkan selama satu bulan ini kita sering melakukannya." ucap Andin dengan lantangnya.


"Jadi sekarang kau mengakui perbuatanmu? Kau ternyata seorang j***** dibalik sikap lemah lembutmu? Kau merebut kekasih anakku, kau tidur dengan banyak pria, aku tidak menyangka sama sekali kau bisa melakukan hal serendah ini Andin." ucap Fadlan menggelengkan kepalanya kecewa.


"Mas, jaga ucapanmu!" ucap Namira tidak terima.


"Apa?! Kau ingin membela anakmu yang tidak tahu diri ini? Mulai sekarang juga Andin kau harus angkat kaki dari rumah ini, aku tidak mau reputasiku dan juga namaku hancur akibat perbuatannmu." tegas Andin.

__ADS_1


"MAS!" teriak Namira.


"Sammy, kau bawa Andin pergi dan juga calon anak yang ada didalam kandungannya, nikahi dia kalau kau berani kabur atau tidak mau tanggung jawab maka aku tak segan-segan membunuhmu meskipun kau bersembunyi di liang semut sekalipun." ucap Fadlan dingin.


"Pa, papa maafin Andin pa. Jangan usir Andin dari rumah ini pa, Adin mohon." ucap Andin memohon pada Fadlan.


"PERGI DARI RUMAH INI, SEKARANG JUGA!" teriak Fadlan.


Namira memeluk tubuh Andin dengan erat, Andin terua menggelengkan kepalanya tidak mau berpsah dari ibunya dan juga ayah tirinya. Sammy menarik tangan Andin keluar dari kamarnya, meskipun Andin berontak Sammy tetap membawanya pergi.


"Reno, maafkan aku karena sudah membuatmu babak belur." ucap Fadlan.


"Tidak apa-apa, jika aku berada di posisimu maka aku juga akan melakukan hal yang sama." ucap Reno.


"Terima kasih, sebagai gantinya bawalah uang ini untuk mengobati lukamu." ucap Fadlan menyodorkan satu gepok uang pada Reno.


"Tidak usah," tolak Reno.


Reno menolak uang yang diberikan oleh Fadlan, dia lebih memilih berpamitan pada Fadlan untuk kembali pulang ke rumahnya. Namira menangis kala puterinya pergi meninggalkannya, dia tak bisa melakukan apa-apa karena kesalahan yang dibuat oleh anaknya telah membuat Fadlan selaku suaminya murka.


Ting nong.. Ting nong..


Suara bel rumah berbunyi, Fadlan berjalan kearah pintu utama melihat siapa tamu yang datang. Dilihatnya seorang perempuan datang bersama seorang anak berumur sekitar 6 bulan dalam gendongannya, dia datang dengan ekspresi tak bersahabat kala melihat Fadlan membuka pintunya.


"Diamana istrimu?!" tanyanya dingin.


"Ada perlu apa kau mencari istriku?" tanya Fadlan.


"Perkenalkan aku adalah Sania, istri dari selingkuhan istrimu." ucap Sania menyodorkan tangannya pada Fadlan.


Deg!


Jantung Fadlan seakan berhenti berdetak, baru saja ia menyelesaikan masalah Andin kini datang lagi masalah baru yang datamg menghampirinya.


Di mansion Bram.


Violetta dan Bram sudah selesai sarapan bersama Renata dan juga bik Marni, Renata seperti biasanya mencuci piring kotor bersama bik Marbi seraya membersihkan dapur dibangu oleh pelayan lainnya.


"Udah mbak, biar bibi aja sama iyem yang ngerjain." ucap bik Marni.


"Yaudah kalau gitu, aku mau nyamperin Vio dulu ya bik." ucap Renata.

__ADS_1


Bik Marni pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dari lantai atas Bram turun sudah rapih dengan pakaian kantornya namun dasinya dan juga jasnya belum dipasangkan.


"Bun." panggil Bram.


"Iya, ada apa?" tanya Renata.


"Pasangin dasi dong bun." pinta Bram.


"Heellehh, biasanya juga sendiri." cibir Violetta.


"Sst,anak kecil jangan ikut capur urusan orang dewasa ya." ucap Bram.


"Mana sini dasinya," ucap Renata.


Bram memberikan dasi miliknya pada Renata, Bram sedikit membungkukkan badannya agar memudahkan Renata memasangkan dasinya. Renata dengan telaten memasangkan dasinya di leher Bram, si empu terus menyunggingkan senyum manisnya melihat wajah serius calon isterinya.


"Sudah." ucap Renata.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya." ucap Bram.


"Sama anaknya gak pamitan nih?" cibir Violetta.


"Enggak ah, habisnya sekarang Vio bawel." goda Bram.


"Bun, tempat nukerin ayah baru dimana ya bun? Kayaknya Vio harus ganti ayah deh." celetuk Violetta.


Renata pun terkekeh mendengar celetukan spontan Violetta begitu pun Bram, Bram semakin gemas pada anaknya yang kini semakin pandai berbicara layaknya orang dewasa.


"Jangan di tukerin dong, masa daddynya yang ganteng limited edition di ganti sih?" ucap Bram pura-pura merajuk.


"Eitts, kalau gak mau di tukerin ada syaratnya," ucap Violetta.


"Apa syaratnya?" tanya Bram.


"Syaratnya Vio minta uang sama daddy, nanti siang Vio mau ke play zone sekalian beli boneka sama es krim, gimana deal?" ucap Violetta.


"Okey, ini kartunya. Kamu sama bunda bebas mau beli apapun yang kalian mau, tapi jangan lama-lama perginya kalau udah pulangnya ke kantor daddy ya." ucap Bram menyodorkan kartu black card pada Violetta.


"Okey dad," ucap Violetta antusias.


"Kalau gitu have fun ya, daddy mau kerja dulu." ucap Bram.

__ADS_1


Bram mengecup kening Violetta seraya menjembel pipi chubby putri kecilnya, setelah itu ia berjalan kearah Renata mengecup keningnya sekilas sampai si empu pun tersenyum malu di buatnya.


"Ciee, ciee, pipinya merah." goda Violetta.


__ADS_2