
Masih di dalam kamar
Terlihatlah dua orang insan yang membutuhkan satu sama lain, siapa lagi kalau bukan pangeran Chian Shin dan putri Lylyan Qiran. Putri Lylyan Qiran duduk di tepian dan bersandar di kepala tempat tidur. Sedangkan pangeran Chian duduk di kursi sebelah tempat tidur.
"Pangeran" Panggil putri Lylyan.
"Iya, ada apa?" Tanya pangeran Chian.
"Apakah pangeran jadi menikah dengan putri Fiyen?" Tanya putri Lylyan.
"Kalau jadi, kenapa?" Tanya pangeran Chian.
"Tidak apa-apa," Kata putri Lylyan menunduk.
"Dasar gadis polos, aku tidak akan menikah dengan putri Fiyen," Kata pangeran Chian.
"Kenapa? Bukannya pernikahannya akan di mulai kurang lebih dua minggu lagi," Kata putri Lylyan sedikit bingung.
"Hmmm. Ini sudah lewat dari dua minggu bahkan sudah lima minggu, alias satu bulan lebih," Kata pangeran Chian dingin.
"Kok bisa?" Tanya putri Lylyan masih bingung dengan ucapan pangeran Chian.
"Kamu sudah tidak sadarkan diri selama lima minggu," Kata pangeran Chian.
"Apa??" Kata putri Lylyan teriak.
"Auuuhhh, sakit," Lirih putri Lylyan. Ia merasa ada yang sakit di bagian perutnya.
"Jangan teriak-teriak. Luka mu belum begitu sembuh," Kata pangeran Chian.
"Maaf," Kata putri Lylyan. Lalu ia melihat luka di perutnya.
"Pangeran, kenapa pakaian ku seperti ini?" Tanya putri Lylyan sedikit bingung dengan pakaiannya yang sedikit terlihat bagian perutnya. Walaupun ditutup dengan selendang lagi.
"Iya, agar mudah mengobati luka mu," Kata pangeran Chian dengan santainya.
"Iiiisss, Pangeran. Aku malu," Kata putri Lylyan cemberut.
"Jangan malu. Hanya aku dan Maid yang melihatnya," Kata pangeran Chian santai.
"Maksudnya?" Tanya putri Lylyan sedikit bingung.
"Dua hari sekali, pakaianmu di ganti dengan yang bersih oleh Maid. Sedangkan aku yang selalu mengobati luka mu itu. Lagian aku hanya melihat bagian perut mu saja. *W*alaupun terkadang bagian atas dadamu juga terlihat." Tutur pangeran Chian.
"Iiiihh, pangeran mesum," Kata putri Lylyan seraya memukul dada pangeran Chian.
"Biarin. Dari pada Tabib yang mengobati luka mu dan melihatnya. Mending aku yang melakukannya," Kata pangeran Chian.
"Pangeran. Aku malu tahu...," Kata putri Lylyan cemberut.
"Lagi pula, cepat atau lambat. Aku akan melihat seluruh tubuh mu itu," Kata pangeran Chian santai.
"Siapa juga yang akan memperlihatkannya pada mu," Kata putri Lylyan ketus.
"Terserah mu," Kata pangeran Chian malas menanggapi putri Lylyan.
Karena sedikit kesal, putri Lylyan hanya diam saja hingga beberapa menit. Lalu pangeran Chian memecahkan keheningan itu.
"Yasudah, aku minta maaf. Tetapi, itu ku lakukan demi kesembuhan mu," Kata pangeran Chian.
"Iya tidak apa-apa," Kata putri Lylyan.
"Pangeran. Aku boleh minta sesuatu?" Tanya putri Lylyan.
"Tentu saja boleh," Kata pangeran Chian.
"Aku boleh minta buah, aku ingin makan buah apel," Kata putri Lylyan nyengir kuda.
"Hmm, dasar gadis polos. Mau minta buah saja harus seperti itu," Kata pangeran Chian seraya mencubit pelan pipi putri Lylyan karena gemas dengan tingkahnya.
"Sakit, tahu," Kata putri Lylyan.
"Maaf," Kata pangeran Chian.
"Yasudah, aku kupas da potong dulu buah apelnya," Kata pangeran Chian. Putri Lylyan mengangguk.
__ADS_1
Pangeran Chian Shin mengambil buah apel di atas meja samping tempat tidur. Beberapa menit apel itu pun selesai di kupas dan dipotong-potong kecil oleh pangeran Chian. Lalu ia membantu putri Lylyan dudu
"Sudah selesai. Sekarang, buka mulut mu!" Perintah pangeran Chian.
"Untuk?" Tanya putri Lylyan.
"Sudah, buka saja," Kata pangeran Chian.
Putri Lylyan Qiran pun Membuka mulut nya, kemudian pangeran Chian memasukkan potongan buah apel ke dalam mulut putri Lylyan Qiran.
"Emmm, buah nya manis," Kata putr Lylyan dengan polosnya seraya tersenyum manis. Pangeran Chian pun tersenyum pada putri Lylyan.
"Aku sungguh bahagia melihat mu tersenyum seperti ini," Batin pangeran Chian.
"Lylyan, kamu merindukan kedua orang tua mu?" Tanya pangeran Chian lembut.
"Tentu saja, aku sangat merindukan mereka. Bagaimana kabar mereka?" Tanya putri Lylyan.
"Mereka baik-baik saja. Waktu kamu belum sadarkan diri, mereka juga selalu mengunjungimu kesini," Kata pangeran Chian.
"Benarkah?" Tanya putri Lylyan antusias. Lalu pangeran Chian mengiyakan.
"Kapan mereka akan kesini?" Tanya putri Lylyan.
"Mungkin esok hari. Aku juga sudah menyurub orang kepercayaan ku memberi tahu orag tua mu bahwa kamu sudah sadar," Kata pangeran Chian. Putri Lylyan pun mengguk paham.
"Pangeran, ini tanggal berapa?" Tanya putri Lylyan.
"Tanggal 4 juni 2020," Kata pangeran Chian. Ia tidak memberi tahu putri Lylyan bahwa ini hari ulang tahunnya sendiri. Lalu putri Lylyan terdiam sejenak dan mengingat sesuatu.
"Pangeran, berikan tusuk buah itu padaku," Kata putri Lylyan.
"Untuk apa?" Tanya pangeran Chian sedikit bingung.
"Sudah, berikan saja padaku," Kata putri Lylyan Qiran. Lalu pangeran Chian memeberikannya. Kemudian putri Lylyan Qiran menusuk satu potong buah apel.
"Pangeran ku, satu potong buah apel ini untuku. Selamat ulang tahun, Pangeran ku," Kata putri Lylyan seraya memberi satu potong buah apel lalu menyuapkan ke mulut pangeran Chian. Pangeran pun membuka mulutnya.
"Terimakasih, Lylyan ku sayang," Kata pangeran Chian. Ia meneteskan air mata haru.
"Aku sangat menyayangimu. I love you, putri Lylyan Qiran," Kata pangeran Chian kemudian memeluk tubuh putri Lylyan. Putri Lylyan membalas pelukannya.
"Aku juga sangat menyayangimu. I love you too, pangeran Chian Shin," Kata putri Lylyan Qiran.
Mereka berpelukan hingga beberapa menit, dan meluapkan seluruh kerinduan mereka berdua. Lalu mereka melepaskan pelukannya.
"Sekarang, tidurlah!. Agar badan mu lebih enakan," Kata pangeran Chian.
"Tetapi, pangeran menemaniku kan?" Tanya putri Lylyan.
"Iya, Aku akan menemanimu," Tutur pangeran Chian seraya tersenyum.
Pangeran Chian pun membantu putri Lylyan Qiran merebahkan badannya. Tangan pangeran Chian Shin mengelus kepala putri Lylyan. Lalu putri Lylyan Qiran menutup matanya dan beberapa menit kemudian ia tertidur.
"Lylyan ku tersayang, tidur yang nyenyak. Aku pergi keluar sebentar," Kata pangeran Chian lalu mengecup dahi putri Lylyan serkilas. Ia pun pergi keluar dari kamar.
*****
Pangeran Chian keluar untuk menemui kedua orang tuanya.
"Ayahanda, Ibunda," Kata pangeran Chian.
"Iya, ada apa? " Tanya permaisuri Chylian.
"Saat putri Lylyan Qiran sudah sembuh total. Aku akan menikahinya. Apakah kalian merestui? " Tanya pangeran Chian.
"Kami merestuinya," Kata raja Sanji dengan cepat.
"Iya, putraku. Kami sangat setuju kamu menikah dengan Putri Lylyan," Kata permaisuri Chylian.
"Aku juga setuju," Kata raja Wian yang baru datang dan masuk ke istana Shin.
"Kapan kalian sampai?" Tanya raja Sanji terkejut.
"Baru saja," Kata raja Wian seraya tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa kalian tidak memberi tahu kami, jika kalian akan datang?" Tanya permaisuri Chylian.
"Kami ingin memberi kejutan pada kalian," Kata permaisuri Lyana tersenyum.
"Heheheh," Raja Wian tertawa.
"Tdak lucu!! Kata raja Sanji kesal.
"Sudah lah. Kalian semua sudah tua pun masih saja seperti anak kecil," Celetuk pangeran Chian.
"Apa??," Kata raja Wian, raja Sanji, permaisuri Lyana, dan permaisuri Chylian secara bersamaan.
"Heheh. Jangan marah," Kata pangeran Chian tanpa dosa.
"Dasar anak nakal," Kata raja Sanji.
"Berani sekali kamu mengatai kami tua," Kata raja Wian sedikit kesal.
"Kami masih muda begini pun," Kata permaisuri Chylian.
"Ibunda saja yang merasa masih muda, Kalian memang sudah tua kok," Celetuk pangeran Chian tanpa melihat kondisi.
"PANGERAN!!" Teriak permaisuri Chylian.
Semua orang yang ada disana menutup telinga mereka. Akibat suara permaisuri Chylian yang melengking bisa membuat kendang telinga pecah.
"Chylian, suaramu keras sekali," Kata permaisuri Lyana sedikut heran.
"Ibunda, ngapain sih teriak-teriak. Sakit ini telingaku," Kata pangeran Chian kesal.
"Dasar anak kurang ajar," Kata permaisuri Chylian. Ia melangkah cepat mendekati putranya yang sedang duduk di kuersi, lalu menjewer telinga putra nya hingga memerah.
"Kamu bilang apa tadi, hah?" Tanya permaisuri Chylian. Masih menjewer
"Ampun, Ibunda. Telinga ku sakit. Lepaskan, Ibunda," Kata pangeran Chian meminta ampun dan meringis kesakitan akibat jeweran ibundanya.
"Rasakan itu. Salah siapa membangunkan singa tidur," Kata raja Sanji.
"Maafkan aku," Kata pangeran Chian. Lalu permaisuri Chylian melepaskan telinga putranya.
"Ibunda tega sekali pada putra nya sendiri," Kata pangeran Chian seraya mengelus telinganya yang panas.
"Minta maaflah pada kami!" Perintah permaisuri Chylian.
"Tidak. Untuk apa aku minta maaf. Kalian memang sudah tua kok," Celetuk pangeran Chian. Lalu ia lari ke kamar nya.
"Pangeran, mau kemana kamu?" Teriak permaisuri Chylian kesal dengan tingkah putra satu-satunya itu.
"Sudah lah, jangan berteriak lagi. Sakit ini telinga ku," Kata permaisuri Lyana.
"Kasihan juga tuh pangeran Chian, telinganya jadi merah," Kata raja Wian.
"Istri ku sayang, Istriku yang paling cantik. Jangan marah lagi ya!," Kata raja Sanji membujuk istrinya. Hati permaisuri Chylian pun meleleh karena ucapan suaminya.
"Iya, Suamiku tersayang," Kata permaisuri Chylian.
"Ekhem ekhem," Raja Wian berdehem.
"Mesra-mesraannya nanti saja. Masih ada kami loh disini," Kata permaisuri Lyana. Raja Sanji dan permaisuri Chylian pun hanya nyengir kuda.
Seperti itulah mereka jika sudah berkumpul bersama-sama. Bercanda satu sama lain.
*
*
*
*
*
Like, coment, vote
Lanjut...
__ADS_1